Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part 138


__ADS_3

Kini Jeffry dan Trisna sudah mengambil posisi di sebuah dinding perbatasan antara jalanan luar dengan lapangan yang sangat luas di dalam.


Sedangkan Leo dan Karamel mengambil posisi yang berbeda yaitu di dalam lapangan namun mereka bersembunyi di balik tumpukan drum tong besi sehingiga Henry, Rega Ananda beserta anak buah mereka yang lain tidak bisa melihat keberadaan mereka.


"Calon menantuku memang sangat hebat, Henry. Kau bisa lihat sendiri 'kan Jessy memberi kejutan dengan membawa dua bocah tengik ini pada kita sekarang." ucap Rega Ananda terdengar di telinga Karamel dan Leo. Dan Jessy tersenyum lebar pada Rega Ananda.


"Sudah menjadi kewajibanku untuk membantu calon mertuaku, Paman." sahut Jessy menatap ke arah Henry.


"Bawa mereka semua ke hadapanku sekarang," titah Rega Ananda sehingga para anak buahnya membawa satu-persatu anggota keluarga Karamel ke hadapan Rega Ananda.


"Leo ...." gumam Karamel.


"Jangan panik, mereka pakai sebuah tanda di bagian pinggang mereka ... m-maksud aku, yang punya tanda di bagian pinggang mereka itu orang-orang aku." ucap Leo membuat Karamel memperhatikan pinggang setiap orang yang berdiri di samping setiap keluarganya dengan menyodorkan pistol di kepala mereka.


Seketika mata Karamel terbelalak.


"Enggak semuanya, Leo, kamu liat dua orang yang nyodorin pistol ke kepala Mama sama Grandma Bertty. Mereka bukan orang-orang kamu. Mereka pasti anak buahnya Rega Ananda Leo." tunjuk Karamel panik.


Leo melihat itu sejak tadi namun Leo diam karena Leo sedang berfikir untuk memulai pergerakan mereka dengan sangat hati-hati agar mama Sofia dan grandma Berrty bisa selamat.


"Tenang, oke! Aku sama yang lain pasti bakal ngelindungin keluarga kamu." ucap Leo lembut dan di balas anggukan oleh Karamel.


Mata Karamel mulai berkaca-kaca namun ia mengerjap beberapa kali agar air matanya tidak jatuh, karena sekarang bukan saatnya untuk menangis Karamel Listra.


"Pasti bisa, ayo dong jangan nangis sekarang, keluarga gue pasti bakal selamat." batin Karamel menenangkan dirinya sendiri agar tidak menangis.


"Lepaskan penutup mulut mereka semua sekarang," titah Rega Ananda lantang.


Para anak buah yang menyodorkan pistol di setiap kepala anggota keluarga Sinaja dan Ramo melepaskan lakban hijau dari mulut setiap anggota keluarga.


"Bagaimana rasanya? Lega, karena bisa keluar dari sangkar markasku?" tanya Rega Ananda.


"Henry?" beberapa di antaranya malah memanggil Henry dengan terkejut.


Aneh ! Fikir mereka, bagaimana bisa anggota keluarga istrinya sedang di sekap namun Henry malah berdiri di dekat Rega Ananda dan terus diam tanpa mau membantu sedikitpun.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Henry?" Dan ada apa denganmu? Kenapa kau tidak membantu kami? Kenapa kau malah diam melihat kami di sekap seperti ini?" tanya Sanjaya beruntun dengan nada amarah.


"Dan kau Rega, apa masalahmu hingga kau menyekap kami semua! Hah?" pekik Sanjaya.


"Apa kau ingin tahu wahai sahabat lamaku?" tanya Rega Ananda.


"Baiklah aku akan memberitahukannya padamu, aku adalah Rega Ananda anak dari Zelia Neomela dan Gibran Toondof. Apa salah satu dari kalian mengenali nama itu?" ucap Rega Ananda sekaligus bertanya.

__ADS_1


Grandpa Berrold yang mengingat pemilik kedua nama itu langsung menatap tajam ke arah Rega Ananda, itu karena grandpa Berrold masih ingat dengan nama pengkhianat itu.


"Kau anaknya Gibran si pengkhianat itu?" gumam Grandpa Berrold


"Ah, ternyata kau mengingatnya juga kakek tua." ejek Rega Ananda membuat Karamel yang mendengar itu mengepal tangannya dengan sangat kuat.


"Ya, aku adalah anak dari laki-laki yang kau bunuh tiga puluh sembilan tahun yang lalu Berrold." pekik Rega Ananda.


"Ketika usiaku empat belas tahun, kau memberi kabar pada ibuku bahwa ayahku telah berkhianat dan ayahku mendapatkan hukuman kepalanya di penggal olehmu,.apa kau tahu Berrold? Ibuku menjadi depresi dan selama dua bulan aku merawat ibuku namun dia memilih untuk bunuh diri karena tidak sanggup kehilangan suaminya." pekik Rega Ananda lebih keras.


"Aku kehilangan ayahku dan ibuku karena dirimu." lantang Rega Ananda.


"Ayahmu mengkhianatiku, sesuai perjanjian jika ada yang berkhianat maka dia akan di hukum mati." sahut grandpa Berrold.


"Maka biarkan aku membalaskan dendam ayah dan ibuku dengan membunuh semua anggota keluargamu, kakek tua." sengit Rega Ananda.


"Apa ini, Rega? Bukankah kita sahabat lalu kenapa kau menaruh dendam pada anggota keluargaku?" tanya Sanjaya.


Rega Ananda tertwa mendengar perkataan Sanjaya, "Hahaha kau ... apa kau sungguh berfikir kita adalah sahabat Sanjaya? Tidak ...."


"Aku menjadikanmu sahabatku itu hanya semata-mata untuk mencari tau tentang semua anggota keluargamu saja, Sanjaya. Setelah itu aku meninggalkanmu dengan menyusun rencana untuk membunuh semua anggota keluargamu." sambung Rega Ananda.


"Kau benar-benar ketelaluan Rega, Henry ...."


"He Henry kau ... kau menikahi anakku bukan karena cinta tapi karena perintah ayahmu." ucap Sofia merasa sakit mendengar kenyataan bahwa Henry hanya mempermainkan perasaan putrinya.


"Kau sungguh tidak pantas bersanding dengan Karamel, Henry. Kau laki-laki kejam, kalian semua kejam hiks ... hiks ....!" pekik Sofi sembari menangis.


Henry memejamkan matanya, Karamel benar-benar sudah membuat gangguan mental Henry lemah, terbukti dari Sofia yang menyebut nama Karamel tapi Henry langsung merasa pusing di bagian kepalanya.


"Are you okay, Sayang?" bisik Jessy pada Henry, dan Henry tiba-tiba kaget karena mengira Jessy adalah arwah Karamel.


"Aku baik-baik saja," sahut Henry cepat.


"Kenapa aku merasa ada yang aneh denganmu, Sayang. Apa kau memikirkan almarhum istrimu itu hingga kau merasa ada yang ...."


"Omong kosong, aku bilang aku tidak apa-apa, Jessy. Jangan memprovokasiku lebih dalam." sentak Henry membuat Jessy tersenyum sinis.


"Karena cintamu pada Kara sangat besar, kau sampai menyakitiku dengan terus mengeluarkan kata-kata kasar sembari membentakku, Henry." batin Jessy.


"Rega, ini masalah masa lalu yang bisa kita bicarakan baik-baik." ucap Sanjaya.


"Setelah penderitaanku selama berpuluh-puluh tahun kau bilang ini bisa di bicarakan baik-baik? Kenapa tidak daddymu yang melakukan itu pada ayahku dulu! Hah? Dulu dengan kejamnya daddymu menuliskan pesan yang begitu menyakitkan untuk ibuku baca," sengit Rega Ananda.

__ADS_1


"Maafkan saya, Rega. Sebagai pimpinan saya hanya tidak mau jika ada yang berkhianat kepada saya dulu, kau juga begitu bukan, jika ada yang berkhianat kau pasti akan menghukumnya bukan." ucap grandpa Berrold membuat air mata Karamel jatuh.


Begitulah dunia gelap di masa lalu yang akan di hadapi di masa depan, jika ada yang dendam maka siap-siap akan mendapatkan akibatnya. Seperti saat ini karena tidak terima atas kematian kedua orang tuanya di maasa lalu, Rega Ananda sampai tega mempunyai niat untuk berbalas dendam kepada seluruh anggota keluarga Sinaja, Aramoy dan Ramora.


"Ya, aku pasti akan menghukumnya hingga dia menderita tapi sayangnya dendamku terlalu dalam hingga aku tidak bisa memaafkan perbuatanmu, Berrold." sengit Rega Ananda.


Rega Ananda mengangkat tangannya ke udara dan semua anak buah yang menyodorkan pistol di kepala masing-masing anggota keluarga Sinaja dan Ramo bersiap untuk menembakan kaliber panas dari dalam pistol.


"Posisi di bagian utara, arahkan senjata kalian pada dua laki-laki yang berdiri di samping dua wanita yang berpakaian putih biru dengan batik bercorak Indonesia, Sekarang !" titah Leo dengan tegas.


Lewat earpiece yang terpakai di telinga para anak buah Leo, mereka bisa mendengar suara perintah Leo barusan lalu dua orang yang berada di gedung arah utara mengarahkan bidikan pistol mereka ke orang yang di titah Leo tadi.


Kedua bahu Karamel terlihat naik turun ketika tangan Rega Ananda sudah siaga untuk memberi kode penembakan anggota keluarganya.


"Pakai topeng kamu, Kara." titah Leo membuat Karamel tersentak kaget karena terlalu fokus menatao ke arah lapangan.


Karamel memakai topengnya begitu juga dengan Leo yang memakai topeng serigalanya.


Waktu berjalan begitu lambat, Rega Ananda masih menatap wajah semua anggota keluarganya satu-persatu dengan telapak tangan yang masih terangkat di udara.


"Selamat tinggal sahabat palsuku, Sanjaya." ucap Rega Ananda menjetikan jarinya.


Grandpa Berrold, kakek Hans, nenek Hanna, Sanjaya, Glenn, Santi, Kenzi dan Faza tidak di tembak dan langsung di amankan oleh para anak buah Leo dengan menepatkan mereka di tengah-tengah anak buah Leo.


Jeffry dan Trisna langsung berlari dan menyerang mafioso yang hendak menembak ke arah kumpulan satu keluarga itu.


Dorr ....


Dorr ....


Sedangkan untuk grandma Bertty dan mama Sofia, masih berdiri di tempat mereka karena dua orang laki-laki yang ingin menembak kepala mereka berdua sudah di tembak oleh sniper suruhan Leo.


Karamel dan Leo berlari sekuat tenaga untuk menyelamatkan grandma Bertty dan mama Sofia.


"Apa-apaan ini?" pekik Rega Ananda terkejut ketika para anak buahnya itu malah melindungi para anggota keluarga Sinaja dan Ramo


Dorr! Dorr! Tiba-tiba suara tembakan mengejutkan semuanya termasuk Rega Ananda karena suara pistol itu berasal dari samping Rega Ananda.


.


.


.

__ADS_1


:::Bersmbung:::


__ADS_2