
...Malaysia....
Sudah satu bulanan lebih Alleta tinggal di kediaman keluarga Faza, terkadang wanita itu merasa malu karena dirinya sudah menumpang hidup di keluarga Faza yang sebelumnya tidak pernah ia kenal sama sekali namun saat dirinya ingin memutuskan untuk pergi dari rumah itu, ada rasa kenyamanan luar biasa saat dirinya tinggal dengan keluarga Faza hingga berat rasanya bagi wanita itu untuk melepaskan kehangatan keluarga itu.
Kehangatan keluarga Faza yang begitu mendamaikan hati Alleta, tidak pernah ia dapatkan dari ayah dan kakak kandungnya yang selalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing dan tidak pernah mempedulikan Alleta bahkan ketika ayah dan kakaknya Alleta ada masalah di luar sana, mereka tidak pernah membagi masalah mereka dengan Alleta dan malah memarahi Alleta seakan-akan Alleta adalah pelampiasan dari semua permasalahan mereka.
Hati wanita itu sangat sakit ketika mengingat betapa menyedihkan hidupnya karena kekurangan kasih sayang dari sang ayah serta kakak kandungnya sendiri, tapi dirinya malah mendapatkan kasih sayang penuh dari kedua orang tua Faza yang tidak ada ikatan darah dengan dirinya.
Kini wanita tomboy itu sedang menyiram tanaman bunda Santi, tangan wanita Itu bergerak menyirami semua tanaman yang ada namun mata wanita itu tampak kosong seperti sedang memikirkan sesuatu.
Di benak Alleta ada sekelebat ingatan-ingatan beberapa waktu lalu tentang kedekatan dirinya dengan keluarga Faza bahkan juga dengan Faza. Alleta mengerutkan dahinya ketika ingatan dua minggu yang lalu saat acara pernikahan Niky dan Diky berakhir, hubungan Alleta dan Faza sudah seperti bukan sedang melakukan sandiwara lagi. Mereka berdua semakin hari semakin dekat dan semakin akrab hingga entah kenapa baru-baru ini detak jantungnya mudah sekali merespon gombalan-gombalan receh Faza.
Sementara itu Faza yang sejak beberapa menit yang lalu melihat Alleta dari kejauhan di buat penasaran dengan apa yang sedang di fikirkan oleh wanita itu, Faza menyipitkan matanya sambil dirinya berjalan mendekati Alleta namun saat dirinya hampir sampai, tiba-tiba saja langkah kaki Faza langsung berhenti karena mendengar suara Alleta yang mampu membuat jantung Faza hampir copot.
"Aku tidak mungkin sedang jatuh cinta 'kan dengan bajin*an mesum itu," gumam Alleta masih dengan tatapan kosong, dan saat itu juga Faza berada tidak jauh di belakangnya.
"Pria itu bajin*an yang suka menggombali semua wanita, ck! Tidak ada gunanya aku memikirkan dia, buang-buang waktu saja." gumamnya lagi lalu lamunannya pun buyar, lebih baik Alleta fokus menyirami tanaman-tanaman bunda Santi dari pada harus memikirkan so'al Faza, itu tidaklah penting bagi Alleta.
Siapa bajin*an yang Alleta maksud jika itu bukan Faza Bramasta, karena sejak beberapa minggu yang lalu Alleta selalu menyebut Faza sebagai bajin*an mesum.
"Nj*r, kenapa gue senyum-senyum sendiri kayak gini?" batin Faza tidak mampu menahan senyuman di wajahanya, senyuman yang ia tidak tahu artinya apakah ia hanya merasa bangga plus narsis atau merasa senang karena Alleta diam-diam memikirkan dirinya.
"Ehem! Kembali ke mode datar, Faza." gumam Faza berusaha mengubah raut mukanya menjadi sedatar mungkin, walau tidak bisa di pungkiri sangat susah bagi pria itu untuk merubah raut wajahnya menjadi datar karena permasalahannya saat ini di dalam hati pria itu sedang berbunga-bunga, namun Faza perlahan-lahan mencoba untuk mengatur tarikkan napasnya agar raut wajah pria itu bisa ia ubah menjadi sedatar mungkin.
"Elle?!" penggil Faza pelan namun mampu membuat Alleta terperanjat kaget.
"Stres! Kalo mau manggil orang itu jangan sampai buat jantungan kalik Bramasta." umpat Alleta membuat Faza ingin terkekeh namun ia tahan, jika tidak Alleta pasti akan mengarahkan selang air yang ada di tangannya ke wajah tampan Faza.
"Kamu melamun?" tanya Faza masih dengan mode datar, kepala pria itu ia condongkan ke depan wajah Alleta.
"Itu karena kamu selalu menganggu fikiranku!" sahut Alleta memutar bola mata jengah sambil mengalihkan pandangannya ke tanaman bunga yang ada di depan mereka berdua, wanita itu tanpa sadar mengatakan apa yang sedang ia lamunkan sehingga Faza terdiam kaku di buatnya, entah apa yang harus Faza jawab kala Alleta blak-blakkan mengungkapkan isi fikirannya.
"Apa yang kamu fikirkan tentang aku?" tanya Faza membuat Alleta menatap malas ke arah Faza, ketika mata mereka berdua bertemu satu sama lain, tiba-tiba saja mata Alleta terbelalak kaget kala dirinya baru sadar dengan ucapannya barusan.
"****! Bagaimana bisa mulutku mengatakan isi fikiranku?" batin Alleta mengumpati kecerobohannya sendiri.
Alleta melepas selang yang ada di tangannya ke tanam lalu ia menutup mulutnya dengan kepala wanita itu bergerak ke kanan dan ke kiri, perlahan Alleta mundur beberapa langkah sebelum dirinya berbalik dan hendak kabur dari hadapan Faza namun pergerakkan wanita itu masih kalah cepat dengan Faza yang langsung menarik pergelangan tangan Alleta hingga tubuh Alleta tertarik oleh Faza dan menabrak dada bidang Faza.
Dugg ....
"Mau kabur ke mana hem?" tanya Faza menaikkan sebelah sudut bibirnya sinis, pria itu meremehkan Alleta yang gagal menghindar darinya.
"Lepas bajin*an!" sengit Alleta menarik kuat tangannya agar bisa terlepas dari genggaman tangan Faza namun anehnya Faza sangat kuat menggenggam pergelangan tangan Alleta membuat Alleta mengerutkan dahinya curiga.
Bukankah Faza sangat lemah? Kemarin-kemarin pria itu selalu takut dengan semua ancaman Alleta yang ingin memukulnya, apalagi saat Alleta mulai kesal dan tidak sengaja memukul pria itu, ringisan Faza akan terdengar sangat keras kala pria itu mengatakan sakit karena pukulan Alleta yang terlalu kuat katanya.
"Bramasta!" gumam Alleta menyipitkan matanya menatap manik mata Faza yang tajam, seketika Faza tersentak dan melapas pergelangan tangan Alleta.
"Agh be*o! Curiga nih cewek sama gue!" batin Faza mengeraskan rahangnya kesal dengan dirinya sendiri yang begitu ceroboh mencengkeram pergelangan tangan Alleta dengan sangat kuat.
"Pergelangan tanganku merah," gumam Alleta dengan mata yang membulat sempurna, sungguh kuat tenaga Faza ! Fikir Alleta dengan sadar memuji kehebatan Faza.
Bukk ....
Alleta memukul lengan Faza membuat Faza kaget dan menoleh ke arah Alleta, "Kamu ... apa kamu gila memukul lenganku tanpa sebab?" sentak Faza jengkel karena wanita itu suka sekali memukul dirinya seakan-akan tubuhnya itu adalah punch bag atau samsak.
"Selama ini kamu menganggap aku wanita yang bod*h hah! Berpura-pura lemah di depanku, kenapa?" sentak Alleta serta berkecak pinggang dan memelototi Faza.
"Tuh 'kan peka dia," batin Faza sudah menduga.
"Kamu ingin tahu? Ck! Dasar kepo," ucap Faza datar lalu pria itu pergi begitu saja meninggalkan Alleta masuk ke dalam rumah membuat wanita itu mau tak mau mengejarnya karena wanita penasaran akan Faza yang berpura-pura lemah di depannya.
"Bramasta!" pekik Alleta namun Faza berpura-pura tidak dengar dan tetap melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Bramasta berhenti," pekik Alleta lagi namun pria itu sengaja menutup kedua telinganya menggunkan tangannya membuat Alleta kesal dan mempercepat langkahnya hingga pada saat Alleta berada di belakang Faza, tangan wanita itu menarik lengan Faza dengan langsung memutar tubuh Faza.
"Aku bilang berhen .... " Mata Alleta dan Faza sama-sama terbelalak kaget karena pada saat Faza membalikkan tubuhnya, kaki wanita itu tiba-tiba terkilir dan tanpa sengaja dirinya menarik kuat tangan Faza hingga mereka berdua jatuh ke lantai.
Bukk ....
"Ak!" Refleks Alleta memejamkan matanya kaget sedangkan Faza langsung meletakkan tangannya di kepala bagaian belakang Alleta agar kepala wanita itu tidak terhempas ke lantai.
Degg! Faza menatap wajah Alleta yang sedang memajamkan matanya, pria itu mengerutkan dahinya saat mengingat barusan detak jatung pria itu hampir copot karena ulah Alleta, apalagi posisinya Alleta menghadap lantai. Otomatis tubuh wanita itu lebih merasakan sakit di bandingkan Faza yng hanya sakit di bagian tangannya saja.
"Elle!" panggil Faza pelan.
"Bangun dari atas tubuhku!" pekik Alleta masih dengan mata terpejam.
"Ada apa? Apa kepalamu sakit?" tanya Faza terlihat panik namun pria itu tidak berpindah posisi. Dasar Faza diam-diam mencuri kesempatan dalam kesempitan.
"Tidak Bramasta, kamu ...."
"Kalau begitu buka matamu, Elle." ucap Faza memotong perkataan Alleta, oh astaga! Apakah Faza hilang kesadarannya hingga tidak mau bangkit dari atas tubuh wanita itu.
"Tidak bisa, sekarang kam ...."
__ADS_1
"Katakan, apa matamu terasa sakit?" tanya Faza kembali memotong perkataan Alleta, wanita itu benar-benar kesal karena Faza seperti sengaja tidak mau bangkit dari atas tubuhnya. Padahal jika Alleta membuka matanya, raut wajah Faza terlihat sangat panik.
"Bajin*an menyebalkan," umpat Alleta dalam hatinya lalu wanita itu terpaksa membuka matanya dengan cepat.
Raut wajah Faza begitu serius menatap manik mata Alleta yang baru saja terbuka. Degg! Inilah kenapa Alleta tidak mau membuka matanya barusan, lagi-lagi detak jantung wanita itu berdetak dua kali lebih cepat karena menatap mata Faza dengan jarak yang sangat dekat.
"A-aku tidak apa-apa, s-sekarang kamu bisa bangkit dari atas tubuhku." ucap Alleta mengerjapkan matanya beberapa kali, nada bicara wanita itu terkesan gugup.
Faza mengerutkan dahinya lalu bangkit dari atas tubuh Alleta seraya tangan pria itu mengangkat kepala Alleta agar ikut bangkit juga.
"Kamu ...."
"Bajin*an mesum!" umpat Alleta langsung berdiri dan meninggalkan Faza yang masih duduk di lantai. Faza terperangah, baru saja dirinya ingin bertanya tentang keadaan wanita itu tapi Alleta sudah lebih dulu mengumpati dirinya dan pergi meninggalkankannya!
"Waras tu cewek?" gumam Faza menatap aneh ke arah Alleta hingga ketika Alleta sudah menghilang dari pandangan Faza tiba-tiba saja kepala Faza bergerak pelan menatap ke arah lantai.
"Gue bisa ngerasain debaran jantung Elle tadi," gumam Faza sambil menyentuh detak jantungnya sendiri.
Sementara itu di dapur Alleta sedang berdiri sambil bersandar di dinding lalu tangan wanita itu menyentuh detak jantungnya sendiri, ia merasakan jantungnya masih berdegup dengan sangat cepat.
"Mungkinkah tadi hanya perasaanku saja, bukan hanya jantungku yang berdebar tapi aku juga merasakan debaran jantung Bramasta?" guman Alleta menyadarkan kepalanya di dinding.
.........
...Indonesia....
Leo menghela napas lega saat mendengar kata-kata istrinya tadi pagi yang tidak mau ambil pusing dan akan patuh saja dengan semua perintah suaminya, senyuman pria itu begitu merekah karena jarang sekali Karamel akan patuh dengannya dan tidak membangkak pada dirinya seperti yang sebelum-sebelumnya.
"Aku mencintaimu sayang," gumam Leo memejamkan matanya dan mencium kening istrinya yang sedang tidur siang lalu pria itu bangkit dari kasur untuk keluar dari kamarnya.
"Aku tidak bisa meninggalkan istriku di saat-saat seperti ini, Jeff." ucap Leo ketika pria itu sampai di ruang kerja dan duduk di kursinya.
Jeffry yang sedang duduk di sofa hanya bisa diam, dia juga tidak tahu harus menjawab apa, di satu sisi perusahaan utama Binondra Group di Irlandia sangat membutuhkan Leo namun di sisi lain Leo tidak mau meninggalkan istri dan juga anaknya.
"Tidak akan ada toleransi bagi siapapun yang berani mengganggu istri dan anakku," ucap Leo dengan tatapan tajam, sudah lama sekali pria itu tidak membunuh orang lain dan kini ada orang yang ingin bermain-bermain dengannya maka dengan senang hati Leo akan mencincang tubuh orang itu.
"Bagaimana jika Becca menjaga nyonya, Tuan." saran Jeffry karena menurut Jeffry, Becca adalah wanita yang cukup hebat dan bisa diandalkan untuk menjaga Karamel.
"Becca adalah anak buah bayangan istriku, bocah itu hanya akan patuh dengan bosnya bukan denganku." ucap Leo.
Leo mengepal tangannya dengan sangat kuat, fikirannya berputar sepuluh kali lipat dari biasanya, pria itu memikirkan solusi untuk mengatasi masalahnya kali ini sampai berpuluh-puluh menit lamanya.
"Tiga hari, aku akan pergi ke Irlandia dan menyelesaikan masalah di sana dalam waktu tiga hari." ucap Leo menetapkan keputusannya untuk pergi ke Irlandia.
"Selama itu juga keamanan rumah harus di lipat gandanya menjadi tiga kali lipat, bawa dua ratus mafioso kita untuk datang menjaga istri dan anakku. Bila perlu di luar gerbang rumah juga di kelilingi mafioso kita." titah Leo dengan tegas, Jeffry menganggukkan kepalanya lalu pria itu keluar dari ruang kerja Leo.
"Aku enggak akan biarin bajin*an itu nyentuh kamu sedikitpun," gumam Leo dengan mata penuh kebencian menatap foto seorang pria yang Leo maksud adalah seorang bajin*an.
Leo benar-benar ingin berteriak marah semarah-marahnya karena wanita itu telah membocorkan rahasia tentang siapa istrinya yang sebenarnya pada orang lain, hingga kini orang itu mencari keberadaan istrinya.
"Jangan harap lo bisa lolos dari gue, bit*h." sengit Leo menancapkan belati ke foto seorang wanita tepat di bagian wajahnya.
.........
Di sebuah apartemen yang cukup mewah seorang wanita sedang duduk santai di sofa sambil paha sebelah kanannya ia letakkan ke atas paha sebelah kirinya, dati balik kaca dirinya menatap gedung-gedung tinggi kota Jakarta sambil menikmati penghangat tubuhnya yaitu wine.
"Permainan akan segera di mulai Leoku sayang," gumamnya tersenyum lebar sambil matanya terpejam membayangkan bagaimana frustasinya Leo saat ini karena ulah dirinya.
Namun ada wajah lain yang tiba-tiba muncul di bayangan wanita itu, wajah cantik Karamel yang sedang tersenyum lebar ke arahnya. Wanita itu mengeraskan rahangnya sangat benci senyuman Karamel!
Prankkk ....
Gelas wine yang di pegang oleh wanita itu pecah perkeping-keping kala dirinya merasa kesal dan marah dengan Karamel yang pastinya kini hidupnya di penuhi kebahagiaan karena sudah memiliki Leo, wanita itu juga sangat iri dengan Karamel yang hidup dalam kekayaan yang berlimpah maka dari itu wanita itu mengumpat Karamel habis-habisan.
"Lo udah berani ngambil semua yang seharusnya jadi milik gue Karamel, Cleo Rendra Agata cuma boleh di miliki sama gue, cuma milik gue." pekik wanita itu dengan sangat lantang.
"Sampai waktunya tiba gue bakal ambil semua yang seharusnya jadi milik gue, denger itu Karamel Listra. Aghhhh! Sialan lo Karamel!" pekiknya menepis botol wine yang ada di meja hingga jatuh ke lantai.
"Well, kau mengotori apartemenku lagi wanita sialan." suara berat seorang pria dari arah belakang wanita itu membuat wanita itu bangkit dari tempat duduknya.
"Aku tidak akan meminta maaf, kau dengar itu." ucap si wanita dengan sinis, walau wanita itu tahu pria yang sedang ada di depannya adalah pria yang berbahaya tapi dia tidak merasa takut karena semua informasi yang di butuhkan pria itu ada padanya. Jadi pria itu tidak akan bisa macam-macam dengannya.
"Kau menggila karena Leo lagi?" tanya pria itu menyipitkan matanya.
"Karena si jal*ng Karamel," sahut wanita itu dengan tatapan tajam.
"Oh karena istrinya," ucap pria itu.
"Tutup mulutmu! Jal*ng itu bukanlah istrinya, berengs*k." sentaknya menunjuk wajah pria itu, jika saja wanita itu tidak menyimpan banyak informasi yang ia butuhkan, sudah di pastikan wanita itu mati di tangan pria itu sekarang.
"Oh baiklah! Jangan marah-marah begini sayang, aku hanya bercanda saja." ucap si pria sambil berjalan mendekati wanita itu.
"Menjijikkan!" umpat wanita itu tidak suka karena pria itu memanggilnya 'sayang'
"Aku bertemu dengannya, sayang. Tapi ternyata dia sama sepertimu." bisik pria itu begitu lembut namun sangat menjijikkan di telinga wanita itu.
__ADS_1
"Apa kau ingin aku mati sekarang?" tanya wanita itu membuat sang pria menatap tajam dirinya.
"Jangan pernah menipuku atau informasi yang kau inginkan tidak akan pernah kau dapatkan seumur hidupmu." ancam wanita itu menepuk pundak pria itu lalu wanita itu pergi ke kamarnya.
"Sialan!" umpat pria itu.
.........
...Kediaman Keluarga Mahendra...
Malampun telah tiba, beberapa menit lalu Leo sudah meminta izin dengan istrinya so'al besok dirinya akan pergi ke Irlandia selama beberapa hari. Pria itu sempat mengajak Karamel untuk ikut dengannya namun Karamel menolakknya.
Karena Karamel menolak untuk ikut jadilah Leo hanya bisa pasrah dan memperingati Karamel agar tetap diam di rumah dan jangan pernah sekali-sekali menginjakkan kakinya untuk keluar dari rumah, Leo sangat khawatir dengan istrinya itu maka dari itu Karamel hanya bisa patuh saja agar tidak ada konflik apapun di antara mereka berdua nantinya.
Setelah itu Karamel kembali ke kamarnya dan meninggalkan suaminya yang masih sibuk mengobrol dengan asisten pribadinya dan para anak buah suaminya.
Sudah beberapa jam Karamel diam di dalam kamar tapi suaminya itu tak kunjung masuk ke dalam kamar juga, Karamel berusaha menutup matanya agar bisa tidur namun dirinya tidak bisa tidur dan merasa bosan, akhirnya wanita itu memilih untuk keluar menuju balkon.
Saat sampai di balkon, Karamel menghirup udara malam yang begitu dingin sampai menusuk dinding-dinding kulitnya, mata wanita itu bergerak menatap sekelilingi halaman rumahnya yang di penuhi para anak buah suaminya.
Padahal sekeliling rumah Leo di tutupi dinding besar dan tinggi tapi suaminya itu masih merasa khawatir dengannya, memangnya siapa yang mampu memasuki kediaman keluarga Mahendra ini? Fikir Karamel masih penasaran dengan hal apa yang di sembunyikan Leo darinya.
Beberapa menit kemudian Karamel hendak masuk ke dalam kamar namun mata biru wanita itu tidak sengaja menatap ke arah lantai, di mana terdapat sebuah kotak yang tergeletak di sana. Karamel mengahmpiri kotak itu.
"Ini apa?" gumam Karamel berusaha mengambil kotak itu dan mengguncang-guncangnya beberpa kali, karena penasaran wanita itu membuka kontak itu.
"Kertas?" gumam Karamel kemudian mengambil kertas putih itu dan membuka lipatannya.
"Let's start the game!!!" gumam Karamel membaca isi kertas itu, aneh! Apa maksud dari kata-kata itu? Apakah ini ulah suaminya?
"Dia pasti sengaja pengen buat aku makin penasaran, dasar jahil." umpat Karamel kembali memasukkan kertas itu ke dalam kotak lalu menutupnya dan meletekkannya di atas meja.
"Sayang!" panggil Leo ketika Karamel masuk kembali ke dalam kamar.
"Iya," sahut Karamel mengunci pintu kaca di balkon.
"Ngapain di balkon? Ngehirup udara malam?" tanya Leo dan Karamel menganggukkan kepalanya lalu menghampiri Leo.
"Kita lagi di dalam permainan apa sekarang?" tanya Karamel memeluk tubuh suaminya membuat Leo mengerutkan dahinya tidak paham.
"Maksud kamu?" tanya Leo.
"Kenapa yang jaga rumah nambah banyak?" tanya Karamel sedikit malas karena suaminya itu pura-pura tidak tahu.
"Besok aku 'kan mau pergi ke Irlandia, sayang. Aku khawatir ninggalin kamu sendirian di rumah makanya aku mau penjagaan rumah lebih di perketat lagi, atau kalo kamu risih sama mereka gimana kalo kamu ikut aku ...."
"Oke! Enggak apa-apa aku tinggal aja di rumah, lagian aku 'kan udah hamil tujuh bulan, mau bepergian jauh pasti bakal nguras tenaga aku jadi aku di rumah aja ya." ucap Karamel memotong perkataan suaminya, wanita itu tadi sudah di ajak oleh Leo tapi Karamel menolak dan kini Leo mengajaknya lagi tapi masih saja di tolak oleh istrinya itu.
"Asal kamu patuh sama kata-kata aku jangan keluar rumah ...."
"Iya suamiku, aku bakal dengerin semua perintah kamu." potong Karamel cepat.
"Sekarang mendingan kita tidur biar bosok kamu enggak kesiangan berangkatnya," ajak Karamel melepaskan pelukkannya namun Leo mempererat pelukannya, pria itu masih belum rela harus meninggalkan istrinya di rumah besok.
"Sayang, kamu enggak mau pertimbangin dulu ...."
"Enggak mas, aku mau di rumah aja." ucap Karamel pelan.
"Udah ya! Kita tidur sekarang, aku udah ngantuk so'alnya." ucap Karamel hingga tepaksa Leo melepaskan pelukkannya lalu mereka berdua berjalan menuju ranjang untuk tidur.
.........
Sedangkan di tempat lain seorang wanita sedang membaringkan tubuhnya di atas ranjang, wanita itu tidak berpakaian dan hanya di baluti oleh handuk putih saja karena baru saja wanita itu selesai berendam di kamar mandi, tak lama kemudian wanita itu melepaskan handuk putih yang membaluti tubuhnya hingga kini tubuhnya tidak di tutupi kain apapun lagi.
Drtt ....
Wanita itu menyalakan sebuah alat vi**ator lalu Ia letakkan di bagian perutnya dan ia gerakkan untuk menyusuri seluruh tubuhnya sendiri.
"Ah! Leo ...." des*hnya sambil memejamkan matanya membayangkan benda itu adalah tangan Leo yang sedang menyentuh dan memebelai sayang seluruh tubuhnya, tangan wanita itu ia gerakkan untuk mer**** b**bsnya sendiri.
"Leo, sentuh aku sayang agh!" rintihnya tak tertahankan hingga sudah cukup puas baginya memulai pemanasan, wanita itu memasukkan alat vi**ator itu ke bagian bawahnya sampai for nya berteriak memanggil nama Leo.
Drttt ....
"Ah! Leo, Fu*k me honey!" pekiknya terus-menerus membayangkan sosok Leo yang sedang menye****i dirinya hingga beberapa menit sudah.
"Leoo, aku mencintaimu sayang !!!" des*hnya begitu keras saat dirinya mencapai puncak kenik***annya.
.
.
.
::: Bersambung :::
__ADS_1
Siapakah wanita itu? Ada yang tahu?
Mau thor rajin up? Asal ada vote dan hadiah dari kalian, thor pasti rajin up kok. Like dan komen jangan lupa juga ya.