
Sekarang Becca di kelilingi oleh delapan preman, "Siapa namamu, Cantik?" tanya Dodi ingin tahu nama Becca.
"My name is Crofcodra, Tampan." jawab Becca memperkenalkan nama belakangnya lalu kakinya menendang ke arah belakang karena si Pinkie Pie ingin memukul kepala Becca.
Brukk! Tepat sasaran, Becca menendang bagian sensitif Pinkie Pie hingga wajah Pinkie Pie berubah menjadi merah karena menahan sakit.
Wusss ....
Tingg ....
Plak ....
Becca memundurkan kepalanya lalu tiba-tiba saja Becca menjatuhkan baseball bat-nya ke tanah, karena kedua tangan Becca harus mencegah tangan dua preman yang hendak memukul wajahnya secara bersamaan.
Brukk! Preman yang bernama Dodi berhasil mengambil kesempatan menendang perut Becca hingga Becca mundur beberapa langkah di buatnya.
Pertarungan mereka berlangsung sangat lama, kedelapan preman itu belum berhasil Becca buat lumpuh namun tubuh Becca sudah mendapatkan beberapa luka dan memar akibat pukulan dan juga tendangan kedelapan preman itu.
Tsukk! Secara tiba-tiba Pinkie Pie menusuk perut bagian kiri Becca dengan belati kecil.
"Brengs*k," umpat Becca menarik paksa belati itu lepas dari perutnya lalu ia putar belati itu menusuk bagian perut Pinkie Pie itu juga.
Becca menghajar semua preman-preman itu tanpa ampun. Lagi, Becca menjadi penuh nafsu untuk mematahkan tulang-tulang preman-preman itu.
"Mamp*s lo Anji*g," pekik Becca memukul kedua kaki Dodi menggunakan baseball bat beberapa kali sampai Dodi berteriak sangat-sangat kesakitan, Becca tidak berhenti juga hingga pada akhirnya Becca menendang wajah Dodi hingga mengeluarkan darah dari mulutnya.
Tersisa dua preman lagi, tenaga Becca sudah terkuras banyak namun dua preman itu belum pernah Becca hajar jadi tanpa rasa takut mereka berdua hendak maju melawan Becca.
"Jangan sekarang please," ucap Becca tiba-tiba pandangan Becca menjadi kabur.
Brukk! Salah satu preman itu memukul wajah Becca hingga Becca terpental ke belakang, Becca berusaha bangkit namun Becca sudah tidak ada tenaga lagi.
Bukk ....
Bukk ....
Bukk ....
Terdengar suara baku hantam di samping Becca. Samar Becca melihat baku hantam antar mereka namun karena pandangan matanya kabur, Becca jadi tidak bisa mengenali siapa orang yang menolong dirinya.
"Si-siapa dia ...." ucap Becca tiba-tiba matanya tertutup sempurna, Becca telah tidak sadarkan diri.
...........
Pagi hari Karamel sudah di buat panik karena baru saja Kevin memberi kabar tentang Becca yang sedang di rawat di rumah sakit.
"Bukannya ini bagus ya, harapan kamu semalam jadi terkabul 'kan," ucap Leo membuat Karamel memukul paha sang suami karena betanu membongkar harapannya semalam di depan Rendi.
"Harapan apaan?" tanya Rendi.
"Enggak enggak ada kok Kak," sahut Karamel memelototi Leo dengan ganas namun Leo hanya tersenyum jahil saja.
"Harapan istri gue itu ...."
"Udah diem, kasian Jeffry keganggu bawa mobilnya." bentak Karamel beralibi.
Sesampainya di rumah sakit mereka bertiga langsung pergi ke ruang perawatan Becca, di sana sudah ada Kevin yang sedang duduk di sofa.
"Becca," panggil Karamel langsung menghampiri brankar Becca.
"Kara, dia lagi istirahat," ucap Kevin cepat membuat Rendi dan Leo saling beradu pandang, heran dengan respon Kevin yang begitu perhatian dengan Becca.
"Muka lo babak belur gini, lo ikut-ikutan brantem juga?" tanya Rendi dengan nada tinggi bahkan nyolot juga.
"Bisa enggak lo jangan berisik," bisik Kevin dengan tampang menyeramkan.
"Iye ye, maaf." ucap Rendi malas.
"Gimana keadaan Becca, Kak?" tanya Karamel ikut duduk di sofa.
"Keadaan dia udah membaik tapi ya itu, semalem tu anak bandel banget pengen pulang ke rumah, padahal dokter bilang dia kehabisan banyak darah karena dua tusukkan di bagian perut dia dalem banget." jelas Kevin.
"Tusukan?" beo Rendi terbelalak.
"Boleh tau kronologi kejadiannya gimana?" dengan wajah tenang Karamel bertanya dan Kevin menganggukkan kepalanya.
Dan Kevin mulai menceritakan segala kejadian perkelahian Becca semalam hingga ketika Becca sudah tidak berdaya lagi, Kevin baru keluar menghajar dua preman yang tersisa.
Walau agak kesulitan tapi untungnya Kevin bisa mengalahkan dua preman itu tapi tanpa Kevin sadari ternyata Becca sudah tidak sadarkan diri, dan sialnya lagi salah satu preman yang bernama Dodi berusaha mendekati tubuh Becca hingga pada saat Kevin akan menendang wajah Dodi, tangan Dodi sudah lebih dulu menusukkan belati ke perut Becca Namun tak urung Kevin tetap menendang bahkan memukul wajah Dodi hingga Dodi pingsan.
Dengan tangan yang bergetar Kevin menarik belati itu dari perut Becca lalu Kevin membawa Becca ke rumah sakit dengan menggunakan mobil Becca dan meninggalkan motornya di jalanan.
"Terus anak-anak gimana?" tanya Karamel.
"Tenang aja, gue udah urus mereka semalam," ucap Kevin.
"Berapa hari Becca harus di rawat di rumah sakit?" tanya Karamel.
"Dokter bilang sih, alangkah baiknya kalo mau di rawat selama dua minggu tapi tu Bayi Panda bandelnya minta ampun, pengen minta cepet-cepet pulang mulu." ucap Kevin.
"Bayi panda?" beo Rendi.
"Sejak kapan lo manggil tu bocah Bayi Panda?" tanya Rendi menatap Kevin.
"Sejak pipi dia jadi babak belur gitu, persis banget kayak Bayi Panda." ucap Kevin membuat ketiga orang itu menoleh ke arah brankar Becca.
"Gue bakal ngomong sama Becca biar mau di rawat di sini selama dua minggu," sahut Karamel dan Kevin tiba-tiba tersenyum tipis saat mendengar ucapan Karamel.
"Tapi siapa yang bakal ngerawat dia di sini?" tanya Rendi.
__ADS_1
"Gue yang bakal ...."
"Enggak boleh! Kamu lagi hamil Kara, enggak baik kamu pulang pergi rumah sakit terus," tolak Leo langsung menyela perkataan sang istri.
"Kalo bukan aku terus siapa yang bakal rawat Becca, Mas?" tanya Karamel.
"Kevin 'kan bisa," ucap Leo membuat Kevin membelalakkan matanya kaget.
"Kenapa jadi gue?" tanya Kevin nyolot.
"Siapa lagi kalo bukan lo," sentak Leo.
"Fine, ini karena gue enggak tega kalo Kara yang ngerawat tu cewek." sahut Kevin malas membuat Leo dan Karamel tersenyum penuh kemenangan.
Diam-diam Kevin tersenyum tipis kala dirinya akan merawat Bayi Pandanya selama dua minggu kedepan.
"Kenapa lo senyum-senyum enggak jelas gitu, Vin." ucap Rendi membuat senyuman itu langsung hilang.
"Yeee cemberut lagi dia." ucap Rendi membuat Karamel tertawa kecil.
Namun diam-diam Kevin menundukkan kepalanya lalu tersenyum kembali seperti sedang mengenang suatu kejadian.
...Flashback on...
Setelah dokter memeriksa keadaan Becca, Becca bangun dari pingsannya dengan keterkejutan yang luar biasa karena ketika matanya mengelilingi seluruh tempat ruangan, Becca langsung tahu bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit.
"Siapa yang bawa gue ke sini?" gumam Becca hendak mengambil posisi duduk.
"Aaghh ... perut gue." ringis Becca kembali menghempas kapalanya tidak jadi bangun.
Becca bisa merasakan ada dua tempat yang sakit di bagian perutnya lalu Becca meraba kedua tempat itu, "Gila, kenapa bisa ada dua tempat tusukan?" ucap Becca merasakan ada dua tempat bekas jahitan.
"Ah sial, gue benci bau rumah sakit." ucap Becca hendak melepas jarum infusnya.
Krekk ....
"Eh! Berhenti," pekik Kevin ketika masuk ke dalam ruangan Becca dan melihat Becca hendak melepas jarum infusnya.
Becca menoleh ke arah Kevin, "Kak Vin?!" panggil Becca terbelalak, pria yang selalu ia jahili kenapa bisa ada di sini? Fikir Becca kaget.
"Kata Dokter sebelum cairan infusnya habis, itu enggak boleh di lepas." ucap Kevin mendekati Becca yang masih di buat kaget dan bingung.
"Lo yang bawa gue ke sini?" tanya Becca menyelidik.
"Enggak sengaja lihat manusia tiduran di jalan jadi gue suruh orang lain bawa lo ke sini," ucap Kevin gengsi untuk mengakui bahwa dirinya semalam telah membantu Becca melawan preman-preman itu.
Becca menyipitkan matanya, "Sebelum lo dateng buat nyuruh orang bawa gue ke sini, gue pasti udah jadi mayat duluan, bohong kok enggak pro." ejek Becca menyadari kebohongan Kevin membuat Kevin tersentak diam.
"Semalem lo pasti ngikutin gue ya 'kan terus lo juga bantuin gue ngelawan dua preman jalanan itu 'kan, buktinya muka lo banyak yang bonyok gitu, ngaku enggak lo." tunjuk Becca menyelidik.
"Kege'eran banget ni ...."
Kevin memutar bola mata jengah, "Anak-anak udah gue urus," ucap Kevin.
"Di ke manain mereka?" tanya Becca nyolot.
"Aman sama temen gue," ucap Kevin.
"Temen lo? Eh lo tu orang Bandung, mana ada temen di Jakarta." ucap Becca membuat Kevin memelototinya.
"Sembarangan aja lo ya, temen gue banyak yang tinggal di Jakarta jadi lo enggak perlu khawatir sama anak-anak." kesal Kevin naik pitam.
"Kak, jumlah anak-anak ada dua belas loh emang temen lo sanggup ngurus mereka semua, kasih tahu alamat temen lo di mana, gue mau pergi jemput ...."
"Enggak bisa, Dokter bilang lo harus di rawat selama dua minggu di sini." tolak Kevin menyilang kedua tangannya di perut.
"Dih jangankan dua minggu, sehari aja gue enggak betah apalagi sampai berminggu-minggu makin enggak tahan gue, lo tahu kenapa? Itu karena gue benci bau rumah sakit jadi gue enggak mau di rawat di sini." ucap Becca hendak bangkit.
Bukk ....
Kevin mendorong kening Becca hingga kepala Becca kembali terhempas ke bantal, "Benci sama rumah sakit tapi berani baku hantam sama sembilan preman jalanan, gila kali lo ya." ucap Kevin membuat Becca melebarkan matanya.
"Lo tahu gue ... wah! Dasar penguntit lo ya." ucap Becca.
"Apa lo bilang gue penguntit," sentak Kevin.
"Iya lo penguntit, udah ah! Gue mau pulang."
"Bisa enggak lo nurut aja, istirahat sekarang." bentak Kevin kesal.
"Ya udah lo aja yang di rawat di sini, gue mau pulang." ucap Becca kukuh ingin pulang.
"Yang sakit itu elo bukan gue," sahut Kevin.
"Nah yang sakit 'kan gue jadi serah gue dong mau di rawat apa enggak." ucap Becca kesal.
"Fine, pagi ini lo boleh pulang." ucap Kevin mengalah sedikit.
"Enggak untuk pagi ini tapi gue maunya pulang sekarang," tolak Becca.
"Bisa enggak sih lo enggak usah bawel kayak gini, gue cium juga tu mulut." kesal Kevin sudah di luar kendali membuat Becca membelalakan matanya kaget.
"Dih mesum," ucap Becca kini malah Kevin yang di buat kaget.
"****, ngomong apa gue barusan?" Batin Kevin baru sadar telah mengeluarkan kata-kata yang ada di fikirannya.
"Tapi gue enggak takut, gue tetep mau pulang." tambah Becca membuat Kevin menghela napas panjang.
Heran, kenapa sangat sulit untuk membuat Becca patuh dengan kevin.
__ADS_1
"Semalem Kara nyuruh gue buat ngikutin lo dan enggak tahu kenapa dengan mudahnya gue malah pergi beneran ngikutin lo tapi setelah gue lihat kejadian semalem, gue baru paham. Kara pasti khawatir banget sama lo makanya dia ngutus gue biar bisa bantu lo. Bayangin kalo Kara sampai tahu semalem lo pingsan dan kehabisan darah gara-gara dua tusukkan di perut lo itu. Apa lo enggak mikir bakal gimana reaksi Kara nanti." ucap Kevin berbicara lembut.
Becca terdiam, sungguh Kevin tidak tahu apa-apa tentang Becca yang menjadi 'anak buah bayangan' Karamel, jangankan dua tusukkan belati bahkan lebih dari dua tembakan juga pernah Becca rasakan.
Masalah Karamel yang khawatir dengan dirinya. Ya, Becca tahu itu tapi inilah takdir yang harus Becca jalani, menghadapi segala bahaya apapun.
"Oke, gue bakal di rawat beberapa hari di sini tapi dengan syarat lo harus suruh Dokter buat bius gue atau kasih gue obat tidur," ucap Becca.
"Buat apa?" tanya Kevin heran dengan syarat yang tidak masuk akal itu.
"Gue enggak mau bangun di saat bos sama Kakak Ipar dateng," sahut Becca.
"Jangan ngada-ngada deh lo, bisa-bisa Kara makin khawatir sama lo." sahut Kevin seperti tidak setuju.
"Bius gue aja," pinta Becca.
"Enggak," tolak Kevin pelan.
"Kalo gitu obat tidur aja deh," pinta Becca lagi.
"Enggak ada, bocah." tolak Kevin lagi.
"Gimana kalo racun aja," Becca mulai kesal karena permintaannya selalu di tolak oleh Kevin.
"Mau mati lo," sahut Kevin.
"Enggak rela 'kan lo gue mati, makanya bius gue atau kasih gue obat tidur." cerocos Becca memberi pilihan.
"Erghh! Bawel banget sih lo, gue bilang enggak ya enggak." Kevin benar-benar di buat pusing.
"Ih belum juga jadi pacar udah berani bentak-bentak ni orang apalagi udah jadi suami ...."
Kevin tersenyum miring, "Ehem! Ngarep banget lo ya sama gue," ucap Kevin kini mendekatkan wajahnya di depan wajah Becca.
"Pokoknya lo harus suruh Dokter bius gue, awas kalo enggak." Becca mengalihkan pembicaraan.
Kevin bergeming namun tatapannya tidak lepas dari manik mata Becca hingga Becca menjadi salah tingkah di buatnya.
"Ngapain lo lihatin gue kayak gitu?" tanya Becca memelotot.
"Lo mau gue ngomong sama Dokter buat bius lo waktu Kara dateng?" tanya Kevin dan Becca menggunakan kepalanya.
"Oke, gue bakal ngomong sama Dokter." ucap Kevin membuat Becca tersenyum senang.
"Makasih Kak Vin," ucap Becca dan Kevin tersenyum miring melihat wajah Becca yang berbinar-binar.
"Udah dong natapnya," protes Becca malas.
"Jadi pacar gue sekarang?!" ucap Kevin tiba-tiba membuat Becca membelalakan matanya kaget.
Namun seperdetik kemudian Becca menyipitkan matanya, "Di halalin sekarang juga ayok." ucap Becca menganggap Kevin sedang menjahili dirinya jadi dirinya juga ingin membalas kejahilan Kevin.
"Buat hati gue cuma buat lo doang baru setelah itu kita nikah," sahut Kevin dengan tatapan serius.
"Ah iya, di hati Kak Vin masih ada bosnya Becca. Oke, mulai sekarang Becca bakal buat hati Kak Vin cuma buat Becca seorang." sahut Becca masih mengira Kevin sedang bermain-bermain.
"Gue serius Becca Crofcodra," ucap Kevin untuk pertama kalinya memanggil nama lengkap Becca dengan serius.
Glukk ....
"Becca juga serius kok," sahut Becca masih menganggap Kevin hanyalah bercanda saja.
"Sekali lagi gue serius sama kata-kata gue, mulai sekarang lo udah resmi jadi pacar gue, Becca." ucap Kevin masih tidak melepas tatapannya.
Tanpa ragu Becca menggangukkan kepalanya, "Kita resmi pacaran, kalo bisa langsung tunang ... empp!" Becca tidak menyelesaikan perkataannya dan langsung membelalakan matanya kaget kala tanpa permisi Kevin mencium bibir Becca.
Kevin melepas ciumannya lalu Kevin menatap lembut mata Becca yang masih terbelalak kaget, "Mulai hari ini jangan pernah deket-deket sama cowok lain lagi karena kamu udah jadi milik aku." ucap Kevin membuat detak jantung Becca berdegup sangat kencang.
"Aaaaa .... brengs*k Kak Vin, Sttt ... ciuman pertama gue." pekik Becca sembari meringis kesakitan di bagian perutnya membuat Kevin langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Becca.
Kevin mengerutkan dahinya, "Ciuman pertama?Bukannya lo pernah ciuman sama ...."
"Siapa? Gue enggak pernah ciuman sama siapapun dan lo berani-beraninya ngambil ciuman pertama gue, brengs*k emang lo." ucap Becca tidak bisa berteriak keras karena perutnya akan menjadi sakit jika ia berteriak.
Degg ....
Detak jantung Kevin berdegup sangat kencang, entah itu terkejut, rasa tak percaya dan juga rasa senang bercampur menjadi satu.
"Jadi semalem waktu lo bilang bos preman yang pernah cium bibir lo itu ... b-bohong?" tanya Kevin dengan sangat hati-hati.
"Hah?! Bos preman siap-a ...." Becca langsung membulatkan matanya ketika mengingat kata-katanya saat memancing nafsu Dodi si preman jalanan semalam.
"Astaga, Kak Vin jadi lo mikir bibir gue udah enggak perawan lagi jadi lo bisa seenaknya aja main nyosor kayak tadi." ucap Becca namun Kevin hanya bergeming.
Kevin tidak merasa dirinya mencium Becca di karenakan bibir Becca sudah tidak perawan lagi tapi Kevin mencium Becca karena Kevin ingin membuktikan bahwa kata-katanya yang ingin menjadikan Becca sebagai kekasihnya tidaklah bohong.
"Lo enggak lihat apa preman-preman itu bajing*n yang bernafsu, denger omongan gue aja mereka udah kebelet pengen nyobain tapi gue enggak mungkin lah ngomong jujur, gue ngomong kayak gitu karena gue cuman mau mancing nafsu mereka doang tapi elo-nya malah nanggapin serius omongan gue. Ah! Ternodai 'kan bibir gue jadinya." oceh Becca memalingkan wajahnya karena kesal dan marah namun nada suara Becca terdengar sangat imut di telinga Kevin.
Kevin tersenyum lebar lalu Kevin menggapai dagu Becca agar menghadap dirinya, "Pacar sendiri yang nyium emang salah?" tanya Kevin membuat Becca mengerutkan dahinya.
"Siapa yang lo maksud pacar ...."
"Kamu, Becca Crofcodra." ucap Kevin dengan menatap serius manik mata Becca membuat detak jantung Becca berdegup tak karuan.
.......
.......
.......
__ADS_1
...::: Bersambung :::...