Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 170 (Takdir)


__ADS_3

Karamel berdiam diri di ruangan Jeffry dengan layar laptop yang menampilkan Leo dan Clara di ruangan Leo tentunya.


Karamel memakai alat yang bisa mendengar semua ucapan Leo dan Clara di telinganya, begitu juga Jeffry yang berdiri di samping Karamel memakai alat yang sama juga.


Karamel tampak berusaha keras untuk menahan dirinya agar tidak marah, apalagi ketika Clara membahas so'al semalam, sungguh Karamel ingin sekali mencabik-cabik wajah Clara sampai meninggalkan bekas di wajahnya itu.


"Maafin aku semalem aku keterlaluan maksa kamu masuk ke kamar hotel, aku ngaku salah ... semalem aku benar-benar udah keterlaluan maksain kehendak aku buat nye ...."


"Ohya kamu nyesel karena udah jebak aku?" tanya Leo tanpa ekspresi, sampai bulu kuduk Clara seketika naik namun dirinya berusaha tenang di depan Leo agar tidak kelihatan takut.


"Aku terlalu cinta sama kamu sampai aku pengen milikin kamu seutuhnya, Sayang!" lirih Clara memelas, Clara menundukkan kepalanya karena takut akan tatapan membunuh Leo.


Namun pandangan Karamel dan Jeffry, Clara sengaja melakukannya agar terlihat lemah di depan Leo, dengan begitu Leo akan memaafkan Clara.


"Sebesar apa cinta kamu ke aku?" tanya Leo bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan pelan menghadap rak buku.


"Besar banget sampe semua yang jadi milik aku pengen aku kasih ke kamu, Sayang!" ucap Clara tiba-tiba memeluk tubuh Leo dari belakang


Leo terkejut dan langsung melepaskan pelukkan Clara secara paksa, "Ini di kantor, Clara." sengit Leo tidak suka jika tubuhnya di peluk oleh wanita licik seperti Clara.


"Maaf," lagi-lagi Clara menundukkan kepalanya dalam-dalam, dan di ruangan lain, Jeffry di buat kaget oleh Karamel yang memukul meja kerja Jeffry dengan sangat keras.


"Berani sekali Clara memeluk suamiku," sengit Karamel menjadi tidak tahan akan kelakuan manja Clara pada suaminya itu.


"Kamu tetep mau pertahanin kerja sama perusahaan aku sama perusahaan papa kamu, Clara?" tanya Leo mulai mengeluarkan marriage book dan foto dari saku jas hitamnya.


"Iya dong, aku pasti bakal dukung kerja sama perusahaan papa aku sama perusahaan kamu jadi ...." ucapan Clara berhenti ketika saat Clara mendongakkan kepalanya, Leo sudah mengangkat dua marriage book tepat di depannya.


"Ap-apa itu sayang?" tanya Clara bingung.


"Walau aku udah nikah sekalipun?" tanya Leo menaikan sebelah alisnya.


"Ni-nikah? Kamu! Hah?" Clara tidak percaya akan ucapan Leo barusan.


"Cuma karena masalah semalem kamu jadi mau pisah sama aku ... aku gak percaya ini, sebesar apapun usaha kamu buat pura-pura udah nikah, aku tetap gak akan mau pisah sama kamu, Sayang." ucap Clara.


"Itu artinya cinta kamu beneran besar banget ya," ucap Leo tersenyum miring dan Clara tersenyum mengangguk menanggapi ucapan Leo.


"Syukurlah, aku jadi gak perlu khawatir lagi kamu bakal ngadu ke Tuan Damyan karena sebenarnya aku udah nikah sama Karamel Listra." ucap Leo sengaja mengakhiri kalimatnya dengan nama wanita yang ia nikahi.


"A-apa? Menikah dengan Karamel?" sentak Clara, kemudian Leo berjalan menuju meja kerjanya.


"Aku adalah laki-laki yang kamu cintai, aku gak akan ngelarang kamu akan hal itu tapi aku gak cinta sama kamu jadi kamu nikmati aja cinta satu pihak ini, dan jangan pernah kamu berani ganggu kerja sama perusahaan aku dengan perusahaan papamu." ucap Leo langsung duduk dan menatap datar Clara.


Clara mengepalkan tangannya dengan sangat erat, lalu Clara berjalan mendekati Leo.


"Enggak sayang, jangan bermain-bermain ...." ucapan Clara terpotong, begitu juga langkahnya langsung berhenti.


"Woow!!" tiba-tiba ada suara yang sangat Clara kenal, dan tak lama dari itu Karamel masuk bersama Jeffry di belakangnya.

__ADS_1


"Lo ...."


"Suttt! Tolong kondisiin suara jelek lo itu, Clara." ejek Karamel berjalan ke arah Leo.


Karamel memeluk Leo dari belakang dengan dagu yang di tempelkan di bahu Leo.


"Maaf ya, aku nggak tahan liat dia terus-terusan manggil kamu dengan panggilan 'sayang' jadi aku ...."


"Gak masalah sayang!" potong Leo mengelus lembut pipi Karamel dan cup! bibir Leo mencium pipi Karamel.


"Lepasin tangan kotor lo dari pacar gue, ja*ang" pekik Clara hendak menarik Karamel namun sayang, Karamel berdiri dan Clara langsung terjatuh akibat kakinya sengaja di injak oleh Karamel.


"Akhhh ....!" ringis Clara kemudian Karamel berjongkok di samping Clara.


"Nah lo, sakit kan jadinya," ucap Karamel dengan muka sok kasihan padahal mah ia sedang mengejek.


"Itu enggak seberapa sama apa yang lo lakuin semalem, Clara." sengit Karamel bangkit dan berjalan menuju sofa.


"Semalem lo berani jebak suami gue ...."


"Siapa suami lo! Hah? Leo itu pacar gue, jadi lo nggak usah berharap buat jadi ...."


"Ou, berharap ya? Astaga gue lupa Clara Olivia 'kan orang yang enggak punya rasa malu sedikitpun." potong Karamel terus ingin mengejek Clara.


"Maksud lo apa ja*ang," pekik Clara naik pitam.


"Tolong sadar diri ya Clara, yang berharap itu bukan gue tapi elo, saking terobesinya lo sama suami gue–Leo. Lo sampai minta ke bokap lo buat jalin kerja sama dengan syarat Leo harus jadi pacar lo. Dasar cewek gak tau malu." Karamel semakin memojokan Clara.


Clara menggertakkan rahangnya, "Sayang, bilang ke aku kalo sebenernya Karamel cuma masa lalu kamu, dia adalah mantan kamu sedangkan aku, aku adalah pacar kamu!" kini Clara meminta Leo untuk membela dirinya.


"Kamu bener Clara, Karamel ada mantan aku." ucap Leo membuat Clara tersenyum.


"Lo dengar 'kan ...."


"Mantan yang sudah menjadi istri aku," potong Leo melanjutkan ucapannya.


Karamel tersenyum mengejek Clara lalu ia bangun dari tempat duduknya untuk berjalan sangat pelan ke arah Clara.


"Pasti sakit banget ya dengernya," ejek Karamel dengan mimik muka yang tenang, namun menyeramkan.


"Gue mau kasih lo peringatan Clara, jauhi suami gue dan jangan ganggu kerja sama antar kedua perusahan suami gue sama bokap lo." ucap Karamel dengan tatapan membunuh yang tidak pernah Clara lihat sebelumnya.


"Tanpa lo peringati gue juga nggak bakalan ganggu kerja sama antar perusahaan bokap gue sama calon suami gue," pekik Clara masih bisa melawan Karamel.


"Gak heran, lagi pula lo itu 'kan be*o, walau lo udah tau gue sama Leo itu suami-istri sekarang tetap aja lo nggak mau lepasin Leo dan masih ngaku-ngaku jadi kekasih Leo." ejek Karamel membuat Jeffry menahan tawanya.


"Kurang ajar lo ...."


"Tapi bagus, kalo lo be*o kayak gini, kerja sama perusahaan Binondra Group sama Clark Campions enggak akan ada hambatan pengganggu." ucap Karamel mengarah ke Clara.

__ADS_1


Leo menatap Clara yang seakan-akan ingin meluapkan semua emosinya dengan seribu umpatan kepada Karamel, dengan cepat Leo berdiri dan menimpali perkataan Karamel.


"Clara itu cinta mati sama aku jadi dia enggak akan mungkin minta Tuan Damyan buat mutusin jalinan kerja sama ini. Benarkan Clara?" ucap Leo


Dengan mata yang sudah berkaca-kaca Clara menatap lekat ke arah Leo, hati Clara sakit karena hanya dirinya seorang yang mencinta Leo. Sedangkan Leo tidak, Leo malah mencintai wanita yang sangat Clara benci.


"Apa kamu fikir aku bod*h, Sayang?" tanya Clara menggertakkan giginya.


"Aku adalah anak Clark Damyan, pemilik lahan yang papa kamu minta, Leo. Kalo kamu udah menikah sama cewek ja*ang ini, kamu harus ceraiin dia atau aku akan meminta papa aku untuk memutus jalinan kerja sama kalian." ancam Clara sungguh tidak rela jika Leo bersatu dengan Karamel.


Leo menatap tajam Clara, "Kamu gak akan pernah ngelakuin itu, Clara." sengit Leo.


"Kenapa enggak, kamu ngekhianati aku dan aku gak akan terima itu." pekik Clara.


"Ceraiin Karamel dan mulai hidup baru sama aku, Leo." pekik Clara, sungguh Clara ingin Leo hanya menjadi miliknya seorang.


"Jangan mimpi Clara," sengit Leo nemun Clara malah bersimpuh di lantai.


"Aku mohon sama kamu sayang, aku mencintai sama kamu, aku mau hidup selamanya sama kamu. Tinggalin Karamel ya demi aku, aku mohon hiks ... hiks ....!" isak Clara mengatupkan kedua tangannya.


Karamel mengepal tangannya, seorang wanita memohon pada suaminya untuk meninggalkan dirinya, Karamel benci orang yang tidak bisa menerima takdir seperti Clara.


Plakk ....


Karamel langsung menampar wajah Clara, hingga tubuh Clara jatuh ke lantai akibat tamparan keras yang membuat sudut bibir Clara mengeluarkan darah segar.


"Udah cukup Clara," pekik Karamel membuat Jeffry dan Leo keget akan tindakan dan pekikan Karamel.


"Aw-waw waw!" desis Jeffry menganga sembari memegangi pipinya sendiri. Jeffry merasa ngilu saat suara tamparan di pipi Clara sangat jelas terdengar di telinganya.


Dalam isakan Clara meringis ketika tangan pedas Karamel menyentuh pipinya. Clara merasa tidak terima karena Karamel sudah berani menampar dirinya.


Sembari memegangi pipinya, Clara menatap tajam ke arah Karamel. Dirinya berniat ingin membalas tamparan Karamel, namun Leo lebih dulu menampar Clara dengan kata-kata yang begitu menyakitkan bagi Clara.


"Dia berani ngancem suami kamu, sayang. Siksa dia sesuka hati kamu biar dia tau siapa nyonya Rendra yang sebenarnya," kata Leo mendukung Karamel untuk menyiksa dirinya.


.......


.......


.......


...::: Bersambung :::...


Jangan lupa like, komen dan vote ya kakak-kakak, kalo yang like dan komennya banyak. Author bakal double up gimana?πŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘Œ


Author tunggu hasilnya besok gimana ya.


Selamat membaca semua.

__ADS_1


__ADS_2