Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part .. 63


__ADS_3

"Mundur !!" pekiknya sehingga Faza mengikuti perkataan orang itu dan membiarkan orang itu melawan preman itu hingga preman itu pingsan olehnya.


"Terima kasih sudah membantu ...." ucapan Faza berhenti kala melihat wajah orang itu


"Kak Aryan?!" ucap Faza.


"Kalian berdua terluka parah, bagimana jika kalian ikut saya ke rumah sakit?" tawar Aryan membuat Faza membelalakkan matanya.


"Tania." batin Faza mencari keberadaan Tania.


Dari kejauhan Tania memukul satu preman yang ternyata belum pingsan, segera kedua lelaki itu berlari untuk membantu Tania. Bugg! Bugg! Aryan memukul preman itu dengan sangat brutal.


"Lo nggak apa-apa?" tanya Faza.


"Gue nggak apa-apa cuma luka dikit doang," ucap Tania menutupi rasa sakit di tubuhnya dengan tersenyum.


Namun Faza menatap baju Tania penuh dengan darah lalu di lengan kiri Tania juga ada banyak darah, "Tangan lo kenapa?" tanya Faza menatap Tania.


"Tergores dikit," sahut Tania.


"Tergores apa?" tanya Faza.


"Pisau," jawab Aryan membuat Faza dan Tania menatap ke arah Aryan.


"Pisau?" beo Faza menatap Tania dan di balas anggukan oleh Tania.


"Em, makasih udah bantuin kita," ucap Tania pada Aryan.


"Ah iya! Makasih, Kak" timpal Faza.


"Iya sama-sama, kebetulan saya lewat dan lihat kalian di serang jadi saya bantu kalian," ucap Aryan.


"Za, kalian ikut saya aja ya, kasihan luka teman kamu lumayan parah," ucap Aryan membuat Faza cengo karena tidak menyangka Aryan masih mengenal dirinya.


"Nggak usah, Kak ...."


"Kalian saling kenal?" tanya Tania membuat Faza dan Aryan menatap Tania bersamaan.


"Oh iya gue lupa, kenalin ini Kak Aryan Sebastian August," ucap Faza membuat pupil mata Tania sedikit tersentak.


"Salam kenal buat ...." ucapan Aryan berhenti.


"Ta ...."


"Kara, nama gue Kara," ucap Tania memotong perkataan Faza membuat Faxza mengerutkan dahinya aneh.


"Oh iya! Salam kenal Kara," ucap Aryan.


"Iya, salam kenal juga," balas Tania.


"Jadi kalian mau 'kan ikut saya," ucap Aryan.


"Kalo ada yang nawar kita harus hargain 'kan, Za." ucap Tania menatap Faza membuat Faza menganggukkan kepalanya terpaksa karena Tania menatapnya dengan memelotot.


"Untuk motor kamu biar teman saya yang akan membawanya," ucap Aryan tersenyum ramah lalu ia merogoh handphonenya di saku bajunya.


"Tunggu sebentar," ucap Aryan sedikit menjauh.


"Lo punya dua penjelasan sama gue, gue tagih nanti," sengit Faza namun Tania hanya diam, wanita itu sedang menahan perih di tubuhnya.


"Di rumah sakit lo harus jelasin semuanya kalo nggak gue bakal bilang sama Kak Aryan kalo nama lo itu Tania bukan Kara." ancam Faza.


"Tanyain semua ke gue, entar gue jawab," kesal Tania kemudian Aryan kembali menghampiri mereka.

__ADS_1


"Sebentar lagi teman saya datang, kita tunggu sebentar nggak apa-apa 'kan," ucap Aryan.


"Iya nggak apa-apa, Kak." sahut Faza.


Dua puluh menit Faza dan Tania sudah masuk ke dalam mobil Aryan sedangkan Aryan memberikan kontak motor Faza pada temannya di luar, setelah selesai Aryan masuk ke mobil dan menjalankan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


.........


"Keluarga Kara?" tanya suster sehingga Faza dan Aryan berdiri bersama lalu mereka menghampiri sang suster.


"Bagaimana keadaan Ta ... kara, Sus?" tanya Faza hampir keceplosan.


"Dokter memanggil kalian masuk," ucap suster mempersilahkan Faza dan Aryan masuk bersama ke dalam ruang rawat Tania, saat mereka sudah masuk Tania langsung merengek dengan Faza.


"Za, Dokter bilang gue harus di rawat dong," pekik Tania menekuk wajahnya.


"Kenapa Adik saya harus di rawat, Dok?" tanya Faza menatap sang dokter.


"Luka yang ada di lengan dan pinggang Adik kamu ...."


"Hah? pinggang Adik saya kenapa?" tanya Faza memotong perkataan Sang Dokter.


"Pinggang Adik kamu tersayat dan itu banyak mengeluarkan darah maka dari itu dia harus melakukan transfusi darah," ucap Dokter membuat Faza menatap tajam Tania yang memalingkan pandangannya ke atas langit-langit ruangan itu.


"Baik, Dok. Terima kasih," ucap Faza kemudian dokter itu keluar dari ruangan itu.


"Pinggang lo kena sayatan juga?" tanya Faza menatap datar wajah Tania.


"Sayatan di pinggang gue tadi nggak kerasa perih, Za! Waktu kita naik mobil tadi baru gue ngerasa nyeri di bagian pinggang ...."


"Kenapa lo nggak bilang sama gue," sengit Faza merasa khawatir karena Tania menahan rasa perih dari dua jam yang lalu.


"Gue kira nggak akan separah itu," ucap Tania.


"Tapi, Za ...."


"Lo mau buat Kakak lo marah karena ngelihat luka-luka lo ini?" tanya Faza memotong balik perkataan Tania.


"Bahkan gue pulang besok, dia pasti bakal marah juga." ucap Tania lirih.


"Jangan bandel Tania, gue bakal temenin lo malam di sini." ucap Faza lembut, mau tak mau Tania menganggukkan kepalanya patuh.


"Ehem! Karena Kara udah setuju buat di rawat di sini, saya pamit pulang dulu, Za. Besok insya Allah saya akan ke sini buat jengung kalian lagi," pamit Aryan tanpa jeda.


"Oh iya, Kak. Makasih ya Kak karena udah bantu kita," sahut Faza menatap Aryan.


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi." ucap Aryan pergi keluar dari ruang perawatan Tania.


..........


...Kediaman rumah Sinaja....


Kedelapan laki-laki SALF BADRAD masih berada di rumah Aldy, mereka menunggu akan kedatangan Faza dan Tania di rumah Aldy, jarum jam sudah menunjukkan pukul 21 : 40, tapi tidak ada tanda-tanda Faza dan Tania akan sampai di rumah Aldy.


Aldy maupun yang lainnya sudah menelepon Faza dan Tania tapi hasilnya nomor Tania tidak aktif sedangkan nomor Faza aktif tapi tidak di angkat olehnya.


"Kenapa perasaan gue jadi enggak enak gini ya," gumam Aldy tidak biasanya Tania pergi tanpa memberi kabar dirinya.


"Mungkin mereka pergi ke tempat temen Tania atau siapa gitu," ucap Diky.


"Di, telepon Mika, Niky sama Firgy sekarang," titah Aldy dan Abdi menggangguk lalu ia menelepon Mika dan Niky tapi hasilnya mereka tidak tahu, kemudian Abdi menelepon Firgy namun nomor wanita itu tidak aktif.


"Positif tingtong aja ...."

__ADS_1


"Positif thinking bukan tingtong," sengit Diky pada Adit padahal Adit ingin berkelakar.


"Ya maksudnya itu, mungkin Tania lagi jalan-jalan sama Faza atau mereka cari makan di mana gitu," ucap Adit.


Tingg! Tiba-tiba handphone Aldy berbunyi dan mendapatkan pesan dari Faza.


Sepupu Gelandangan (22 : 09)


Gue sama Tania ada di Bandung tempat kakek, mungkin seminggu kita di sini sekalian mau kenalin Tania sama kakek nenek, siapa tahu mereka setuju Tania jadi pacar gue.


Kenzi ingin tertawa terbahak-bahak kala membaca pesan dari Faza karena mengira Faza tidak tahu Tania adalah sepupu kandungnya sendiri.


"Gimana, mereka di mana sekarang?" tanya Leo khawatir mereka, ralat pada mantan kekasihnya.


"Tenang aja, Tania sama Faza ke Bandung tempat Nenek sama Kakeknya," ucap Aldy.


"Tempat Nenek Kakeknya lo berdua? Ngapain pake acara bawa-bawa Tania segala," ucap Leo.


"Pacar lo aman sama Faza," ucap Aldy.


"Gue sama Tania udah putus," lirih Leo.


"Apa, Putus?" beo ketujuh laki-laki SALF BADRAD serentak.


Leo menghela napas lalu menceritakan semua kejadian di mana ia cemburu dengan Aldy lalu meminta putus dengan Tania karena takut Leo menghalangi cintanya dengan Aldy yang ternyata semua hanya kesalah pahaman, lalu Leo juga bercerita bagaimana Tania menjelaskan kekecewaannya dengan Leo yang membuat hubungan mereka selesai dengan setatus baru yaitu hanya sebatas teman biasa.


...............


...Rumah sakit....


Baru beberapa menit yang lalu Tania sudah melakukan transfusi darah selama empat jam dan sekarang Tania di suruh istirahat agar besok sudah bisa pulang.


Tania menatap Faza yang berbaring di sofa sedang asik memainkan handphonenya, "Sekarang itu dah waktunya tidur bukan malah main handphone," sindir Tania pada Faza membuat pria itu melirik ke arah Tania.


"Elo tu yang tidur, udah tahu badan lemes masih aja suka merintih," ucap Faza malas.


"Ck! Udah tahu badan gue lemes, nggak usah marah-marah kenapa," balas Tania dengan suara lambat.


"Iya, maaf," ucap Faza.


"Gue lihat perban lo cuma ada dua doang, satu di kening sama satu di tangan, noh sudut bibir nggak di perban sekalian apa?" tanya Tania.


"Sekalian aja mulut gue ikut di perban," balas Faza kesal.


"Bagus tuh, biar lo nggak adu bacot mulu sama gue," ucap Tania makin jadi sehingga Faza berdecak jengkel.


Faza meluruskan tidurnya ke depan lalu Faza menjadikan tangan kanannya sebagai bantal, "Lo udah mau tidur nggak?" thanya Faza.


"Kenapa?" tanya Tania melirik ke arah Faza.


"Gue mau nagih janji ...."


"Hoamm! Za, gue duluan tidur ya," ucap Tania langsung memejamkan matanya.


"Cih! Ngehindar aja terus," umpat Faza jengkel namun Tania pura-pura tuli.


.......


.......


.......


...••• Bersambung •••...

__ADS_1


__ADS_2