Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part .. 52


__ADS_3

Lama Tania dan Abdi saling diam, kedua orang itu sedang asik menikmati sunset di pantai yang indah itu hingga Tania mengangkat kepalanya dari bahu Abdi.


"Basecamp SALF BADRAD ada di mana, Di?" tanya Tania menatap Abdi.


"Basecamp SALF BADRAD bukan di perumahan atau di sebuah gedung besar tapi basecamp SALF BADRAD itu di sini, di pantai ini," ucap Abdi ternyata pantai itu adalah basecamp mereka.


"Gue pernah loh sekali ke sini," ucap Tania.


"Ya iyalah, 'kan gue yang bawa lo ke sini," ucap Abdi padahal yang di maksud Tania adalah ajakan Leo saat itu.


"Yang sekarang udah kedua kalinya karena yang pertama kali gue ke sini itu sama Leo," ucap Tania malas.


"Leo?!" beo Abdi dengan nada tinggi.


"Iya, waktu itu dia mau jelasin semua kesalah pahaman gue tentang Sasya dan dia bawa gue ke sini buat bahas kesalah pahaman itu," jelas Tania dan Abdi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.


"Lo beneran mau bantu SALF BADRAD buat baikan lagi?" tanya Abdi membuat Tania menatap Abdi sekilas lalu ia kembali fokus pada pantai di depannya.


"Andai dari awal gue nggak terlibat dan nggak tau permasalahan kalian, enggak mungkin deh kayaknya gue mau bantu kalian," ucap Tania.


"Elo sih, keingintahuan lo yang super duper akut itu buat lo jadi kayak gini," omel Abdi dengan nada suara yang tidak biasa.


"Ck! Kalo semisalkan kalian nggak sembunyiin soal persahabatan kalian, gue juga nggak akan kepo kali bahkan gue juga nggak akan perduli," balas Tania dengan malas


"Ya udah iya! Kita bahas besok lagi ya, sekarang kita pulang, langit udah hampir gelap nih," ajak Abdi namun Tania menampilkan raut wajah sedih seakan-akan dirinya ingin meluapkan segala emosinya saat ini.


Dasar laki-laki menyebalkan, Tania sedang ingin mencurahkan segala unek-uneknya tapi dengan gampangnya Abdi mengajak dirinya untuk pulang.


"Kak Aldy bodoh, tau nggak," ucap Tania membuat Abdi mematung di tempatnya kemudian Abdi menatap ke arah Tania.


"Apa yang dia lihat waktu itu, nggak ada sedikitpun niatan dia buat nyari tau kebenarannya, Kak Aldy nggak tau gimana besar kesempatan yang dia punya kalo dia mau dengerin penjelasan dari Leo. Kak Aldy keras kepala, Di, dia seakan-akan ngerasa paling bener sampai dia enggak butuh dengerin penjelasan orang lain," ucap Tania seraya mengepal kedua tangannya.


"Leo juga salah, Tan, Kenapa dia nggak jelasin semuanya sama Aldy waktu itu." ucap Abdi.


"Kalian jumlahnya sembilan 'kan, dua yang bermasalah terus ke mana sisanya? Otak kalian langsung ilang gitu aja waktu liat dua sahabat kalian berantem, kalian enggak mikir buat selesaiin masalah dua sahabat kalian tapi kalian malah ikut-ikutan bod*h kayak dua orang itu," ucap Tania membuat Abdi diam.


"Kecuali Faza sama Aditya, mereka lebih bisa milih jalan yang benar bukan salah kayak kalian," ucap Tania membuat hati Abdi seperti di sayat oleh belati.


"Hari rabu kita tanggal merah 'kan?" tanya Tania dan Abdi hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Hari itu gue berencana buat kumpulin kalian semua di sini," ucap Tania.


"Buat apa?' tanya Abdi.


"Buat kalian makin hancur karena enggak guna juga dunia ini di huni sama orang yang enggak punya otak kayak kalian," bentak Tania kesal hingga Abdi langsung diam.


"Errgh! Tugas lo bantu gue buat ajak Kak Aldy ke sini, gue enggak lagi minta tolong tapi gue merintah lo," ucap Tania melirik Abdi.


"Gampang nanti gue ajak dia ke sini," ucap Abdi.


"Kita pulang sekarang," ucap Tania beranjak dari duduknya begitu juga dengan Abdi, setelah itu mereka pulang.


.........


"Mau masuk dulu apa langsung pulang?" tanya Tania ketika mereka sudah sampai di depan kediaman keluarga Sinaja.


"Gue nginap di sini," ucap Abdi cengengesan sehingga Tania langsung masuk ke dalam rumah tapi langkah kaki wanita itu langsung berhenti saat di rumahnya ada keramaian para sahabat Aldy bahkan para sahabat Tania juga.

__ADS_1


"Hai Tania," sapa Niky dan Mika.


"Lo berdua dari mana?" tanya Dito pada Tania dan Abdi.


"Dari tadi siang sampe malem kalian keluar, abis ke mana hayo," ucap Bobby menunjuk Tania dan Abdi secara bergantian.


"Gerak-gerik lo beruda mencurigakan tau," goda Mika dengan tawa kecilnya.


"Jangan bilang, kalian berdua sembunyiin sesuatu ya dari kita," timpal Bobby.


"Atau kalian lagi dalam masa pendekatan gitu?" tanya Niky dengan nada menggoda.


"Dari kencan ya?" goda Mika.


"Nungguin apa heh? Jawaban dari pertanyaan sampah lo pada? Najis," sengit Tania membuat semuanya terkejut, pasalnya jika Tania sudah berkata kasar, itu tandanya ia sedang kesal.


"Lo bertiga ngapain di sini?" tanya Tania menatap ketiga sahabatnya secara bergantian.


"Ki-kita mau nginep," jawab Mika gelagapan.


"Siapa yang ngajak?" tanya Tania seraya menaikkan sebelah alisnya sinis.


"Kak Aldy," jawab Mika tersenyum.


"Ngapain lo ngajak mereka semua nginep di sini?" tanya Tania menatap Aldy.


"Emang nggak boleh ya, Tan?" tanya Mika namun Tania tidak menjawab dan pergi meninggalkan mereka semua.


Setelah Tania pergi ke atas, para sahabat Tania dan para sahabat Aldy merasa kebingungan karena tingkah Tania yang sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya.


"Nggak tau tuh," jawab Mika.


"Lagi PMS mungkin," terka Bobby.


"Di, lo pergi ke mana sih sama Tania?" tanya Dito menatap Abdi.


"Gue nemenin Tania keliling Jakarta terus cari makan di beberapa restoran," Jawab Abdi.


"Bukannya kalian bilang tadi mau ambil buku," ucap Bobby membuat Abdi menelan salivanya kasar karena dirinya melupakan alasan bohong Tania tadi siang.


"Nggak jadi," sahut Abdi singkat.


"Kalo cuma jalan sama cari makan doang terus kenapa Tania bisa semarah itu sama kita?" tanya Niky.


"Tadi di jalan ada orang yang nabrak dia," jawab Abdi bohong.


"Siapa?" tanya Mika.


"Gue bilang orang, Mika, tapi gue nggak kenal siapa orangnya," ucap Abdi.


"Biasa aja kalik," ucap Mika mengerucutkan bibirnya.


Sedangkan di dalam kamar, Tania telah membersihkan dirinya kemudian ia mencari handphonenya untuk menghubungi seseorang tapi tiba-tiba orang yang ingin Tania hubungi malah menelepon Tania.


"Halo, Yan," sapa Tania.


"Assalamualaikum, Tania," ucapnya menyapa Tania membuat Tania tersenyum tipis.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam, Aryan," balas Tania.


"Lagi ngapain sekarang?" tanyanya.


"Lagi duduk aja," ucap Tania.


"Gimana rencananya udah berhasil?" tanyanya.


"Belum Yan, rencananya baru akan di mulai hari rabu nanti, kalo bisa sih lo juga ikut biar rencananya berjalan mulus," kata Tania.


"Aku nggak janji ya," ucapnya.


"Loh kok lo gitu sih," ucap Tania mengerutkan dahinya.


"Aku bakal usahain ikut tapi aku enggak bisa janji, Tania," ucapnya membuat Tania terkekeh.


"Iya, Aryan. Gue tahu." ucap Tania.


"Ya udah aku tutup teleponnya ya," ucapnya membuat Tania mengernyit bingung.


"Kok mau di matiin?" tanya Tania.


"Kamu pasti belum sholat 'kan," terka Aryan.


"Hehe, belum." jawab Tania cengengsan.


"Sholat dulu gih," titahnya.


"Maghrib aja tinggal, Yan." gumam Tania.


"Jadi Isya juga mau tinggal," ucap Aryan.


"Eh ya nggak lah," sahut Tania


"Mau aku ceramahin biar kamu mau sholat," tawar Aryan membuat Tania mengerucutkan bibirnya.


"Lo kok berani banget sih merintah gue?" tanya Tania namun Aryan malah terkekeh.


"Aku bukan merintah kamu tapi aku mengingatkan kamu akan kewajiban kamu sebagai seorang muslim," ucapnya.


"Oke gue sholat sekarang," Tania mengalah karena ingin menghindar dari ceramahan Aryan.


"Ya udah aku tutup teleponnya," ucapnya.


"Iya," sahut Tania.


"Assalamualaikum," salam akhirnya.


"Wa'alaikumussalam," balas Tania kemudian mematikan panggilan teleponnya.


.......


.......


.......


..... Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2