Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part _ 261 (Takdir)


__ADS_3

Ketika sudah sampai di rumah sakit, Kenzi langsung menuju ke lantai tempat Karamel di rawat dan pada saat Kenzi dan Trisna keluar dari lift, mereka berdua melihat sepanjang lantai itu ada banyak para pria berbadan kekar sedang berjaga di sepanjang lantai itu. Kenzi yakin mereka semua pasti anak buahnya Leo!


"Apakah Leo menyewa satu lantai ini?" gumam Kenzi dan Trisna langsung menjawab 'mungkin iya' pada Kenzi.


"Di mana Kara?" tanya Kenzi pada saat Leo dan Adit mengobrol di bangku luar ruang perawatan Karamel, kedua pria itu langsung berdiri menghadap Kenzi yang terengah-engah karena pria itu tidak berjalan santai melainkan berlari.


"Lagi di periksa dokter di dalem." sahut Adit.


"Gimana keadaan Kara sama bayinya?" tanya Kenzi menatap Leo dengan serius tapi kesannya seperti marah pada suami adiknya itu, Leo hendak menjawab namun dokter Anggika keluar dari ruang perawatan Karamel hingga Leo langsung menghampiri dokter Anggika.


"Bagaimana, Dok?" tanya Leo lirih namun dokter Anggika menampilkan raut wajah pucat.


"Jangan katakan jika hasilnya masih sama, Dok." ucap Leo menunduk lemah dan dokter Anggika menepuk pelan bahu Leo dua kali.


"Istrimu akan baik-baik saja," ucap dokter Anggika meyakinkan Leo, dan Leo tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya pelan sembari mengucap kata terima kasih pada dokter Anggika, setelah itu dokter Anggika pergi dari sana.


Kenzi mengerutkan dahinya seraya menatap tajam ke arah Leo, apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah anak Karamel dan Leo telah lahir? Lalu kenapa Leo merasa sedih bukan senang? Apa terjadi sesuatu yang serius pada Karamel? Semua pertanyaan itu muncul begitu saja di benak Kenzi.


"Ada apa sama Kara? Dia baik-baik aja 'kan?" tanya Kenzi membuat Leo menoleh ke arah sahabat sekaligus kakak iparnya itu.


"Untuk sekarang keadaan Kara enggak bisa di bilang baik-baik aja, setelah lahiran Kara langsung pingsan dan sampai sekarang dia belum sadar juga." ucap Leo dengan raut wajah sedih.


"Gimana sama Zayn?" tanya Kenzi dengan tatapan lembut, pria itu merasakan sedih yang sedang di alami sahabat baik sekaligus adik iparnya itu. Untuk beberapa saat Leo bungkam lalu kedua tangan pria itu terkepal kuat kala mengingat luka-luka di tubuh istrinya yang di sebabkan oleh siksaan Zayn dan luka tembak yang sebabkan oleh Clara.


"Salah satu alasan kenapa keadaan Kara sekarang belum membaik juga, itu karena Zayn nyiksa Kara bahkan ... Clara juga nembak Kara di bagian sini." ucap Leo menunjuk bagian dadanya, pria itu merasa jantungnya kembali merasakan ngilu.


Kenzi dan Trisna membulatkan mata kaget saat Leo menyebut wanita yang pernah di penjarakan oleh Karamel di Afrika ada di Indonesia dan wanita itu ikut serta menembak Karamel.


"Apa lo bilang? Clara? Dia udah bebas dari penjara?" tanya Kenzi sedikit meninggikan suaranya dan Leo menganggukkan kepalanya sekali.


"Beberapa bulan yang lalu Clara di tebus oleh Zayn," ucap Leo membuat Kenzi mengeraskan rahangnya marah.


"Kenapa Kara bisa ada di tangan Zayn?" tanya Kenzi sangat marah pada Zayn.


"Gue tahu semua rencana Zayn yang mau nyerang rumah gue biar Karamel celaka, karena itu gue nyuruh tangan kanan gue buat bawa Kara pergi dari rumah tapi gue malah ceroboh, gue enggak nyadar di dalem rumah gue ada mata-matanya Zayn. Sampai akhirnya Zayn tahu Kara pergi sama tangan kanan gue, dia nyuruh anak buahnya buat ngejar Kara sama tangan kanan gue sampai ke hutan." ucap Leo dengan tatapan kosong, pria itu mengingat pesan Zoeya.


"Kara ketangkap dan di siksa ...."


Bukk ....


Leo tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena Kenzi langsung memukul wajah Leo dengan sangat kuat hingga beberapa anak buah Leo hendak menolong tuan mereka dan ingin menyerang Kenzi namun Leo mengangkat tangannya untuk menghalangi para anak buahnya agar tidak membantunya, mereka semua tampak saling menatap satu sama lain, ke mana kebengisan tuan mereka itu? Kenapa tuan mereka tidak melawan serangan Kenzi? Dan kenapa tuan mereka menghalangi mereka untuk membantunya? Fikir mereka semua.


Adit ikut terkejut melihat betapa kasarnya Kenzi memukul Leo hingga sudut bibir Leo berdarah namun melihat pergerakan tangan Leo yang menghalangi anak buahnya untuk membantunya, Adit pun hanya bisa diam saja.


"Terus ke mana lo waktu Kara di tangkap bajin*an itu, hah?" pekik Kenzi murka dan memukul sekali lagi wajah Leo. Bukk! Lalu Kenzi menendang perut Leo dengan kasar. Brukk! Hingga tubuh Leo jatuh ke lantai.


"Lo bilang lo cinta sama Kara tapi kenapa lo malah biarin orang lain ngelukain dia, A*jing." pekik Kenzi menarik kerah kemeja Leo.


"Lo bajin*an enggak becus jaga Adek gue," pekik Kenzi kemudian. Bukk! Kenzi memukul lagi dan lagi wajah Leo sampai babak belur, tak lupa pula Kenzi menendang tubuh hingga kepala Leo sampai mengeluarkan darah segar.


"Mati lo, bangs*t!" pekik Kenzi tanpa henti memukul Leo yang sudah di penuhi memar biru dan ungu di sekujur wajah tampan pria itu.


Mendapatkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi dari Kenzi, Leo hanya bisa diam saja, Leo merasa dirinya pantas di pukul oleh Kenzi. Dirinya memang tidak becus menjaga istrinya sendiri, jadi biarkan dirinya merasakan siksaan dari Kenzi agar Karamel tidak merasakan sakitnya sendirian.


"Udah cukup Kara menderita kayak gini, kalo sampai dia enggak bangun juga malam ini, gimana cara lo ngomong sama Papa. Hah!?" pekik Kenzi murka membuat Adit mengepal tangannya kuat.


Adit tidak bisa melihat Leo di siksa oleh Kenzi hingga akhirnya Adit melangkahkan kakinya mendekati Leo dan Kenzi, pria itu langsung menarik bahu Kenzi dari belakang dan. Bukk! Adit memukul pelipis Kenzi hingga tersungkur ke lantai.


Ini adalah pertama kalinya bagi Adit memukul wajah seseorang dengan kekuatan penuh, menyakitkan emang! Tapi hasilnya sangat memuaskan, pelipis Kenzi langsung memerah akibat pukulan kejam Adit.


"Gue udah enggak tahan lihat sikap lo yang sok jagoan itu, Ken. Lo mukulin Leo dan nyalahin dia seakan-akan lo enggak punya kesalahan apa-apa padahal nyatanya lo juga salah, bangs*t." pekik Adit membuat Kenzi menatap tak percaya pada sahabatnya itu karena memukulnya sampai terasa nyut-nyutan di bagian pelipisnya bahkan kepala pria itu terasa pusing di buatnya.


Adit juga membentak Kenzi? Setan apa yang merasuki Adit hingga sikap pria itu berubah seperti sekarang.


"Sebelum lo marah sama Leo, lo harusnya nyadar diri dulu, Kara celaka kayak gini karena siapa bangs*t? Itu karena lo juga yang udah buat Zayn dendam sama lo, sampai Zayn tega celakain Adek lo demi bisa mancing lo dateng ke Indonesia," pekik Adit, selama ini pria itu tidak pernah marah namun kali ini menurut Adit, Kenzi sudah sangat keterlaluan menyalahkan Leo secara sepihak padahal Leo telah berusaha membujuk Karamel untuk ikut dengannya ke Irlandia tapi Karamel sendiri yang menolaknya.


"Kalo bukan Leo yang dateng duluan buat nyelamatin Kara, gue yakin seratus persen lo dateng ke Indonesia cuma bisa lihat mayat Karamel doang, tahu enggak." pekik Adit membuat Kenzi speechless mengusap pelipisnya yang baru saja di pukul oleh Adit.


"Mikir Ken, kaadaan Kara yang lagi kayak gini seharusnya lo bisa ngontrol emosi lo, gue tahu lo sedih dan marah sama keadaan Karamel tapi lo mikir juga posisi Leo sebagai suami Kara. Dia juga ngerasain apa yang lagi lo rasain sekarang bahkan dia lebih ngerasa terpukul sama keadaan Karamel dari pada elo yang cuma bisa marah-marah enggak jelas doang." sengit Adit.


"Gue kasih tahu lo, jangan coba-coba masuk ke dalem kalo diri lo masih di penuhi amarah setan!" ucap Adit menunjuk Kenzi kemudian Adit menarik pergelangan tangan Leo agar mereka berdua berjalan masuk ke dalam ruang perawatan Karamel, meninggalkan Kenzi dan Trisna di luar.


.........


...Markas Tersembunyi....


Prankkk ....


Tubuh Clara menegang ketakutan saat salah satu anak buah Leo melempar botol wine ke lantai di mana Clara sedang duduk, anak buah Leo merasa bising akan tangisan dan teriakkan Clara yang minta di lepaskan hingga pada akhirnya saat pecahan botol itu berada dekat di depan matanya bahkan mengenai kakinya, mulut Clara secara otomatis terkunci rapat.


"Sudah aku katakan, kau akan mendapatkan siksaan neraka jahanam dari Lord kami jadi tutup mulutmu dan terima nasib menyedihkanmu itu, jala*g!" pekiknya membuat Clara menggelengkan kepalanya dengan semakin deras air matanya.


Brakk ....

__ADS_1


Suara pintu tiba-tiba di tendang oleh seseorang dan muncul lah Jeffry dan dua anak buahnya yang membawa Zayn ke dalam ruangan itu.


"Clara!" penggil Jeffry membuat Clara mendongakkan kepalanya pelan, wanita itu tidak kenal dengan Jeffry namun mata wanita itu seketika membulat saat Jeffry menggeser tubuhnya dan menampilkan tubuh Zayn yang lemah karena sebelum Zayn di bawa ke markas tersembunyi itu, Jeffry telah menyiksa Zayn sedikit.


"Zayn," penggil Clara dengan suara tinggi namun Zayn tidak merespon karena tatapan mata pria itu kosong seperti tidak ada kehidupan di dalamnya.


"Letakkan mereka di sana," titah Jeffry membuat Clara mengerutkan dahinya aneh karena Jeffry mengucap kata 'mereka'


Setelah Jeffry memerintah anak buah Leo, dua anak buah Leo lainnya menyeret seorang wanita yang Clara kenal, dia adalah Widia. Kemudiam mereka meletakkan Zayn dan Widia ke lantai di samping Clara.


Jeffry berjalan mendekati Clara membuat Clara menggeser tubuhnya menjauh, ia baru saja melihat wajah Zayn dan Widia yang di penuhi memar, ia takut sekarang. Takut jika dirinya akan di siksa juga oleh pria yang tidak ia kenal itu.


"Masih punya rasa takut rupanya," ucap Jeffry berjongkok dan menarik kasar dagu Clara agar mendongak ke arahnya.


"Kau begitu percaya diri bisa mencelakai Nyonya Kara dengan bantuan Zayn, tapi kau tidak tahu meskipun Zayn adalah seorang pimpinan mafia tapi dia bukanlah apa-apa di bandingkan polar prince kami, bergabung dengan Zayn sama saja kau akan menjadi santapan lezat binatang peliharaan polar prince kami." ucap Jeffry membuat bibir Clara bergetar menandakan dirinya sedang menahan tangisan.


Jeffry mengarahkan wajah Clara untuk menatap Zayn yang diam dengan tatapan kosongnya dan Widia yang di lakbani mulutnya dengan air mata membasahi pipinya.


"Lihat mereka, setelah mereka mengetahui lawan mereka adalah polar prince, mereka tidak bisa apa-apa selain hanya bisa pasrah saja." ucap Jeffry membuat air mata Clara kembali mengalir hingga mengenai tangan Jeffry.


Kemudian Jeffry mencengkeram kedua pipi Clara dan menariknya kuat ke arah wajanya, mata Jeffry berubah memelotot marah membuat tubuh Clara ketakutan setengah mati.


"Karena kau! Karena perbuatanmu, sahabatku harus mengalami penderitaan yang tidak pernah ia alami seumur hidupnya." sengit Jeffry mengarah pada Keisha yang sedang terluka parah sekerang.


"Kau begitu berani melawan polar prince kami bukan, maka kau akan menerima yang namanya siksaan kejam *polar prince kami atas perbuatan bodhmu itu." ucap Jeffry menghempas kuat wajah Clara lalu pria itu meninggalkan ruangan itu begitu saja.


Clara tidak bisa berkata-kata lagi, bukan hanya satu mulut tapi sudah lebih dari sepuluh mulut yang berbicara tentang bagaimana kejamnya Leo dalam menyiksa seseorang.


"Aku tidak mau mati, aku tidak mau mati." gumam Clara dengan tubuh bergetar.


"Zayn! Tolong aku, aku tidak mau mati, Zayn." pekik Clara namun pria itu hanya diam dan malah merintihkan air matanya kala pria itu mengingat satu sosok wanita yang ia kira telah pergi meninggalkannya.


"Bod*h kenapa kau menangis? Di mana sikap kejamanmu itu, tunjukkan padaku sekarang, lawan mereka semua dan keluarkan aku dari sini brengs*k. Aku tidak mau mati hiks, hiks!" Clara berteriak histeris namun perlahan nada suara wanita itu berubah lemah.


"Zoeya!" gumam Zayn membuat Clara menggelng-gelengkan kepalanya, kenapa pria itu malah memanggil nama kekasihnya? Fikir Clara.


.........


Empat hari kemudian, Leo dan Kenzi telah berbaikkan walau mereka berdua masih saling diam-diaman. Leo telah menjelaskan segala hal yang terjadi pada Kenzi dan Kenzi pun meminta maaf pada Leo, ia menyadari bahwa tindakannya terlalu kasar pada Leo yang sudah berusaha sebisa mungkin untuk merawat dan menjaga adiknya.


Ceklek ....


"What's up bro! Nih, gue bawain makan siang buat lo berdua. Kasian gue lihat lo berdua, kurus banget!" ejek Adit membawa dua paper bag untuk Kenzi dan Leo yang sudah beberapa hari ini berjaga di ruang perawatan Karamel.


"Kara masih belum bangun juga ya?" tanya Adit berjalan mendekati brankar Karamel yang masih setia menutup kedua matanya. Selama beberapa hari ini, Adit tidak datang ke rumah sakit karena tugas kuliah pria itu sangatlah banyak dan untungnya hari ini Adit hanya ada dua kelas saja jadi sebelum dirinya masuk ke kelas kedua, pria itu menyempatkan diri untuk mempir menjenguk Karamel sekalian membawakan makanan untuk kedua sahabatnya.


"Belum!" sahut Leo.


"Huft! Kapan sih lo mau bangun, Kar? Lo enggak mau lihat anak lo apa? Dia ada di samping lo sekarang, lagi tidur tuh." ucap Adit duduk di kursi samping Karamel.


"Kata Leo anak lo beberapa hari ini nangis mulu, dia butuh lo peluk, dia butuh lo tenangin, dia butuh Mamanya, Kar." ucap Adit menatap ke arah si kecil yang sedang terlelap.


"Gue yakin Greydon pasti ngerasain juga sakit yang lagi di rasain Mamanya sekarang makanya dia nangis mulu, lo cepet bangun lah Kar, kasian Greydon." ucap Adit dengan raut wajah sedih menatap wajah tenang si kecil, saking fokusnya Adit pada si kecil, pria itu tidak menyadari jari Karamel yang bergerak pelan.


"Kalo lo udah bangun, lo pasti bakal seneng banget bahkan mungkin lompat-lompat kayak anak kecil yang dapet mainan baru, tapi bedanya lo seneng bukan karena mainan tapi karena sekarang lo punya baby gemoy." ucap Adit berubah tersenyum membayangkan hal konyol Karamel melompat-lompat seperti anak kecil, padahal itu tidak mungkin terjadi.


"Dia itu ganteng banget tahu enggak tapi bukan kayak Papanya, lebih kayak duplikatan muka gue tahu enggak." ucap Adit masih menatap si kecil saraya senyum-senyum sendiri.


"Ah! Sayangnya dia cowok, coba aja anak lo cewek pasti gue masukin ke daftar selir masa depan gue." ucap Adit menatap wajah Karamel yang ia kira masih terpejam.


"Astaghfirullahaladzim!" pekik Adit kaget karena Karamel memelototi dirinya seperti hantu.


Owekk ... owekk ....


Akibat dari teriakkan keras Adit, baby Greydon jadi terbangun dan menangis kencang olehnya, terpaksa Leo dan Kenzi menghentikan aktivitas makan siang mereka lalu menghampiri baby Greydon yang menangis.


"Lo apa-apaan sih Dit tiba-tiba teriak keras banget sampai buat anak gue bangun gara-gara lo, panggil suster sekarang." pekik Leo pada Adit, sedangkan Kenzi sibuk menenangkan baby Greydon.


"Tapi itu ...."


"Lo bisa tenangin Greydon sekarang? Enggak 'kan! Panggil suster sekarang." potong Kenzi ikut berteriak membuat Adit mendengus menatap Karamel yang tersenyum mengejek, lalu pria itu berjalan keluar dari ruangan itu.


Tanpa kedua pria itu sadari, Karamel sudah bangun dari komanya, wanita itu menatap ke arah Kenzi dan Leo serta anaknya.


"Greydon! Nama itu yang dia pakai buat nama panggilannya," batin Karamel tersenyum tipis karena suaminya memberi nama Greydon sebagai nama panggilannya.


"Greydon sayang ini Mama nak, maafin Mama karena untuk sekarang Mama belum bisa gendong Greydon. Sustt sust sustt! Jangan nangis lagi ya, Mama di sini sayang, di samping Greydon!" batin Karamel menenangkan putranya, berharap baby Greydon akan tenang.


Perlahan suara tangisan baby Greydon mereda, di gantikan dengan tawa tanpa suara hingga menampilkan gusi merah baby mungil itu, Leo dan Kenzi ikut tersenyum senang karena ini pertama kalinya mereka melihat wajah baby Greydon yang tampak sedang gembira.


Ceklek ....


Adit masuk bersama dengan dokter Anggika dan dua suster khusus untuk mengurus dan merawat baby Greydon di rumah sakit, Kenzi dan Leo serentak mengerutkan dahi saat dokter Anggika juga di panggil oleh Adit.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya dokter Anggika menatap kedua pria yang berdiri di sisi kiri kanan tabung inkubator baby Greydon.


"Greydon tadi menangis karena ulah sahabatku yang mengganggu ketenangan tidurnya, aku menyuruhnya untuk memanggil suster tapi dia malah memanggil Dokter." ucap Leo menatap Adit yang menyangka sahabatnya bod*h karena malah memanggil dokter Anggika padahal dirinya menyuruh untuk memanggil suster pribadi yang biasa merawat baby Greydon di rumah sakit.


"Tapi sepertinya Nyonya Karamel telah menenangkan baby Greydon, bukan begitu Nyonya?" tanya dokter Anggika menatap Karamel yang tersenyum tipis karena mendengar ucapan dokter Anggika.


Kenzi dan Leo serentak membulatkan mata mereka kemudian mereka menoleh ke arah brankar Karamel, di mana Karamel sedang tersenyum ke arah dokter Anggika sedangkan Adit yang melihat kedua sahabatnya, langsung menutup kedua telingganya.


"Kara," pekik mereka berdua serentak melangkahkan kaki mereka mendekati Karamel.


"Bener 'kan bakal teriak kayak yang di drama-drama gitu, Dok." cibir Adit membuat dokter Anggik tersenyum simpul lalu mendekati brankar Karamel.


"Sustt! Jangan teriak-teriak, nanti Greydon nangis lagi loh." ucap Karamel dengan bibir pucatnya, suara wanita itu sangat kecil dan lemah namun masih bisa terdengar oleh mereka.


Dokter Anggika memeriksa keadaan Karamel sebentar sebelum kedua pria itu aktif berbicara pada Karamel, mereka merasa lega dan senang karena keadaan Karamel baik-baik saja namun wanita itu masih harus banyak-banyak istirahat agar bisa sembuh total.


"Makanya jadi orang itu jangan langsung marah-marah enggak jelas kayak tadi? Cih! Tanya dulu 'kek apa sebabnya gue teriak tadi atau apa gitu biar lo pada enggak salah paham sama gue, lo berdua kira gue sengaja apa teriak kayak tadi sampai buat baby Greydon nangis, yang ada tu Karamel yang salah karena tadi dia pake acara melototin gue kayak mbak kunti yang nyangkut di pohon pisang. Nyeremin tahu enggak!" oceh Adit membuat kedua pria itu terdiam sedangkan Karamel hanya tersenyum tipis di buatnya.


"Dia bilang Greydon gantengnya enggak kayak Papanya tapi malah kayak duplikatannya dia," ucap Karamel membuat Leo membulatkan matanya langsung menatap Adit. Glukk! Secara spontan Adit menelan salivanya kaget.


"Terus dia juga bilang, coba aja kalo Greydon itu lahirnya cewek, udah pasti bakal di masukkin ke daftar selir masa depan dia." ucap Karamel lagi dan kini Kenzi ikut memelotot kaget menatap Adit. Glukk! Sekali lagi Adit menelan salivanya karena kedua pria itu menatapnya dengan sangar.


"Lo bilang anak gue gantengnya enggak kayak gue tapi kayak elo?" tanya Leo menunjuk dirinya lalu berpindah menunjuk ke arah Adit yang berdiri di seberang brankar Karamel.


"Kata siapa! Anak lo mah jelas gantengnya kayak lo lah, m-masa iya kayak gue, gue 'kan jelek. Enggak, gue enggak jelek tapi cuma kurang perawan aja jadinya enggak seganteng elo." ucap Adit gelagapan.


"Lo punya niatan buat jadiin keponakan gue selir masa depan lo kalo dia lahirnya sebagai cewek?" tanya Kenzi membuat Adit menggelengkan kepalanya cepat.


"M-mana ada kayak gitu, gue 'kan cuma becanda doang, lo mah ah lemes amat sih, Kar. Pengen gue di hajar mereka ya lo." ucap Adit ketus membuat Karamel tertawa kecil melihat wajah memerah Adit yang tampak kesal sekaligus takut.


"Wah kayaknya kelas kedua gue udah mau di mulai nih, gue harus buru-buru ke kampus sekarang, gue duluan ya. E-entar malem gue ke sini lagi, Assalamualaikum! Bye!" ucap Adit kemudian berlari keluar dari ruangan itu.


"Kak Kenzi udah berapa lama di sini?" tanya Karamel tiba-tiba membuat kedua pria itu menatap Karamel.


"Empat hari di sini," ucap Kenzi tersenyum lebar mengelus puncak kepala adiknya itu.


"Jadi setelah lahiran aku koma ya?" tanya Karamel dan kedua pria itu menganggukkan kepalanya pelan.


Tiba-tiba saja wanita itu teringat akan malam di mana dirinya di tangkap oleh Zayn, seketika kilatan saat Karamel membunuh kedelapan anak buah Zayn itu muncul di ingatannya.


"Namanya siapa?" Karamel mengalihkan semua ingatan itu dengan langsung bertanya pada suaminya tentang siapa nama anak mereka.


Leo berjalan ke seberang brankar Karamel agar dirinya bisa mengelus puncak kepala istrinya itu, "Waktu itu kamu ngotot banget pengen anak kita di kasih nama Sakha Aramoy sedangkan aku pengen nama Greydon Leka Mahendra, jadi aku gabungin semua nama yang kamu sama aku mau yaitu Greydon Sakha Aramoy Leka Mahendra." ucap Leo pelan membuat Karamel dan Kenzi tertegun.


"Enggak kepanjangan tuh nama?" tanya Kenzi karena dirinya baru tahu juga nama keponakannya sepanjang itu.


"Dia bisa sembunyiin nama marga Mama sama Papanya kalo dia risih di kenal semua orang sama kayak mantan gue yang namanya Tania dulu." ucap Leo melirik Karamel membuat Karamel memalingkan matanya ke mana saja, yang penting tidak menatap mata suaminya yang sedang menyindir sikapnya yang dulu pernah menyamar menjadi jelek hanya karena risih di pandang berkuasa dan cantik di muka umum.


"So, dia bisa pake nama Greydon Shaka Leka atau kalo itu kedengaran aneh, dia bisa pake nama Greydon Shaka Arledra." ucap Leo menyingkat Aramoy Leka Mahendra dengan Arledra membuat Karamel dan Kenzi tersenyum dan menganggukkan kepalanya setuju dengan nama yang di berikan Leo, ternyata Leo sangat matang memberikan nama anak mereka. Sangat bagus!


"Bagus namanya, Mas. Aku suka!" ucap Karamel dan Leo tersenyum senang karena istrinya suka dan tidak memprotes nama pemberiannya.


"Udah dulu ya sesi tanyanya, sekarang kamu istirahat dulu." ucap Leo dan Karamel menganggukkan kepalanya patuh.


.........


Seminggu kemudian, dua bedside monitor terlihat sedang bekerja untuk kedua pasien yang berada di dua brankar berbeda namun satu ruangan yang sama, satu pria yang di pasang oxygen mask atau masker oksigen dan juga jarum infus yang terpasang di tangan sebelah kirinya kemudian satu wanita yang terbaring lemah di sebelah pria itu dengan di pasangkan selang oksigen di hidungnya, ventilator di mulutnya, jarum infus terpasang di tangan sebelah kirinya juga ada beberapa selang lainnya yang terpasang ke tubuh wanita itu.


Keduanya terbaring di ambang kematian, karena seminggu yang lalu setelah membawa Zoeya ke rumah sakit, tubuh Keisha tak kuasa menahan sakit di tubuhnya hingga ia pun jatuh pingsan tepat di rumah sakit itu dan selama seminggu ini pria itu mengalami koma.


Dokter Jason yang menjadi dokter pribadi keluarga Blende di bantu oleh dua dokter muda yang di utus Leo yaitu dokter Aldert dan dokter Barrak untuk membuat bedside monitor Zoeya tetap bergelombang walau pergerakannya lambat, asalkan tidak seperti seminggu yang lalu saat mereka melakukan operasi, untuk beberapa saat monitor Zoeya menampilkan garis lurus membuat ketiga dokter itu panik.


"Kali ini apa lagi, Zoe?" ucap dokter Jason saat melihat bagaimana wanita itu mengalami luka untuk entah kesekian berapa kalinya, karena memang jumlahnya tak terhitung berapa kali wanita itu keluar masuk rumah sakit.


Dokter Jason sempat merintihkan air matanya saat melihat kondisi Zoeya yang tidak bisa di bilang baik-baik saja, jenis peluru yang di tembakkan ke dalam tubuh Zoeya ternyata bukan peluru bisa, kadar kematian dari peluru itu jauh lebih tinggi di badingkan keselamatannya.


Zoeya telah melewati kematiannya beberapa kali dan dokter Jason selalu mengingat kata-kata Zoeya saat wanita itu membuat dokter Jason menangis tidak tega akan kondisi yang di alaminya.


'Ayolah jangan menangis Dokter cengeng, malaikat maut tidak akan bisa membawaku pergi jika aku belum di takdirkan untuk mati sekarang.'


Dan wanita itu benar menunjukkan pada dokter Jason, dirinya selalu selamat dari kematian karena memang wanita itu belum di takdirkan untuk mati namun setiap kali Zoeya terluka parah dokter Jason tidak pernah merasa tenang jika wanita itu belum membuka matanya.


Setiap kali Zoeya terluka parah, dokter Jason selalu berharap malaikat maut tidak akan mengambil Zoeya, begitu pula hari ini dokter Jason berharap malaikat maut tidak akan mencabut nyawa wanita itu.


.


.


.


...::: Bersambung :::...


...Masih adakah yang menunggu kelanjutan dari novel ini?...

__ADS_1


__ADS_2