Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part 97 — Visual Cleo dan Karamel


__ADS_3

Pulang dari sekolah, Karamel mengajak dua pria yang menebeng mobilnya ke cafe Gourmet, yaitu abang sepupunya Faza dan teman kelasnya Adit.


"Gue boleh nanya sesuatu nggak?" tanya Karamel ketika mereka bertiga sudah menghabiskan tenaga untuk bercanda tawa bersama.


"Pasti masalah Leo lagi," tebak Adit dan Karamel menganggukkan kepalanya iya.


"Apa yang mau di omongin?" tanya Faza.


"Gini, lo pada 'kan tau gue nunggu Leo udah lima bulan lebih tapi hasilnya dia nggak balik juga, beberapa anak buah gue sama Kak Kenzi juga udah berusaha mati-matian nyari informasi tentang keberadaan Leo tapi hasilnya nol persen jadi pertanyaannya, apa gue harus turun tangan pergi ke luar negeri buat cari dia sendiri?" tanya Karamel membuat Faza dan Adit membulatkan mata mereka.


"Jangan gila deh lo," protes Faza.


"Kita tau lo cinta mati banget sama Leo tapi jangan kayak gini juga, Kara!" timpal Adit dengan nada tinggi.


"Terus gue harus gimana? nunggu lagi?" tanya Karamel namun kedua pria itu malah diam saja.


"Ya udah gak masalah! Gue bakal nunggu dia lagi," ucap Karamel dengan loyo.


"Kebahagiaan pasti bakalan dateng buat lo, Kara," ucap Adit menggenggam tangan Karamel kuat, pria itu menyalurkan kekuatan pada Karamel.


"Tuhan itu maha adil, setiap kesedihan pasti bakalan terbalaskan oleh datangnya kebahagiaan." timpal Faza pula mengelus puncak kepala Karamel membuat Karamel tersenyum malu karena dirinya di perlakukan seperti anak kecil oleh kedua pria itu.


.........


Seorang laki-laki berkaca mata hitam tersenyum miring ketika kedua telinganya mendengar pembicaraan tiga anak muda di cafe yang sedang ia tempati saat ini.


"I will give you that happiness, Baby." desisnya menatap wanita yang tengah tersenyum tipis pada kedua pemuda di samping kiri-kananya lalu pria berkaca mata hitam itu pergi meninggalkan cafe.


..........


...Kediaman keluarga Sinaja...


Setelah membersihkan diri, Karamel duduk di meja belajarnya, ia menatap bingkai foto kecil yang menampilkan foto kekasihnya yang sedang tergelak. Ia rindu melihat tawa pria itu!



Setelah puas memandang foto kekasihnya, Karamel membuka buku hariannya, ia tersenyum tipis melihat setiap lembar dari buku hariannya kemudian ia mengambil pena.



Setelah selesai menulis, Karamel kembali mengambil bingkai foto kekasihnya, mata wanita itu memandang lekat wajah penuh kebahagiaan kekasihnya di dalam foto itu. Tak terasa mata wanita itu mulai menggenang hingga ia memejamkan matanya, air mata wanita itu mengalir jatuh membasahi pipinya.


.........


Beberapa minggu kemudian, saat baru saja bangun dari tidur Karamel langsung buru-buru turun dari tangga lalu ia berlari menuju pintu dengan raut wajah yang begitu ceria.


Anak-anak SALF BADRAD yang sedang asik bermain PS di ruang keluarga di buat heran sekaligus penasaran, apa yang membuat Karamel kembali tersenyum bahagia seperti dulu? Dan apa yang membuat Karamel beralari kencang menuju pintu?


Segera kedelapan pemuda itu bangkit dari tempat duduk mereka dan berlari kencang menyusul Karamel.


Satu persatu kepala kedelapan pemuda itu muncul dari balik pintu, mereka mengerutkan dahi aneh saat Karamel menerima kue ulang tahun dari mamang ojol.


"Tanggal berapa sih sekarang?" tanya Bobby.


"Ultah gue mah udah lewat tiga bulan yang lalu," ucap Adit mengira Karamel akan berbaik hati merayakan ulang tahunnya tapi itu mustahil, karena tanggal kelahiran Adit telah lewat.


"Elo Za yang ulang tahun?" tanya Diky melirikkan matanya ke atas karena wajah Faza ada di atas kepalanya.


"Bukan," sahut Faza.


"Elo Di?" tanya Adit menggerakkan kepalanya ke bawah karena posisi Abdi ada di bawah Adit namun Abdi menggelengkan kepalanya tanda bukan dirinya yang ulang tahun.


"Jujur, gue enggak pernah tahu tanggal lahir kalian semua itu berapa-berapa jadi langsung ngomong aja deh, siapa yang ulang tahun hari ini?" tanya Adit tidak mau ribet bertanya satu-persatu pada semua sahabatnya.


"Enggak ada," jawab Kenzi karena ia hapal semua tanggal lahir para sahabat-sahabatnya.


Karamel hendak masuk ke dalam rumah membuat kedelapan pemuda itu capat-cepat bersembunyi agar tidak ketahuan oleh Karamel, mata kedelapan pemuda itu tidak lepas menatap Karamel hingga Karamel berjalan keluar ke halaman belakang rumahnya, mereka juga ikut berlari kecil menyusul Karamel.


Lagi-lagi mereka bersembunyi di balik pintu dengan kepala mereka yang muncul menatap Karamel.

__ADS_1


"Hewan peliharaan lo berdua yang ulang tahun ya, Ken?" tanya Dito karena wanita itu berjalan mendekati Kucing Karamel.


"Bukan," jawab Kenzi singkat.


Mulut Karamel komat-kamit di depan kucing peliharaannya seraya tangannya menunjuk kue yang ia bawa membuat Kenzi menyipitkan matanya, tampak berfikir keras untuk siapa kue ulang tahun itu.


Tiba-tiba saja Faza keluar dari balik pintu dan berjalan mendekati Karamel membuat ketujuh sahabatnya memelotot kaget seraya berdesis memanggil Faza namun Faza berlagak tuli dan terus berjalan mendekati Karamel.


Karamel berdiri dari tempatnya berjongkok lalu ia berjalan menjauh seraya dirinya memandangi kue ulang tahun itu namun langkah wanita itu berhenti dan berbalik menatap kucing peliharaannya, ia tersenyum karena kucing peliharaannya menatap dirinya juga. Cekrek! Tiba-tiba ada kamera yang memotret dirinya.



"Cantik," ucap Faza melihat hasil foto yang ia ambil kemudian Faza mendongakkan kepalanya menatap Karamel yang memasang raut wajah terkejut.


"Jelek," ucap Faza menatap wajah Karamel membuat Karamel merubah raut wajah terkejutnya.


"Kue buat siapa?" tanya Faza melirik kue yang ada di genggaman tangan Karamel.


"Leo," jawab Karamel seraya tersenyum tipis. Degg! Rasanya jantung kedelapan pemuda itu seperti di sengat listrik, terasa sangat ngilu!


Mereka lupa dengan ulang tahun Leo namun Karamel mengingatnya, kebahagiaan wanita itu malah menjadi kesedihan kedelapan pemuda itu karena yang di cintai wanita itu tidak ada di sisi wanita itu.


"Ya udah aku ke atas dulu ya Za," ucap Karamel berjalan masuk ke dalam rumah dan naik tangga menuju kamarnya.


"Gue enggak tega liat Kara kayak gitu," ucap Bobby.


"Gue pernah suruh Kara buat berhenti nunggu Leo tapi Kara enggak mau nyerah," kata Kenzi.


"Cinta Karamel bener-bener dalem dan tulus banget," ucap Abdi pula.


"Leo beruntung bisa punya Ara yang setia sama dia, gue harap Leo enggak akan ngecewain Ara." ucap Faza kemudian hening sebentar.


"Leo cowok 'kan ya, kok kue-nya malah warna pink sih," ucap Adit malah salfok dengan warnah kue ulang tahunnya, sehingga ketujuh sahabatnya menatap malas ke arah Adit.



Setelah menulis, Karamel tersenyum lebar membayangkan dirinya merayakan ulang tahun kekasihnya namun beberapa detik kemudian, senyuman itu berubah sedih kala kekasihnya berada jauh darinya.


.........


"Akhirnya otak be*o gue enggak akan banyak pikiran lagi karena ulangan tengah semester kita udah selesai semuanya," pekik Mika tanpa rasa malu.


"Malu Mika, di lihatin babang Rio tuh," ejek Diky.


"Bodo amat," dengus Mika.


"Yang ada mah Mika malu-maluin, Dik." ucap Adit membuat Mika membulatkan matanya. Bukk! Lengan Adit di pukul keras oleh Mika sampai membuat Adit meringis kesakitan.


"Aggghh! Sakit Mika, tangan lo terbuat dari besi ya?" pekik Adit membuat semua yang sedang berkumpul tertawa renyah.



Karamel menutup buku hariannya lalu ia menatap kosong ke arah bawah hingga tanpa sadar air mata wanita itu jatuh lagi dan lagi.


"Kara," panggil Kenzi membuat Karamel tersadar dari lamunannya kemudian wanita itu menatap sang kakak, namun sebelum Karamel ingin bertanya kenapa pada sang kakak, tangan wanita itu bergerak menyentuh pipinya.


"Gue nangis lagi? Empat ratus satu dong," gumam Karamel menghitung tangisannya lagi.


"Kenapa lo suka banget nyiksa diri lo sendiri sih," kesal Faza mendekati Karamel kemudian ia menghapus air mata adik sepupunya menggunakan tisu.


"Air matanya yang bandel, Bang," ucap Karamel malah membuat lelucon hingga beberapa di antara mereka tersenyum hambar.


"Udah jangan nangis lagi, Oke!" titah Faza namun setetes lagi air mata Karamel malah turun.


"Penantian gue nggak mungkin sia-sia 'kan, Bang? Contohnya Babas, delapan tahun gue nunggu dia, pada akhirnya dia balik lagi buat gue." tanya Karamel membuat Faza speechless.


"Sahabat kalian pasti bakal balik 'kan?" tanya Karamel kini menatap anak-anak SALF BADRAD yang lain namun mereka juga sama seperti Faza yang hanya bisa diam.


"Gue yakin dia bakal balik ke gue lagi," ucap Karamel tidak perduli apakah para sahabat Leo yakin atau tidak, yang jelas dirinya tetap yakin Leo akan kembali lagi ke Jakarta.

__ADS_1


...........


"Selamat ulang tahun, Kenziro dan Karamel," teriakkan heboh semua para sahabat-sahabat mereka saat Kenzi dan Kara meniup lilinnya.


Hari ini adalah ulang tahun Kenzi dan Karamel yang di rayakan di cafe Gourmet, tidak banyak yang datang karena memang Kenzi dan Karamel merayakannya dengan sederhana saja.


"Makasih," ucap Kara dan Kenzi bersamaan.


"Mari makan," teriak Bobby.


"Makan sepuas kalian, kita berdua teraktir, ucap Kenzi menoleh ke arah Karamel sehingga Karamel tersenyum sembari mengangguk pelan.


"Kak, gue mau keluar bentar ya," izin Karamel dan di balas anggukan oleh Kenzi.


Karamel duduk di luar cafe lalu ia membuka buku hariannya dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja.



Karamel kembali menutup buku hariannya, mata wanita itu terpejam kuat karena saat dirinya menulis, air matanya tidak bisa ia cegah untuk jatuh, alhasil buku harian Karamel terkena air mata Karamel.


"Empat ratus lima puluh lima," gumam Karamel kembali menghitung tangisannya.


Kalaupun Leo tidak bisa kembali lagi, bisakah hati ini terobati? Bisakah dirinya bahagia? Senyuman tanpa paksaan? Memberhentikan luka ini? Harap Karamel.


............


Di parkiran mobil sebuah cafe yang di kenal banyak di gemari para remaja, ada seorang laki-laki berkaca mata hitam menatap seorang wanita yang tengah menangis sembari merengkuh sebuah buku.


"Don't cry anymore, Baby." gumam laki-laki itu mengepal tangannya, ada rasa ingin marah saat melihat air mata wanita itu


...........


Acara malam ini terus berjalan sangat lancar hingga menjelang pagi, semua sepakat untung pulang ke rumah mereka masing-masing.


"Kak," panggil Karamel saat mereka sudah berada di parkiran garasi rumah mereka.


"Kenapa?" tanya Kenzi.


"Udah enam bulan Leo nggak ...."


"Trisna bilang, akses nama keluarga Leo udah nggak bisa terdeteksi lagi bahkan di beberapa tempat yang mereka cari data nama Leo, nyokap sama bokapnya juga nggak ada." ucap Kenzi.


"Dia pergi karena terpaksa atau dia pergi karena sengaja ninggalin gue sih, Kak?" tanya Karamel karena dirinya tidak bod*h bisa memahami situasi mereka semua yang mencari keberadaan Leo namun hasilnya selalu nol persen.


"Jangan lagi, please jangan nangis lagi ya, kakak mohon!" pinta Kenzi takut adiknya akan menangis lagi.


"Enggak kok," lirih Karamel.


.........


Lima bulan kemudian, pada akhirnya angkatan Karamel dan Kenzi telah lulus dari SMA semua. Bahagia, terharu, bangga, sedih, semua tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata lagi.


Kini para rombongan Karamel ada banyak yang berpisah, Kenzi sudah menempuh pendidikan di Amerika, Faza juga melanjutkan kuliahnya di Malaysia, Rio dan Mika di Singapura, Abdi dan Firgy di New York, Niky di California, dan sisanya masih tinggal dan menempuh pendidikan di Indonesia.



Karamel menghela napas untuk yang kesekian kalinya lalu ia meletakan buku hariannya ke dalam tas, cafe Gourmet yang menjadi sejarah anak-anak SALF BADRAD dan para sahabat Karamel yang suka berkumpul bersama di sana, Karamel duduk sendirian di cafe itu seraya dirinya melihat ada beberapa anak-anak muda lainnya yang tengah berkumpul bersama teman-teman mereka, ada juga anak muda yang berpasang-pasangan.


"Aku kesepian Leo," gumam Karamel lirih.


Taka lama kemudian Karamel berdiri dari kursinya dan melangkah keluar dari cafe, tapi saat Karamel sudah berada di luar cafe, ia melihat ada seorang pria berpakaian formal dan berkaca mata hitam bersandar di kap mobilnya.


Awalnya Karamel tidak perduli tapi pria itu malah melambaikan tangannya ke atas udara sehingga Karamel langsung menoleh ke arah belakang, barang kali pria itu memanggil orang lain di belakang Karamel. Tapi, tidak ada, Karamel kembali menghadap ke depan. Deggg! Karamel di buat kaget karena pria itu sudah berdiri di depan Karamel, pria itu menaikkan sebelah sudut bibirnya membentuk senyum miring namun tipis.


"Siapa anda?" tanya Karamel.


.......


.......

__ADS_1


.......


...::: Bersambung :::...


__ADS_2