Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part 127


__ADS_3

Setelah menemui dokter Gery, Fico kembali ke ruang perawatan Karamel.


Ceklek ....


Mata Fico terbelalak kala brankar Karamel kosong, "Manis?!" pekik Fico mendekati brankar itu.


"Bren, Brendan ....!" pekik Fico memanggil seseorang.


Seorang bodyguard langsung menghampiri Fico, "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Brendan dalam bahasa Kanada.


Fico menunjuk brankar, "Di mana si Manis?" pekik Fico memelototi Brendan.


Brendan melebarkan matanya, "Maaf Tuan tapi Nyonya tidak keluar dari ruangan." sahut Brendan.


"Kalian tidak becu ...."


"Fico ....?! dari arah kamar mandi Karamel memanggil Fico.


Kedua laki-laki itu menoleh ke arah kamar mandi, "Manis?!" panggil Fico melebarkan matanya.


Fico tersenyum lalu menghampiri Karamel dan langsung memeluk Karamel, "Manis, kau sudah bangun, kau ... apa sekarang kau merasa baikan? Apa ada yang masih sakit? Katakan sesuatu Manis?" ucap Fico membuat Karamel bingung ingin menjawab yang mana.


"Kau memelukku terlalu erat, aku jadi sulit bernapas," canda Karamel namun di anggap serius oleh Fico.


"Sorry sorry sorry, aku sangat bahagia sampai aku tidak tahan ingin memeluk kakak iparku ini." ucap Fico membuat Karamel tersenyum menaikan sebelah alisnya dengan rahang yang mengeras.


"Brendan panggil dokter Gery sekarang." titah Fico menuntun Karamel berjalan ke arah brankar.


"Aku sangat khawatir denganmu sampai aku ingin membunuh pelakunya saat itu juga tapi kakak menahanku, dia bilang dia punya rencana sendiri untuk membalas semuanya." celotek Fico memegangi tangan Karamel.


Karamel tersenyum kecut, "Bagaimana caraku untuk mengatakan kebenarannya padaku Fico, kakakmu sudah menipu kita semua. Dia benar-benar anak kesayangan Rega Ananda dan kau ... aku tidak tahu bagaimana reaksimu nanti saat ahu bahwa kakakmu dan Rega Ananda punya niat terselubung untuk membunuh semua anggota keluargaku." batin Karamel.


"Apa pekerjaanmu di Kanada kau tinggalkan demi datang ke sini dan merawatku, Fico?" tanya Karamel pura-pura tidak tahu tentang dirinya yang berada di Kanada sekarang.


"Ak'em itu ... so'al itu ... itu ...."


"Ada apa Fico?" tanya Karamel membuat Fico menghala napas panjang.


"Bukan aku yang datang ke Jakarta tapi kaulah yang datang ke Kanada untuk di rawat dengan baik di rumah sakit Rehoolt Medical Center Canada." ucap Fico pelan.


"What? Ini di kanada?" pekik Karamel pura-pura terkejut.


"Kau, kau jangan marah dulu, Manis. Kakak membawamu ke sini agar kau cepat siuman dari komamu dan lihat. Kau sekarang sudah bangun 'kan, Manis." ucap Fico menjelaskan dengan pelan.

__ADS_1


"Aku sudah lebih dulu bangun ketika masih di Jakarta, Fico. Jadi tidak ada pengaruh apapun aku di rawat di sini." sahut Karamel malas.


"Aku koma?" pekik Karamel membuat Fico mengerjapkan mata sembari mengangguk cepat.


"Bagaimana dengan kedua orang tuaku? Apa mereka tahu ... ah mereka pasti sudah tahu. Apa mereka tahu aku di sini?" tanya Karamel.


"Kakak sudah meminta izin dan Papa Sanjaya tentu mengizinkannya." ucap Fico.


Karamel menghela napas, "Berapa lama aku koma?" tanya Karamel lagi.


Fico manaikan tangannya dengan dua jari telunjuk dan jari tengah, "Dua minggu." jawab Fico.


"What? Apa separah itu hingga aku koma selama dua minggu?" pekik Karamel pura-pura terkejut lagi.


Fico tidak menjawab apapun keterkejutan Karamel, ia takut jika Karamel terkena serangan jantung jika Fico menanggapi semua pertanyaan Karamel yang akan membuat Karamel terkejut dan terkejut lagi.


"Siapa yang menembakku? Apa kau ikut menyelidiki insiden penembakanku?" tanya Karamel.


"Jika aku menjawab apa kau mau berjanji untuk tidak terkejut?" pinta Fico membuat Karamel menahan tawa kala melihat wajah Fico yang memelas.


Karamel mengangguk, "Aku janji." sahut Karamel.


"Yang menembakmu adalah Regan Del Nixon dan aku sempat menyelidikinya tapi kakak marah padaku, dia takut aku terbawa emosi dan langsung berbuat nekat untuk membalas perbuatan penjahat itu." ucap Fico jujur.


"Fico, aku mau ...." Karamel tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena dokter Gery sudah datang untuk memeriksa keadaannya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Fico.


Dokter Gery menghela napas, "Tidak ada yang perlu di khawatirkan, Tuan. Nyonya sudah sadar dan dalam waktu dekat nyonya sudah bisa pulang." ucap dokter Gery.


"Terima kasih, Dok." ucap Fico.


Karamel membalas ucapan dokter Gery dengan senyuman, "Aku akan mati, Dok." ucap Karamel.


Setelah dokter Gery keluar Karamel menatap Fico, "Fico, apa aku boleh pinjam ponselmu sebentar?" pinta Karamel.


"Oh iya aku belum menghubungi kakak." ucap Fico menepuk keningnya sendiri.


Karamel tersenyum, "Pinjam sebentar, Fico." ucap Karamel memelas.


"Ini, aku ke kamar mandi dulu. Jangan buat lecet ponselku ya." pinta Fico membuat Karamel tersenyum mengernyit.


Setelah Fico pergi Karamel sibuk mengotak-atik ponsel Fico hingga beberapa menit sudah, Karamel meletakan ponsel Fico di brankarnya.

__ADS_1


Tak lama kemudian Fico datang, "Sudah?" tanya Fico heran melihat Karamel duduk tanpa memegang ponsel.


Karamel tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya, "Kau saja yang bicara pada Mas Henry, aku takut jika dia mendengar suaraku. Dia akan langsung mendapatkan serangan jantung." ucap Karamel punya arti di dalam kata-katanya.


"Kau benar, aku yakin dia akan sangat terkejut tapi dia pasti bahagia sampai melompat-lompat nanti, Hahaha ...." tawa Fico mengambil ponselnya lalu menghubungi Henry.


"Dia akan terkejut namun bukan bahagia, Fico. Tapi seketika dia akan murung karena tawanannya sudah bangun di saat dia akan meluncurkan rencananya." batin Karamel menyembunyikan tangannya yang terpekal.


Karamel ingin menangis, ada banyak hal yang ia lakukan pada Henry bahkan tubuhnya sudah ia serahkan pada suaminya itu namun siapa sangka ternyata suaminya bukan orang yang baik.


Karamel benci kebohongan, untuk pertama kalinya Karamel benci dengan suaminya sendiri. Benci karena suaminya tidak benar-benar mencintainya, benci karena suaminya berbohong akan nama asli sang ayah mertuanya yang ternyata sahabat lama ayah kandungnya, benci karena ternyata sang ayah mertuanya memusuhi keluarganya bahkan ingin membunuh seluruh anggota keluarganya, benci karena ternyata suaminya bersekongkol dengan ayah mertuanya dengan menjadikan dirinya sebagai tawanan untuk memancing seluruh keluarganya datang kepada mereka.


Masih banyak lagi kebohongan yang suaminya lakukan hingga Karamel bertekad kuat untuk mencegah kejahatan suaminya itu.


"Aku akan melawan suamiku sendiri." lirih Karamel membatin.


"Apa dia pantas aku panggil suami? Suami yang ingin membunuh semua anggota keluargaku!" batin Karamel benar-benar merasa sedih.


"Sebentar lagi kakak akan kemari ... manis?!" Fico berucap pada Karamel namun ketika melihat Karamel melamun Fico menepuk pundak Karamel hingga membuyarkan lamunan Karamel.


"Ah iya, ada apa?" tanya Karamel pada Fico.


"Apa yang sedang kau fikirkan, Manis?" tanya Fico.


"Tidak ada." elak Karamel.


"Kakak sebentar lagi akan kemari, apa kau tidak keberatan aku tinggal sekarang? Aku ada urusan dengan teman lamaku jadi ...."


"Pergilah, aku akan menunggu Mas Henry datang." potong Karamel.


Setelah mendapat izin dari Karamel, Fico langsung pergi dari ruang perawatan Karamel.


Karamel memejamkan matanya hingga tak lama kemudian suara langkah sepatu terdengar di telinga karamel, suara langkah kaki itu terdengar semakin jelas dan ....


.


.


.


::: Bersambung :::


Author punya new novel, judulnya THE ZERO

__ADS_1


Mampir ya wak-wak readerku, tapi hehee 😁 khusus yang udah 18 tahun ke atas aja ya.


__ADS_2