
Karamel menatap kosong saat beberapa menit yang lalu ia melihat foto dan video kekasihnya bersama wanita lain bahkan ia juga mendengar beberapa penjelasan dari Henry. 'Itu bukan Leo' ingin sekali ia menyangkal seperti itu tapi mustahil karena Karamel sangat mengenal wajah kekasihnya.
"Dari mana anda mendapatkan foto-foto dan video itu?" tanya Karamel masih dengan tatapan kosong.
"Bawahku yang mendapatkannya," jawab Henry.
"Terima kasih informasinya, saya harus pulang sekarang," ucap Karamel berdiri dari tempat duduknya.
"Biar aku antar," tawar Henry.
"Saya bisa sendiri," tolak Karamel
"Jika kau menolak lagi, aku tidak akan segan-segan memberi Leo pelajaran dan mungkin akan membunuhnya karena sudah membuatmu bersedih seperti ini, Kara." ancam Henry membuat Karamel mengeraskan rahangnya ingin marah.
"Baiklah," terima Karamel dengan terpaksa.
..........
Sesampainya di rumah Karamel langsung mengusir Henry, katakanlah Karamel kejam namun wanita itu masih sangat marah dengan Henry atas kejadian minggu lalu.
'Leo tinggal di Irlandia dan dia sudah bertunangan dengan Jessy Mon Andrea, seorang model terkenal di Inggris, jika kau tidak percaya dengan ucapanku, kau bisa mencarinya di internet.'
Karamel mengingat salah satu penjelasan yang di ucapkan Henry, tanpa lama-lama Karamel menelepon anak buahnya untuk mencari informasi tentang seorang wanita yang bernama Jessy Mon Andrea.
"Kirimkan hasilnya malam ini," titah Karamel sebelum memutuskan sambungan teleponnya.
Setelah selesai menulis, Karamel menggapai bingkai foto Leo yang pernah di kirimkan pria itu setahun yang lalu saat Karamel berada di Bandung.
"Aku enggak percaya itu kamu, Leo," lirih Karamel sungguh hatinya menolak untuk percaya bahwa pria yang ia cintai memiliki kekasih lain.
Tania yakin Leo tidak mungkin sejahat itu untuk menyakiti wanita yang selama ini mati-matian pria itu kejar hingga dapat.
...........
Tiga hari kemudian, Karamel berdiam diri di kamar tanpa punya niatan keluar walau hanya sekedar ke dapur saja, bahkan ia juga izin kuliah dengan alasan masuk rumah sakit. Semua Karamel urus dengan baik hingga seminggu ke depan, wanita itu libur kuliah dulu.
Hari keempat, di pagi hari akhirnya Karamel keluar kamar, ia berjalan menuju halaman belakang rumah kemudian ia mendekati kandang kucing yang di berikan Leo untuk dirinya saat mereka resmi berpacaran lagi. Karamel berjongkok di depan kandang kucingnya.
"Felix, aku be*o ya?" tanya Karamel pada kucing peliharaannya yang bernama Felix itu.
"Tapi apa gunanya dia berjuang buat dapetin kepercayaan aku lagi kalo pada akhirnya dia bakal pergi ninggalin aku terus berpaling ke cewek lain," ucap Karamel merasa bimbang akan perasaannya sendiri. Tidak, ia tidak boleh bimbang, ia harus percaya pada Leo.
"Dia masih cinta 'kan sama aku," gumam Karamel berharap apa yang ia katakan itu adalah kebenaran bahwa Leo masih sangat mencintai dirinya.
Tes! Karamel merintihkan air matanya kemudian ia menghapus air mata itu dengan kasar, ia berdiri dari tempatnya berjongkok lalu berlari ingin masuk ke dalam rumah namun. Brukk! Tiba-tiba ia menabarak seseorang hingga tubuhnya akan jatuh ke lantai. Greb! Orang itu menarik tangan Karamel hingga Karamel jatuh ke dalam pelukan orang itu.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya orang itu membuat Karamel mendongakkan kepalanya.
__ADS_1
"Anda ...."
"Yes, it's me." ucapnya sehingga Karamel langsung melepas paksa pelukan orang itu.
"Bagaimana anda bisa masuk rumah saya?" pekik Karamel heran kenapa pria mesum itu berada di dalam rumahnya.
"Karena aku adalah calon suamimu." ucapnya.
"Dalam angan-angan," sengit Karamel.
"Don't provoke me, Honey." ucapnya datar, ternyata pria itu masih punya yang namanya batas kesabaran.
"Saya masih memiliki pacar jadi berhentilah bermimpi untuk menjadi suami saya," sengit Karamel.
"Dia telah meninggalkanmu bahkan dia juga berselingkuh di belakangmu, apakah dia masih pantas menjadi pacarmu, Kara?" tanyanya namun Karamel diam karena wanita itu juga sudah tahu kebenaran yang membuat wanita itu antara percaya tak percaya, di mana Leo sekarang sudah menjadi CEO Binondra Group dengan status yang sudah memiliki tunangan bernama Jessy Mon Andrea.
Tapi Karamel ingin berteriak dengan lantang bahwa Leo-nya masih tetap menjadi miliknya, dan Leo-nya tidak mungkin sejahat itu karena Leo pernah berjanji bahwa pria itu akan tidak akan mengecewakan dirinya lagi.
"Lagi pula dengan cara menikah dengaku, Daddymu pasti akan merasa senang juga, Kara." ucapnya.
"Silahkan tolak kerja sama yang di ajukan oleh Papa saya dan jangan pernah anda muncul di hadapan saya lagi karena Papa saya tidak akan mungkin mengorbankan anaknya demi urusan bisnis," ucap Karamel kemudian pergi meninggalkan pria itu menuju ayunan taman belakang.
"Daddymu sangat berharap akan kerja sama ini, Kara." ternyata pria itu mengikuti Karamel.
"Kenapa harus saya?" tanya Karamel.
"Apa?" tanyanya.
"Because, I love you," jawabnya.
"Kita baru kenal sel ...."
"Aku sudah mengenalmu dari lima tahun yang lalu, Kara." ucap Henry membuat Karamel mengernyit dan langsung menatap pria itu.
"Konyol sekali," ucap Karamel membuang muka sehingga pria itu menyebalkan ini duduk di ayunan depan Karamel.
"Apa kau masih ingat kejadian lima tahun yang lalu, saat di Kanada kau menyelamatkan seorang wanita paruh baya dari tujuh orang penjahat?" tanyanya.
"Tidak ...." Karamel hendak menjawab namun sepertinya ia mengingat sesuatu.
"Apa hubungannya dengan semua itu?" tanya Karamel baru saja mengingat kejadian lama di mana dirinya pernah menyelamatkan seorang ibu-ibu yang di ganggu oleh para penjahat saat di Kanada dulu.
"Wanita yang kau selamatkan itu adalah ibu kandungku, Kara." ucapnya membuat Karamel tertegun kemudian wanita itu menundukkan kepalanya.
"Bukannya waktu itu gue pakai topeng ya? Kenapa dia bisa tahu kalo itu gue?" gumam wanita itu dengan nada suara kecil.
"Benar, itu dirimu," ucapnya.
"Bukan, itu bukan saya," elak Karamel.
__ADS_1
"Kau begitu ceroboh menjatuhkan kartu identitasmu sendiri di kamar perawatan ibuku, Kara." ucapnya sehingga Karamel tidak bisa mengelak lagi, lima tahun yang lalu wanita itu memang kehilangan kartu identitasnya dan siapa sangka ternyata kartu identitasnya jatuh di rumah sakit.
"Anda adalah pengusaha paling berpengaruh di Kanada sejak 10 tahun silam, benarkah wanita tua itu adalah ibumu?" tanya Karamel tidak percaya bahwa wanita paruh baya yang ia selamatkan lima tahun yang lalu adalah ibu dari pengusaha ternama seperti Henry.
"Dulu aku menyembunyikan identitas ibuku dari seluruh dunia kerena aku takut para musuhku akan mengincar ibuku tapi aku tidak menyangka ternyata saudara tiriku mengincar ibuku dan ingin membunuh ibuku juga, para penjahat yang kau hadapi lima tahun lalu adalah suruhan saudara tiriku untuk membunuh ibu kandungku." ucapnya namun Karamel hanya diam saja.
"Ibuku tidak suka di kawal oleh bodyguard, maka dari itu setiap ibuku keluar rumah, aku yang selalu menemaninya tapi saat itu aku ada pertemuan penting di Italia dan ibuku keluar dari rumah tanpa sepengetahuan anak buahku," katanya lagi.
"Bod*h sekali," ejek Karamel.
"Ketika aku di Italia aku mendapat kabar dari seorang wanita yang mungkin dia adalah penolong ibuku, saat itu dia mengatakan ibuku ada di rumah sakit, mendapat kabar itu aku langsung pulang dan pergi ke rumah sakit tapi saat aku sampai di rumah sakit aku tidak menemukan siapa-siapa yang merawat ibuku, untungnya Tuhan sangat baik padaku, aku menemukan kartu identitas seorang perempuan yang bernama Karamel Listra Najasi Aramoy di bawah brankar ibuku." ucapnya menatap wajah Karamel yang datar.
"Saat ibuku bangun, ibuku mengatakan wanita yang menolongnya sangat baik dan perhatian, ibuku sangat menyukainya dan ingin bertemu dengannya lagi bahkan saat itu ibuku ingin menjodohkan aku dengannya tapi wanita yang menolongnya menghilang dan ibuku tidak bisa bertemu dengannya lagi." katanya lagi.
"Jika benar wanita yang saya bantu itu adalah ibu kandung anda, saya ikhlas membantu ibu anda tanpa balas budi, apa lagi balas budi untuk menikah dengan anda. Lupakan saja karena saya tidak akan pernah mau menikah dengan anda!" ucap Karamel terang-terangan.
"Dulu aku lebih tertarik dengan dunia se*s dari pada harus tertarik dengan wanita asing sepertimu," ucap lelaki itu.
"Menjijikan," sahut Karamel.
"Itu dulu, Kara." ucapnya.
"Tetap saja anda menjijikan," ucap Karamel.
"Aku sudah meninggalkan kebiasaan buruk ku sejak lima tahun yang lalu, sejak aku mencari tahu tentang wanita yang menolong ibuku." ucapnya.
"Apa itu keinginan ibumu? Maka katakan pada ibumu ...."
"Empat tahun yang lalu ibuku meninggal karena pil obat yang dia konsumsi mengandung racun, racun yang sengaja di racik untuk membunuh ibuku." lirih Henry mengepal tangannya.
"Maaf, saya tidak tahu jika ibuku sudah ...."
"Tidak masalah," ucapnya tersenyum hambar.
Seperkian menit lamanya Karamel dan Henry saling diam-diaman, pada akhirnya Karamel mengalah dan mengajak Henry untuk masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.
"Maaf Tuan, sebenarnya anda hanya sebatas penasaran dengan saya ...."
"Ya aku penasaran denganmu lalu berlanjut mencari tahu tentang dirimu berlanjut lagi mendekatimu dan akan berlanjut lagi ke jenjang pernikahan setelah itu berlanjut lagi mempunyai anak lalu berlanjut ...."
"Stop!" bentak Karamel memotong balik.
"Lebih baik anda menceritakan sedikit, kenapa anda penasaran dengan saya atau akan lebih baik anda pergi dari rumah saya sekarang," ucap Karamel tanpa basa-basi.
"Baiklah! Aku akan bercerita ....
.......
.......
__ADS_1
.......
...::: Bersambung :::...