Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part _ 228 (Takdir)


__ADS_3

Tibalah hari di mana pesta yang di ucapkan Aryan di gelar, kini para sahabat dan para anggota keluarga hadir di pesta itu, di sini lah mereka sekarang di New Zealand, di gelar di sebuah kapal pesiar pribadi milik kakeknya Aryan.


Kaget, Leo dan Karamel tidak menyangka Aryan akan mengundang semua anggota keluarga besar mereka.


"Pah - Mah, kalian juga di undang sama kak Aryan?" tanya Leo tampak kaget melihat Yarra dan Prasetya ada di pesta itu juga sedangkan Karamel memilih untuk diam.


"Kami di undang oleh Tuan Bento," sahut Prasetya namun Leo mengerutkan dahinya tidak mengenal siapa orang yang di sebut sang papa.


"Kakeknya Babas," ucap Karamel meluruskan kebingungan Leo.


"Ka-Kara!?" panggil seorang wanita dengan nada suara tercekat.


Karamel dan Leo menoleh ke arah sumber suara, dan ternyata wanita itu adalah Mika. Ya, Mika berdiri tak jauh dari Karamel, di samping Mika juga ada Biyan dan juga Rio, kedua laki-laki itu menatap Karamel dan Leo dengan tatapan terkejut.


"Mika," Karamel berjalan menghampiri sahabat lamanya dengan senyuman merekah yang terpatri di bibir Karamel.


"Lo masih hidup?" tanya Rio membuat langkah Karamel terhenti, senyuman Karamel menjadi pudar kala baru ingat dengan ketiga orang yang ada di depannya ini belum tahu tentang dirinya yang masih hidup.


"Dan cowok brengs*k itu, kenapa dia ada di sini juga?" tanya Mika masih dengan tatapan kaget.


"Kak Biyan, Mika, Rio! Gu-gue emang masih hidup bahkan sebenarnya gue ...."


"Karamel enggak pernah meninggal," potong Leo berdiri di samping Karamel.


"Bukannya kata Diky sama Adit, Kara udah meninggal gara-gara di tembak sama orang!?" ucap Rio.


"Ceritanya cukup panjang tapi gue bakal cerita singkatnya aja ya," ucap Karamel mulai menjelaskan sedikit tentang rumah tangganya dengan Henry dulu hanyalah kebohongan belaka, Henry menikahi Karamel itu demi sebuah misi untuk mengincar seluruh anggota keluarganya. Lanjut, Karamel menceritakan bagaimana dirinya benar-benar di tembak oleh suruhan daddynya Henry dan koma selama seminggu namun setelah itu berpura-pura koma demi mencari tahu tentang Henry yang tiba-tiba berhubungan dekat dengan daddynya yang telah lama ia dendami.


Untuk pertanyaan mereka yang kenapa Leo bisa kembali ke sisi Karamel, itu Karamel dan Leo bercerita sedikit tentang kejahatan Henry yang di mana Leo mengetahui segalanya.


"Jadi Leo pergi waktu itu bukan tanpa alasan tapi karena dia mau nyelamatin nyawa keluarga besar lo?" tanya Mika ketika Karamel dan Leo selesai bercerita.


"Iya," sahut Karamel singkat.


"Jahat lo, pura-pura nuduh kakak gue selingkuh sama Kara," gerutu Mika memanyunkan bibirnya tidak suka dengan siasat Leo yang ternyata hanya berpura-pura saja.


"Waktu gue tau tentang pertunangan lo sama si model Inggris itu, gue sempat ngomong kalo gue 'kecewa' sama lo." ucap Rio menyesal sehingga wajah Leo berubah menjadi datar.


"Lo tau gue kayak gimana, enggak mungkin gue sejahat itu buat ninggalin cewek yang gue sayang, dongo." kesal Leo membuat Karamel cekikikan.


"Yeah, siapa tau aja ...."


"Apa?" bentak Leo langsung berkacak pinggang.


"Enggak jadi," ketus Rio.


"Dih berantem, udah dua tahun enggak ketemu loh," cibir Karamel menyenggol bahu Leo.


"Jangan salahin aku dong sayang, dia duluan yang mancing emosi aku." rengek Leo membuat Mika dan Rio memutar bola mata jengah atas kelakuan manja Leo terhadap istrinya.


"Dahlah, kita ngumpul sama yang lain aja yuk," Mika menggandeng tangan sang kakak dan juga kekasihnya untuk pergi dari sana.

__ADS_1


Karamel menghela napas kasar ketika sahabatnya pergi begitu saja karena ulah suaminya.


"Sayang," panggil Leo pelan.


"Kaki aku pegel, kita duduk di sana dulu," pinta Karamel ketus, melihat kerutan kening sang istri, Leo hanya bisa pasrah mengikuti kemauan sang istri untuk duduk di salah satu sofa di sana.


Setelah cukup lama mereka berdua duduk, tiba-tiba Leo mengerutkan dahinya kala melihat ke arah sekelilingnya.


"Segitu dekatnya ya kamu sama kak Aryan sampai semua anggota keluarga kamu di undang sama dia," cibir Leo cemberut.


"Aish! Mulai lagi nih suami," batin Karamel merasa frustrasi akan tingkah cemburu sang suami yang belum bisa ia hilangkan, cih sepertinya tidak akan bisa hilang.


"Ck! Papa pras sama Mama Yarra juga di undang tuh.m," balas Karamel dengan malasnya.


"'Kan beda sayang, keluarga aku di undang sama kakeknya kak Aryan sedangkan keluarga kamu. Ck! Jangan-jangan kak Aryan ...."


"Mulai deh mikir buruk lagi, Babas enggak mungkin punya niatan jahat ya, ini kesuksesan pertama yang dia raih jadi dia buat acaranya besar-besaran, enggak salah dong dia mau ngundang siapa aja." geram Karamel karena Leo tidak bisa berfikir positif tentang setiap laki-laki yang dekat dengan dirinya.


"Siapa tau dia mau ngambil hati Papa kamu, Sayang." ucap Leo.


"Sekalian otak kamu aku cabut biar enggak mikir buruk mulu," kesal Karamel membuat Leo cekikikan.


"Kamu kenapa sih, dari beberapa hari yang lalu ngomel-ngomel mulu sama aku," ucap Leo dengan tawa kebingungan.


"Ck! Kamu juga yang duluan buat aku kesel." imbuh Karamel meminum jus jeruknya.


"Salah lagi ...."


"Di sana terlalu rame ... eh sayang, kamu mau ke mana?" tanya Leo menggenggam tangan Karamel yang hendak pergi entah ke mana.


"Mau gabunglah sama mereka," ucap Karamel melepas cekalan tangan Leo kemudian ikut bergabung dengan teman-temannya yang lain.


"Bini gue ada masalah apa sih?" desis Leo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Woy Leo," pekik Kenzi lantang dan terpaksa dengan wajah yang amat datar, Leo berjalan mendekati para sahabat-sahabatnya.


"Kenapa muka lo di tekuk gitu, berantem sama Kara?" tanya Abdi terdengar mengejek Leo.


Leo melirik Karamel yang entah kenapa aura tatapan Karamel terlihat sedang mengintimidasi dirinya.


"Enggak, kayaknya," sahut Leo cuek.


"Sedang melepas rindu?" tiba-tiba Aryan datang menghampiri sekumpulan para anak-anak remaja itu.


"Iya ni kak, sekarang 'kan di antara kita udah ada yang sibuk ngurusin masalah perusahaan jadi waktu kumpulnya agak berkurang gitu," ucap Bobby sekalian menyindir empat pria yang ada di sana.


Kenzi, Leo, Faza dan Rio tentu merasa tersindir karena memang kehidupan mereka sekarang duduk di bangku perkuliahan sambil bekerja di kantor keluarga mereka sendiri.


"Iri !?" ucap Leo malas.


"Bilang bos," pekik Kenzi, Faza dan Rio kompak.

__ADS_1


"Maksud gue itu bukan iri tapi rata-rata anak kantoran apalagi kalo udah jadi CEO-nya itu susah nyari waktu luang buat kumpul kayak gini." celoteh Bobby ada benarnya juga.


"Gue belum jadi CEO jadi waktu luang gue lebih banyak di kampus," sahut Faza melipat kedua tangannya di perut.


"Wah wah wah! Masih mending lo belum jadi CEO tapi di masa depan bakal jadi CEO, Za. Lah gue yang kagak kuliah sama kerja, kagak tahu masa depan kayak apa." celoteh Dito mengetuk meja beberapa kali.


"Akibat kebanyakan mimpi di siang bolong. Fix, masa depan lo suram." ejek Adit membuat yang lain tertawa terbahak-bahak.


"Kar, lo kenapa?" tanya Mika terlihat khawatir melihat wajah Karamel yang pucat.


"Efek perjalanan jauh kemaren mungkin," ucap Karamel pelan namun karena jarak bangku para cowok-cowok dan cewek-cewek saling berdekatan, para cowok-cowok bisa mendengar obrolan mereka.


Leo bangkit dari tempat duduknya, "Kamu kenapa sayang? Enggak enak badan?" tanya Leo dengan wajah khawatir.


"Enggak apa-apa kok, Mas." sahut Karamel tersenyum kaku.


Para cowok-cowok ikut mendekati Karamel, "Muka lo keliatan pucat, Ra. Istirahat dulu gih." ucap Faza mengelus puncak kepala Karamel.


"Enggak kok, Bang." sahut Karamel.


"Jangan bandel kenapa sih, Kar. Ini acara orang lain loh," ucap Adit namun Karamel melirik ke arah Aryan.


"Jangan lebay deh, gue enggak apa-apa juga." kesal Karamel kala merasa risih dikerumuni para cowok-cowok.


Leo yang diam melihat penolak sang istri, langsung mengambil tindakan menggendong tubuh sang istri ala bridal style.


"Mas ...." sentak Karamel kaget dan langsung melingkarkan tangannya ke leher Leo.


"Diem," Leo berbicara dengan nada dingin hingga Karamel langsung diam.


"Kalian lanjutin aja pestanya, gue mau nganter bini gue ke kamar dulu," ucap Leo kemudian membawa Karamel ke sebuah kamar kapal pesiar itu.


Karamel tersenyum malu dan menenggelamkan wajahnya di tengkung leher sang suami.


"Kamu bisa turunin aku aja enggak, aku bisa jalan sendiri, malu di lihatin banyak orang, Mas." bisik Karamel namun Leo hanya diam dan terus melangkahkan kakinya melewati ramainya orang-orang di pesta itu.


"Andai gue bisa peluk lo kayak gitu, Kar." gumam seorang pria menatap Leo dan Karamel dari jarak jauh.


"Karena kenyataan sangat mustahil untuk bisa mewujudkan keinginanmu maka teruskanlah berandai-andai sampai kau puas anak muda," pekik seorang wanita dari arah belakang pria itu hingga pria itu memelotot kaget dan pastinya langsung menoleh ke arah belakang.


"Lo ...."


"Hay Kakak ....


.......


.......


.......


...::: Bersambung :::...

__ADS_1


__ADS_2