Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part ' 204 (Takdir)


__ADS_3

Perempuan itu berjalan melewati Adit dan berdiri tepat di depan pemuda itu.


"Hai !" sapa Adit tersenyum paksa.


"Lo lempar botol ini ke kepala gue ya," nada tinggi perempuan itu membuat Adit terkejut.


"Sa-santai dong, g-gue 'kan enggak sengaja," sahut Adit nyolot tapi gelagapan.


"Kalo lo enggak sengaja, enggak mungkin sampai kena kepala gue, Gila." pekikal perempuan itu mengundang pandangan semua orang.


"Gue minta maaf," ucap Adit tidak mau memperpanjang masalah.


"Sekarang lo berdiri di sana," titah si perempuan.


"Lo nyuruh gue jadi pajangan, bisa-bisa rame ni rumah sakit karena ngeliat gantengnya muka gue." ucap Adit narsis.


"Naj*s," sengit perempuan itu membuat Adit membelalakan matanya, pengalamannya yang selalu di puja-puja para wanita kini Adit hampir tidak percaya mendengar ada wanita yang berani mengatai dirinya 'Naj*s'


"Berdiri lo di sana, gue mau lempar ni botol ke kepala lo." ucap wanita itu.


"Anj*r ...."


Plakk! Sebelum Adit menyelesaikan perkataannya, tangan perempuan itu sudah lebih dulu menyentil bibir Adit hingga Adit meringis kesakitan.


"Aaaaw!" pekik Adit mengelus-elus bibirnya.


"Mulut jorok harus di kasih pelajaran," ucap perempuan itu tidak suka mendengar ucapan Adit barusan.


"Mau lo apa sih, gue 'kan udah minta maaf sama lo." ucap Adit dengan nada tinggi, di kira Adit cowok menye-menye yang gak berani ngelawan apa?


"Gue mau bales lempar ni botol ke kepala lo." sahut perempuan itu.


"Gue 'kan udah bilang kalo gue enggak sengaja tadi, ngerti bahasa manusia ga sih lo," kesal Adit.


"Berdiri di sana atau masa depan lo bakal gue tendang sekarang." ancam wanita itu menatap bagian bawah milik Adit.


Adit mengikuti arah bola mata perempuan itu dan seketika Adit terkejut lalu menutup bagian bawahnya dengan kedua tangan.


"Mau apa lo?" sentak Adit.


"Peka juga lo, berdiri di sana sekarang," tunjuk perempuan itu dengan tatapan tajam.


"Oke oke oke, gue berdiri di sana sekarang," ucap Adit pasrah mengikuti perintah perempuan itu.


Tubuh Adit merasa gelisah, bagaimana jika botol itu mengenai wajahnya dan merusak wajah tampannya? Atau bagaimana jika wanita itu melempar kuat hingga mengenai perutnya? Atau bagaimana jika botol itu meleset dan mengani bagian bawahnya? Fikiran-fikiran buruk muncul di benak Adit.


"Satu ... dua .... ti ... dua ... dua ...."


Adit semakin merasa was-was kala perempuan itu mencoba untuk bermain-bermain hitungan dengan dirinya.


"Dua ... tig ... dua setengah ...."


"Woy buruan ...."


"Tiga," ucap wanita itu hendak melempar botol aqua yang ada di tangannya namun urung karena Niky sudah lebih dulu meneriakinya.


"Lo mau ngapain Adit?" tanya Niky mendekati sepupu nakalnya itu.


"Siapa Adit? Dia?" tunjuk Nanda ke arah Adit dan Niky menganggukkan kepalanya.


"Mau gue timpuk pake ni botol." sahut Nanda menatap tajam ke arah Adit yang masih berdiri di tempatnya.

__ADS_1


"Ada masalah apa emangnya?" tanya Diky pelan.


Nanda menatap Diky.


"Dia ngelempar botol ini tepat di kening gue jadi gue mau balas perbuatan dia," sahut Nanda sinis.


"Lo sengaja ya Dit?" tanya Diky sedikit berteriak.


"Enggak lah, gila aja gue ngelempar botol ke orang yang enggak gue kenal, lo kira gue punya kerjaan nyari masalah sama orang lain." sahut Adit membuat Nanda terdiam lama, bimbang dia mau percaya apa gak sama omongan Adit.


"Denger! Adit enggak sengaja, Nan." ucap Niky.


"Lo percaya sama omongan dia?" tanya Nanda menunjuk ke arah Adit.


"Adit salah satu anggota SALF BADRAD yang paling deket sama Diky, gue kenal Adit udah lama jadi enggak mungkin dia sengaja ngelempar lo pake botol itu." jelas Niky.


"Lo lagi PMS ya, dari tadi marah-marah mulu kerjaannya," tiba-tiba suara Adit berada dekat dengan mereka bertiga.


"Gue mau ketemu Kak Kara," ucap Nanda nyelonong pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Siapa sih tu cewek?" tanya Adit pada Niky.


"Sepupu gue," sahut Niky.


.........


Seminggu kemudian dokter sudah memperbolehkan Karamel pulang ke rumah, luka yang ada di lengan dan pinggang Karamel sudah mulai mengering namun Karamel masih harus tetap banyak-banyak istirahat karena luka yang ada di bagian pinggang Karamel masih sangat sensitif.


"Hukuman yang mau kamu kasih ke aku, apa itu masih berlaku sampai sekarang?" tanya Karamel saat Leo sibuk mengelus puncak kepalanya.


"Iya dong," sahut Leo membuat Karamel tersentak kaget dan mengerucutkan bibirnya, begitu juga dengan Jeffry yang tidak menyangka bosnya itu masih mau menghukum istrinya yang baru saja keluar dari rumah sakit.


"Beneran?" Karamel menekan perkataannya.


"Apa hukumannya?" tanya Karamel penasaran.


"Bikin rame rumah kita," jawab Leo membuat Karamel mengerutkan dahinya.


"Buat apa?" tanya Karamel.


"Penyempurna kehidupan," sahut Leo namun Karamel malah semakin bingung di buatnya.


"Hah?" Karamel benar-benar tidak paham, sehingga Leo menghentikan belaian tangannya.


Leo tersenyum lebar, apakah Karamel terlalu polos atau memang perkataannya barusan tidak di mengerti oleh Karamel? Leo menginginkan seorang anak agar rumah mereka bisa di ramaikan oleh tangisan dan juga tawa bayi yang menggemaskan. Tapi lihatlah, istrinya tidak peka akan ucapan suaminya sendiri.


Leo bahkan melihat bagaimana Jeffry tersenyum sendiri mendengar pertanyaan Karamel. Aih! Bagaimana bisa asisten pribadinya lebih peka di bandingkan istrinya sendiri.


"Fikir sendiri, kamu 'kan pinter," sahut Leo kesal membuat Karamel bungkam.


Sesampainya di rumah, Leo langsung menggendong Karamel menuju kamar mereka. Suasana rumah yang sepi membuat Karamel heran. Di mana Rendi yang selalu tertawa renyah hingga setiap sudut ruangan di penuhi oleh tawa Rendi dan di mana Kevin yang sepanjang hari suka marah-marah dengan Rendi karena selalu di jahili?


"Aku enggak ngeliat ada Kak Kevin sama Kak Rendi, di mana mereka?" tanya Karamel setelah Leo membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Mereka udah pulang ke Bandung," sahut Leo.


"Kok enggak pamit sama kita?" tanya Karamel.


"Atau mereka udah pamit sama kamu? Tapi 'kan kamu enggak pulang ke rumah dan nemenin aku di rumah sakit terus," ucap Karamel membuat Leo salah tingkah.


"So'al itu mereka ... mungkin mereka ada urusan mendadak jadi mereka enggak sempat pamit sama kita." sahut Leo tapi Karamel menyipitkan matanya curiga akan gelagat suaminya.

__ADS_1


"Kamu enggak ngusir mereka 'kan?" selidik Karamel membuat Leo terbatuk.


"Ya enggak dong sayang, masa iya aku tega ngusir sepupu aku sendiri." sahut Leo cepat.


"Syukur deh kalo kamu enggak ngusir mereka," imbuh Karamel bernapas lega.


Leo mengerutkan dahinya, mamangnya kenapa jika Leo mengusir mereka berdua? Toh, mereka adalah pengganggu bagi Leo.


"Ada beberapa berkas yang di bawa Jeffry mau aku tanda tangani. Kamu istirahat dulu di sini, kalo mau apa-apa kamu langsung telepon aku aja, jangan sampai aku liat kamu turun dari kasur apalagi keluar kamar." perintah Leo.


"Iya suamiku," sahut Karamel tersenyum simpul.


"Ya udah aku turun ke bawah dulu," ucap Leo mengecup kilas kening Karamel lalu melangkah pergi menuju pintu.


Di ambang pintu Leo tidak langsung keluar dan malah membalikkan tubuhnya ke arah Karamel.


"Inget! Kalo ada apa-apa langsung telepon aku, jangan sampai aku liat kamu turun dari kasur apalagi keluar kamar." Leo mengulang peringatannya.


"Iya Leo, aku enggak akan turun dari kasur dan enggak akan keluar kamar juga." sahut Karamel tidak habis fikir dengan kekhawatiran sang suami yang terlalu berlebihan.


Leo ragu meninggalkan Karamel sendirian alasannya seperti yang sudah-sudah Karamel selalu tidak patuh akan perintah Leo. Melihat gelagat Leo yang tidak juga bergerak, Karamel sudah bisa menebak suaminya itu sedang di landa rasa ragu untuk melangkah keluar kamar.


"Sana, selesaiin urusan kamu dulu," ucap Karamel terdengar mengusir di telinga Leo.


"Kamu ngusir aku?" tanya Leo membuat Karamel menghela napas kasar.


"Enggak sayang, kamu bilang ada beberapa berkas yang harus kamu tanda tangani terus kenapa kamu masih berdiri di situ?" tanya Karamel namun Leo diam menatap Karamel.


"Aku enggak apa-apa sendirian di sini," ucap Karamel namun Leo masih bergeming.


"Iya, aku enggak akan turun dari sini dan langsung tidur. Hem!" ucap Karamel lagi namun entah kenapa Leo tetap tidak mau membuka mulutnya.


Sepintas Leo mengingat malam di mana Karamel di tembak oleh anak buah Damyan, kilasan ingatan itu membuat hati Leo sakit karena setelah kejadian malam itu, di ketahui luka yang ada di bagian pinggang Karamel tepat mengenai bekas tembakkan di masa lalu Karamel.


Luka itu semakin perih di rasakan Karamel saat Karamel berdiri karena luka di bagian pinggang Karamel lumayan besar maka dari itu sebelum luka-luka Karamel benar-benar sembuh total, Leo melarang keras Karamel untuk menginjakkan kakinya di lantai selama duaโ€“tiga minggu ke depan.


"Leo, hey," panggil Karamel untuk kesekian kalinya membuat Leo tersadar dari lamunannya dan menatap Karamel dengan ekspresi polos.


"Aku gak apa-apa sendirian," ucap Karamel meyakinkan sang suami untuk jangan khawatir.


"Hem, aku turun sekarang," ucap Leo melangkahkan kakinya keluar kamar dan menutup pintu kamarnya.


Leo tidak langsung turun ke bawah tapi Leo malah menyandarkan kepalanya di pintu kamar, bagaimana Leo bisa tenang sedangkan Karamel sering membantah perintahnya. Mungkin Leo terlalu berlebihan tapi dari lubuk hati yang terdalam Leo takut Karamel kenapa-kenapa, Leo takut Karamel terluka, Leo juga takut kehilangan Karamel.


Katakanlah Leo terlalu dramatis tapi bisa di bayangkan bagaimana seorang anak mencintai kedua orang tuanya dan takut akan kehilangan kedua orang tuanya ? Seperti itulah Leo menanamkan rasa cintanya yang sama persis dengan seorang anak yang takut kehilangan ibunya, Leo takut akan kehilangan istri yang sangat ia cintai.


Di dalam kamar Karamel memejamkan matanya, "Maaf, aku minta maaf karena udah buat kamu khawatir." gumam Karamel merasa sedih melihat kekhawatiran sang suami akan keadaannya.


Seandainya malam itu Karamel menuruti perintah sang suami, luka yang di dapat Karamel pasti tidak akan ada, Karamel tidak menyesal mendapatkan luka di tubuhnya tapi Karamel menyesal telah membantah perintah suaminya sendiri hingga pada akhirnya yang mendapatkan kesedihan yang amat terdalam adalah suaminya sendiri.


Karamel pernah mendengar tentang, 'Ridho suami adalah ridhonya Allah' dari almarhum sang mama tercinta. Apabila suami mengizinkan maka Allah akan meluruskan jalannya.


Karamel paham, Leo sudah memerintahkan Karamel untuk pergi tapi Karamel malah bersikukuh untuk membantu suaminya. Padahal Leo sudah memperingati dirinya tentang siapa suaminya itu, padahal Leo sudah mengancam ingin memberi hukuman tapi Karamel masih saja keras kepala.


"Maaf karena masih suka membangkang." gumam Karamel penuh sesal.


.......


.......


.......

__ADS_1


...::: Bersambung :::...


Enggak ada like-komen, enggak ada up juga ya kakak-kakak.๐Ÿ˜๐Ÿ˜‰


__ADS_2