Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 213 (Takdir)


__ADS_3

...05 : 10...


Tessa bangun dari tidurnya, Tessa melihat tangannya masih menggenggam tangan Kenzi tapi bukankah semalam Tessa sudah melepasnya? Entahlah, Tessa lupa kemudian Tessa manatap mata Kenzi yang masih terpejam, apakah Kenzi belum sadar juga? Bahkan hanya sedetik pun? Tessa menghela napas berat, dirinya merasa gagal membantu Kenzi untuk bisa bangun. Mungkinkah setelah ini Kenzi akan di nyatakan koma?


Memikirkan kata 'koma' Tessa jadi ingin menangis tapi untuk apa dirinya menangis? Tangisan tidak akan menyembuhkan Kenzi tapi do'a sudah pasti bisa membantu Kenzi.


Tessa melepas genggaman tangannya lalu Tessa pergi ke toilet untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat subuh.


Tessa beragama Islam, sama seperti ibunya. Jalan cerita hidup Tessa bisa di bilang rumit karena di mulai dari kedua orang tua Tessa yang menikah namun berbeda keyakinan, Ram tidak mempunyai agama sedangkan Amber penganut agama Islam.


Cinta terkadang membuat orang menentukan jalan yang salah, sama seperti Ram dan Amber yang menikah tanpa ada yang mau berkorban. Ram tidak mau masuk Islam, Amber juga tidak mau melepas agamanya tapi mereka menikah hanya karena mereka saling mencintai.


Hingga para anak-anak mereka lahir, berdebatan sering terjadi kala ada sebuah biodata anak-anak mereka yang menyebutkan agama. saat anak-anak mereka lahir, Ram tidak mengadzankan anak-anaknya jadi Ram mengatakan anak-anaknya sama seperti dirinya tidak memiliki agama, Amber tidak terima karena dirinya memiliki keyakinan sejak lahir jadi Amber ingin anak-anaknya mengikuti agamanya.


Setelah sekian lama menjadi pasangan suami-istri, kedua orang tua Tessa pada akhirnya bercerai dan sejak 7 tahun yang lalu Tessa mengucap dua kalimat syahadat untuk masuk Islam kemudian Tessa di ajarkan banyak tentang agama Islam hingga sekarang Tessa tekun menjalani ibadahnya berkat bantuan sang ibu tercinta.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi ...." Tessa menyelesaikan shalat subuhnya.


Tessa memanjatkan do'a untuk kedua orang tuanya. Lanjut, Tessa mengirim do'a-do'a untuk almarhum kakek dan nenek dari pihak ayahnya lalu kakek dan nenek dari pihak ibunya kemudian almarhum kedua kakaknya, terdengar ada isakkan saat Tessa menyebut nama kedua kakak laki-lakinya. Dan tak lupa Tessa berdo'a akan kesembuhan Kenzi juga.


Seulas senyum terpatri di sudut bibir Kenzi, "Aamiin," sahut Kenzi dalam hati.


Setelah selesai, Tessa memasukkan rukun shalatnya ke dalam tas kemudian Tessa berjalan mendekati kedua teman Kenzi yang masih tidur di sofa.


"Peter – Cesar," panggil Tessa menepuk lengan mereka berdua.


"Peter, wake up." ucap Tessa.


"Cesar," panggil Tessa namun keduanya tak kunjung bangun juga. Kebo emang!


Tessa sedikit kesal lalu Tessa mencubit kedua pipi Peter dan Cesar, "Wake uuuuup !!!" pekik Tessa membuat keduanya bangun dan meringis kesakitan.


"Aya ya ya! What are you doing, Tessa." pekik Peter mengusap-usap pipinya.


"A-a-akkk, hey what are you doing, you hurt me eish," pekik Cesar juga mengusap-usap pipinya.


"Ish, makanya gak usah kebo kebo amat woy," umpat Tessa membuat keduanya bingung karena Tessa berbicara bahasa Indonesia.


"English please," pekik keduanya serentak.


"I want to go home, you guys take care of Kenzi." ucap Tessa sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Apa kau ada kelas pagi?" tanya Peter.


"Full class," sahut Tessa membuat Peter dan Cesar membelalakan mata.


"Three?" tanya Peter.


"Four," ralat Tessa dan Peter maupun Cesar serentak mengucap kata 'Wauw'


"Ugh, menyedihkan," ucap Cesar pasalnya hari ini adalah hari sabtu, jarang sekali siswa/i ada banyak kelas di hari sabtu.


Dua kelas pagi dan siang mungkin banyak tapi Tessa mendapatkan jadwal full class hari ini, sangat menyedihkan bukan.


"I'm leaving, bye !!!" ucap Tessa kemudian pergi.


Sepeninggalan Tessa, Kenzi membuka matanya kemudian Kenzi menoleh ke arah Peter dan Cesar yang ingin tidur lagi.


"Ehem," tegur Kenzi membuat dua orang itu terperanjat kaget. Keduanya menoleh ke arah Kenzi, secepat kilat keduanya mendekati brankar Kenzi,


"Kau sudah sadar? Sejak kapan? Apa keadaanmu baik-baik saja? Apakah kepalamu sakit karena terbentur di toilet kemarin? Kau tidak lupa ingatan 'kan! Siapa aku? Kau mengenal aku atau tidak?" begitu banyak pertanyaan yang di lontarkan Cesar membuat Kenzi diam karena bingung mau menjawab yang mana.


"Kenapa kau tidak menjawabku? Apa kau benar-benar lupa ingatan?" tanya Cesar mendapatkan pukulan dari Peter di kepalanya.


"Kenzi baru sadar beri dia pertanyaan ringan, bod*h." umpat Peter.


"Apa yang kau rasakan sekarang? Masih sakit atau lumayan baikan?" tanya Cesar tidak bisa memberi 1 pertanyaan emang bocah satu ini.

__ADS_1


"Cukup baik," sahut Kenzi.


"Kau tidak lupa ingatan 'kan?" tanya Cesar dan Kenzi menggelengkan kepalanya.


"Terlalu pagi untuk memanggil dokter, kau istirahatlah dulu ...." ucapan Peter terpotong.


"Tunggu, Tessa baru saja keluar, dia harus tau ...."


"Tidak, biarkan dia pergi," sela Kenzi membuat Peter dan Cesar saling pandang satu sama lain.


"Kau tau Tessa ada di sini?" tanya Peter karena mana mungkin Kenzi menyela perkataan Cesar jika Kenzi tidak tahu ada Tessa di ruangan itu.


"Sejak kapan kau sadar?" tanya Cesar penasaran sejak kapan Kenzi sadar.


"Semalam," sahut Kenzi.


"Jadi saat kami bertiga mengajakmu bicara semalam, kau sudah sadar?" tanya Peter.


"Kapan kalian mengajakku bicara?" tanya Kenzi merasa tidak di ajak bicara oleh teman-temannya ini.


Jika Kenzi belum sadar di saat mereka bertiga mengajak Kenzi bicara lalu kapan Kenzi sadar? Di saat mereka sudah tidur kah?


"Apa kau sadar berkat Tessa yang ...."


"Aku tidak tau kalian berbicara apa karena aku sadar ketika kalian semua sudah tidur, Tessa tidur di samping brankarku dan kalian berdua tidur di sofa," ucap Kenzi memotong perkataan Peter.


"Ah! Begitu rupanya," sahut keduanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


.............


...Indonesia...


Tiga hari yang lalu, Karamel sudah di beri kabar tentang kakaknya yang di tusuk oleh seseorang yang bernama Ryan, Kenzi tidak bercerita banyak tapi Kenzi mengatakan, dirinya tidak membunuh si pelaku dan malah membebaskannya begitu saja.


Bod*h sekali kakaknya itu mengampuni kesalahan si pelaku, kenapa tidak di bunuh saja coba? Fikir Karamel.


"Sayang," panggil Leo sambil menatap layar handphonenya.


"Sayang, waktu kita enggak banyak," pekik Leo namun Karamel masih bergeming.


"Kara, hey cinta," panggil Leo menatap bingung pintu walk-in closet namun tetap saja tidak ada sahutan dari Karamel.


Leo berjalan ke arah pintu walk-in closet, tanpa mengetuk pintu lagi Leo langsung masuk ke dalam, dan apa yang Leo lihat, sejak 30 menit dirinya menunggu di luar ternyata Karamel belum juga bersiap.


"Sayang, kenapa kamu belum ...."


Leo tidak menyelesaikan ucapannya saat pandangan matanya melihat ke arah cermin yang ada di depan Karamel.


"Lagi-lagi kamu ngelamun," gumam Leo ketika melihat tatapan kosong Karamel.


Leo mendekati Karamel kemudian Leo menyentuh kedua pundak Karamel hingga Karamel di buat kaget olehnya.


"Leo, kamu ...."


"Lagi mikirin apa, hen?" tanya Leo.


"Ha! Bukan ...."


"Jangan bohong," potong Leo cepat.


Karamel menghela napas lalu Karamel membalikkan badannya menghadap Leo.


"Aku cuma mikirin kebod*han kak Kenzi, aku masih ngerasa kesel aja karena jelas-jelas nyawa dia hampir melayang tapi kenapa pelakunya malah di bebasin gitu aja coba," ucap Karamel cemberut.


"Terus gimana sama kamu?" tanya Leo.


"Apa, aku apa?" tanya Karamel tidak paham.

__ADS_1


"Kesalahan Clara juga fatal tapi kamu malah ngelarang aku buat bunuh dia," ucap Leo.


"Jelas beda sayang! Kak Kenzi bebasin orang yang hampir bunuh dia, di bebasin loh sedangkan aku, aku emang ngelarang kamu buat bunuh Clara tapi aku ngehukum Clara dengan masukin dia ke penjara," sahut Karamel.


"Keberangkatan Clara ke Afrika bakal di tunda kalo kamu belum siap juga sekarang," ucap Leo menarik tali bathrobe yang di pakai oleh Karamel.


Karamel tersentak dan mendorong tubuh Leo, "Dasar cowok mesum," umpat Karamel menutupi tubuhnya yang hampir terekspos.


"Keluar, aku mau ganti baju," titah Karamel dan Leo tersenyum mendekati Karamel lalu di ciumnya sekilas lips Karamel kemudian Leo berlari keluar dari dalam walk-in closet.


Setelah selesai bersiap Leo dan Karamel langsung menuju markas utama Vic's Bloody Wolf, di sana sudah ramai para mafioso dan para bodyguard yang menunggu kedatangan kedua leader mereka.


"Jangan lupa pakai topengmu," ucap Leo dan Karamel menganggukkan kepalanya.


"Haishh .... !!!" Karamel masih saja mengingat kata-kata Kenzi yang tidak membunuh Ryan dan malah membebaskannya begitu saja.


"Udah dong sayang, jangan di fikirin lagi." pinta Leo menyadari sang istri masih merasa kesal dengan kakaknya.


"Aku enggak abis fikir loh sayang, kok bisa kak Kenzi bebasin orang yang mau bunuh dia, emangnya kalo di bebasin orang itu bakal tobat, pastinya enggak lah." celoteh Karamel membuat Leo menghela napas gusar.


Sudah tiga hari berturut-turut, Karamel mengomel tentang kebod*han kakaknya sendiri, mungkin sampai kakaknya membunuh si pelaku, Karamel baru akan diam. Fikir Leo yakin seyakin-yakinnya.


"Mungkin Kenzi ada rencana lain!" seru Leo.


"Kamu ngerti enggak sih, Kak Kenzi bilang dia udah bebasin orang itu jadi ... tauk ah! It sucks." sentak Karamel memasang raut wajah kesal.


Apakah Leo salah bicara?


"Kenzi yang salah tapi gue yang di omelin,bkenapa kesannya gue yang buat kesalahan?" batin Leo tidak habis pikir dengan wanita yang sedang marah, bahkan yang tidak bersalah di jadikan bahan omelan.


Sesampainya di markas Karamel memasang topengnya dan langsung keluar duluan dari mobil membuat Leo terperangah di buatnya.


"Kenapa laki-laki di takdirkan harus mengalah dengan wanita, liatnya bagaimana aku akan menjadi patung saat dirinya marah." umpat Leo sampai Jeffry tertawa cekikikan di buatnya.


"Sabar, Lord." sahut Jeffry.


"Kau harus cepat-cepat menikah agar kau bisa merasakan hal yang sama sepertiku," ucap Leo membuat Jeffry membelalakkan matanya.


"Rasanya aku belum mau hidup menyedihkan sepertimu, Lord." sahut Jeffry terdengar mengejek.


"Apa kau bosan hidup?" tanya Leo dingin.


"Ny-nyonya menunggumu di luar, Lord." ucap Jeffry mengalihkan pembicaraan.


Leo melihat ke arah luar yang di mana Karamel menatap ke arah mobilnya dengan garang.


"Lihatlah tatapannya ...." ucapan Leo terpotong.


Glukk ....


"Menyeramkan, Lord." timpal Jeffry.


"Tch! Sangat menggemaskan," ucap Leo memakai topengnya lalu keluar dari mobil, di dalam mobil Jeffry di buat terperangah kala tatapan membunuh sang nyonya malah di bilang menggemaskan oleh sang bos.


"Di mana sikap iblis yang ada pada dirinya? Hilang bagaikan debu." gumam Jeffry bermonolog.


"Singa telah berubah menjadi kelinci," ucap Jeffry memakai topengnya kemudian keluar menyusul Leo dan Karamel.


Di dalam markas, tepatnya di ruang eksekusi Vic's Bloody Wolf. Karamel dan Leo berjalan mendekati satu wanita yang tengah tertidur di lantai, tubuhnya terlihat kurus, wajahnya pun terlihat pucat, rambutnya tampak berminyak karena sudah semingguan lebih wanita itu tidak mandi.


"Siram dia ....


.......


.......


.......

__ADS_1


...::: Bersambung :::...


__ADS_2