Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part 136


__ADS_3

Setelah Henry dan Jessy menyelesaikan makan malam mereka, Jessy mengajak Henry untuk berbicara so'al hubungan mereka.


"Apa kau tidak mencintaiku lagi, Sayang?" tanya Jessy dengan tatapan manja yang di buat-buat.


Jujur, Ketika Jessy melontarkan pernyataan itu, rasanya ia ingin menangis karena ia tidak bodoh untuk bisa menebak bahwa Henry-nya yang dulu sudah berpaling ke wanita lain.


"Jangan bertanya so'al cinta kepadaku, karena bagaimana pun juga aku akan tetap menikahimu," ucap Henry datar.


"Tanpa cinta?" tanya Jessy namun Henry malah diam dengan tangab yang terkepal kuat.


Jessy memejamkan matanya sejenak, sungguh menyedihkan, kemana cinta yang dulu mereka bangun selama 12 tahun? Apa secepat itu Henry melupakannya dan berpaling pada Karamel?


"Tatap aku, jika kau tidak mencintaiku lagi maka tatap mataku sekarang," pinta Jessy.


Henry menghela napas lalu Henry mencoba untuk menatap mata Jessy namun tiba-tiba mata Henry beralih ke arah belakang Jessy.


Mata Henry terbelalak kaget ketika wajah datar karamel dengan tatapan yang menyeramkan bertemu dengan matanya.


"Ka-kara," gumam Henry membuat Jessy mengernyitkan dahinya pura-pura bingung.


"Apa? Kara? Kau memanggilku Kara? tanya Jessy.


"Ti-tidak tidak, kenapa aku bisa melihat orang yang sudah meninggal," gumam Henry langsung menundukan kepalanya.


Henry memejamkan matanya sejenak, sebisa mungkin ia meyakinkan bahwa apa yang ia lihat hanyalah sebuah khayalan semata karena istri tercintanya sudah meninggal di depan matanya.


"Sayang, Are you okay?" tanya Jessy lembut.


Perlahan Henry kembali mendongakan kepalanya. tidak ada, Karamel sudah tidak ada di sana lagi sehingga ia bisa bernapas lega namun saat ia melirik ke samping kiri, tiba-tiba Karamel berdiri dari jarak yang lumayan jauh.


Mata Henry kembali terbelalak kaget!


"Karamel," pekik Henry sembari berdiri dari duduknya, sehingga Jessy mengikuti arah jari telunjuk Henry.


"What do you mean, Sayang? Tidak ada siapa-siapa di sana." ucap Jessy dengan nada tinggi


Deggg! Henry menatap Jessy tajam.


"Apa kau bilang? Tidak ada siapa-siapa? Kau tidak bisa melihatnya? Di sana ada Karamel," sentak Henry.


"Jangan menakut-nakutiku, Sayang." ucap Jessy dengan nada pura-pura takut.


"Tidak mungkin! Hei kalian, apa kalian juga tidak bisa melihat ...." Henry yang ingin bertanya dengan para bodyguard, seketika tidak jadi karena Karamel sudah menghilang lagi.


"Apa kau baik-baik saja, Sayang?" tanya Jessy melihat raut wajah ling-lung Henry yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


"Kenapa kau terus menyebut nama istrimu yang sudah meninggal itu?" sentak Jessy marah.


"Kara sudah meninggal lalu yang aku lihat tadi ... ak apa itu ilusiku atau itu khayalanku, apa mungkin itu nyata? Ta-tapi Karamel sudah tidak ada lagi. Ada apa denganku sebenarnya?" gumam Henry mencengkeram rambutnya.


"Itu bukan ilusi atau khayalanmu, Sayang. Tapi yang kau lihat barusan itu nyata. Karamel masih hidup dan kau baru saja melihatnya." batin Jessy menatap sinis ke Henry.


"Tidak, ini tidak mungkin terjadi." ucap Henry, omong kosong apa yang ia alami sekarang, melihat hantu istrinya? Ia tidak boleh percaya dengan hal-hal semacam itu.

__ADS_1


"CCTV, aku mau lihat rekaman CCTV sekarang." ucap Henry ingin memastikan bahwa yang ia lihat tadi nyata atau tidak.


"Untuk apa kau mau melihat CCTV, Sayang?" tanya Jessy.


Henry tidak menghiraukan pertanyaan Jessy dan langsung pergi menuju tempat monitor CCTV gedung itu berada.


Jessy masih menampilkan wajah pura-pura bingungnya lalu Jessy mengikuti ke mana Henry akan pergi.


"Semoga jeffry sudah meretas CCTV yang ada di tempat ini," batin Jessy was-was.


Setelah sampai Henry langsung di hadapkan oleh dua security yang menjaga pintu, "Minggir," sentak Henry.


"Maaf Tuan, ini adalah ruangan privat jadi anda tidak boleh ...."


"Apa hak kalian melarang Henry Del Nixon untuk masuk ke sini! Hah?" pekik Henry membuat kedua security itu terbelalak mendengar nama marga yang paling berpengaruh di Kanada.


"Maafkan kami Tuan, kami ...."


Security itu tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena Henry sudah lebih dulu melewati mereka berdua untuk masuk ke ruangan yang di penuhi puluhan monitor CCTV itu.


Jessy yang melihat tingkah sembrono Henry hanya bisa tersenyum sinis.


"Permainan baru saja di mulai tapi kau sudah merasa frustasi, Henry. Bagaimana jika dalam empat hari ke depan? Mungkinkah kau akan gila?" gumam Jessy.


Jessy tidak mau ikut masuk ke dalam dan beberapa menit kemudian Henry keluar dengan wajah yang kusut dan rambut yang berantakan


"Sepertinya Jeffry melakukan tugasnya dengan baik," batin Jessy tersenyum sinis.


Dengan wajah yang di buat khawatir, Jessy menghampiri Henry, "Sayang ...."


"Bagaimana orang yang sudah meninggal ada di sini, Sayang. Itu sangat mustahil bukan." potong Jessy membuat wajah Henry tampak semakin sedih.


"Apa itu hanya ilusi mataku saja?" batin Henry.


"Aku melihat Karamel menatapku dengan penuh kebencian tadi, tapi kenapa hanya aku? Mungkinkah di alam sana dia sudah tahu apa yang sudah aku lakukan padanya dan keluarganya maka dari itu dia membenciku hingga aku bisa merasakan aura dirinya di sekitarku." batin Henry tak karuan.


"Mustahil jika arwah Karamel gentayangan, itu tidak mungkin terjadi ... tidak ...."batin Henry.


"Tidaaakkkk ....!" pekik Henry tiba-tiba.


"Ada apa sayang? Kenapa kau berteriak? Apa kau baik-baik saja? Ah tidak sepertinya kau ... lebih baik kita pulang sekarang, aku khawatir kau sedang tidak enak badan, Sayang." ucap Jessy mengajak Henry untuk pulang.


......................


...Apartemen Leo (Kanada)...


Setelah menyelesaikan tugas awalnya, Karamel langsung membersihkan tubuhnya lalu membaringkan tubuhnya di ranjang.


"Aku harus nelpon Leo sekarang ... enggak enggak, ceritanya bakal lebih seru kalo Jessy juga ada di sini," gumam Karamel mengurungkan niatnya.


"Oke, kapan kau akan kembali. Aku akan menunggumu Jessy." sambung Karamel tampak senang karena tugasnya berhasil membuat Henry tampak terkejut dan mungkin akan menjadi beban fikirannya juga sekarang.


Beberapa jam kemudian bel apartemen berbunyi, Karamel langsung beranjak dari tempat berbaringnya untuk keluar menuju pintu.

__ADS_1


"Kau lama sekali, Jessy. Aku sudah hampir lumutan karena menunggu kedatanganmu sejak tadi namun kau tidak juga datang ke sini," celoteh Karamel membuat Jessy terkejut sekaligus tersenyum aneh karena Karamel tampak kesal kepadanya.


"Kenapa kau menungguku?" tanya Jessy.


"Masuklah dulu," sahut Karamel dan mereka berdua pun masuk.


"Aku melihat wajah frustasi Henry tadi, aku rasa rencana kita berhasil. Benarkan?" tanya Karamel antusias dan Jessy tersenyum kecut.


"Iya, kita berhasil Kara." sahut Jessy membuat Karamel langsung memeluk Jessy.


Jessy membalas pelukan Karamel, namun tanpa sadar air mata Jessy jatuh membasahi kedua pipi mulus Jessy.


Jessy mencoba untuk menghapus air matanya namun air matanya sudah terlanjur mengenai punggung Karamel sampai Karamel mengernyit karena merasakan punggungnya basah, perlahan Karamel melepaskan pelukkan mereka berdua.


"Ada apa, Jessy? Kenapa kau menangis?" tanya Karamel mengangkat dagu Jessy yang menampakan mata Jessy yang memerah.


Karena tidak sanggup berbicara Jessy hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu Jessy kembali memeluk Karamel.


"Henry tadi mengajakku ke bar miliknya, Kara. Dia mabuk berat dan terus menyebut namamu. Dia benar-benar telah melupakan cinta pertamanya, dia melupakan aku Kara ... hiks ... hiks ...." batin Jessy sangat terpukul.


Jessy tidak bisa membenci Henry karena Henry adalah laki-laki yang selalu mengistimewakan Jessy Mon Andrea sejak 12 tahun yang lalu. Henry tidak pernah membentak, memarahi ataupun memukuli Jessy, selama ini Henry hanya menunjukan kasih sayangnya pada Jessy namun semua kenangan itu hilang sejak Rega Ananda memberikan misi pada Henry untik menikahi Karamel.


Untuk mewujudkan permintaan Rega Ananda, Henry sampai rela berpisah dari Jessy dan bahkan menjadikan Jessy sebagai umpan untuk menghalangi Leo kembali ke kehidupan Karamel.


Henry selalu berjanji pada Jessy bahwa dia tidak akan pernah mencintai Karamel namun kenyataannya Henry tidak menepati janjinya, Henry berpaling dari Jessy dan mencintai Karamel.


"Aku tahu ini pasti ada hubungannya dengan Henry." batin Karamel seraya menepuk-nepuk pundak Jessy hingga beberapa menit kemudian Karamel melepas pelukkan mereka.


"Katakan sejujurnya, apa kau sangat mencintai Henry? Apa kau terluka karena dia mencampakkanmu? Atau kau menangis karena Henry memukulimu?" tanya Karamel beruntun namun pelan namun Jessy menunduk sembari menggelengkan kepalanya.


"Aku sudah menganggapmu seperti kakakku sendiri, Jessy. Adik mana yang tidak bersedih jika kakaknya terus menangis begini." ucap Karamel merintihkan air matanya.


Mendengar perkataan Karamel barusan, Jessy jadi membanjiri pipinya dengan air mata, "Tidak, Kara ...." perkataan Jessy terputus.


"Apa yang Henry lakukan pada kakakku ini! Hem? Apa dia memukulimu?" tanya Karamel mengarik dagu Jessy.


Mata mereka berdua bertemu dan itu membuat air mata Jessy semakin deras karena Karamel ikut menangis oleh dirinya.


"Bagaimana caranya aku menghilangkan cintaku ini, Kara. Hiks ... hiks ...." isak Jessy.


"Henry terus memanggil namamu, aku bisa merasakan kepedihannya atas kehilanganmu, dia sangat mencintaimu sampai aku tidak sanggup melihat penderitaannya." isak Jessy membuat Karamel speechlees.


"Lalu bagimama dengan cintamu? Apa kau tidak memikirkan perasaanmu juga? Kau mencintainya tapi dia tidak mencintaimu, Jessy. Kau memikirkan penderitaannya sedangkan dirimu lebih menderita darinya." sengit Karamel.


"Dengarkan aku Jessy, Henry tidak pernah mencintai siapapun. Jika dia mencintaimu maka dia tidak akan mungkin berpaling darimu, begitu juga jika dia mencintaiku maka dia tidak akan mungkin mau membunuh seluruh anggota keluargaku, Jessy." ucap Karamel membuat tangisan Jessy berhenti.


"Itu artinya dia hanya ingin di cintai bukan mencintai, Kara. Dan bod*hnya aku sangat mencintainya." lirih Jessy masih dengan air mata yang sedikit mengalir.


"Cobalah untuk mengerti Jessy, Henry bahkan tidak memperdulikanmu yang sangat tulus mencintainya jadi lebih baik kau berhenti untuk mencintainya, aku bahkan sudah menyadari diriku bukan mencintai Henry tapi hanya sekedar menghargai dirinya, menghargai cinta palsunya selama lima tahun itu menungguku," batin Karamel.


.......


.......

__ADS_1


.......


...::: Bersambung :::...


__ADS_2