
Acara malam ini sangat meriah karena suprise Karamel berhasil membuat semua orang merasa senang. Emm, kecuali Kevin yang sejak awal delapan helikopter itu masuk, wajah Kevin tidak ada senyum-senyumnya sama sekali hingga pada saat Karamel mengumumkan bahwa dirinya sedang hamil, semakin sakit hati Kevin saat mendengarnya.
Lain halnya dengan Faza, walau ada sedikit rasa sesak namun Faza tetap bahagia atas apa yang Karamel dan Leo raih selama ini.
Ting ting ....
Acara sudah lewat satu jam dan tiba-tiba terdengar seseorang yang memukul pelan cangkirnya dengan sendok, bermaksud untuk memanggil semua orang yang ada di sana.
Semua orang tentu langsung menghadap ke arah sumber suara, di mana itu Karamel dan Leo yang berdiri tepat di depan mic.
"Mohon perhatiannya sebentar," pinta Karamel tersenyum semanis mungkin lalu Karamel menatap ke arah Leo membuat Leo ikut tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih semuanya sudah meluangkan waktu berharga kalian untuk datang ke pesta ini, pesta yang suami saya kira adalah pesta keberhasilan Kak Aryan." ucap Karamel membuat SALF BADRAD tertawa kecil mengejek Leo.
"Terima kasih untuk Kak Aryan Sebastian August karena sudah mau membantu saya bersandiwara dan menyiapkan semua ini," ucap Karamel juga dan semua orang tersenyum menatap ke arah Aryan sekilas.
"Seperti yang kalian tau, saya adalah putri satu-satunya di keluarga Sinaja, Aramoy maupun Ramora," ucap Karamel masih dengan tersenyum manis.
"Namun beberapa minggu yang lalu, dari Malaysia dan Belanda ada berita tentang di mana Nyonya Aramoy? Media tidak menemukan sedikitpun informasi tentang keberadaan Nyonya Aramoy lalu di Los Angeles dan di New York City ada berita tentang di mana Nyonya besar Sinaja? Media juga tidak menemukan informasi apapun tentang keberadaan Nyonya besar Sinaja," ucap Karamel membuat suasana menjadi hening.
__ADS_1
"Para hadirin yang ada di sini pasti banyak yang penasaran juga, ada di mana sebenarnya Grandma dan Mama saya," ucap Karamel menarik napasnya dalam-dalam lalu menghebuskan napasnya pelan. Sebelum melanjutkan ucapannya, Karamel menatap grandpa, Papa serta kakaknya.
"Nyonya Sinaja dan Nyonya besar Aramoy sudah lama berpulang," ucap Karamel tersenyum tipis, sontak orang-orang terkejut mendengar penuturan Karamel.
"Tapi biarpun mereka berdua tidak ada di sini, di atas sana mereka pasti sudah berbahagia apalagi ketika buah hati saya tumbuh di sini, saya yakin Grandma dan Mama adalah orang pertama yang berbahagia akan kehadiran cucu dan cicit mereka." tidak ada air mata yang keluar namun hati seorang Karamel merasa sedih kerena dua anggota keluarganya tidak ada di sisinya.
"Pah, Kak! Aku tau aku bukan anak yang patuh karena dari kecil sampai sekarang, aku selalu jadi anak pembangkang, bukan begitu suamiku?" tanya Karamel tersenyum lebar menatap Leo dan Leo tentu menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan sang istri.
"Walaupun begitu, aku selalu mendapatkan balasan kasih sayang dari kalian, tidak perduli tindakkan bod*h apa yang selalu aku ambil, kalian berdua selalu jadi pendukung pertama aku. Makasih Pah—Kak." ucap Karamel tulus dan semua orang bertepuk tangan atas pernyataan haru putri tunggal Tuan Sinaja tersebut.
"Mohon perhatian semuanya, sebenarnya ada sedikit cerita yang ingin saya sampaikan kepada kalian semua, beberapa waktu lalu sebelum acara ini di gelar saya bertemu dengan seorang pengusaha wanita, dia sangat cantik, senyumannya manis bahkan tampilannya sangat spektakuler tapi sayangnya dia menganggap saya sebagai musuhnya." ucap Karamel entah apa maksud dari semua yang ia katakan ini.
"Saya tidak tau kenapa tiba-tiba dia menemui saya, bertanya siapa saya? Siapa orang tua saya? Berasal dari keluarga mana saya? Bahkan dia juga bertanya apakah saya selicik orang yang dia benci?" tambah Karamel membuat semua orang terkejut.
"Sungguh, saya sempat merasa ada yang aneh dengan wanita itu namun saya menjawab semua pertanyaannya, saya adalah Karamel Listra Najasi Aramoy, putri tunggal dari Sanjaya Adi Sinaja dan juga Sofia Lavana Aramoy, saya berasal dari keluarga Sinaja dan mungkin saya lebih licik dari orang yang dia benci." ucap Karamel dengan tatapan lembut.
"Dia mengejek saya dengan kata-kata yang tidak pantas untuk saya ucapkan di sini lalu dia menyampaikan sesuatu, dirinya telah bangkit dari keterpurukan hidup yang sederhana namun perasaannya telah jatuh ke lubang yang sangat dalam," ucap Karamel membuat semua orang menjadi tertarik untuk mendengar cerita Karamel yang menurut mereka mungkin akan ada pesan yang bermanfaat untuk mereka.
"Saya tidak tahu kenapa setelah wanita itu mencaci maki saya, dia malah menunjukkan rasa sedihnya di hadapan saya, saya sempat mengira jika wanita itu sudah gila karena tiba-tiba saja dia menangis tanpa sebab di hadapan saya," ucap Karamel lagi, dari kejauhan seseorang tersenyum miring kala mendengar cerita Karamel, menarik – batinnya.
__ADS_1
"Dia berkata jika saya dan keluarga saya itu jahat dan licik tapi kemudian dia berteriak mengatakan jika semua orang di dunia ini jahat. Dan saya sangat penasaran hal apa yang membuatnya berkata demikian." ucap Karamel.
"Saya bertanya, sebenarnya apa masalahnya? Tapi jawabannya membuatku bingung, 'dia bermain siasat untuk menjeratku, dia memainkan perannya dan aku adalah sasarannya' wow saya menerka-nerka sebenarnya wanita itu ingin curhat atau mentalnya yang bermasalah," ucap Karamel.
"Tapi di saat saya mulai jenuh dan hendak pergi, dia mencegah saya dengan mengatakan ...." Karamel menjeda kata-katanya dan menatap lurus ke depan seakan-akan sedang menatap seseorang.
"Kara, aku tau dia sedang mencariku, saat pencariannya tak kunjung mendapatkan hasil, aku melihat dari jarak yang jauh ada kesedihan di wajahnya, aku ingin muncul di depannya tapi ingatan saat dia menipuku membuatku harus menahan diri agar tidak memperdulikannya," bukan Karamel yang berbicara tapi suara wanita lain yang entah siapa dan di mana tempatnya.
"Semakin lama bukan semakin membenci dirinya tapi semakin lama aku semakin merindukan dia, aku bertemu denganmu saat itu karena aku ingin bertanya apakah aku salah menilainya? Apa aku salah telah mengambil keputusan untuk meninggalkannya? Aku tidak mau mendengar penjelasannya, apa itu juga salahku?" suara wanita itu kembali muncul entah dari mana membuat Karamel tersenyum membayangkan bagaimana reaksi (Dia) nanti.
"Aku tidak mau menyesal jadi aku mohon agar kamu mau membantuku mengungkap kebenarannya, Kamu setuju dan kamu menelepon Grandpamu." ucapnya lagi membuat semua orang menatap grandpa Berrold.
"Setelah mendengar penjelasan Grandpamu, ternyata aku salah paham, dia tidak pernah menipuku." ucapnya sambil tersenyum merekah.
"Kenziro, I'm back,"
.......
.......
__ADS_1
.......
...Bersambung...