Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part .. 49


__ADS_3

...Selamat Hari Raya Idul Adha....


...🙏🙏🙏...


...Minal Aidin Walfaidzin Semua, Mohon Maaf Lahir dan Batin Buat Semua Reader Yang Udah Setia Mendukung Author Cici....


.......


.......


.......


.......


...Kediaman Keluarga Sinaja _ 09 : 50....


Hari ini Tania sudah bersiap akan pergi ke cafe Gourmet tapi sebelum Tania berangkat, Tania menghampiri Aldy yang sedang asik berenang.


"Kak, gue pergi jalan," pamit Tania, sehingga Aldy menghampiri Tania di pinggir kolam.


"Ke mana?" tanya Aldy sembari mengibas-ibas kepalanya yang basah, dan itu malah membuat ketampanan Aldy menjadi berlipat-lipat ganda.


"Tongkrongan biasa," jawab Tania.


"Em, hati-hati," ucap Aldy kemudian Tania tersenyum dan mengganggukkan kepalanya, setelah itu Tania pergi ke cafe Gourmet.


Jalanan Jakarta sangat padat membuat Tania sedikit telat sampai di cafe Gourmet, saat Tania turun dari mobil, dari balik kaca ia melihat jelas Faza sudah duduk di dalam dengan minuman yang sudah hampir habis. Segera Tania berjalan untuk menghampiri Faza.


"Sorry telat, Za," ucap Tania duduk di kursi berhadapan dengan Faza.


"Iya nggak apa-apa," ucap Faza.


"Udah pesan makanan?" tanyaku.


"Gue baru pesan minuman doang," jawabnya.


"Lo mau minum apa, sekalian makannya juga?" tawar Faza.


"Udah pesan jus jambu, bentar lagi datang kok," ucap Tania.


"Enggak sekalian makannya?" tanya Faza tapi Tania menggelengkan kepalanya sehingga setelah itu suasana mereka menjadi hening, bahkan saat minuman Tania telah sampai pun suasana mereka masih saling diam.


"Em! Sebenarnya gue gak suka basa-basi jadi gue langsung to the point aja, masalah persahabatan kalian ...."


"Iya, gue inget kok tapi gue lagi mikir tadi gimana cara ngomongnya," potong Faza membuat Tania tersenyum getir, ternyata bukan hanya Tania saja yang kebingungan untuk memulai pembicaraan tapi Faza juga sama.


"Gue mulai cerita ya," ucap Faza dan Tania membalas dengan anggakan kepala.


"Sebelumnya waktu kita masih sekolah dasar anggota kita cuma ada sembilan orang, kita sahabatan tapi kita enggak ada nama geng-gengan," ucap Faza menatap Tania.

__ADS_1


"Dulu kita sering becanda bareng, saling jahil, nakalnya luar biasa, sok berkuasa dan masih banyak lagi," ucap Faza.


"Walaupun kita sering ngelakuin hal yang buat tensi darah naik akibat ulah kita yang jahilnya terlalu berlebihan tapi kita selalu damai dan akur sampai waktunya kita masuk ke sekolah menengah pertama, Leo di pertemuin sama Diky, dari sana anggota kita bertambah jadi sepuluh." ucap Faza.


Tania mendengar cerita Faza dengan sangat serius hingga pada akhirnya Tania mengambil sebuah foto kebersamaan mereka waktu sekolah menengah pertama dari dalam tasnya kemudian memberikan foto itu kepada Faza, pria itu tersenyum tipis saat melihat foto dirinya dan para sahabatnya.


"Gue juga masih nyimpen foto-foto kebersamaan kita yang dulu," ucap Faza menatap Tania.


"SALF BADRAD," ucap Faza


"Kita bersepuluh adalah SALF BADRAD," ucap Faza membuat Tania mengerutkan dahinya.


"Maksudnya nama geng kalian?" tanya Tania.


"SALF BADRAD itu gabungan nama kita semua," ucap Faza.


"SALF itu terdiri dari nama Sasya, Aldy, Leo dan Faza sedangkan BADRAD itu terdiri dari nama Bobby, Adit, Diky, Rio, Abdi dan Dito." jelas Faza membuat Tania mematung sebentar.


"Siapa yang buat nama itu?" tanya Tania.


"Sasya, dia yang membuat nama itu, dia bilang karena di antara kita semua dia perempuan sendirian maka nama dia harus paling depan," jawab Faza seraya tersenyum membayangkan masa lalunya.


"Persahabatan kita dulu bahagia banget, waktu smp kita sering di kenal sebagai troublemaker number one, lo tau 'kan SMP Binon Nusantara itu milik papanya Leo?" tanya Faza membuat Tania diam karena wanita itu hanya mengetahui nama dan tempat sekolahan itu tanpa tahu pemiliknya adalah papanya Leo.


"Gue nggak tau," ucap Tania.


"Lanjut cerita aja, Za," ucap Tania tidak mau menjawab pertanyaan Faza.


"Oke, waktu kita SMP dulu kita punya komitmen yaitu kita harus menjaga perasaan demi ikatan persahabatan," ucap Faza.


"Siapa sih yang nggak tertarik sama Sasya yang baik, perhatian, lemah lembut bahkan dia juga pengertian banget orangnya. Kita bersembilan sayang banget sama Sasya, dia udah kita anggap kayak saudara perempuan kita sendiri, dia adalah perempuan spesial bagi kita semua sampai beranjak dewasa sikap dan perasaan berubah secara perlahan," ucap Faza seraya menerawang jauh.


"Enggak ada lagi yang namanya canda tawa, enggak ada lagi yang namanya saling menjahili dan enggak ada lagi SALF BADRAD yang dulu selalu bar-bar, semua berubah waktu masuk sekolah menengah atas, Aldy lebih suka menyendiri, Leo lebih banyak ngelamun, Sasya lebih sering ngehindar, gue lebih sering bungkam bahkan yang lainnya juga lebih sering berantem." ucap Faza.


"Empat bulan kita jadi murid putih abu-abu sampai masuk tanggal awal bulan ke lima Sasya enggak sekolah selama beberapa minggu, sampai kita bersembilan sepakat buat dateng ke rumah Sasya, tiba-tiba kita dapet kabar dari tante Sumi kalo sebenarnya Sasya di rawat di rumah sakit," ucap Faza.


"Waktu Sasya sakit Aldy sama Leo lebih sering bolos sekolah karena mereka jenguk Sasya di setiap harinya, beda sama yang lainnya jenguk Sasya cuma tiga kali dalam seminggu," ucap Faza.


"Loh kenapa cuma mereka berdua yang lebih sering jenguk Kak Sasya," ucap Tania berpura-pura tidak tahu.


"Lo 'kan tau mereka berdua suka sama Sasya," ucap Faza membuat Tania mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Lanjut," pinta Tania.


"Di basecamp kita selalu ribut, enggak tau apa permasalahannya kita pasti berantem terus, susah buat gue cerita gimana kacaunya kita bersembilan tanpa adanya Sasya di samping kita," tutur Faza.


"Apa lagi waktu dua bulan kemudian kita dapet kabar kalo Sasya meninggal dunia, kita semua ngerasa hancur dan terpukul karena saudara perempuan kita udah jauh dari kita dan itu untuk selamanya," ucap Faza menampilkan raut wajah yang begitu sedih.


"Jangan di tahan kalo lo mau nangis, nangis aja," ucap Tanua menggenggam tangan Faza yang dingin.

__ADS_1


"Mereka berdua egois, mereka buat kita semua kehilangan Sasya, mereka nggak tahu Sasya di buat terpukul karena tindakkan mereka yang kekanak-kanakkan," ucap Faza membuat Tania mengernyit bingung.


"Maksud lo?" tanya Tania


"Gue tau kejadian mereka berantem di luar rumah sakit," ucap Faza.


"Mereka berantem? Lo emang ada di sana?" tanya Tania dengan nada sedikit tinggi.


"Gue nggak ada di sana tapi salah satu temen gue cerita sama gue sampai gue penasaran dan terus banyak tanya sama dia, akhirnya dia ngirimin rekaman cctv itu ke gue, isi rekaman itu jelas ada dua orang yang lagi berantem di depan rumah sakit itu, mereka adu bacot dan sama-sama saling ngehajar satu sama lain tapi ...." Faza menggantung perkataannya.


"Apa?" tanya Tania.


"Pandangan mata gue tertuju di gerbang rumah sakit," ucap Faza dengan tatapan menerawang.


"Apa, Za?" tanya Tania.


"Sasya," ucap Faza membuat jantung Tania berdegup kaget. Degg! Jangan katakan Sasya melihat pertengkaran Aldy dan Leo.


"Sasya ngeliat Aldy sama Leo berantem, Sasya nangis karena dengar teriakkan Aldy sama Leo yang sama-sama cinta sama Sasya sampai Sasya jatuh pingsan karena ngeliat kedua sahabatnya saling hajar satu sama lain," ucap Faza meneteskan air matanya namun mata pria itu masih menerawang jauh.


"Za," lirih Tanua pelan.


"Enam hari setelah kejadian Sasya pingsan, gue jenguk Sasya di rumah sakit sendirian, Sasya cerita semuanya sama gue bahkan dia minta ke gue buat akurin Aldy dan Leo karena dia nggak mau lihat para sahabatnya berantem gara-gara dia. Dia bilang dia udah cukup bahagia karena ternyata Aldy membalas cinta dia tapi dia juga sedih karena dia enggak bisa balas cintanya Leo," ucap Faza perlahan menghapus air matanya.


"Tapi waktu gue pulang ke rumah, malamnya kita semua dapet kabar tentang Sasya udah berlepas," lirih Faza.


"Semenjak kepergian Sasya, kita udah nggak akur lagi, kita mulai berantem dan saling acuh sampai dua hari kepergian Sasya, kita semua sepakat buat kumpul di basecamp. Semuanya saling diam sampai gue yang mulai ngomong tentang Sasya tapi Aldy sama Leo malah saling adu bacot sampai semuanya jadi kacau karena Aldy sama Leo berantem lagi di basecamp," ucap Faza.


"Aldy sama Leo enggak mau dengar omongan siapapun, mereka bener-bener keras kepala, mereka fikir cuma mereka doang yang kehilangan Sasya sampai akhirnya Aldy sama Leo memutuskan buat bubar," ucap Faza mengeraskan rahangnya.


"Sampai sekarang permasalahan itu belum terselesaikan, gue punya janji sama Sasya dan gue pengen tepatin janji itu," ucap Faza.


"Gue bakal bantu lo, Za." ucap Tania dan Faza hanya tersenyum tipis saja.


Lama Faza dan Tania saling diam, Faza menundukkan kepalanya sedikit hingga Tania menatap ke arah Faza lekat, entah kenapa Tania merasa ada dorongan dalam dirinya untuk berkata jujur pada Faza yang baik karena ingin menepati janjinya pada Sasya.


"Za, sebenernya ...."


.......


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2