
Dokter Gery mendekati Henry yang menatap tajam dirinya, "Kenapa? Kenapa kau menggelengkan kepalamu?" tanya Henry pada dokter Gery.
"Sepertinya Nyonya pernah mengalami fase ini, Tuan," ucap dokter Gery ambigu di telinga Henry.
"What do you mean?" tanya Henry.
"Mari kita ke ruangan saya," ucap dokter Gery.
Tanpa bertanya Henry langsung berjalan menuju ruangan dokter Gary.
"Apa maksud dari perkatanmu tadi, Gary? Apa istriku baik-baik saja? Apa ada yang serius?" tanya Henry dingin.
"Tidak ada yang serius, Tuan. Tadi Nyonya terlalu memaksakan diri hingga tubuh Nyonya menolak dan akhirnya pingsan," jelas dokter Gery.
"Jika tidak ada yang serius, kenapa kau mengajakku ke sini?" tanya Henry mengernyit.
"Apa sebelumnya Nyonya pernah mengalami luka tembakan dan tusukan, Tuan?" tanya dokter Gery membuat Henry melebarkan matanya.
Sebenarnya seminggu yang lalu saat melakukan operasi, dokter Gery melihat ada bekas jahitan di bagian pinggang Karamel, awalnya dokter Gery mengira mungkin itu luka biasa namun tiba-tiba saja dokter Gery menemukan bekas luka jahitan di bagian lengan kanan Karamel.
Dokter Gery tidak memberitahukannya pada Henry karena dia ingin memastikan apakah itu bekas luka tembak dan tusukan atau bukan.
"Maksudmu?" tanya Henry memelototi dokter Gery.
Dokter Gary menjelaskan pada Henry tentang bekas luka tusukan di bagian lengan kanan dan juga perut Karamel, lalu ada bekas dua tembakan juga di bagian pinggang Karamel membuat Henry speechlees mendengar penjelasan dokter Gery.
"Apa yang terjadi di masa lalumu, sayang? Kenapa kau bisa mendapatkan banyak bekas luka di tubuhmu?" batin Henry.
Setelah seminggu tiga hari Karamel belum juga bangun, Henry memutuskan untuk membawa Karamel ke Kanada untuk di rawat di rumah sakit Rehoolt Medical Center Canada.
Setelah mendapatkan izin dari mertuanya Sanjaya dan Sofia, Henry langsung membawa Karamel naik pesawat Gulfstream G-650 miliknya.
Di dalam pesawat Henry menatap istrinya yang masih terbaring lemah, "Apa istriku akan sembuh jika di rawat di rumah sakit Kanada?" tanya Henry gusar.
"Anda jangan khawatir, Tuan. Orang-orangku akan berusaha untuk menyembuhkan Nyonya." sahut dokter Gery.
"Cepatlah bangun, Sayang." lirih Henry menatap wajah istrinya.
"Aku tau anda bukan wanita lemah Nyonya, anda pasti akan sembuh." batin dokter Gery keluar dari kamar itu.
__ADS_1
..............
...Kediaman keluarga Mahendra (Indonesia)...
"Awasi saja semuanya." ucap Leo lewat telepon.
"(.......................)"
"Em," Setelah itu Leo mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
"Dasar ceroboh," gumam Leo.
"Tuan, mobil anda sudah siap," ucap Jeffry.
"Kita pergi sekarang," Leo beranjak dari duduknya. Hari ini Leo berencana untuk kembali ke Irlandia dan melancarkan semua tujuannya.
"Maafin aku," lirih Leo.
Terlambat. Iya, ternyata Leo benar-benar terlambat, tujuannya sudah hampir musnah tapi tidak menutup kemungkinan dia bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Walau kenyataannya dia tidak bisa menjadikan semunya sesempurna dulu lagi.
............
Setelah penerbangan panjang, Henry maupun dua orang kepercayaannya dan juga dokter pribadinya mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Pearson Toronto.
Setelah sampai rumah Sakit, Karamel di rawat di ruang VVIP yang sering Henry pakai saat sedang sakit.
"Lakukan yang terbaik, Gery." ucap Henry.
"Baik, Tuan," sahut dokter Gery.
Karena Henry sudah berada di Kanada, kini Henry mau pergi ke kantornya untuk menyelesaikan pekerjaan yang ada.
"Aku pergi dulu, Sayang. Nanti setelah urusanku selesai, aku akan kembali ke sini lagi. Oke!" ucap Henry mencium kening Karamel.
..................
...Los Angeles....
Kenzi di beri kabar oleh kedua orang tuanya tentang Karamel yang di bawa oleh Henry ke Kanada.
__ADS_1
"Grandma, Ken mau pergi ke Kanada untuk menjenguk Karamel nanti malam. Apa boleh Ken pergi?" ucap Kenzi seraya meletakkan secangir teh untuk grandma di meja.
Grandma Bertty yang sedang asik menyulam, menatap cucunya seraya tersenyum lebar lalu setelah itu grandma Bertty menganggukkan kepalanya pelan.
"Terima kasih Ken," ucap grandma Bertty.
"Pergilah, tapi jangan lupa sampaikan salam Grandma untuk adikmu Karamel," ucap sang grandma.
"Ken akan sampaikan," ucap Kenzi menatap nerta sang grandma yang sembab kala terus menangisi sang cucu perempuannya.
"Kara, kenapa semuanya jadi kayak gini? Kenapa lo harus ngalamin hal yang kayak gini kenapa lo ... lo nggak pernah kayak gini," batin Kenzi merasa sedih kala sang adik harus merasakan koma karena menyelamatkan nyawa suaminya.
Malampun tiba Kenzi pergi ke Kanada untuk menjenguk Karamel, di jam tujuh kurang sepuluh menit Kenzi dan IT terbaiknya yaitu Trisna sampai di bandara Internasional Pearson Toronto.
"Apa kita langsung ke rumah sakit, Tuan Ken?" tanya Trisna.
"Jangan seformal itu Trisna, Grandpa tidak ada di sini," ucap Kenzi dengan malas.
"Baik, Ken," sahut Trisna.
"Kita langsung ke rumah sakit saja, besok aku ada kelas jadi aku tidak bisa menginap di sini." ucap Kenzi.
"Baik, Ken." patuh Trisna langsung pergi ke rumah sakit tempat Karamel di rawat.
Sesampainya di parkiran rumah sakit, Kenzi dan Trisna di kejutkan so'al pemandangan dua laki-laki yang saling berpelukkan di depan sebuah mobil.
"Bukankah laki-laki itu ... apa kita tidak salah lihat, Tris?" tanya Kenzi tidak melepas tatapannya dari dua laki-laki itu.
"Ada yang tidak beres, Ken." sahut Trisna membuat Kenzi langsung menatap Trisna.
"Maksudmu?" tanya Kenzi bingung karena ucapan Trisna sangatlah ambigu.
"Aku tidak tahu, Ken, tapi aku merasa ada yang janggal," ucap Trisna. Sehingga Kenzi menatap pemandangan dua laki-laki itu lalu ia mencincingkan matanya.
"Mungkinkah dia berbohong dengan keluargaku?" kata itu yang keluar dari mulut Kenzi.
.......
.......
__ADS_1
.......
...::: Bersambung :::...