Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part • 125


__ADS_3

Kenzi menatap lekat mobil yang pergi dari parkiran rumah sakit, otak pria itu di penuhi tanda tanya yang entah bagaimana caramya agar mendapatkan jawabannya.


"Ikuti mobil itu." titah Kenzi mau tak mau mencaro jawaban dengab cara mengikuti arah jalan mobil itu.


"Tapi tujuan kita ...."


"Aku ingin tahu kenapa Henry berbohong so'al hubungannya dengan daddynya, Tris." sela Kenzi.


"Baiklah, Ken." patuh Trisna langsung menjalankan mobilnya.


Setelah perjalanan panjang dan melewati gang-gang sempit, mobil yang Kenzi dan Trisna ikuti tadi berhenti di sebuah rumah depok yang elegan.


"Ada yang tidak beres, Ken." ucap Trisna tiba-tiba membuat Kenzi menatapnya dengan tanda tanya.


"Apa?" tanya Kenzi sehingga Trisna menunjuk lambang kobra di gerbang rumah depok yang elegan itu.


"Dark Cobra!!!" ucap Trisna membuat Kenzi tersentak tak percaya, kemudian Kenzi menatap lekat lambang kobra itu.


"Dark Cobra? Bagaimana bisa lambang itu ada di rumah Regan?" sengit Kenzi.


"Regan?" beo Trisna terkejut dengan panggilan Kenzi yang tidak memakai embel-embel 'Daddy, Paman atau Tuan' sungguh tidak sopan sekali tuannya itu. Kenzi menatap Trisna dari kaca depan.


"Ada apa?" tanya Kenzi.


"Kenapa anda tidak memanggil Tuan Regan dengan panggilan ...."


"Henry bahkan berbohong tentang hubungannya dengan Regan lalu untuk apa aku menganggap mereka keluarga," cap Kenzi menyela, memang sejak awal Kenzi tidak pernah suka dengan Henry si pria tua itu namun karena adiknya pernah berucap bahwa adiknya ingin membahagiakan kedua orang tuanya maka Kenzi juga terpaksa harus menerima Henry sebagai adik iparnya.


Dan kini Henry berani berbohong di belakang mereka, ketahuilah kebohongan adalah kebencian terbesar Kenzi apalagi kebohongan itu menyakut kejahatan.


"Tapi Nona Kara ...."


"Aku harus mencari tahu tentang kenapa Henry berbohong akan hubungannya dengan Regan, setelah itu aku akan memberitahu Kara." ucap Kenzi.


"Kita kembali ke rumah sakit sekarang," titah Kenzi sehingga Trisna hanya bisa patuh saja.


..............................


...Irlandia _ Mansion Leo....


Leo duduk di sofa dengan menatap tajam dua orang yang tengah duduk di lantai secara bergantian, sebenarnya Leo sedang dalam keadaan tidak tenang karena memikiran keadaan seseorang yang sangat penting dalam hidupnya namun masalah yang sedang ia hadapi harus segera ia selesaikan.


"Aku sudah membantumu, Leo. Kenapa kau malah menyekapku juga?" pekik seorang pria bernama Morgan dalam bahasa Irlandia, Morgan adalah salah satu anak buah Henry sekaligus menjadi pengkhianatnya juga.


"Aku tidak akan mungkin membiarkanmu berkeliaran di luar apalagi kau adalah anak buah dari Iblis itu, Morgan," ucap Leo datar.


"Honey, why ...." Jessy tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena Leo langsung menatap tajam dirinya.


"Tatapan apa itu? Kenapa aku takut dengan tatapannya?" batin Jessy mengalihkan pandangannya ke bawah, Jessy tidak pernah sekalipun melihat tatapan tajam Leo maka dari itu untuk pertama kalinya ia melihat Leo menunjukkan tatapan yang begitu mengerikan.

__ADS_1


"Seharusnya kau sudah puas karena selalu mengancamku untuk menjauhkan aku dari kelasihku, Jessy Mon," ucap Leo dalam bahasa Indonesia.


"Aku mengancam karena aku mencintaimu, Say ...."


"Cinta? Wah kau ... cih! Ternyata lidahmu masih manis seperti gula, Jessy," ejek Leo.


"Menutupi semua kebusukan dengan kata-kata manis," sambung Leo dengan nada suara jijik.


"Sayang, aku ...." ucapan Jessy terpotong.


"Berpihaklah padaku maka aku akan mempertemukan dirimu dengan ibu dan adikmu, Morgan." ucap Leo dalam bahasa Irlandia pada Morgan.


"Brengs*k, kau apa ...."


"Ibumu masih belum diberitahu tentang pekerjaanmu yang mungkin akan mengecewakannya jadi apa keputusanmu sekarang?" ucap Leo memainkan jari-jarinya di sofa.


"Aku akan berpihak padamu." sahut Morgan dengan tangan yang terkepal kuat.


Apa begitu mudahnya Morgan berpihak pada Leo tanpa punya niatan untuk mengkhianatinya. Tidak! Leo bukan orang bod*h yang percaya begitu saja dengan keputusan Morgan, atasan sebelumnya saja ia khianati apalagi Leo.


"Bukan hanya ibu dan adikmu yang menjadi taruhannya, nyawa istri kesayangan dan anakmu juga ada pada pilihanmu, Morgan." ucap Leo membuat Morgan terbelalak kaget.


"Bagaimana bisa dia tahu keberadaan istri dan anakku?" batin Morgan.


"Aku tidak mau membuang waktuku lagi, kau jangan pernah coba-coba mengkhianatiku atau kau akan menyaksikan langsung kematian semua anggota keluargamu." ancam Leo berdiri dari tempat duduknya untuk menghampiri Jessy.


"Bawa Morgan keluar." titah Leo pada Jeffry.


"Do you have anything to say, Jessy?" tanya Leo menaikan sebelah alisnya menatap penuh kebencian pada wanita itu.


"What do you want to hear?" Jessy bertanya balik.


Kali ini Jessy tidak bisa mengelak lagi, Leo benar-benar sudah tahu siapa dia yang sebenarnya.


"Can you be honest?" ucap Leo.


"No you can't! I don't need your explanation because I already know everything, including your relationship with Henry Del Nixon." ucap Leo seraya tersenyum miring.


(Tidak, kau tidak bisa! Aku tidak butuh penjelasanmu karena aku sudah tahu semuanya, termasuk hubunganmu dengan Henry Del Nixon).


"Jika kau sudah tahu ...."


"Alasanku mengikuti alur permainan kalian karena aku menunggu kemunculan Rega Ananda Del Nixon," ucap Leo membuat Jessy terbelalak kaget.


Bagimana bisa Leo tahu nama asli daddy Henry yang sudah bertahun-tahun di palsukan dengan nama Regan Del Nixon?! pikir Jessy tidak menyangka Leo tahu sampai sedalam itu.


"Kau adalah kekasih Henry tapi kau bod*h karena mengikuti semua perintahnya, Jessy." ejek Leo sengaja untuk memancing Jessy agar terbakar emosi.


"Kau lah yang bod*h karena merelakan kekasihmu di miliki kekasihku, Leo." balas Jessy membuat Leo geram di buatnya.

__ADS_1


"Kita tidak sama, Jessy. Aku melakukan semuanya demi keselamatan keluarga kekasihku tapi kau ... apa kau mengorbankan semuanya demi cinta kalian berdua? Aku rasa tidak, Henry tidak mencintaimu lagi, dia sudah mencintai kekasihku. Sebentar lagi kau akan menjadi sampah di mata Henry ah ... sepertinya kau sudah tidak di anggap lagi oleh Henry." ucap Leo mengejek Jessy agar Jessy di buat emosi tingkat dewa.


"Tutup mulutmu, kau tidak tahu ...."


"Kau yang tidak tahu apa-apa," potong Leo berdiri lalu berbalik membelakangi Jessy.


"Biar aku tebak, kau tidak tau bukan masalah Henry yang menyelamatkan nyawa kekasihku?" ucap Leo membuat Jessy mengernyit aneh.


"Sahabat lama Tuan Sanjaya yang menjadikan keluarga Sinaja dan Ramo sebagai musuhnya. Rega Ananda Del Nixon sangat terburu-buru ingin membunuh anggota keluarga kekasihku tapi Henry menentang itu semua, apa kau tahu kenapa Henry menentangnya? Dia mengatakan 'Jangan sekarang Daddy, biar aku yang akan membunuhnya nanti.' kapan itu terjadi? Sudah dua minggu berlalu Henry tidak juga membunuh kekasihku ataupun anggota keluarganya." ucap Leo menjelaskan segalanya.


"Mudah saja bagi Henry menjebak anggota keluarga kekasihku dengan berbohong bahwa kekasihku sudah meninggal, dan semua anggota keluarga kekasihku pasti akan datang ke Kanada untuk ...."


"Kanada ?!!" pekik Jessy menyela karena setahu Jessy, Henry dan Karamel berada di Indonesia.


"Oh, ternyata kau benar-benar tidak di anggap, Jessy." ucap Leo memancing emosi Jessy lebih dalam.


Leo menghela napas lalu ia berbalik menatap Jessy, "Jika kau ingin lepas dari Henry atau kau ingin membalas dendam, jangan ragu untuk meminta bantuanku, Jessy Mon Andrea." ucap Leo pelan.


Jessy mendongakan kepalanya, "Aku bukan wanita bod*h yang akan percaya karanganmu itu, Cleo Rendra Agata." sengit Jessy menatap tajam mata Leo.


"Aku akan membebaskanmu besok, datanglah ke Kanada dan lihat sendiri bagaimana Henry memperketat keamanan kekasihku di rumah sakit Rehoolt Mendical Center Canada." ucap Leo membalas tatapan tajam itu.


..............


Henry menatap lekat wajah istrinya itu, "Kapan kau akan bangun, Sayang." lirih Henry.


"Bangunlah, aku merindukanmu." ucap Henry merasa dirinya tidak mau kehilangan wanitanya.


Tringg ....


Handphone Henry berdering, terlihat empat panggilan dari sang daddy, "Ada apa?" tanya Henry datar.


"(.............................)"


"Sudah aku katakan biar aku yang menangani semuanya, pembalasan dendammu pasti akan terwujud tapi tidak sekarang." sarkas Henry.


"(..............................)"


"Bersabarlah Daddy, aku berjanji kau akan menyaksikan kematian seluruh keluarga Sinaja, Aramoy dan Ramora." ucap Henry.


"(..............................)" sambungan telepon di putus oleh sang daddy.


"Kecuali Karamel, Daddy." dersis Henry.


.......


.......


.......

__ADS_1


...::: Bersambung :::...


__ADS_2