
Henry menendang pintu lalu masuk ke dalam ruang sekapan Karamel, matanya memerah saat melihat Karamel terduduk di lantai dengan keadaan tangan dan kaki yang di ikat.
"Fico lepaskan Kara, orang yang kau ingin temui ada di belakangmu sekarang," pekik Henry sehingga Fico yang sedang berjongkok di depan Karamel langsung berdiri dan menongok ke arah Henry.
"Sayangnya aku tidak sebaik dirimu, kakak." ucap Fico membuat Henry mengepal tangannya kuat.
"Lepaskan Karamel atau aku akan membunuhmu, Fico," pekik Henry hendak mendekati Fico namun Fico menyodorkan pistol ke arah kepala Karamel sehingga Henry menghentikan langkahnya.
"Jangan coba-coba melukainya, Fico." sengit Henry dengan tatapan membunuh.
"Perintahkan bawahanmu untuk keluar dari ruangan ini atau aku akan membunuh wanitamu sekarang," ancam Fico membuat Henry langsung memerintahkan anak buahnya untuk keluar dari ruangan itu.
"Apa maumu Fico? Kenapa kau bisa melakukan kejahatan seperti ini?" tanya Henry pelan.
"Aku menginginkan nyawamu, kakak," ucap Fico membuat Karamel memejamkan matanya kuat.
"Lepaskan Karamel dan bawa aku bersamamu," ucap Henry.
"Itu lebih baik," batin Karamel setuju jika Henry di bawa pergi sedangkan dirinya di lepaskan, sungguh Karamel tidak perduli dengan Henry namun dirinya akan merasa bersalah jika Henry mati di depan matanya.
"Kau rela mengorbankan nyawamu demi manisku ini, Kakak. Apa kau benar-benar sangat mencintainya?" goda Fico sehingga Henry menatap ke arah Karamel.
"Aku rela membari nyawaku asal orang yang aku cintai tidak terluka," lirih Henry.
"Sebelum aku membunuhmu, apa ada kata-kata terakhir yang ingin kau ucapkan, kakak?" tanya Fico.
"Aku sangat mencintaimu, Kara. Aku mohon jangan ada air mata kesedihan yang jatuh dari kedua mata indahmu lagi, Baby Girl." ucap Henry namun Karamel tatap diam.
"Apa itu kata-kata terakhirmu?" tanya Fico sehingga Henry langsung menatap netra Fico.
"Aku ingin tahu, apa kau membenciku, Fico?" tanya Henry.
"Sangat! Aku sangat membencimu, Henry Del Nixon." sengit Fico menggertakkan giginya.
"Apa karena aku mengusirmu dulu?" tanya Henry membuat Fico semakin menggertakkan giginya.
"Katakan Fico, apa karena aku mengusirmu?" tanya Henry lagi.
"Aku malas untuk bercerita padamu tapi karena kau bertanya aku akan memberitahukannya padamu, Henry Del Nixon." ucap Fico.
"Di masa lalu kita sangat dekat, kau begitu melindungi aku dari orang-orang yang selalu membullyku tapi kau berubah menjadi benci dan tidak perduli lagi padaku." lirih Fico.
"Kau menuduh Daddy membunuh Mommy Selena, Fico." pekik Henry.
"Itu memang kebenarannya, Henry Del Nixon. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Daddymu telah menembak Mommyku tepat di bagian kepalanya." pekik Fico.
__ADS_1
"Kau tidak tahu itu karena Daddymu mengirim kalian berdua Mommy Agnes berlibur ke Jepang, Henry." sambung Fico membuat Henry terbelalak.
Hari itu Daddynya terus memaksa Mommynya untuk mengajak Henry liburan berdua ke Jepang, Henry ingin mengajak Fico tapi Daddynya memberi alibi bahwa Fico akan sibuk karena Daddynya ingin mengajarkan Fico soal bisnis.
"Tidak mungkin," gumam Henry.
"Karena kau sudah menjadi pengusaha sukses dan kau juga ingin aku mengikuti jejak dirimu menjadi seorang pembisnis, maka kau percaya aku akan di ajarkan bisnis oleh Daddymu itu, Henry Del Nixon." ucap Fico membuat Henry speechlees.
"Aku mendengar semuanya dan awalnya aku bahagia, Kakak. Tapi ternyata semua tidak benar, aku sangat benci dengan Daddymu itu karena Daddymu itu telah berbohong pada kalian berdua dan malah membunuh Mommyku, aku mengatakan kebenarannya pada kalian tapi kalian tidak percaya padaku, aku ingin pergi dari rumah karena kalian tidak mempercayaiku tapi Mommy Agnes terus memelukku dan mengatakan 'Jangan tinggalkan Mommy, Nak!' karena aku menyayangi Mommy Agnes dan juga masih menghargai dirimu sebagai kakakku, maka aku tetap bertahan di rumah Daddymu itu. Sepanjang hari Mommy terus menghiburku dan membuatku bisa mengikhlaskan kepergian Mommy Selena tapi kau begitu marah dan tidak perduli denganku lagi karena perkataanku yang terus menuduh Daddymu." lirih Fico.
"Dua tahun kita berdua tinggal di rumah yang sama tapi kita berdua tidak sedekat dulu lagi, aku lebih dekat dengan Mommy Agnes dan kau lebih dekat dengan Daddymu itu." ucap Fico.
"Aku bukan anak kecil lagi, Kakak. Aku sudah punya rencana untuk membunuh Daddymu itu, tapi ternyata Daddymu itu lebih dulu membuat rencana ingin membunuh Mommy Agnes ...."
"Jaga bicaramu, Daddy tidak mungkin melakukan itu, Fico." pekik Henry.
"Cih! Apa kau tahu kenapa Daddymu bisa pisah dari Mommy Agnes?" tanya Fico membuat Henry terdiam.
"Kau tidak tahu, Henry Del Nixon. kau tidak tahu Daddymu ingin memisahkan dirimu dari Mommy Agnes, berbulan-bulan mereka terus bertengkar di rumah sampai akhirnya Daddymu menceraikan Mommy Agnes di pengadilan negeri Kanada." ucap Fico.
"Pengadilan mempercayakan hak asuh kita berdua pada Mommy Agnes dan Daddymu itu tentu merasa frustasi karena kau, anak kebanggaannya tidak bisa ia dapatkan." jelas Fico.
"Lagi-lagi kau marah padaku karena kau mengira aku adalah penyebab perceraian mereka berdua, karena kemarahanmu yang tidak terkendali lagi kau sampai mengusirku dari rumah, Kakak." ucap Fico.
"Selanjutnya kau pasti tau, Henry. Daddymu terus mengintai Mommy Agnes sampai kau teledor dan Daddy berhasil membunuh Mommy Agnes, aku bukan hanya membenci Daddymu tapi aku juga membenci dirimu karena dirimu Daddymu itu sampai rela membunuh kedua Mommyku." pekik Fico.
"Aku akan membalas kematikan Mommy Selena dan Mommy Agnes dengan nyawamu, Kakak." pekik Fico mengarahkan pistolnya ke arah Henry.
"Tidak, aku mohon jangan bunuh dia di sini," pekik Karamel tidak peduli jika Henry mati di tangan Fico tapi Karamel tidak mau melihat kematian Henry, ia masih trauma dengan kematian Vian.
Dorrr....
Dorrr....
Dorrr....
"Tidaaakkkk....!" pekik Karamel.
Dua tembakan dari pistol Fico melesat di tubuh Henry, sedangkan tembakan satunya dari pistol Luhan yang melesat di bagian dada Fico. Kedua adik–kakak itu tumbang bersamaan di lantai!
"Bosss," pekik Andi dan Luhan langsung mendekati Henry.
Henry menatap sang adik tiri, "Fi–Fico, se–sela–ma–mat–kan – Fico." lirih Henry.
"Aku mohon bertahanlah Bos," ucap Andi memapah kepala Henry.
__ADS_1
Pandangan Henry mulai kabur, "Fi–Fic ..." Henry tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena pandangannya sudah hilang.
Andi dan beberapa anak buahnya membawa Henry ke dalam mobil sedangkan Luhan melepaskan ikatan Karamel lalu menolong Fico yang juga sudah pingsan karena dirinya.
Karamel langsung berlari menyusul Andi lalu Karamel masuk ke dalam mobil dan memapah kepala Henry di pahanya.
"Maafkan saya Henry karena menyelamatkan saya, anda jadi ...." tak kuasa menyelesaikan perkataannya.
"Jangan lagi Tuhan, aku mohon selamatkan nyawa pria mesum ini." pinta Karamel.
Beberapa menit berlalu Mobil Andi, Luhan dan beberapa bodyguard lainnya sampai di rumah sakit Rehoolt Medical Center, kemudian Henry dan Fico langsung di larikan ke ruang operasi.
"Maaf Nyonya anda tidak bisa ikut masuk ke dalam, mohon anda tunggu di luar ruangan." ucap suster menghalangi langkah Karamel yang ingin ikut masuk.
"Tolong, tolong selamatkan nyawanya," pinta Karamel mengatupkan kedua tangannya
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa mereka, Nyonya." ucap suster itu menutup pintu ruangan operasi.
Lampu indikator ruang operasi pun menyala, pertanda operasi sudah di mulai.
Setelah menunggu selama tiga jam lampu indikator ruang operasi pun mati, pertanda operasi sudah selesai, tak lama dari itu pintu ruangan operasi terbuka dan keluarlah seorang dokter laki-laki.
Karamel, Andi dan Luhan langsung berdiri dan menghampiri sang dokter.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Andi.
"Operasinya sudah berhasil di lakukan, peluru yang ada di tubuh mereka berdua sudah di keluarkan namun Andi, Luhan! Keadaan Tuan Henry sangat kritis, jika dalam waktu dua puluh empat jam Tuan Henry belum sadar juga maka ia akan di nyatakan koma." jelas Dokter Gery.
"Bagaimana dengan pasien satunya, Dok?" tanya Andi.
"Keadaannya juga memburuk, Andi. Tapi keadaannya tidak separah Tuan Henry. Kemungkinan dia akan sadar dalan waktu delapan atau sepuluh jam ke depan." ucap dokter Gery.
"Terima kasih, Dok." ucap Andi.
"Kalau begitu saya permisi dulu," ucap dokter Gery.
Tak lama dari dokter Gery pergi, pintu ruangan operasi terbuka kembali dan keluarlah dua brankar Henry dan Fico yang di dorong oleh para perawat lainnya untuk di pindahkan ke ruang VVIP.
.......
.......
.......
...::: Bersambung :::...
__ADS_1