Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part ,, 93


__ADS_3

"Ke-kenapa lo bertiga natap gue kayak gitu?" tanya Karamel tergagap.


"Gimana lo bisa tahu nama asli Biyan?" tanya Kevin cepat.


"Gue udah bilang, gue dulu akrab sama Kak Biyan jadi nggak heran gue tahu nama dia. Emangnya kenapa? Identitas namanya di sembunyiin di sekolahan jadi semua orang nggak tahu nama asli Kak Biyan gitu," ucap Karamel


"Siapa nama lo?" tanya Biyan.


"Karamel Listra Nasaji Aramoy," ucap Karamel dengan tatapan datarnya.


"Ta-Tania," selidik Biyan dan Karamel tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


"Tania Losvita Aramoy," ucap Karamel sehingga Biyan tampak terkejut namun seketika ia tersenyum ke arah Karamel kemudian Biyan berdiri dari duduknya lalu ia berjalan ke arah tempat karamel. Grebb! Biyan langsung memeluk Karamel dengan sangat erat.


"When are you coming here?" tanya Biyan.


"Kemaren," jawab Karamel membalas pelukkan Biyan sehingga sudah cukup lama, Biyan melepaskan pelukannya.


"Lo tahu gue di sini?" tanya Biyan.


"Enggak," jawab Karamel.


"If you don't know I'm here, then why are you here?" tanya Biyan mengerutkan dahinya.


"Gue di sini ke tempat kakek Hans sama nenek Hanna," jawab Karamel.


"With your brother?" tanya Biyan.


"Gue sendirian, mereka semua di Jakarta termasuk Mika," ucap Karamel pelan.


"Mika," beo Biyan dengan nada agak nyolot.


"Mika udah pindah ke Jakarta," ucap Karamel.


"Dan lo ...."


"Gue juga pindah dari Amerika ke Jakarta," ucap Karamel membuat Biyan terdiam.


"Mika kangen Kakaknya tapi Kakaknya nggak pernah perduli sama dia," ucap Karamel menyindir Biyan.


"Gue ...."


"Jangan karena kakak lagi berantem sama Om Mike, Kakak juga nggak perduli sama Mika, Tante Melly udah nggak ada lagi, Om Mike sibuk sama kerjaannya dan sekarang Kakaknya nggak perduli sama dia," ucap Karamel serius..

__ADS_1


"Gimana kabar Mika sekarang?" tanya Biyan.


"Dia baik tapi yeah kayak yang gue bilang tadi, dia kesepian," ucap Karamel.


"Gue juga kangen sama Mika tapi gue nggak bisa hubungin dia karena Daddy ngelarang gue buat kasih kabar ke Mika, ada syarat yang harus gue ikutin, syaratnya gue harus siap buat nerima pertunangan antara gue sama anak dari sahabat Daddy setelah itu gue baru boleh kembali dan dekat lagi sama mereka." jelas Biyan.


Karamel tersentak karena yang Karamel tahu dari Mika, Biyan sedang bertengkar dengan om Mike setelah itu Biyan pergi dari rumah tanpa kabar ataupun pesan.


"Kakak harus ke Jakarta, Mika pasti senang ketemu sama Kakak," ucap Karamel.


"Ehem, Yan?!" panggil Rendi sehingga Karamel dan Biyan menoleh ke arah Rendi dan Kevin.


"Oh iya gue lupa, kenalin ini Tania atau Karamel?" tanya Biyan pada Karamel membuat wanita itu terkekeh.


"Karamel Listra," ucap Karamel mengulurkan tangannya ke arah Rendi.


"Afrendi," balas Rendi menjabat tangan Karamel.


"Dan ini ...."


"Gue udah tahu, Kevin 'kan," ucap Karamel memotong perkataan Biyan yang ingin memperkenalkan Kevin padanya.


"Semalem gue pergi ke salah satu cafe yang ada si Kevin ini juga, gue nggak tahu kenapa tiba-tiba ada dua cewek stres yang dateng ngehampirin gue terus marah-marah nggak jelas sama gue, dia bilang dia pacarnya si Kevin ini, terus bla bla bla ...." Karamel menjelaskan semua yang terjadi kepada Biyan.


"Mereka Stela sama Ika, Yan," ucap Kevin membuat Biyan mengepal tangannya kuat.


"Kenapa harus adek gue yang kena sasarannya," pekik Biyan menggertakan giginya sehingga Karamel menyentuh tangan Biyan.


"Ini salah gue, Yan, gue maaf sama lo karena mereka buntutin gue, adek lo jadi sasaran salah mereka berdua." ucap Kevin pada Biyan.


"Gue bener-bener minta maaf so'al semalem," ucap Kevin kini menatap Karamel.


"It,s okay," sahut Karamel.


................


...Kediaman keluarga Mahendra....


Setelah pulang sekolah Leo langsung masuk ke dalam kamarnya hingga beberapa menit kemudian mama Yarra datang mengajak Leo untuk berkumpul di ruang keluarga sebentar.


Awalnya Leo menolak tapi mama Yarra terus membujuk putranya itu sampai Leo mengangguk dan mengikuti perkataan sang mama.


Sesampainya di ruang keluarga Yarra memberi tahu anaknya untuk mendengar semua yang ingin suaminya katakan pada anaknya itu, "Papa ingin bicara denganmu, dengarkan baik-baik, Nak." ucap mama Yarra pada Leo.

__ADS_1


Prasetya menghela napas saat melihat Leo tidak merespon bahkan tatapan mata putranya itu masih sama tajamnya seperti kemarin-kemarin, "Leo?!" panggil papa Prasetya lembut.


Degg! Setelah sekian lama, Ini kali pertama bagi Leo mendengar sang papa memanggil namanya dengan tenang dan lembut lagi.


Tiga tahun yang lalu sejak kepergian sang kakak, Leo tidak pernah mendengar papanya memanggil namanya dengan lembut dan hari ini Leo mendengarnya lagi, sungguh membahagiakan bagi Leo bisa mendengar namanya di panggil dengan tenang dan lembut tanpa nada emosi.


Leo mendongak menatap sang papa, "Papa tahu kau tidak suka di atur dan sangat membenci ucapan papa yang selalu menyangkut pautkan kau dengan nama baik keluarga kita." lirih papa Prasetya.


"Jika papa tahu aku tidak suka semua itu, kenapa papa masih melakukannya?" tanya Leo.


"Papa tidak punya pilihan lain selain harus berbuat keras denganmu, dulu saat kakakmu masih hidup Papa bertekat akan menyerahkan semua urusan bisnis Papa pada kakakmu dan membiarkan kau melakukan apapun yang akan menjadi pilihanmu kelak, tapi Tuhan berkehendak lain kakakmu pergi lebih dulu meninggalkan kita." ucap papa Prasetya.


"Papa hanya ada dua putra, kau adalah satu-satunya harapan papa karena kakakmu sudah tidak ada lagi, Papa hanya mengharapkan kau mau membantu Papa untuk meneruskan bisnis Papa kelak." lirih papa Prasetya.


Degg! Degg! Leo kembali menunduk, rasanya sesak di dada Leo saat papanya yang selalu bersikap tegas, hari ini berbicara lirih.


"Maafkan Leo, Pah, tapi Leo tidak bisa." lirih Leo menolak harapan sang papa.


"Pikirkan baik-baik Leo, jika kau setuju dengan permintaan Papa, kita akan langsung pergi ke Irlandia tapi jika kamu tidak setuju ... Papa dan Mama akan pergi tanpa dirimu." ucap papa Prasetya membuat Leo mendongak menatap sang papa.


"Apa ini ancaman?" ucap Leo datar.


"Ini pilihan," tegas papa Prasetya.


Leo mengeraskan rahangnya, Leo bisa jauh dari papanya tapi Leo tidak akan bisa jauh dari mamanya, anggap saja mamanya adalah kelemahannya dan papanya sudah memberi pilihan yang melibatkan kelemahannya itu sekarang.


Leo tampak berfikir sejenak sebelum menjawab perkataan sang papa, Leo memejamkan matanya bayangan Karamel yang tertawa membuatnya jadi susah untuk mengambil keputusan.


"Akan aku beritahu keputusannya nanti," ucap Leo pergi meninggalkan ruang keluarga.


Di dalam kamar Leo mengacak-acak kamarnya, setelah semua sudah berantakan Leo terduduk di lantai samping ranjangnya, "Kenapa semuanya bisa jadi kayak gini." gumam Leo menyandarkan kepalanya di samping ranjangnya.


"Aku nggak mau ninggalin kamu Kara tapi Mama, aku nggak bisa jauh dari Mama." gumam Leo.


"Apa yang harus aku lakuin sekarang, Kara?" gumam Leo semakin bingung.


.......


.......


.......


...::: Bersambung :::...

__ADS_1


__ADS_2