Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part _ 260 (Takdir)


__ADS_3

Keadaan Leo saat ini sudah sangat down, beberapa kali kepala pria itu bergerak melihat ke arah pintu ruang operasi. Adit yang duduk di samping Leo hanya bisa menyemangati sahabatnya itu agar lebih tenang dan tidak terlalu cemas.


Sungguh Adit tidak pernah melihat Leo selemah ini bahkan saat Sasya meninggal dulu pun Leo tidak sampai menjadi down seperti sekarang.


Lama mereka menunggu sekitar 30 menit, tidak ada tanda-tanda dokter Anggika keluar dari ruang operasi membuat Leo semakin cemas hingga sekitar satu jam-an tiba-tiba detak jantung Leo berdegup kencang saat mendengar suara bayi.


Owekk ... owekk !!


Semua orang sontak mendongakkan kepala mereka menatap ke arah ruang operasi, begitu juga dengab Leo yang langsung bangkit dari tempat duduknya dan berlari ke pintu ruang operasi, tiba-tiba saja pria itu mengingat kata-kata dari dokter Anggika saat memberikan pilihan tadi sebelum operasi berjalan, pria itu merasakan ketakutan yang sangat luar biasa.


"Kara?!" pekik Leo merintihkan air matanya.


"Kara! Bagaimana dengan keadaan istriku, Dok?" pekik Leo karena orang-orang di dalam ruang operasi tak kunjung keluar, pria itu semakin merasa takut, takut akan terjadi sesuatu pada istrinya.


"Leo, lo harus tenang dulu ...."


"Dit, istri gue Kara, dia dia enggak akan kenapa-kenapa 'kan?" tanya Leo semakin deras air matanya menatap Adit membuat Adit hampir saja ingin menangis karena melihat betapa rapuhnya Leo saat ini.


"Anak lo udah lahir Leo," ucap Adit pelan menyadarkan Leo akan anaknya sudah lahir.


Leo terdiam, pria itu tidak tahu akan perasaannya yang merasa senang tapi juga merasa sangat sedih, dirinya menjadi seorang ayah sekarang namun nasib istrinya bagaimana?


Ceklek ....


"Leo," panggil dokter Anggika ketika keluar dari ruang operasi itu membuat Leo dan Adit menoleh ke arah pintu.


"Dokter, bagaimana keadaan istriku, a-apakah dia baik-baik saja? Bagaimana dengan pilihanmu tadi, apakah apakah istri dan anakku ...." Leo menjadi terbata-bata saat bertanya.


"Tenangkan dirimu dulu, Leo." ucap dokter Anggika menepuk pundak Leo, raut wajah dokter Anggika terlihat pucat membuat Leo bisa menebak apa yang terjadi.


"Tidak, Dok. Dia adalah istriku, dia adalah pelengkap hidupku, aku tidak bisa hidup tanpa dia. Kau tahu itu Dok!" ucap Leo menggelengkan kepalanya lemah. Dokter Anggika menghela napas panjang lalu ia tersenyum tipis, tentu dokter Anggika tahu tentang Leo yang sangat mencintai Karamel dari rekan kerjanya yaitu Yarra.


"Kami telah berhasil menyelamatkan ibu dan anaknya, sekarang kau harus siap menjalani tugasmu sebagai seorang ayah." ucap dokter Anggika membuat memejamkan matanya semakin merintihkan air matanya, pria itu mengucap penuh syukur kepada Tuhan karena telah menyelamatkan istri dan anaknya.


"Tapi keadaan istrimu masih sangat lemah sekarang, dia pingsan saat operasi selesai tadi, berharap dia akan segera bangun atau kemungkinan keadaannya akan kritis." ucap dokter Anggika membuat Leo membelalakkan matanya kaget.


"Masuklah dan temuilah istri dan anakmu di dalam, waktumu hanya beberapa menit saja." ucap dokter Anggika mempersilahkan Leo untuk masuk ke ruang operasi sedangkan Adit menunggu di luar.


Beberapa suster membantu Leo memakaikan baju OK atau baju Operatie Kamer yang sama seperti di kenakan oleh para petugas medis di ruangan itu lalu Leo berjalan pelan menuju brankar istrinya yang terbaring lemah sembari menutup matanya.


"Hey sayang," sapa Leo pelan menatap istrinya yang sedang di priksa keadaannya oleh dua perawat wanita, melihat suami Karamel sudah datang, kedua perawat itu pun berjalan keluar agak menjauh namun tidak keluar dari ruangan itu.


"Maaf! Aku udah gagal jagain kamu, seharusnya aku jagain kamu bukan malah ninggalin kau sendirian di rumah, maafin aku." lirih Leo menyentuh tangan istrinya yang begitu hangat, mungkin karena tangan pria itu terlalu dingin.


"Sayang, kita udah jadi orang tua sekarang." ucap Leo mencium tangan hangat istrinya itu, Leo bisa melihat luka-luka Karamel telah di obati dan di perban oleh dokter, pedih rasanya melihat keadaan istrinya yang di penuhi luka-luka.


Kemudian Leo menatap ke arah tabung inkubator, di mana agar anaknya bisa bertahan hidup di luar rahim dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, bayinya harus ditempatkan di dalam tabung inkubator itu.


"Dia ganteng kayak aku, Kara. Aku yakin kamu pasti bakal cemburu karena anak kita lebih mirip Papanya dari pada Mamanya." ucap Leo lirih.


"Cepat bangun, sayang. Jangan buat aku makin sedih lihat keadaan kamu yang kayak gini." bisik Leo mencium kening istrinya dengan lembut. Tes! Air mata pria itu jatuh mengenai mata Karamel yang masih tertutup.


Setelah itu Leo berjalan mendekati anaknya lalu Leo sedikit menunduk untuk menyapa anaknya sebelum melakukan tugas pertamanya sebagai seorang ayah untuk mengadzani anaknya, air mata pria itu menetes saat mengingat kata-kata istrinya beberapa minggu lalu yang ingin melihat dirinya mengadzani anak mereka.


"Anak Papa, Greydon Sakha Aramoy Leka Mahendra." gumam Leo menyebutkan nama anaknya beberapa hari yang lalu di perdebatkan oleh Leo dan Karamel, ia manggabungkan nama yang diinginkan Karamel yaitu Shaka Aramoy dan yang diinginkan Leo yaitu Graydon Leka Mahendra.


"Anak yang pintar dan bijaksana, putra Papa akan jadi kebanggaan Papa di masa depan." ucap Leo tersenyum tipis menatap wajah tampan anaknya.


Tak lama dari itu dokter Anggika datang untuk memberitahu Leo agar keluar dari ruangan itu karena Karamel masih harus banyak istirahat, sebelum keluar Leo menghampiri brankar Karamel dan mencium kening istrinya itu.


"Cepat bangun sayang, anak kita Greydon membutuhkan bimbingan Mamanya dan Aku juga masih membutuhkan kamu buat mengisi hari-hari aku sampai hari tua nanti." ucap Leo kembalu mencium kening Karamel lalu pria itu keluar dari ruangan itu.


"She is fine?" tanya Adit pada Leo ketika Leo baru saja keluar dari ruangan itu, Leo tersenyum tipis namun terkesan di paksakan lalu ia menganggukkan kepalanya.


"Gue harap besok pagi Kara udah bisa bangun kalo enggak, gue juga enggak tahu harus ngerawat anak gue kayak gimana tanpa Mamanya, Dit." ucap Leo duduk di kursi bersama Adit, Leo menyandarkan kepalanya di dinding seraya memejamkan matanya.


"Mending lo pulang dulu Le, pakaian lo kotor banget." ucap Adit membuat Leo membuka matanya lalu menatap aneh ke arah Adit, tumben si kepo bisa menahan rasa penasarannya? Fikir Leo karena Adit yang biasanya suka ingin tahu dengan urusan hidup orang lain kini pria itu kalem di depan Leo, tapi Leo yakin di otak Adit pasti tersimpan seribu pertanyaan.


"Kenapa lo ngeliatin gue kayak gitu?" tanya Adit mengernyitkan dahinya risih karena di tatap olej sahabatnya itu.


"Tumben enggak kepo lo!" ucap Leo membuat Adit diam, sebenar-benarnya Adit memilik lebih dari sepuluh pertanyaan tentang kehidupan rimit Leo dan Karamel namun Adit mencoba untuk menahan diri agar dirinya tidak mengurusi urusan orang lain.


"Sebelum gue pergi ke Irlandia, Kara ngeliat pintu yang ada di tembok belakang rumah kebuka lebar, dan itu kejadiannya di malam hari." ucap Leo membuat Adit speechless karena Leo berinisiatif sendiri untuk bercerita pada Adit.


"Sebenarnya gue udah dapat info tentang Clara yang di tebus oleh Zayn, cewek itu ngasih tahu semua identitas Karamel di dunia gelap dan pada akhirnya Zayn dapat semua informasi Karamel yang punya kakak bernama Kenzi, selama Zayn nebus Clara dari beberapa bulan yang lalu, cowok itu nyari tahu riwayat Kenzi sampai ketitik di mana dia nemuin fakta tentang Kenzi adalah orang yang selama ini dia cari-cari yaitu K-King." ucap Leo membuat Adit mengerutkan dahinya.


"K-King yang pernah buat adik Zayn lumpuh permanen di masa lalu, Zayn dendam banget sama K-King karena adiknya Zayn bunuh diri gara-gara enggak bisa nerima kenyataan kalo dia bakal lumpuh seumur hidup." ucap Leo membuat Adit semakin mengerti akar permasalahannya.


"Tapi nyatanya setelah gue pergi ke Irlandia, gue dapet info baru dari Keisha tentang nyokapnya Zayn yang benci banget sama almarhumah Mama Sofia karena rasa cemburu, di mana bokapnya Zayn masih sayang banget sama Mama Sofia." ucap Leo membuat Adit membulatkan matanya.


"Ma-maksud lo bokapnya Zayn masih sayang sama tante Sofia? Jangan bilang bokapnya Zayn ...."


"Iya, bokapnya Zayn sama almarhumah Mama Sofia pernah pacaran waktu mereka masih remaja dulu, dan nyokapnya Zayn ngebunuh suaminya sendiri karena dia enggak terima suaminya masih nyimpan perasaan buat perempuan lain," ucap Leo hingga Adit menggelengkan kepalanya merasa konyol.


"Beberapa minggu yang lalu nyokapnya Zayn meninggal tapi sebelum meninggal nyokapnya Zayn ngasih pesan buat Zayn biar bisa ngebunuh keturunannya Mama Sofia yaitu Karamel sama Kenzi." ucap Leo lemah.


"Tapi yang paling di incar sama Zayn bukan Karamel melainkan Kenzi," tambah Leo sambil merintihkan air matanya.


"Kara adalah umpan Zayn biar bisa buat Kenzi dateng ke Indonesia dan di bunuh langsung oleh Zayn tapi ... A*jing! Kara malah di siksa sama tu cowok berengs*k." pekik Leo mencengkeram rambutnya kuat, pria itu menyalurkan kemarahannya pada cengkraman di kepalanya.


"Ini semua enggak akan terjadi kalo gue bisa paksa Karamel ikut gue ke Irlandia," ucap Leo mengeraskan rahangnya marah pada dirinya yang tidak terlalu tegas terhadap istrinya yang bandel itu.


.........


Setelah suara tembakkan itu berbunyi begitu keras, tidak ada suara apapun lagi di dalam ruangan itu, tidak ada pergerakan apapun dari mereka semua yang memalingkan wajah mereka kala Zoeya menembakkan pelatuknya, waktu seperti berhenti berputar dan seketika ruangan itu seperti kosong. Hening!


Brukk ...

__ADS_1


Suara tubuh seseorang yang jatuh membuat semuanya menoleh ke arah Keisha dan Zoeya. Degg! Tubuh Zoeya terjatuh ke lantai saat peluru itu menembus dadanya, baik Zayn maupun Keisha membulatkan mata kaget saat melihat wanita itu tidak menembak kakak tirinya tapi malah menembak dirinya sendiri.


Jika wanita itu tidak ingin membunuh kakak tirinya, bukankah seharusnya wanita itu membunuh orang telah memanfaatkan hidupnya dan sangat ia benci yaitu Zayn? Namun Wanita itu tidak melakukannya karena wanita sudah merasa lelah hidup di dunia ini, dirinya lelah menghadapi ketidak adilan keluarganya sendiri.


"Zoeya!" pekik kedua pria itu, Keisha terjatuh dari kursi dan berusaha keras melepaskan ikatan yang ada di tangannya sedangkan Zayn langsung berlari mendekati tubuh wanita itu.


"Apa yang kau lakukan, bod*h." bentak Zayn membawa kepala Zoeya ke atas pahanya, wanita itu tersenyum tipis menatap Zayn, ia berusaha menahan rasa sakit di dadanya.


"A-aku sudah melakukannya, Zayn." ucap Zoeya lemah membuat Zayn diam untuk beberapa saat, mata wanita itu terbuka setengah seperti sudah di ambang kematian menatap Zayn yang tampak emosi akan tindakkan tak terduga Zoeya.


'Kau memang benar Zayn! Aku sudah muak hidup di keluarga penuh drama ini maka izinkan aku untuk melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sejak dulu.'


"Maafkan aku, Kak! Seharusnya sejak lama aku tidak perlu berbaik hati membiarkanmu hidup di dunia ini, maka malam ini aku akan melenyapkan anak yang tidak berguna dan tidak pantas mendapatkan kasih sayang siapapun seperti dirimu."


"Pembohong, kau berbohong padaku," bentak Zayn karena dirinya baru saja mengingat kata-kata Zoeya, ternyata wanita itu berbohong kepadanya, kenapa Zayn tidak menyadari kata-kata wanita itu yang ingin membunuh dirinya sendiri bukan kakak tirinya karena orang yang di anggap tidak berguna oleh kedua orang tuanya adalah Zoeya bukan Keisha.


Zoeya menolehkan kepalanya ke samping, di mana kakak tirinya sedang menatap dirinya sembari sibuk melepaskan tali yang terikat di tangannya, wajah datar pria itu tidak terlihat sedih. Zoeya merasa tenang karena kakak tirinya tidak merasa sedih akan luka tembaknya.


"L-lepaskan ikatan kakakku, Zayn." pinta Zoeya terbata-bata namun Zayn menggelengkan kepalanya tidak mau, hati Zayn sangat sakit karena di saat wanita itu terluka, wanita itu masih memikirkan kakak tirinya.


"Ku mohon," pinta Zoeya menatap Zayn dengan sedih membuat Zayn mengepal tangannya kuat, lalu mata yang sudah memerah itu menatap para anak buahnya untuk memerintahkan mereka menuruti permintaan Zoeya.


"Aku akan membawamu ...."


"Tidak!" potong Zoeya menolak saat Zayn ingin membawanya pergi ke rumah sakit.


"Zoeya!" penggil Keisha pelan mendekati adik tirinya dan mengambil alih kepala adik tirinya untuk ia pangku di pahanya, Zayn hanya bisa terdiam saja.


"Bod*h, kenapa lo nembak diri lo sendiri. Hah?" bentak Keisha namun Zoeya hanya tersenyum tipis kepada kakak tirinya, mungkin ini yang terakhir bagi Zoeya bisa melihat kakak tirinya membentaknya.


Huft! Sakit rasanya mencoba untuk bertahan tapi sebelum Zoeya pergi, ia ingin mengatakan sesuatu pada kakak tirinya.


"Maafin Zoeya k-karena selama ini u-udah nyusahin Kak Kei," ucap Zoeya menatap lemah manik mata kakak tirinya, pria itu hanya diam karena dirinya tidak tahu harus berkata apa.


"Kak Kei terluka parah karena aku," ucap Zoeya parau menatap wajah Keisha yang di penuhi oleh luka dan darah, ia tahu kakak tirinya itu kuat bahkan sangat kuat tapi Zoeya malah merasakan pedih saat melihat luka-luka kakak tirinya.


Zayn yang mendengar ucapan Zoeya semakin mengepalkan tangannya dengan kuat, ini adalah salahnya? Sudah tahu Zoeya sangat perduli dengan Keisha tapi Zayn malah mengikuti perasaan bencinya terhadap Keisha hingga ia nekat menyekap bahkan melukai Keisha dan itu membuat Zoeya menyalahkan dirinya.


"Setelah ini a-aku enggak akan bisa ... e-enggak akan bisa buat Kak Kei marah-marah lagi karena sikap k-kurang ajar aku ke Kak Keisha." ucap Zoeya dengan napas tersendat, wanita itu berusaha bernapas sebisanya, untuk pertama kalinya ia menatap dalam mata Keisha dan Keisha pun tidak menolak tatapan adik tirinya itu.


"Walau Kak Kei benci sama aku ta-tapi makasih karena akhir-akhir ini Kak Kei udah perduli sama aku," ucap Zoeya memejamkan matanya kuat sembari menekan dadanya, Keisha dan Zayn menjadi panik karenanya.


"Zoe ...."


"Maaf!" ucap Zoeya membuka matanya hingga air mata Zoeya mengalir di pelipisnya membuat mata Keisha memerah dan menggenang, pria itu tidak tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini, setiap kata yang keluar dari mulut Zoeya terasa seperti paku yang menusuk jantungnya.


Lain dengan Zayn mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Zoeya, pria itu bisa memahami apa maksud dari kata-kata wanita itu tapi Zayn menggelengkan kepalanya tidak mau menerima kenyataan pahitnya.


"Kak Kei harus bisa jaga diri baik-baik, j-jangan sampai Kak Kei di dorong ataupun di racuni lagi sama Mommy." ucap Zoeya tersenyum agar dirinya terlihat seperti wanita kuat di depan kedua pria itu, ia tidak mau kedua pria itu menjadi panik karena rasa sakit yang sedang ia tahan lalu Zoeya menengok ke arah Zayn yang menundukkan kepalanya menatap lantai.


"Zayn, aku tahu kau adalah orang baik," ucap Zoeya membuat Zayn mendongakkan kepalanya menatap mata Zoeya yang hampir akan tertutup.


"Aku percaya sekarang ... aku percaya kau sudah mencintaiku, kau terjebak dalam permainanmu sendiri, bod*h sekali!" ucap Zoeya tertawa kecil mengejek Zayn, wanita itu bisa melihat kesedihan yang mendalam di mata mantan tunangannya itu, ia tahu Zayn berkata jujur so'al dirinya mencintai Zoeya tapi sayangnya Zoeya sudah tidak mencintai pria itu lagi.


"Ku mohon penuhi permintaan terakhirku ...."


"Tidak!" Zayn dan Keisha berteriak bersama namun Keisha langsung diam saat Zayn mendekatkan wajahnya pada Zoeya.


Zayn sudah menduga wanita itu akan mengatakan hal-hal yang menyakitkan ini, sungguh Zayn tidak bisa menerimanya karena dirinya belum sempat memperbaiki kesalahannya pada Zoeya.


"Apa yang kau katakan, kau tidak akan pergi, aku tidak akan mengizinkanmu pergi meninggalkanku, Zoeya. Tidak akan!" ucap Zayn menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, Zoeya tersenyum sambil tangannya terangkat hingga Zayn langsung menggenggam tangan wanita yang sangat ia cintai itu.


"Aku menyesal karena dulu aku menyakiti perasaanmu sayang, aku belum memperbaiki semua kesalahanku padaku, aku mohon jangan tinggalkan aku." pinta Zayn dengan lirih, Zoeya tersenyum tipis karena Zayn menunjukkan raut wajah sedih di depannya.


"Di dalam hidupku ... hanya kau satu-satunya pria yang berhasil membuatku bahagia, walau semua itu palsu ... tapi aku merasakan kebahagian yang sangat luar biasa, terima kasih Zayn." ucap Zoeya tersenyum tipis, wanita itu tidak pernah benar-benar merasa bahagia saat bersama keluarga ataupun teman-temannya namun ketika Zayn hadir dalam hidupnya, Zoeya bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Zayn mencium tangan wanita itu penuh cinta!


"Berikan satu kebahagiaan lagi untukku, p-penuhi keinginanku Zayn. Aku mohon!" pinta Zoeya lirih, air mata wanita itu tidak henti-hentinya mengalir. Zayn hanya diam menatap mata Zoeya hingga air mata pria itu jatuh, ia menganggukkan kepalanya pelan.


"Lepaskan Kak Keisha, biarkan dia pergi dan aku mohon jangan ganggu hidupnya lagi. A-aku mohon padamu Zayn!" pinta Zoeya dan Zayn langsung menganggukkan kepalanya setuju, pria itu tidak akan menolak permintaan wanita itu karena Zayn ingin memberikan kebahagiaan untuk yang terakhir kalinya pada wanita itu.


"Terima kasih!" ucap Zoeya lalu wanita itu menggerakkan kepalanya menatap Keisha yang hanya diam menatap Zoeya tapi tangan Zoeya masih di genggam oleh Zayn, pria itu seperti tidak rela melepaskan tangan kecil wanita itu.


"Ku mohon anggap aku tidak pernah ada di dunia ini dan tidak pernah ada di hidup kalian berdua ... lupakan aku! A-anggap Zoeya An Blende h-hanyalah sebuah nama yang a-ada di buku cerita." ucap Zoeya mengeluarkan udara lewat bibirnya karena hidungnya tersendat untuk bernapas.


Zayn menggelengkan kepalanya lemah namun mulut pria itu tidak bisa mengeluarkan kata-kata.


"Kak Kei aku mohon, aku enggak akan bisa mati dengan tenang kalo Kak Kei masih benci sama aku." ucap Zoeya merintihkan air matanya sangat deras.


Menatap mata adiknya, Keisha ingin menangis namun air mata pria itu menolak untuk keluar, dengan tangan bergetar Keisha menyentuh pipi Zoeya yang terasa sangat dingin membuat Zoeya tersenyum tipis menutup matanya lalu wanita itu membuka matanya lemah demi bisa menatap raut wajah kakak tirinya.


"Zoe ...."


"Good bye, Kakak terbaikku." batin Zoeya merintihkan air mata terakhirnya lalu menutup kedua matanya pelan bahkan tangan Zoeya yang masih di genggam Zayn tidak lagi bergerak. Zayn tersentak dengan napas tercekat sedangkan Keisha membulatkan matanya panik.


"No !!" pekik Keisha menusuk telinga siapapun yang mendengarnya, pria itu menepuk-nepuk wajah Zoeya dengan lembut sedangkan Zayn hanya bisa menundukkan kepalanya lemah sembari mencium tangan dingin wanita itu.


"Aku belum berbicara padamu bod*h. kau belum mendengar apa yang ingin aku katakan, Aku memerintahkanmu buka matamu sekarang." pekik Keisha di depan wajah Zoeya,


"Bukan matamu ... tatap mataku sekarang, lihat aku! Aku memerintahkanmu, Zoeya. Kau tidak boleh membantah kata-kataku!" pekik Keisha dengan mata menggenang, kenapa dirinya menjadi panik seperti ini? Kini Keisha menjadi tidak mengerti dirinya sendiri, yang ia rasakan hanya sesak di dadanya saat wanita itu menutup matanya.


"Kenapa kau menembak dirimu? Kenapa kau tidak menembakku, hah!? Kau kira dengan cara kau menembak dirimu sendiri, aku akan merasa senang? Ya, aku seharusnya merasa senang karena wanita yang aku benci telah mati sekarang. Apa kau dengar kata-kataku, aku merasa sangat senang! Itu 'kan yang ingin kau dengar dari mulutku, aku senang tapi kenapa hatiku merasa sesak. Sekarang bangunlah wanita siluman." pekik Keisha mulut bergetar, pria itu tidak menyangka Zoeya yang selalu ia benci dan ia marahi rela mengorbankan nyawanya demi dirinya. Apakah selama ini dirinya tidak terlalu kenal siapa Zoeya yang sebenarnya?


Keisha hanya mengenal sikap mentel, sikap egois, sikap sombong, sikap jahat wanita itu saja, dirinya tidak tahu tentang kepribadian Zoeya yang sesungguhnya. Wanita itu sangat nekat dan juga keras kepala!


"Kau adalah wanita bod*h, kau egois, kau jahat, kau gila dan kau tidak punya perasaan sama sekali. Selalu menyusahkan hidup orang lain!" pekik Keisha mengumpat kesal.


"Bangun kau, wanita siluman. Siapa yang akan menjadi adikku jika kau tiada? Siapa yang akan aku marahi jika kau tidak ada di sampingku?" pekik Keisha akhirnya pria itu meneteskan air matanya dan menyatukan keningnya pada kening Zoeya yang tidak ada respon apapun dari wanita itu.

__ADS_1


"Aku mohon beri satu kesempatan, kembalikan dia, Tuhan! Buat dia mengetahui bahwa ada yang mengharapkan dirinya, buat dia mengetahui bahwa ada yang menyayanginya, buat dia mengetahui bahwa ada yang perduli padanya juga. Aku mohon katakan padanya, kau juga menyayanginya dan juga perduli padanya!" lirih Keisha pedih, pria itu pernah merasakan kehilangan ibu kandungnya saat masih kecil dan sekaramg dirinya juga merasakan kehilangan pada Zoeya, ia tidak akan menyangkal bahwa dirinya sekarang merasa tidak rela adik tirinya pergi meninggalkannya.


"Maaf!" lirih Keisha pelan di dekat wajah adiknya lalu pria itu mengangkat kepalanya sedikit menjauh hingga Zayn bisa mengambil kesempatan untuk mendekati wajah pucat Zoeya.


"Kau membuktikan siapa dirimu di depanku, kau adalah Zoeya yang akan melakukan apapun yang kau inginkan dan kau sudah melakukannya sekarang, kau meninggalkanku, Zoeya!" ucap Zayn mengecup kening Zoeya lalu ia berdiri dan hendak menjauh dari ruangan itu.


Brakk ....


Suara pintu di tendang oleh seseorang dan muncul lah Jeffry serta mafioso Vic's Bloody Wolf yang langsung menyerang semua anak buah Zayn yang ada di dalam ruangan itu, jumlah anak buah Leo yang jauh lebih banyak dari pada para anak buahnya Zayn membuat semua anak buah Zayn bisa di taklukkan oleh para anak buah Leo.


Zayn hanya diam saja saat Jeffry menendang kepalanya dan memborgol kedua tangannya, tatapan mata Zayn begitu kosong seperti tak ada kehidupan di dalamnya, pria itu merasa hampa karena wanitanya telah menutup matanya untuk selama-lamanya. Rasa penyesalan dalam hidup pria itu semakin melekat pada dirinya!


Setelah Jeffry menyuruh mafioso lain membawa Zayn keluar dari ruangan itu, Jeffry langsung berjalan menghampiri Keisha yang masih memangku tubuh adik tirinya, Jeffry sempat kaget saat melihat raut muka Keisha yang di basahi air mata. Rasanya seperti mimpi yang mustahil terjadi namun faktanya ini semua nyata di depan mata Jeffry, berapa tahun Keisha tidak pernah menangis lagi? Sembilan atau Dua belas tahun? Akh pokoknya sangat lama sekali dan kini pria itu mengeluarkan air matanya di depan adik tirinya yang selalu dia benci.


"Apa yang kau fikirkan, dia sudah mati? Bod*h sekali! Denyut nadinya masih berfungsi bod*h," pekik Jeffry saat memeriksa denyut nadi wanita itu masih berfungsi namun keadaan wanita itu sangat lemah bahkan mungkin kritis.


"Bawa dia ke ...."


Jeffry tidak dapat menyelesaikan perkataannya saat Keisha yang sedang terluka parah menggendong tubuh Zoeya dan membawanya keluar begitu saja.


"Kau akan membayar rasa sakit hatiku, Keisha sialan." umpat Jeffry karena sahabatnya itu mengabaikannya padahal dirinya baru saja menyelamatkan pria itu.


.........


"Akhhh! Lepaskan aku bajin*an," pekik Clara menggila karena dirinya berhasil di tangkap oleh para anak buah Leo.


Kini mereka berada di dalam mobil, wanita itu akan di bawa para anak buah Leo ke markas tersembunyi Leo yang sangat jauh dari perkotaan ataupun perdesaan.


"Apakah aku salah orang, dia wanita yang pernah di penjarakan Nyonya di Afrika bukan!?" tanya anak buah Leo yang duduk di kursi depan mobil saat menatap wajah Clara dari kaca depan, pria itu seperti kenal dengan Clara.


"Kau tidak salah orang! Dia memang wanita yang sangat tergila-gila pada Lord, dulu dia nekat melakukan penyerangan di perta orang lain bersama dengan ayahnya menyebabkan dia di kirim oleh Nyonya ke Afrika sana," ucap anak buah Leo yang sedang menyetir mobil.


"Dasar wanita penuh obsesi!" umpat pria pertama yang bertanya tadi.


"Hei! Kau sudah tahu siapa Lord kami bukan? tapi kenapa kau masih berani mencari ulah dengan menembak istri Lord kami hah? Dasar wanita bod*h." ucap anak buah Leo yang duduk di sebelah kanan Clara.


"Asal kalian tahu, di masa depan aku akan menjadi istrinya Leo dan itu artinya aku juga akan menjadi Nyonya kalian jadi ...."


"Aku rasa kau belum pernah melihat kekejaman Lord kami," ucap anak buah Leo yang duduk di belakang Clara membuat Clara mengerutkan dahinya aneh.


"Kau tahu siapa Lord kami? Dia adalah Polar Prince yang paling kejam, wajah Lord kami memang terlihat seperti anak muda pada umumnya tapi kau tidak tahu jiwa membunuh Lord kami melebihi psikopat. Di saat dia tidak bisa mengontrol emosinya, aku beritahu kau tentang siksaan Lord kami." ucap anak buah Leo yang ada di samping kanan Clara menggantung perkataannya lalu ia menatap Clara dengan datar.


"Kau akan hidup seperti di neraka, contohnya di mutilasi dan di kuliti." ucapnya tersenyum sinis membuat Clara menelan salivanya, wanita itu menggelengkan kepalanya tidak percaya Leo akan berbuat seperti itu.


"Tapi tenang saja setelah kau menjadi cacat dn wajahmu menjadi semkain jelek, kau akan mendapatkan asupan makanan dan minuman yang lezat." ucap anak buah Leo yang ada di belakang Clara.


"Seperti memakan daging mentah atau daging busuk serta minumannya darah binatang atau air kencing binatang." tambahnya membuat Clara membulatkan matanya, wanita itu ingin mual karena membayangkan dirinya memakan-makann menjijikkan itu.


"Tidak! Tidak aku tidak mau memakan-makanan menjijikkan itu, lepaskan aku berengs*k. Kalian bukan manusia, kalian semua adalah iblis ... akhhh!" pekik Clara langsung memberontak.


"Kau hanya bisa bermimpi saja menjadi istri Lord kami karena kenyataannya kau akan di siksa sampai mati di tangan Lord kami." ejek anak buah Leo yang duduk di samping kanan Clara sembari tertawa jahat.


Clara terus saja memberontak, air mata wanita itu jatuh membasahi pipinya kala mendengar tawa jahat para anak buah Leo, tak bisa di bayangkan bagaimana nasib Clara setelah ini. Mungkinkah Leo benar-benar akan menyiksa wanita itu?


.........


Setelah menempuh perjalanan panjang akhirnya Kenzi dan rombongannya sampai juga di Indonesia saat malam hari di jam 19 : 35, mereka semua langsung bergegas menuju tempat yang telah di kirimkan oleh Zayn lokasinya ada di mana namun saat setengah perjalanan, Kenzi mendapat telepon dari salah satu sahabatnya yaitu Adit.


"Hallo Dit, ada apa? Gue lagi ...."


"Lagi apaan?" tanya Adit spontan memotong perkataan Kenzi yang seakan-akan pria itu sedang dalam keadaan mendesak saja.


"Gue lagi ada urusan penting ...."


"Jauh lebih penting mana Adek lo si Kara atau urusan lo yang sekarang?" tanya Adit membuat Kenzi mengerutkan dahinya, apakah Adit tahu so'al Karamel yang sedang di culik? Dan Adit ingin memberitahu dirinya informasi itu? Atau pria itu sedang bermain-bermain dengannya? Fikir Kenzi.


"Maksud lo apaan?" tanya Kenzi lebih baik bertanya agar ia mendapatkan jawaban yang jelas dari sahabat baiknya itu, terdengar suara helaan napas berat Adit di seberang sana membuat detak jantung Kenzi menjadi berdegup sangat cepat. Semoga tidak terjadi apa-apa! Harap Kenzi.


"Gue mau ngasih kabar penting so'al Karamel yang ... lo janji dulu deh jangan kaget sama apa yang mau gue omongin nanti." ucap Adit takut Kenzi akan keget karena usia kandungan Karamel 'kan masih tujuh bulan tapi sudah melahirkan sekarang.


"Ya tergantung lah," sentak Kenzi di buat was-was karena kata-kata Adit seperti akan menyampaikan berita buruk saja.


"Ck! Karamel, dia udah lahiran di ...."


"Hah?" sontak Kenzi berteriak sangat keras hingga Adit mengucap istighfar seraya dirinya menjauhkan handphonenya dari telinga kanannya.


"Tuh 'Kan udah gue bilang tadi jangan kaget." terdengar gumam Adit yang tempak sedang mengeraskan rahangnya jengkel.


"Pecah Anji*g gendang telinga gue," kesal Adit dengan nada tinggi bahkan jauh lebih tinggi dari Kenzi tadi, pria itu merasa sangat kesal karena Kenzi membuat telinganya berdengung seperti di masuki oleh genta lonceng. Sangat mengganggu sekali!


"Kara udah lahiran, gimana maksud lo? Dia 'kan lagi di sekap sama ...." saking kagetnya Kenzi hampir ingin memberitahu Adit so'al Karamel yang di sekap oleh Zayn namun siapa sangka Kenzi malah di kagetkan oleh sahutan Adit.


"Si berengs*k Zayn!" kata Adit malas.


"Mau main rahasia-rahasiaan lo, gue itu punya sihir Tiongkok yang bisa tahu semua masalah orang lain tahu enggak, jangan main-main lo sama gue." ucap Adit menyombongkan dirinya sendiri memuat Kenzi memutar bola mata jengah, dirinya tidai percaya Adit mengetahui so'al Zayn karena sihir, pasti ada seseorang yang memberitahu Adit. Orangnya adalah Leo mungkin! Fikir Kenzi.


"Kasih tahu gue alamat rumah sakitnya di mana sekarang?" pinta Kenzi cepat.


"Heh?" Adit sontak terkejut karena Kenzi tiba-tiba meminta lokasi rumah sakit yang ada di Jakarta, bukannya Kenzi ada di Los Angeles ya? Fikir Adit.


"Buat apaan? Lo mau langsung terbang dari LA ke Jakarta, gitu maksud lo? Ngadi-ngadi lo!" tanya Adit sedikit berteriak, Kenzi memejamkan matanya kala dirinya lupa so'al Adit yang tidak tahu jika Kenzi sedang berada di Indonesia, lebih tepatnya di Tangerang sekarang.


"Gue ada di Tangerang sekarang," ucap Kenzi membuat Adit membulatkan matanya kaget, spontan Adit menelan salivanya kasar.


.


.

__ADS_1


.


...::: Bersambung :::...


__ADS_2