Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 208 (Takdir)


__ADS_3

Sore hari tiba, Kenzi memperkirakan bahwa di Indonesia sekarang sudah pagi dan Leo pasti sudah bangun tidur.


Kenzi langsung menghubungi Leo, beberapa kali Leo tidak mengangkat telepon Kenzi hingga terpaksa Kenzi menelepon Karamel namun sialnya nomor Karamel di luar jangkauan.


"Kalo udah nikah, emang kebo banget kali ya, enggak bangun kalo enggak siang," umpat Kenzi pada Leo dan Karamel.


"Oke, sekali lagi," ucap Kenzi menelepon Leo.


"Halo, kenapa? Berisik banget lo, pagi-pagi ganggu orang lagi tidur aja," omel Leo setelah sambungan teleponnya terhubung.


"Kam*ret lo, di sini udah jam empat di situ berarti udah jam tujuh. Kebo banget lo!" balas Kenzi.


"Bacot anji*g, ada urusan apa lo nelepon gue, tumben banget?" tanya Leo kesal.


"Gue mau minta bantuan lo," pinta Kenzi.


"Bantu apaan?" tanya Leo.


"Jadi gini ...."


"Wah panjang nih cerita," sela Leo merasa yakin jika kakak iparnya itu ingin bercerita panjang lebar.


Come on! Dirinya baru bangun tidur, masa langsung di suruh dengerin curhatan kakak iparnya ini, kalo misalkan kakak iparnya ini ingin meminta saran 'kan otaknya belum bisa di ajak untuk berpikir jernih.


"Lo lama-lama gue pecat juga ya jadi adik ipar gue," kesal Kenzi membuat Leo berdecak malas.


"Buruan mau ngomong apa?" tanya Leo.


"Jadi gini, lo 'kan pernah punya pengalaman ngecewain Karamel, nah gue mau tanya, cara lo buat hilangin kekecewaannya Karamel itu gimana?" tanya Kenzi.


"Kesambet apa lo kepo sama urusan pribadi gue sama Kara?" entahlah, nada suara Leo terdengar mengejek Kenzi.


"Tinggal jawab aja, ribet amat lo," sentak Kenzi.


"Kara pernah ngomong kalo dia kecewa sama gue tapi dia enggak benci sama gue," ucap Leo dan sama persis seperti Tessa yang kecewa dengan Kenzi namun tidak membencinya.


"Terus apa yang lo lakuin?" tanya Kenzi.


"Jelas itu karena rasa cinta dia ke gue lebih besar dan kuat dari rasa kecewa dia," sahut Leo membuat Kenzi sakit kepala.


"Emang kenapa sih lo, tumben banget pengen tau cara ngilangin kekecewaan Kara? Lo lagi ada masalah sama bini gue?" tanya Leo mulai penasaran karena tidak biasanya Kenzi bertanya so'al Karamel.


Kenzi tidak ragu dan langsung bercerita kepada Leo tentang dirinya yang menjadikan Tessa sebagai pacar pura-puranya.


"Nekat banget lo nempelin bibir ke cewek lain," ucap Leo setelah Kenzi selesai bercerita.


"Jangan-jangan lo suka ya sama si Tessa Tessa itu," Leo mencoba untuk menerka-nerka.


"Ya enggak lah," sentak Kenzi.


"Enggak salah lagi, buktinya first kiss lo di kasih sama si pacar pura-pura lo itu," ucap Leo membuat Kenzi diam karena apa yang di katakan Leo itu benar adanya, ciuman pertamanya ia berikan kepada Tessa tanpa ragu saat itu.


"Susah sih kalo ceweknya enggak suka sama lo, apalagi dia kecewa karena lo main nyosor aja tapi untungnya dia enggak benci sama lo jadi lo bisa coba saran gue yang ini." ucap Leo.


"Apaan?" tanya Kenzi.


Akhirnya Leo memberikan beberapa saran yang bagus untuk Kenzi coba agar Tesaa mau memaafkan dirinya.


...19 : 40...

__ADS_1


Setelah makan malam bersama grandpa Berrold, Kenzi kembali masuk ke dalam kamarnya kemudian Kenzi menghempaskan tubuhnya di kasur.


Tatapan Kenzi menerawang jauh ke atas pelapon kamarnya, "Kalo gue pura-pura kecelakaan, emang Tessa bakal perduli sama gue?" gumam Kenzi.


Kenzi menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tujuan gue 'kan buat dapat maaf dari dia bukan malah dapat perhatian dari dia." gumam Kenzi lagi.


Kenzi memejamkan matanya, "Tapi saran Leo ada benernya juga kalo misalnya Tessa perhatian sama gue, cepat atau lambat dia pasti bakal maafin gue juga 'kan," entah kenapa Kenzi merasa bingung akan saran adik iparnya untuk berpura-pura di rawat di rumah sakit karena kecelakaan.


..........


Ke esokkan harinya, Kenzi menjemput Tessa ke apartemennya, saat Kenzi melihat Tessa berjalan ke arah mobilnya, buru-buru Kenzi melihat wajahnya di cermin.


"Oke, perfect!!!" desis Kenzi.


Tessa membuka pintu mobil lalu Tessa masuk dan duduk di samping Kenzi, "Hai," sapa Tessa datar.


"Hai," sapa Kenzi pula kemudian ia menyalakan mesin mobilnya.


"Hari ini gue ada tiga kelas ...." Tessa mengerutkan dahinya saat melihat wajah Kenzi.


"Yeah, jauh banget! Gue ada satu kelas pagi doang, itu juga cuma presentasi tiga kelompok," sahut Kenzi dengan bibir pucatnya.


Tessa menyipitkan matanya, ada yang berbeda dari raut wajah Kenzi, "Lo sakit, Ken?" tanya Tessa.


"Hah! Siapa? Gue?" tanya Kenzi menunjuk dirinya sendiri, pura-pura kaget dia.


"Enggak lah," ucap Kenzi.


"Enggak gimana? muka lo pucat banget ini, lo pasti sakit 'kan," sentak Tessa.


"Kekurangan minum air mineral doang," sahut Kenzi namun Tessa tampak tidak percaya.


"Ehem! Mau apa lo?" tanya Kenzi membuat Tessa kembali menarik tangannya.


"Eng-enggak ada," ucap Tessa gelagapan memalingkan wajahnya.


"Engg! Kalo kelas lo udah selesai, lo bisa pulang duluan," ucap Tessa membuat Kenzi diam-diam tersenyum tipis.


"Gapapa, gue bisa nunggu lo ...."


"Lo tenang aja, gue bisa pulang bareng temen cewek gue kok," potong Tessa.


"Gue bilang gue bakal nunggu lo ...."


"Ssstt! Bandel banget sih lo, gue bilang lo pulang duluan ya pulang duluan, jangan bantah omongan gue atau gue gak mau ngomong sama lo lagi," sentak Tessa membuat Kenzi bungkam.


Kenapa perempuan ini berani sekali mengancam dirinya tapi kenapa pula dirinya tidak mau membantah ancaman perempuan ini, eih! Perempuan ini membuat Kenzi kesal saja.


Sesampainya di kampus, Kenzi dan Tessa berjalan sembari bergandengan tangan menuju lift, Tessa melihat Ryan memperhatikan mereka dari sebuah bangku taman sedangkan Kenzi sekilas melihat Tia menangis di tangga samping lift.


Kenzi melirik Tessa begitupun Tessa yang melirik Kenzi, keduanya saling tersenyum dan berpura-pura mengobrol sembari sesekali mereka tertawa.


Di mata semua orang, sungguh Kenzi dan Tessa pasangan yang sangat serasi karena keharmonisan keduanya tapi nyatanya saat keduanya sudah masuk ke dalam lift.


Keduanya sama-sama merubah raut wajah menjadi datar dan saling berjauhan. Kenzi berhenti di lantai 2 sedangkan Tessa di lantai 4, keduanya tidak bicara sepatah katapun saat berpisah.


"Huftt! Kenapa rasanya gue jadi pengen marah ya," gumam Kenzi berkacak pinggang.


Di sisi lain Tessa merubah raut wajah menjadi sedih, "Gue enggak keterlaluan 'kan nyuekin dia?" gumam Tessa menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


..............................


...Kelas...


Tessa baru saja masuk ke kelasnya namun belum sempat Tessa akan duduk di kursi paling depan, kedua teman Tessa tiba-tiba menarik tangan Tessa untuk duduk di barisan ke empat paling tengah.


"Oh my god, what are you doing guys?" tanya Tessa meninggikan suaranya karena kaget.


"Tessa, saat kau dan Kenzi keluar dari mobil aku melihat sepertinya Kenzi sedang tidak enak badan, wajahnya pucat!" seru Audry, teman Tessa.


"Aku juga melihatnya," timpal Lea dan Tessa menganggukkan kepalanya membenarkan.


"Then what are you doing, why did you let him go to campus?" tanya Audry dengan nada nyolot.


"Entahlah, hari ini dia hanya punya satu kelas pagi dan aku sudah menyuruhnya untuk pulang duluan jadi dia tidak perlu menungguku selesai kelas," ucap Tessa.


"Tapi dia sedang sakit, Tessa." ucap Audry membuat Tessa mengerutkan dahinya.


"Jadi maksudmu aku harus menyuruhnya untuk pulang sekarang?" tanya Tessa sedikit sinis.


"Aku menyuruh dia untuk pulang duluan saja susah, dia tidak mau dan memaksa ingin menungguku selesai tiga kelas, lalu bagaimana aku bisa menyuruhnya untuk pulang sekarang, Audry." ucap Tessa membuat Audry bungkam.


"Aku tahu kau pernah menyukai Kenzi tapi kau harus ingat sekarang aku adalah kekasihnya jadi kau bisa berhenti untuk memperhatikan kehidupan kekasih temanmu sendiri," sengit Tessa membuat Audry menundukkan kepalanya.


"Maaf, aku keterlaluan." lirih Audry.


"Ayolah, kita sudah berteman sejak SMA jadi jangan bertengkar karena masalah laki-laki oke," lerai Lea.


Tessa tampak sedikit terkejut, kenapa dirinya memarahi Audry? Kenapa dirinya tidak suka Audry memperhatikan Kenzi? Kenapa dirinya merasa benci akan temannya yang menyukai Kenzi? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul begitu saja di benak Tessa. Sialan!


....................


Setelah semua penghuni kelas bubar, kini kelas itu di sisakan oleh 4 orang. Kenzi, Peter, James dan Cesar.


"Rencana ini tidak boleh gagal, akting kalian harus bisa senatural mungkin, jangan tersenyum ataupun tertawa," ucap Kenzi dalam bahasa Inggris.


"Aku adalah aktor hebat jadi kau tidak perlu khawatir aku akan mengacaukan rencanamu," ucap James.


"Tapi Cesar ...."


"Jangan remehkan aku karena aku tidak kalah hebat darimu," kesal Cesar memotong perkataan James.


Memang Cesar paling payah dalam berpura-pura, anaknya juga suka keceplosan saat di tanya, mengerikan emang jika mempercayakan suatu rahasia pada Cesar tapi Kenzi tidak mungkin menyingkirkan Cesar dalam rencananya.


Kenzi hanya berharap semoga saja kali ini Cesar bisa di ajak kerja sama dengan baik.


"Oke, kita pergi sekarang," ucap Kenzi lalu mereka berempat keluar dari kelas.


Tanpa mereka sadari, di dalam kelas itu ada dua orang laki-laki mendengar percakapan mereka.


"Sepertinya mereka akan melakukan sebuah kejutan, kita gagalkan saja rencana mereka bagaimana?" tawar salah satu dari mereka.


"Suruh Joe untuk mengikuti mereka," titahnya kepada temannya.


.......


.......


.......

__ADS_1


...::: Bersambung :::...


__ADS_2