
Leo dan Karamel keluar dari kamar dengan membawa satu koper pakaian mereka berdua, ketika Leo dan Karamel turun ke lantai satu. Mereka melihat Kenzi dan Faza sudah stand by dengan koper mereka masing-masing.
"Kalian mau ke mana?" tanya Leo heran melihat Kenzi dan Faza yang sepertinya ingin bepergian.
"Mau pulang," sahut Kenzi.
"Pulang? Mau pulang ke mana?" tanya Karamel.
"Kita mau ikut kalian ke LA," sahut Faza membuat Leo dan Karamel terkejut.
"Kalian tahu dari mana kita berdua ...."
"Lo kayak nggak kenal kita aja, ya kita ngupinglah." potong Kenzi blak-blakkan sehingga Karamel terbelalak mendengar pengakuan sang kakak.
"Lo berdua bener-bener ...."
"Apa? Kerena Kara sekarang udah jadi istri lo, jadi lo udah berani marah sama kita?" potong Kenzi datar.
"Lo berdua ...."
"Inget ya, gue sama Faza itu kakak ipar lo sekarang jadi lo tetap harus patuh sama kita." potong Kenzi penuh penekanan.
"Gue ...."
"Jangan karena lo itu leader mafia paling berpengaruh di dunia, lo bisa semena-mena sama kita. Inget, status lo itu tetep jadi adik ipar kita berdua." timpal Faza membuat Leo heran dengan dua sahabatnya yang sedang menyudutkan dirinya.
"Gue nggak ...."
"Apa lagi? Lo nggak setuju kita bareng kalian? Segitunya banget lo udah lupain persahabatan kita," potong Faza membuat Leo benar-benar habis kesabaran.
"Sebelum lo berdua ...."
"Stop Leo! Percuma lo ngelarang kita, kita tetap bakal ikut walau lo nggak setuju." potong Kenzi lagi.
Karamel yang sejak tadi diam, kini ingin angkat bicara karena tidak tega melihat Leo yang kesulitan bicara sebab di potong terus-menerus oleh kedua kakak dan sepupunya itu.
"Kak–Bang! Leo mau ngomong, tolong dengarin dulu lah, jangan di sela mulu kayak gitu!" ucap Karamel pelan membuat Leo tersenyum mendengarnya.
"Gue nggak ngelarang kalian buat ikut tapi sebelum itu gue mau tanya, Papa masih di sini atau udah balik ke LA?" ucap Leo datar.
__ADS_1
Kenzi dan Faza saling beradu pandang, "Kita jemput ke apartemen sekarang." ucap Kenzi dan Faza bersamaan.
"Ya ampun! Ternyata lo berdua cuma mikirin diri kalian berdua doang," sengit Karamel.
"Lo tau artinya lupa? Nah, kita lupa dan itu hal yang wajar." sahut Kenzi tidak mau di salahkan.
Karamel menaikan sebelah alisnya, "Dasar! ... kita nggak akan jemput Papa, lo yang harus hubungin Papa dan kita tunggu Papa di Bandara." ucap Karamel pada Kenzi.
Kenzi mendengus sebal dengan sang adik, "Ya udah, tunggu apa lagi. Ayo berangkat!" seru Kenzi dan merekapun pergi ke Bandara.
Di perjalanan Kenzi menelepon Sanjaya dan mengatakan Kenzi, Faza, Leo dan Karamel sudah menuju ke Bandara sekarang dan mereka akan menunggu kedatangan Sanjaya di sana namun Sanjaya mengatakan ada urusan penting di perusahaan sang grandpa jadi dia akan menyusul dua hari lagi.
Sesampainya di Bandara mereka semua langsung naik ke pesawat pribadi milik Leo.
Penerbangan selama dua jam telah terlewati, kini mereka telah sampai di kota Los Angeles.
Selama perjalanan menuju mansion grandpa Berrold, Kenzi dan Faza bisa melihat raut wajah Karamel yang berubah drastis. Pasalnya ketika mereka masih di pesawat Karamel banyak bergurau dan juga tertawa namun ketika sudah sampai Bandara, raut wajah Karamel menjadi berubah tanpa ekspresi.
Leo selalu berada di samping Karamel dengan mengajaknya bicara juga, kesedihan yang di rasakan Karamel bisa di rasakan juga oleh Leo. Maka dari itu Leo tidak mau berjauhan dari Karamel, pasalnya Karamel bisa terus melamun jika di diamkan terus-menerus.
Setelah menempuh beberapa jam, akhirnya mereka sampai di mansion grandpa Berrold. Belum sampai mereka keluar dari mobil, Karamel sudah merintihkan air matanya mengingat tidak ada lagi seorang grandma yang menunggu kedatangan cucunya, tidak ada lagi grandma yang menyambut kedatangan cucuknya, tidak ada lagi grandma yang memanjakan cucunya, semua sudah tidak ada lagi sekarang. Mengingat itu, Karamel menjadi tidak sanggup untuk masuk ke dalam rumah.
"Kara ...."
"Aku nggak apa-apa kok," lirih Karamel membuat Kenzi ikut merintihkan air matanya kala Karamel berpura-pura kuat di depan mereka.
Mereka berempat turun dari mobil lalu mereka masuk ke rumah yang di mana semua anggota keluarga sedang berkumpul bersama di ruang tengah.
Santi yang melihat Karamel berjalan masuk langsung berlari dan memeluk Karamel, air mata Karamel tidak dapat ia tahan ketika Santi menangis dan terus mengatakan Karamel masih hidup.
Semuanya ikut mendekat dan memeluk Karamel hingga Karamel benar-benar tidak dapat menahan isakan di depan seluruh anggota keluarganya.
"Kara ke sini mau ketemu sama Grandma dan Mama, Kara kangen mereka jadi ... jadi Kara ...."
"Besok kita ke pemakaman ya," ucap uncel Glenn mengelus puncak kepala Karamel.
Karamel menggelengkan kepalanya, "Kara bisa pergi sama Leo, Kak Kenzi dan Bang Aza. Om!" isak Karamel.
"Tapi cucuku ...."
__ADS_1
"Hanya sebentar, Grandpa. Karena setelah itu kami berdua Leo akan langsung pergi ke Singapura." pinta Karamel mengatupkan kedua tangannya.
Semua tampak terkejut namun Leo langsung menjelaskan tujuan mereka pergi ke Singapura besok, semuanya merasa senang karena setelah ini Karamel akan menempuh hidup barunya bersama laki-laki baik seperti Leo dan tentunya di cintai oleh Karamel.
..........
Paginya, sebelum pergi ke pemakaman, Karamel dan Leo sudah lebih dulu berpamitan dengan seluruh anggota keluarganya, begitu juga Faza yang meminta izin untuk ikut bersama Karamel dan Leo ke Singapura karena Faza ingin langsung ke Malaysia.
Selesai sudah berpamaitan, kini mereka langsung pergi ke pemakaman sang Grandma dan Mama.
Sampainya di pemakaman Karamel mencoba untuk menahan air matanya agar tidak jatuh, "Assalamualaikum, Grandma - Mama." ucap Karamel lirih.
Karamel dan ketiga laki-laki itu duduk di tengah-tengah pemakaman Grandma Berrty dan Sofi lalu Karamel menyampaikan banyak kata yang ia pendam selama ini, hingga tidak bisa di tahan lagi air mata Karamel jatuh membasahi pipi dan bajunya.
Berjam-jam lamanya di pemakaman, kini Karamel, Leo dan Faza berpisah tempat tujuan dari Kenzi.
Sebelum mereka berpisah, Kenzi memeluk Karamel yang akan naik ke mobil suaminya.
"Jaga diri lo baik-baik, jangan mati buat yang kedua kalinya lagi, oke!" pinta Kenzi membuat Karamel terkekeh lalu ia menganggukkan kepalanya.
"Gue titip Kara sama lo, jaga dia baik-baik. Jangan buat dia nangis lagi kayak gini Le." ucap Kenzi.
"Lo tenang aja, gue bakal jaga Kara sesuai perintah lo sebagai kakak ipar gue." sahut Leo dan Karamel melepas pelukkannya dari Kenzi.
"Ya udah masuk sana," ucap Kenzi menyentuh kepala Karamel hingga Karamel tersenyum dan langsung masuk ke dalam mobil.
Ketika perjalanan menuju Bandara, Karamel mengatakan kepalanya terasa sangat berat dan penglihatannya terasa kabur hingga Leo dan Faza khawatir dan ingin mengajak Karamel ke rumah sakit tapi Karamel menolak, Karamel mengatakan ia akan istirahat di pesawat nanti saja.
................
...(Mansion keluarga Mahendra) Singapura....
Di ruang kerja, Prasetya dan Yara sedang mendiskusikan kedatangan Leo yang akan segera datang ke Singapura.
"Apa ini tidak terlalu terburu-buru, Pah?" tanya Yara sebenarnya keberatan dengan keputusan sang suami.
.......
.......
__ADS_1
.......
...::: Bersambung :::...