
Faza sangat senang hari ini bisa menjemput Gina bahkan tadi pagi saat Faza menghidupkan layar handphonenya, Gina tampak mengalihkan pandangannya dari Faza, rasanya seperti seorang kekasih yang sedang cemburu, Faza menggoda Gina berulang kali hingga Gina di buat salah tingkah oleh Faza.
Namun pada akhirnya Faza memberitahu Gina bahwa yang menjadi wallpaper handphonenya adalah sepupu kandungnya, walaupun begitu ekspresi wajah Gina tidak berubah senang, mungkin Gina berfikir Faza menyukai sepupunya sendiri dan jawabannya memang benar Faza menyukai Karamel namun tidak mungkin bagi Faza memberitahu Gina tentang perasaannya kepada Karamel.
Toh dirinya juga tidak bisa bersama Karamel.
Faza memberitahu Gina tentang Karamel yang sudah memiliki suami, baru lah raut wajah Gina berubah senyum-senyum sendiri.
Hari-hari berikutnya Faza selalu mengantar-jemput Gina dari rumahnya hingga sudah seminggu berlalu hubungan keduanya semakin dekat dan akrab.
Hari ini adalah hari ahad, Faza ingin mengajak Gina jalan-jalan namun ketika Faza sudah selesai bersiap dan hendak keluar rumah, kedua orang tua Faza memanggil Faza untuk bergabung di ruang tengah, Faza menolak secara halus namun ayahnya Faza memaksa.
"Faza ada janji sama temen Faza, Yah." ucap Faza dengan raut wajah memelas.
"Ayah sama Bunda mau ngomong sama kamu, apakah teman kamu lebih penting dari pada orang tua kamu sendiri ?" tanya Glenn membuat Faza terdiam.
"Kamarilah," ajak Santi namun Faza tidak melangkahkan kakinya untuk mendekat.
Hari ini Faza berniat untuk mengungkapkan perasaannya dengan Gina, walau mungkin Faza belum sepenuhnya mencintai Gina tapi Faza tetap harus mengikat Gina dulu.
"Kita bisa bicara nanti malam 'kan, Bun." ucap Faza membuat Glenn mengepal tangannya.
Santi yang melihat kepalan tangan sang suami dengan raut wajahnya yang sudah berubah menahan amarah langsung mengambil inisiatif untuk berdiri mendekati Faza.
"Kamarilah, Ayah sama Bunda mau bicara sama kamu, ini serius," bisik Santi merangkul tangan Faza.
"Bunda, teman Faza pasti udah nunggu, enggak enak dong kalo Faza telat." ucap Faza kukuh ingin keluar rumah.
"Jadi teman kamu lebih penting dari Ayah sama Bunda?" tanya Santi dengan sorot mata tajamnya.
"B-bkan gitu maksud Faza, Bun." Faza gelagapan.
"Terus apa?" tanya Santi.
"Faza udah janjian jam sepuluh tepat dan sekarang udah lewat dua puluh menit, enggak enak kalo Faza telat lebih lama lagi." ucap Faza.
"Bilang sama teman kamu, di tunda dulu," nada suara Santi mulai berubah dingin
"Enggak bisa, Bunda." Faza hampir gila karena bundanya tidak bisa memahami situasi dan keadaan anaknya yang ingin bertemu dengan pujaan hatinya.
"Kenapa enggak bisa?" tanya Santi.
"Ini penting, sangat sangat penting, Bunda," ucap Faza kehabisan kata-kata.
"Siapa teman kamu?" tanya Glenn.
__ADS_1
Degg! Jantung Faza keget kala suara besar sang ayah menanyakan siapa teman yang akan Faza temui.
"Fahri," sahut Faza bohong dan itu membuat Glenn tersenyum menakutkan.
"Oh dia laki-laki ternyata," ucap Glenn dan Faza menjawab dengan berdeham.
Santi melepas rangkulan tangannya lalu Santi melangkah mundur untuk menjauh dari sang anak, Faza yang melihat tatapan sang bunda merasa heran lalu hendak mendekat dan memanggilnya namun bunda Santi mengangkat tangannya untuk menghentikan Faza melangkah ataupun bicara.
"Sejak kapan Faza?" tanya Santi.
"Apa Bun, Faza enggak ngerti?" tanya Faza.
"Sejak kapan Ayah sama Bunda mengajarkan kamu untuk berbohong?" pekik Santi membuat Faza kaget, apakah bundanya tahu dirinya sedang berbohong.
"Bunda ...."
"Seminggu yang lalu ketika Ayah kamu menyelidiki siapa orang yang kamu jemput, Bunda bisa memaklumi kamu mungkin malu memberitahu Ayah dan Bunda tentang wanita itu," ucap Santi dengan tatapan dingin.
"Walau Ayah dan Bunda tau wanita itu adalah anak dari Ehsan dan Naomi tapi Ayah dan Bunda tetap diam membiarkan kamu dekat dengan wanita itu," timpal Glenn membuat Faza menundukkan kepalanya.
Tubuh Faza bergetar, ayah dan bundanya sudah tahu tentang Gina, mungkinkah kebahagiaannya akan berakhir setelah ayah dan bundanya melarang dirinya untuk berhubungan lagi dengan Gina?
"Ayah–Bunda, Faza bisa jelasin ...."
"Kenapa kamu tidak jujur, Faza?" tanya Santi.
"Kamu tau semua itu tapi kamu tetap berhubungan dengan anak koruptor itu," sengit Santi.
"Ayah dan ibunya adalah seorang koruptor lalu anaknya ...."
"Gina enggak sejahat orang tuanya, Faza kenal Gina dengan baik," ucap Faza memotong perkataan sang ayah.
"Apa kamu sedang meyakinkan Ayah dan Bunda tentang wanita yang kamu sukai?" tanya Glenn kini berdiri dari tempat duduknya.
"Entah sejak kapan Ayah sama Bunda mengajari kamu untuk berbohong hingga sekarang kamu berani melakukan kebohongan hanya demi seorang wanita yang asal usul keluarganya adalah penipu," ucap Santi pelan namun menusuk hati Faza.
"Jangan ngomong kayak gitu, Gina enggak sama kayak orang tuanya, Bun," ucap Faza memelas.
"Entah pengaruh wanita itu atau pengaruh rasa takut kamu, tetap saja kamu berbohong dengan orang tua kamu, Faza." sentak Glenn sungguh membuat detak jantung Faza bergetar kuat karena takut.
"Maafin Faza, Yah–Bun." lirih Faza.
"Kenapa keluarga Ramo sangat di hormati dan di percaya oleh semua orang, Faza?" tanya Glenn.
"Ka-karena yang paling kental dalam keluarga Ramo adalah sebuah kejujuran," sahut Faza dengan nada suara bergetar, Faza menyesal telah berbohong, drinya lahir dari keluarga terpandang yang sangat kental akan Kejujurannya.
__ADS_1
"Bahkan jika kejujuran itu akan membuahkan hasil yang menyedihkan dan menyakitkan kamu tetap harus berkata jujur, Faza." ucap Glenn tegas.
"Maafin Faza, Yah, Faza salah udah bohong sama Ayah–Bunda, maafin Faza." lirih Faza bersimpuh di lantai.
"Kalo kamu jujur, Ayah dan Bunda enggak akan ngelarang kamu buat dekat sama wanita itu," ucap Glenn membuat Faza mendongakkan kepalanya.
"Jadi Ayah sama Bunda enggak marah kalo Faza dekat sama Gina?" tanya Faza tersenyum senang.
"Itu keputusan seminggu yang lalu, Faza." ucap Santi membuat senyuman Faza memudar.
"Ketahuilah tidak ada hari yang terlewatkan, Faza. Bunda selalu bertanya ke mana kamu pergi? Kenapa kamu terlihat bahagia saat pulang dari kampus? Berangkat ke kampus dengan siapa? Bahkan Bunda pernah bertanya tentang siapa wanita yang sedang dekat denganmu?" ucap Santi serius, sebelum lanjut bicara Santi menghela napas berat.
"Tapi semua pertanyaan yang Bunda lontarkan, tidak ada satupun yang kamu jawab dengan jujur," tambah Santi.
"Maafin Faza, Bun." lirih Faza.
"Bagaimana kamu akan menebus kesalahan kamu?" tanya Glenn karena Faza harus di beri hukuman agar di masa depan tidak melakukan kebohongan apapun lagi.
"Apapun, Faza siap menerima hukuman dari kalian," ucap Faza menundukkan kepalanya.
"Jauhi wanita itu," ucap Santi membuat detak jantung Faza berdegup kuat.
"Bunda ...."
"Atau Bunda akan memberi kamu sebuah pilihan yang mungkin bisa membuat kamu tetap bersanding dengan wanita itu," tambah Santi memotong perkataan Faza.
Mendengar ada sedikit harapan, Faza menjadi penasaran pilihan apa yang akan di berikan sang bunda jika Faza menolak untuk menjauhi Gina?
Tapi bagaimana jika pilihan itu menyangkut sebuah fasilitas yang di miliki Faza? Mungkinkah Faza harus merelakan segala fasilitas yang ia miliki demi bisa bersanding dengan Gina?
"Pilihan apa?" tanya Faza lirih menatap manik mata sang bunda.
Santi bisa merasakan bagaimana Faza sangat terpukul mendengar bundanya ingin menjauhkan dirinya dengan sang pujaan hati tapi inilah cara terbaik bagi orang tua Faza agar di masa depan Faza tidak melakukan kesalahan apapun lagi.
"Kamu harus memilih antara kami, orang tua kamu atau wanita yang kamu sukai, anak dari koruptor itu." ucap Santi memberi pilihan.
Apa bedanya dengan perintah pertama bundanya, sama-sama harus menjauhi Gina bukan? Kalo pun Faza memilih Gina, bagaimana Faza akan hidup tanpa kedua orang tuanya?
"Bunda, Faza ....
.......
.......
.......
__ADS_1
...::: Bersambung :::...