Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 221 (Takdir)


__ADS_3

Malam ini Dafa menginap di rumah Faza, alasannya ingin mengerjakan tugas bersama tapi Faza sangatlah paham dengan tujuan Dafa yang menginap adalah untuk menanyakan masalah obrolannya dengan Gina tadi siang.


"Gimana lo sama Gina tadi, lancar?" tanya Dafa ketika mereka selesai makan malam bersama.


Faza menatap malas ke arah Dafa lalu Faza menghempaskan tubuhnya di kasur, "Gak tau," sahut Faza membuat Dafa mengerutkan dahinya.


Tidak tau yang di maksud Faza adalah so'al dirinya yang ingin mengajak Gina untuk berjuang bersama tapi keraguan itu muncul begitu saja saat Gina mengajak dirinya untuk menjadi sahabat perempuan itu.


"Kok bisa gak tau?" pekik Dafa bertanya. Faza memejamkan matanya, dan tiba-tiba saja bayangan wajah Karamel muncul.


"Suasananya enggak pas," sahut Faza santai.


"Enggak pas gimana maksud lo, udah jelas dua hari yang lalu lo kebelet banget pengen nembak Gina," ucap Dafa membuat Faza menghela napas gusar.


"Gimana gue mau nembak dia coba, orang dia yang duluan ngomong minta gue jadi sahabat dia," ucap Faza.


"Pftt! Jadi sebelum lo ungkapin perasaan lo, Gina udah duluan nolak lo secara halus gitu." ucap Dafa terdengar mengejek Faza dan Faza langsung melebarkan matanya untuk memelototi Dafa.


"Jelas lah Gina enggak mau sama lo, orang dia ngiranya lo udah punya pacar." ucap Dafa kini membuat Faza bangkit dari tempatnya berbaring.


"Maksud lo?" tanya Faza spontan sehingga Dafa melirik sinis ke arah Faza.


"Siniin hp lo," pinta Dafa.


"Buat apa?" tanya Faza.


"Buat lihat bukti," sahut Dafa.


"Bukti apa?" tanya Faza.


"Ribet lo, tinggal kasih hp lo aja apa susahnya sih," kesal Dafa dan Faza terpaksa memberikan handphonenya kepada Dafa.


Klikk! Dafa langsung menghidupkan layar handphone Faza dan benar, yang menjadi wallpaper handphone Faza adalah seorang wanita berpakaian berwarna putih yang memunggungi kamera dan wajahnya menghadap kamera, wanita itu tersenyum tipis, terlihat sangat cantik hingga Dafa pun tidak berkedip saat melihatnya, dia adalah Karamel.


Faza mengerutkan dahinya tidak suka.


"Udah selesai mandangin fotonya?" tanya Faza dengan nada kesal dan Dafa langsung tersentak.


"Nah, ini nih ...."


"Apa?" tanya Faza sinis kala Dafa menunjuk-nunjuk layar handphonenya dengan tatapan tidak suka.


"Foto cewek mana nih, asal-asalan aja lo jadiin wallpaper hp lo." bentak Dafa.


"Dia ...."


"Gue harap bukan pacar lo ya ... astaga Za, playboy parah lo ya, dari pada lo pajang foto cewek gak jelas kayak gini mending lo pajang ...."


Plakk! Dafa berhenti bicara kala Faza memukul kepalanya dengan sangat keras, Faza emosi kala foto Karamel di sebut sebagai perempuan yang tidak jelas, Karamel adalah adik sepupu yang sangat Faza sayangi, tidak ada yang boleh mengata-ngatai Karamel atau Faza akan menghajarnya habis-habisan.


"Anji*g, sakit Anji*g ...." umpat Dafa mengelus-ngelus kepalanya dengan kasar.


"Dia bukan cewek gak jelas," sengit Faza lalu merampas handphonenya dari tangan Dafa.


Dafa menganga menatap Faza, kenapa Faza sangat marah dengan dirinya? Siapa perempuan itu hingga Faza tidak suka jika dirinya mengata-ngatai perempuan itu? Dia bukan pacar Faza 'kan? Apakah perempuan itu sangat penting bagi Faza? Apa sepesial nya perempuan itu? Memikirkan banyak pertanyaan mambuat Dafa sakit kepala.


"Lo marah sama gue karena cewek gak jelas ...."


"Sekali lagi lo ngomongin dia cewek gak jelas, gue buat batang lo berubah jadi lubang," ancam Faza melotot marah sehingga Dafa langsung menutupi bagian yang di maksud Faza.


"Sadis lo, gara-gara tu cewek gak ... em ehem! maksud gue cewek yang ada di layar hp lo, batang gue jadi sasaran ancaman lo," kesal Dafa hampir saja keceplosan.


"Si-si-siapa tu cewek?" tanya Dafa dengan suara tinggi, Dafa ingin menutupi rasa merinding dalam tubuhnya namun gagal kala penyampaian katanya barusan terdengar bergetar.


"Dia cewek yang berhasil buat gue bahagia," ucap Faza membuat Dafa pusing karena tidak paham dengan kata ambigu Faza yang memicu sebuah status kekasih 'kah atau mantan kekasih?

__ADS_1


"Pacar lo atau mantan pacar lo?" tanya Dafa dan Faza diam sejenak.


Jangankan jadi pacar, untuk mengungkapkan perasaannya saja tidak akan pernah terjadi.


"Sepupu gue," sahut Faza pelan.


"Hah! Sepupu lo bilang, di-dia sepupu lo?" tanya Dafa dengan nada nyolot.


"Hm," sahut Faza.


"Lo jangan ngada-ngada deh, sejak kapan lo punya sepupu hah? Secara lo 'kan anak ...." Dafa berhenti berbicara saat menyadari siapa orang yang di sebut Faza sebagai sepupu.


Dafa langsung melotot kaget ke arah Faza.


"Di-dia putri tunggal dari keluarga besar tiga marga besar itu?" tanya Dafa sembari menunjuk handphone Faza.


"Iya, dia Karamel Listra Najasi Aramoy," ucap Faza membuat Dafa semakin melebarkan matanya.


"Demi apa lo, gue barusan ngata-ngatain dia, Za." sentak Dafa panik sendiri.


"Makanya kalo ngomong itu di jaga," sahut Faza.


"Bentar bentar kalo dia sepupu kandung lo, kenapa foto dia lo jadiin wallpaper hp lo?" tanya Dafa karena jika di foto itu ada Faza dan Karamel mungkin Dafa tidak akan bingung tapi Faza hanya menempatkan foto Karamel seorang, itu patut di pertanyaan bukan? Karena jika orang lain melihat wallpaper foto Karamel di handphone Faza, pasti mereka langsung mengira bahwa Karamel adalah kekasih Faza.


"Karena dia cantik," sahut Faza simpul.


"Bunda Santi juga cantik, kenapa enggak pasang foto Bunda aja?" tanya Dafa membuat Faza kesal karena Dafa tidak pernah mau berhenti memanggil bundanya dengan panggilan bunda juga.


"Bacot lo," umpat Faza membaringkan tubuhnya di kasur.


"Asal lo tau aja Gina tu cemburu karena di hp lo ada foto cewek cantik," ucap Dafa membuat Faza tersenyum miring.


"Wow, apa itu artinya dia cinta sama gue?" tanya Faza merasa bangga pad dirinya sendiri karena mengira ia berhasil menaklukkan si Gina.


"Gila lo ya," Dafa naik pitam karena Faza tidak menyahutinya dan malah senyum-senyum sendiri seperti orang gila.


...........................


Pagi ini Faza dan Dafa sudah bersiap akan pergi ke kampus namun sebelum itu mereka di suruh bunda Santi untuk sarapan bersama, "Za, gue bareng lo ...." belum sempat Dafa menyelesaikan perkataannya, Faza sudah lebih dulu memotongnya.


"Enggak bisa, gue ada urusan penting," tolak Faza membuat ayah Glenn, bunda Santi dan Dafa mengernyit kebingungan karena tidak biasanya Faza menyebut sebuah urusan yang sangat penting.


"Mobil gue enggak bisa keluar karena di halangin mobil Bunda sama om Glenn di garasi, Za." ucap Dafa.


"Pake motor gue aja, sana!" sahut Faza sambil memakan sarapannya.


"Liat Bun, Faza jahat banget sama Dafa." rengek Dafa mengadu pada bunda Santi.


"Faza ...."


"Bunda, Faza ada urusan penting yang enggak boleh di ganggu sama parasit," ucap Faza menatap tajam ke arah Dafa.


Faza merasa kesal, kesal, kesal, karena pertama Dafa memanggil bundanya dengan panggilan bunda juga. Kedua, Dafa sangat berani mengadu pada bundanya hingga bundanya hampir saja menceramahi dirinya lalu ketiga, tidak tahukah Dafa alasan Faza ingin berangkat ke kampus sendirian itu karena Faza ingin menjemput Gina ke rumahnya.


Mengingat kemarin sebelum Gina keluar dari mobilnya, Faza sudah meminta izin pada Gina untuk ia jemput pagi ini jadi Faza pastinya tidak mau karena adanya Dafa moment berduaannya dengan Gina hancur seketika.


"Ada urusan apa kamu?" tanya Glenn membuat Faza melirik sang ayah dengan ragu.


"Rahasia," sahut Faza.


"Dih berani lo ya main rahasia-rahasiaan sama om Glenn." tunjuk Dafa mendapatkan tatapan tajam dari Faza.


"Berangkat bareng Dafa," ucap Glenn.


"Kamu sama Dafa 'kan satu kampus jadi barengan aja ya," timpal Santi setuju dengan suaminya.

__ADS_1


"Enggak bisa bunda," sahut Faza cepat, sungguh Faza merasa frustrasi karena di desak untuk berangkat ke kampus bersama Dafa.


"Durhaka lo enggak nurut sama orang tua," ucap Dafa membuat Faza mendengus kesal.


"Gue mau jemput orang penting jadi gue enggak bisa bareng lo," sengit Faza membuat Dafa tersedak makanannya


Uhukk uhuk uhuk ....


"Astaga! Pelan-pelan makannya, Dafa." ucap Santi langsung menyodorkannya gelas kepada Dafa.


"Makasih Bun," ucap Dafa setelah meminum penuh isi gelas itu.


"Lo mau jemput Gin...."


"Iya," Faza langsung menjawab cepat karena Dafa hampir saja menyebut nama Gina di depan kedua orang tuanya.


"Siapa yang mau kamu jemput, Faza?" tanya Glenn dan Santi serentak.


Dafa dan Faza tersentak, Glenn adalah seorang ayah yang tegas begitu juga Santi, Faza tahu orang tuanya tidaklah sama seperti orang tua Kenzi dan Karamel yang akan mendukung apapun yang menjadi pilihan anak-anak mereka.


Faza adalah anak tunggal yang akan menjadi pewaris dari keluarga Ramora, Glenn dan Santi tidak mau jika anak mereka melakukan kesalahan besar dalam memilih ataupun bertindak.


Dan Gina adalah pilihan Faza tapi mungkin pilihan Faza adalah sebuah kesalahan yang tidak akan di terima oleh kedua orang tua Faza, walau Faza yakin Gina adalah wanita yang sangat baik tapi tetap saja pandangan kedua orang tua Faza terhadap Gina belum tentu sama seperti apa yang Faza rasakan.


"Kenapa kalian diam?" tanya Glenn mengintimidasi.


"Dafa, siapa orang yang akan di jemput Faza?" tanya Santi membuat Dafa gelagapan, Dafa mengutuk mulutnya yang tadi keceplosan di depan kedua orang tua Faza hingga sekarang saat di tanya oleh bunda Santi, Dafa menjadi mati kutu.


"Aem! Faza, dia mau jemput ...."


"Pacarnya Dafa," sambar Faza membuat Dafa melebarkan matanya sedangkan kedua orang tua Faza terlihat mengerutkan dahi mereka.


"Ken ...."


"Pacar lo mau selingkuh sama gue karena gue lebih ganteng dari lo," ucap Faza asal membuat kedua orang tua Faza saling melempar pandangan.


Faza sengaja menyebut pacar Dafa karena kedua orang tua Faza tentu tahu pacar Dafa adalah anak dari konglomerat yang cukup terpandang di Malaysia bahkan ayah dari pacarnya Dafa punya jalinan kerja sama yang baik dengan perusahaannya Glenn.


"Eng ...."


"Udah selesai makan lo, buruan berangkat sekarang," potong Faza lalu bangkit dari tempat duduknya lalu menarik Dafa untuk bangkit juga dari tempat duduknya.


Keduanya menyalami Glenn dan Santi lalu kaduanya keluar rumah bersama, "Yah, anak kita beneran mau jemput pacarnya Dafa?" tanya bunda Santi.


"Bunda penasaran, nanti ayah selidikin," sahut Glenn membuat Santi diam karena nada bicara suaminya terdengar ketus.


Di depan rumah, Faza mendorong tubuh Dafa hingga mencium tanaman bunda Santi.


"kalo sampai Ayah sama Bunda tau gue mau jemput Gina, gue pastiin batang lo gue potong pake gunting tanaman Bunda," ancam Faza geram dengan Dafa.


Dafa memelotot lalu Faza menutupi bagian yang di maksud Faza, "Ngancam mulu lo, domba," pekik Dafa kesal.


Faza langsung melempar kontak motornya ke kening Dafa dan itu cukup keras.


"Pake tu motor, " ucap Faza lalu meninggalkan Dafa dengan masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari halaman rumahnya.


"Ciah, ngambek tu anak." desis Dafa mengelus keningnya, sebelum ia menyusul Faza pergi dari halaman rumah keluarga Ramora.


.......


.......


.......


...::: Bersambung :::...

__ADS_1


__ADS_2