Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 219 (Takdir)


__ADS_3

"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Leo saat dokter kepercayaan mamanya Leo selesai memeriksa keadaan Karamel.


"Tidak perlu khawatir, Leo. Istri kamu baik-baik saja," sahut dokter wanita itu.


"Kenapa istri saya mual, Dok. A-apakah dia ... dia ha-hamil?" tanya Leo ragu, karena biasanya perempuan mual-mual itu kan tanda hamil.


"Lambung istri kamu hanya menolak makanan yang mengandung berlemak saja," sahut sang dokter membuat Leo merasa sedikit down karena harapan yang melambung tinggi ternyata tidak terwujud.


"Baiklah," sahut Leo lalu dokter itu pergi.


Leo masuk ke dalam ruang perawatan Karamel dan terlihat Karamel langsung tersenyum ke arah Leo.


"Udah aku bilang, aku baik-baik aja 'kan," ucap Karamel dan Leo mengangguk pelan.


"Kenapa?" tanya Karamel.


"Hem?" sahut Leo.


"Kamu kenapa, kok kayak sedih gitu mukanya?" tanya Karamel memperjelas pertanyaannya.


"Enggak apa-apa, aku cuma khawatir aja sama keadaan kamu," ucap Leo namun Karamel bisa merasakan bahwa Leo sedang berbohong dengan dirinya.


"Kamu pikir aku hamil ya?" tanya Karamel membuat Leo tersentak kaget, apakah dirinya begitu kentara sampai Karamel tahu apa yang ia harapkan.


"Enggak sayang, bukan kayak gitu ...."


"Maaf," sela Karamel dengan raut wajah sendu.


Leo menggeleng-gelengkan kepalanya lalu Leo memeluk tubuh Karamel, Leo merasa bersalah karena telah berharap lebih hingga pada saat tahu kebenaran bahwa Karamel tidak hamil, Leo jadi merasa sedih dan parahnya kesedihan Leo tidak bisa ia tutupi hingga Karamel bisa merasakannya juga.


"Kamu enggak salah, sayang," ucap Leo mengecup pucak kepala Karamel beberapa kali.


"Maaf karena aku belum bisa wujudin ...." Karamel tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena Leo sudah lebih dulu menyelanya.


"Sutt! Aku bilang bukan salah kamu jadi jangan ngomong lagi atau aku beneran sedih karena ngeliat kamu minta maaf terus sama aku," ucapan Leo berhasil membuat Karamel diam.


.........................


Malam ini Leo membujuk Karamel untuk di rawat semalam di rumah sakit tapi Karamel menolak dan ingin langsung pulang ke rumah, Leo sudah berpura-pura marah dan membentak Karamel tapi entah kenapa Karamel masih tetap ingin pulang hingga pada akhirnya Leo menyerah dan mengikuti kemauan sang istri untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


"Bini siapa sih ini, bandel banget," ucap Leo saat keluar dari kamar mandi dan melihat sang istri sedang asik memainkan handphonenya di kasur.


Karamel menoleh ke arah Leo lalu Karamel meletakkan handphonenya di atas nakas.


"Kata dokter 'kan cukup jaga kesehatan aja, enggak perlu di rawat segala," sahut Karamel.


"Tapi tetap aja ...."


"Udah dong, Mas, kita juga udah di rumah 'kan sekarang " pinta Karamel menyela.


Leo menghela napas kasar lalu Leo ikut berbaring di samping sang istri dan memeluk tubuh mungil sang istri, Karamel pun membalas pelukan Leo lalu keduanya memejamkan mata dan tertidur lelap bersama.


Karamel terbangun di pagi hari, mata yang masih terasa pedas, ia bantu dengan tangan yang di gosok-gosok ke matanya beberapa kali dan setelah sadar sepenuhnya, Karamel mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah sang suami yang masih terlelap dalam tidurnya. Karamel tersenyum simpul lalu Karamel menggapai tangan Leo dan meletakkan tangannya ke atas perutnya yang masih rata.


"Halo Papa, di sini udah ada dedek bayi yang bakal buat rame rumah Mama sama Papa," ucap Karamel dengan suara anak-anak.


"Tunggu dua minggu lagi ya Pah, di hari ulang tahun Papa, Mama pasti bakal kasih tau tentang dedek bayi kok." tambah Karamel lagi, ia sangat bahagia kala di dalam rahimnya sudah ada buah hati mereka.


"Baik-baik di perut Mama ya Nak, Mama pasti akan berusaha semaksimal mungkin jaga kamu," gumam Karamel.


Setelah puas merasakan tangan Leo menyentuh perutnya, kini Karamel beranjak untuk membangunkan sang suami dari tidurnya.


"What time is it now?" tanya Leo.


"Udah jam tujuh," sahut Karamel.


"Em!" Leo mengambil posisi duduk.


Jujur mata Leo benar-benar terasa berat, ia malas untuk beranjak tapi hari ini dirinya harus pergi ke kantor, mau tak mau ia harus memaksakan diri untuk beranjak.


.................


...Malaysia...


Dafa dan sang kekasih yaitu Lily sedang membawa Gina ke suatu tempat yang di perintahkan Faza.


"Jujur sama kita, lo suka enggak sama Faza?" tanya Lily memutar tubuhnya ke belakang mobil.


Gina yang duduk di belakang langsung tersentak kaget dan menggelengkan kepalanya cepat.

__ADS_1


"Sekarang lo enggak suka sama Faza tapi kedepannya lo harus tatap berusaha buat suka sama Faza." ucap Dafa sembari fokus menyetir.


"Aku tak paham, kenape ...."


"Gina, kalo sebulan yang lalu lo enggak minta tolong sama Faza, enggak mungkin juga Faza kesem-sem sama lo maksud gue enggak mungkin Faza tertarik sama lo," ucap Lily membuat Gina bungkam.


"Aku tengok pun bang Faza tak lah suke sangat dengan aku," sahut Gina.


"Faza itu freezer jadi walau lo bilang dia enggak terlalu suka sama lo karena siakapnya yang selalu dingin tapi sebenarnya Faza itu udah kebelet pengen jadian sama lo," ucap Lily membuat Gina berfikir keras tentang kenapa Faza yang sangat populer di kampus mereka bisa suka dengan Gina yang culun dan rabun.


"Takdir lo berdua udah di atur sama yang di atas, lo pasti masih inget 'kan kejadian sebulan yang lalu pas lo nabrak Faza dari belakang," ucap Dafa membuat Gina memutar fikirannya untuk mengingat masa satu bulan yang lalu.


"Pada saat itu gosip kampus ramai nama Faza sama nama lo tapi karena lo orangnya kudet maksud gue kurang update jadi lo enggak tau 'kan gosip sebulan yang lalu," tambah Dafa lagi.


"Lo enggak tau apa-apa tapi lo malah di bully sama para penggemarnya Faza," ucap Dafa membuat Gina mengerti akan permasalahan dirinya yang selalu dapat bullyan para cewek-cewek.


"Asal lo tau aja Gin, Selama sebulan lo di bully penggemarnya Faza, Faza selalu turun tangan buat kasih pelajaran sama semua cewek yang bully elo." pernyataan Dafa sungguh membuat Gina terkejut.


"Awalnya Faza cuma ngerasa enggak enak hati aja karena nama dia di sandingin sama nama lo tapi malah elo yang kena imbasnya sedangkan hidup Faza malah fine-fine aja."


"Tapi setelah seminggu kemudian lo jadi muridnya Faza dan Faza juga enggak keberatan buat bantuin elo belajar. Semakin hari kedekatan kalian berdua semakin buat Faza tertarik sama lo, gue enggak tahu Faza tertarik sama lo itu dari bagian mananya tapi yang jelas Faza bilang sama gue kalo dia udah pengen ngungkapin perasaan dia sama lo. Itu artinya Faza udah cinta sama lo." akhir cerita Dafa.


"Tapi aku pernah liat layar HP bang Faza yang ada foto perempuan cantik, mungkin kalian salah, perempuan cantik di layar HP bang Faza mungkin kekasih bang Faza yang sebenarnya," ucap Gina dalam bahasa Indonesia membuat Dafa dan Lily membelalakan matanya.


"Hah, cewek cantik? Siapa?" tanya Dafa dan Lilly serentak.


"Tidak tau," sahut Gina.


Ada yang berkecamuk di dalam hati Gina. Entah apa, Gina tidak mengerti tapi mengetahui pernyataan Dafa tentang Faza yang menyukai dirinya membuat Gina merasa tidak sepenuhnya percaya.


Bayangan saat Faza tersenyum membuka layar handphonenya membuat Gina yakin bahwa wallpaper yang ada di layar handphone Faza adalah cinta Faza yang sebenarnya.


.......


.......


.......


...::: Bersambung :::...

__ADS_1


__ADS_2