
Di ruang tengah Karamel sedang menunggu Leo dan Jeffry untuk keluar dari ruang kerja, Karamel ada niatan untuk bertanya dengan Leo so'al sikapnya yang tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin kepadanya.
Setelah penantian panjang, akhirnya Jeffry keluar dari ruang kerja Leo namun di mana Leo? Kenapa Leo tidak ikut keluar juga.
"Jeffry," panggil Karamel.
"Ada apa Nyonya?" tanya Jeffry mendekati Karamel.
"Kenapa dia masih di dalam?" tanya Karamel celingak-celinguk menatap pintu ruang kerja Leo sehingga Jeffry menahan tawa di buatnya.
Jeffry berfikir, begitu beruntungnya sang bos bisa mendapatkan Karamel yang begitu lucu saat bicara dan tampak menggemaskan ketika menatap pintu ruang kerja sang bos.
"Tuan masih menyelesaikan perkerjaannya," sahut Jeffry.
"Pekerjaan apa? Oh pekerjaan Kantor ya?" Karamel bertanya dan Karamel juga yang menjawabnya.
Karamel menyipitkan matanya ragu lalu ia menatap ke arah Jeffry membuat Jeffry kebingungan dengan ekspresi wajah Karamel.
"Apa aku boleh masuk?" tanya Karamel langsung mengalihkan pandangannya ke pintu ruang kerja sang suami lagi.
Jeffry di buat menganga oleh sang Nyonya, pasalnya untuk pertama kalinya Jeffry melihat seorang wanita meminta izin dulu sebelum masuk ruangan sang bos, dulu ketika Leo masih sekolah menengah pertama, seorang wanita yang ia ketahui namanya adalah Sasya tidak pernah meminta izin dan malah langsung nyelonong masuk saja.
Karamel melirik Jeffry yang terlihat sedang melamun, "Ehem," Karamel menegur Jeffry.
"Ah iya Nyonya ... ma-maksudku tertentu anda boleh masuk, Nyonya." sahut Jeffry gelagapan karena di buat kaget oleh Karamel namun Karamel malah menggelengkan kepalanya.
"Eish! Entah apa kesalahanku kali ini sampai suasana hatinya menjadi buruk seperti ini," gumam Karamel membuat Jeffry mengerjapkan matanya polos.
Karamel merasa ragu untuk menghampiri sang suami yang mungkin sedang dalam suasana hati yang buruk, Karamel bisa merasakan itu lewat raut wajah dan tatapan amarah Leo ketika mereka selesai makan tadi, Leo memainkan handphonenya sebentar namun seketika berubah.
"Kau tau aku merasa seperti berada di rumah yang sama dengan musuhku sendiri, lihatlah bos itu, dia bersikap acuh lalu dia juga mendiamkan diriku. Menyebalkan bukan," celoteh Karamel membuat Jeffry membungkam mulutnya rapat-rapat.
Dalam benak Jeffry, bolehkan ia pergi saja dari hadapan istri bosnya itu? Ia takut di jadikan sasaran pelampiasan oleh nyonya bosnya itu.
Wajah Karamel seketika memelas sedih.
"Nyawaku hanya satu Tuhan, jika engkau membiarkan aku hidup seperti ini dengan suami yang seperti dia, aku yakin seumur hidupku, aku pasti akan kesulitan untuk mengurus dirinya yang sangat mirip sekali dengan ...."
Karamel berniat untuk mengumpat Leo dengan mengatainya mirip seperti singa liar yang sangat menyeramkan, namun sebelum perkataannya selesai Leo sudah lebih dulu memotongnya.
"Dengan apa?" Leo menatap datar ke arah Jeffry dan Karamel.
Glukk! Karamel menelan salivanya dengan susah payah, kenapa orang yang sedang ia umpat harus muncul di saat yang tidak tepat.
__ADS_1
"Tamatlah riwayatmu, Kara!" batin Karamel.
Karamel tersenyum kikuk menatap Leo yang berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Kamu ... perkerjaan kamu udah selesai?" tanya Karamel berusaha mengalihkan pembicaraan.
Leo mendekati Karamel, "Dengan apa?" tanya Leo mengulang perkataannya tadi.
Karamel melirik Jeffry, meminta pertolongan dengan sang asisten pribadi suaminya itu, begitu juga dengan Leo yang ikut menatap Jeffry hingga Jeffry tersentak kaget lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka.
"Dasar Avido sialan, dia malah pergi ninggalin gue sendirian ngadepin si suami!" batin Karamel mengumpati Jeffry.
Leo kembali menatap Karamel, membuat Karamel melotot kaget tapi ia tetap memaksakan wajahnya untuk tersenyum.
"Aku mirip siapa, Kara?" lagi-lagi Leo bertanya hal yang sama. Suasana hati Leo sudah mendingan sekarang, tapi Leo sengaja ingin menggoda sang istri yang terlihat sangat kaku menghadapi sikap dinginnya.
"Lupain aja, itu gak penting kok," ucap Karamel menelan salivanya.
Tatapan Leo memang sangat lembut dan tenang, tidak ada raut wajah amarah atau kesal tapi yang membuat Karamel menjadi gelagapan itu karena Leo pandangan mata Leo begitu mengintimidasi dirinya.
"Say it!" titah Leo masih setia menatap tajam mata Karamel.
"Le-Leo aku gak ...."
"Ka-kamu berubah Leo," tanpa sadar Karamel mengeluarkan kata-kata yang sejak tadi ingin ia lontarkan.
"Aku berubah?" tanya Leo mengernyitkan dahinya.
"Ma-maksud aku sikap kamu ...." Karamel berusaha menjelaskan maksud perkataannya agar Leo tidak merasa marah tapi sebelum Karamel menjelaskannya, Leo sudah lebih dulu memotong perkataannya.
"Aku gak berubah, Sayang. Aku masih Leo yang sama tapi sikapnya emang beda dikit, bukannya kamu mau aku jadi diri aku sendiri? Dan inilah aku yang asli," ucap Leo.
Karamel membungkam mulutnya sembari mengerjakan matanya, dulu Karamel memang ingin Leo menjadi dirinya sendiri yang sedikit bar-bar dari pada Leo yang penuh kelembutan palsu demi menarik perhatian Tania.
Tapi jika Leo yang asli itu dingin dan cuek seperti ini, maka Karamel akan katakan ia menyesali perkataannya dulu.
"Hei," Leo mencolek hidung Karamel hingga lamunan Karamel buyar.
"A-apa itu artinya tanpa terkecuali? i mean termasuk aku?" tanya Karamel membuat Leo menyipitkan matanya intens.
"Aku manusia biasa, ada saatnya susana hati buruk mempengaruhi sikap aku, Sayang." ucap Leo.
"Ah ya bener, suasana hati dia lagi gak baik sekarang, tapi sebabnya apa?" batin Karamel binging.
__ADS_1
"Jadi, kamu bersikap ...."
"Aku kesel karena kamu berani mukul kepala aku tadi," ucap Leo pada akhirnya, sontak Karamel membulatkan matanya.
"Aku? Kapan?" tunjuk Karamel pada dirinya sendiri.
"Waktu kamu tidur tadi, aku berusaha buat bangunin kamu tapi yang aku dapet malah pukulan dari tangan kamu." kini Leo sengaja memelaskan wajahnya.
"Ha?!" Karamel tidak percaya dirinya memukul seseorang ketika sedang tidur.
"Maaf udah bersikap dingin karena masalah sepele," lirih Leo menatap wajah Karamel yang tampak syok atas perbuatannya sendiri.
Sebenarnya bukan masalah itu yang membuat Leo bersikap dingin dengan Karamel, Clara dan Clark Damyan lah penyebabnya.
Clark Damyan meminta Leo untuk bertemu dengan Clara, lalu Clark Damyan meminta Leo untuk meresmikan hubungan mereka menjadi sepasang kekasih. Bukan hanya itu saja, Clark Damyan bahkan meminta Leo untuk memikirkan pernikahannya dengan Clara secepatnya.
Seketika Leo mengingat Karamel menyuruhnya untuk menjadi kekasih Clara, fikirannya kacau hingga tanpa sadar Leo bersikap dingin dan acuh dengan sang istri.
"Maafin aku, Kara." batin Leo merasa bersalah karena telah membuat Karamel merasa di musuhi oleh Leo.
"Enggak, enggak ini ... apa pukulan aku tadi sakit?" tanya Karamel tiba-tiba mendekati Leo lalu menyentuh kepala Leo.
Leo menggapai tangan Karamel lalu Leo meletakannya di kening yang tertutup rambutnya, itu sedikit mengeluarkan warna merah jambu, sontak Karamel menggigit bibir bawahnya.
"Ini harus di kompres ...."
"Jangan," potong Leo menolak.
"Kenapa? Itu bakal ngilangin ...."
"Nggak akan, Kara," potong Leo lagi.
"So, what should I do?" tanya Karamel bingung mengelus kening Leo sehingga Leo melirik wajah Karamel yang terlihat panik.
"Misschien een kus?!" ucap Leo membuat Karamel refleks terbelalak menatap tajam mata Leo.
"What?" pekik karamel membuat Leo memejamkan matanya kala teriakan Karamel sangat nyaring di telinga Leo.
.......
.......
.......
__ADS_1
...::: Bersambung :::...