Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 117


__ADS_3

Henry menatap wajah istrinya yang masih terlelap dalam tidurnya, terlihat tenang dan nyaman untuk terus di pandang.


"Aku sangat mencintaimu hingga aku takut kau akan pergi meninggalkanku, Sayang." gumam Henry seraya menyingkirkan helaian kecil rambut Karamel yang menutupi wajahnya.


"Aku mendapatkan notifikasi nomor yang tidak aku kenal menampilkan foto dirimu yang sedang tersenyum dengannya di Binus University dan itu ... itu membuatku sakit, Sayang." lirih Henry kemudian ia menyentuh pipi Karamel.


"Maafkan aku sudah menyakitimu," lirih Henry mengecup kening Karamel sangat lama, dan setelahnya Henry menempelkan keningnya ke kening sang istri.


"Maaf," bisiknya sekali lagi.


Henry hendak bangun namun tangannya di genggam oleh Karamel, Henry menengok ke arah sang istri yang masih memejamkan matanya.


"Percayalah padaku tidak pernah terlintas di fikiranku untuk membohongi atau meninggalkanmu, Mas." ucap Karamel merintihkan air matanya dengan mata yang masih terpejam.


Karamel mendengar setiap perkataan Henry yang sangat menyayat hatinya karena Henry mengatakan 'takut kehilangan' akan dirinya.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu karena di dalam hidup Karamel tidak ada yang namanya menikah dua kali, kau adalah suamiku sampai kapanpun itu kau akan tetap menjadi suamiku satu-satunya, Mas." ucap Karamel membuka matanya dan menatap sendu wajah suaminya.


"(....)" Henry tidak menjawab sehingga Karamel mengambil posisi untuk duduk menghadap sang suami lalu ia menghapus air matanya.


"Katakan, apa yang ingin kau tanyakan, Mas? Aku akan menjawab semua rasa penasaranmu," ucap Karamel.


Karamel menghela napas kala Henry menatap datar dirinya tanpa mau membuka mulutnya.


"Aku akan menjawab jujur." ucap Karamel tapi Henry masih bergeming membuat Karamel jengkel setengah mamp*s.


"Baiklah, aku juga bisa sepertimu yang tidak mau bicara." ketus Karamel hendak pergi namun Henry mencegahnya dengan memeluk dirinya.


"Kau tahu apa yang membuatku marah, Baby Girl." lirih Henry terdengar berat di telinga Karamel sehingga Karamel menyentuh pipi Henry dengan posisi Henry yang memeluknya dari belakang.


"Kau mau mendengar penjelasanku?" tanya Karamel di balas anggukan oleh Henry.

__ADS_1


"Dengarkan baik-baik, saat di kampus aku melihat ada laki-laki berpakaian formal berdiri di dekat mobil berwana hitam, awalnya aku kira laki-laki yang berdiri di dekat mobil itu adalah dirimu jadi aku mendekat dan menegurnya tapi saat dia membalikan badannya aku melihat wajah orang lain dan dia adalah Leo." ucap Karamel pelan.


"Dia mengajakku berbicara sebentar dan menyuruhku untuk ikut dengannya ...."


"Dan kau mau?" potong Henry dengan nada nyolot, Karamel menggeleng kepala.


"Aku mengatakan aku sedang menunggu jemputan tapi tidak lama dari aku mengucapkan itu, kau meneleponku dan mengatakan tidak bisa menjemputku karena ada meeting penting di kantor." ucap Karamel.


"Kau terus menggodaku hingga aku tersipu malu dan senyum-senyum sendiri seperti orang gila, saat kau mengakhiri panggilan. Leo memanggilku ketika aku masih tersenyum mengingat ucapanmu di telepon yang mengatakan 'Aku merindukanmu dan aku ingin memakanmu, aku mencintaimu, Baby Girl.' aghhh! Aku merasa ada yang tidak beres denganmu makanya aku tersenyum mengejekmu tapi aku langsung merubah raut wajahku saat sadar bahwa yang aku sahuti itu adalah Leo." ucap Karamel.


"Dia mengorek masa lalu kami, hingga ... apa kau tau aku paling tidak suka menahan rasa penasaran jadi aku ikut dengannya dan bla bla bla ...." Karamel menceritakan semua kejadian kemarin tanpa ada yang di lebih-lebihkan atau di kurang-kurangi.


"Aku meninggalkannya saat ku rasa semuanya sudah jelas." akhir cerita Karamel.


"Ck! Dia meninggalkanmu karena cemburu dan mengira kau selingkuh dengan kakaknya sahabatmu itu?" remeh Henry dan Karamel menganggukkan kepalanya.


"Dia kira aku bahagia dengan orang lain dari pada dengan dirinya." ucap Karamel membuat Henry berdecih.


Karamel mengernyitkan dahinya, sepertinya ada yang aneh dengan ucapan suaminya itu.


"Ehem! Sebentar, apa kau tidak salah bicara, Mas?" tanya Karamel.


"Tidak!!!" tegas Henry.


"Jadi maksudmu, aku tidak pantas mencintaimu juga?" tanya Karamel membuat Henry tersentak kaget.


"Apa maksudmu, Sayang." pekik Henry.


Karamel semakin mengernyitkan dahinya lalu wanita itu melepaskan pelukkan suaminya dengan langsung menghadap suaminya.


"Biar ku perjelas, laki-laki pecemburu dan laki-laki cemen yang menyimpulkan secara langsung tanpa mau mencari tau kebenarannya, itu tidak pantas bukan untuk aku cintai?" ucap Karamel mengulang perkataan sang suami tadi.

__ADS_1


"Apa yang salah dengan ucapanku ...." Henry menghentikan ucapannya.


"Kau bahkan sama dengan dirinya, Mas." sela Karamel menatap lekat sang suami.


"Lebih parah malah," sambung Karamel mengingatkan Henry dengan perlakuan kasarnya kemarin.


Henry menatap wajah Karamel lalu Henry menyentuh tangan sang istri, "Maafkan Mas, Sayang. Apa ini sakit?" lirih Henry sembari bertanya dan menyentuh leher Karamel.


"Dengan adanya rona merah yang kau perbuat ini, apa kau masih bertanya apakah ini terasa sakit?" tanya Karamel menunjukkan lehernya yang merah.


"Sayang, maaf ...."


"Sudahlah! Aku sudah memaafkanmu," ucap Karamel seraya memeluk suaminya, sehingga Henry membalas pelukkan Karamel dengan sangat erat.


................


Adit dan Diky baru saja sampai di kampus Universitas Tarumanagara Kampus I, namun tak lama dari itu mereka di beri kabar oleh Karamel bahwa Karamel kesepian dan ingin kedua sahabatnya itu bertemu dengannya lalu membolos bersama ke tempat-tempat yang bisa menghilangkan rasa bosan.


"Ke tempat Karamel nih?" tanya Adit.


"Ya mau gimana lagi, Kara ngajak kita ngebolos, ya udah kita ngebolos aja." ucap Diky sambil menyalakan mesin mobilnya.


Adit dan Diky meninggalkan kampus mereka menuju kampus Karamel, sesampainya di kampus Binus University, Diky menyuruh Karamel untuk keluar dari kampus.


Karamel yang baru saja keluar dari kampus dan hendak mencari keberadaan Adit dan Diky tiba-tiba di kejutkan dengan pemandangan yang membuatnya terdiam di tempat.


.......


.......


.......

__ADS_1


...::: Bersambung :::...


__ADS_2