
...Kediaman keluarga Sinaja...
Setelah makan malam Tania mengajak sang kakak untuk bersantai di halaman kolam, "Mana tangan lo, sini gue kompres." ucap Tania pada Aldy membuat Aldy memberikan kedua tangannya yang memar ke hadapan Tania.
"Satu-satu Kakakku tercinta," dengus Tania menepis tangan kiri Aldy dengan sangat kuat, wanita itu sengaja melakukannya.
"Aaww! Sakit kucing." ringis Aldy.
"Lebay," ucap Tania mulai mengompes tangan kanan sang kakak hingga di sela-sela mengompes, Tania mencoba untuk memberanikan diri bertanya dengan sang kakak.
"Kak," panggil Tania.
"Heemm." sahut Aldy seraya memainkan kakinya di air kolam yang hangat.
"Boleh gue tanya sekali lagi?" tanya Tania.
"Gue 'kan udah bilang ...."
"Bahkan Paman Boy juga sepemikiran sama gue, dendam apa sih yang buat lo sampai kayak gini," potong Tania membuat Aldy menarik tangannya dari genggaman Tania.
"Udah cukup, gue ngantuk." ucap Aldy hendak bangun dari tempat duduknya.
"Apa karena Leo?" tanya Tania membuat Aldy mengurungkan niatnya untuk pergi, adiknya itu memang mudah sekali peka.
"Gue udah enggak sama dia lagi tapi kenapa lo masih marah sama dia?" tanya Tania menatap kakaknya itu.
"Oke! Tania minta maaf karena udah pernah jadian sama Leo, Tania lebih milih dia dari pada Kak Aldy, Tania bener-bener bod*h, sekali lagi Tania minta maaf karena udah buat kak Aldy kecewa sama Tania." ucap Tania dengan serius.
"Ini enggak ada hubungannya sama lo, dia emang udah jadi musuh gue sejak Sa ...." Aldy menghentikan kata-katanya.
"Sejak apa?" tanya Tania penasaran membuat Aldy terlihat bingung untuk memberi jawabannya tapi ia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan agar tidak banyak pertanyaan yang akan Tania lontarkan nantinya.
"Lupain aja, mending sekarang lanjut obatin tangan Kakak." ucap Aldy mengarahkan tangan kirinya ke hadapan Tania.
"Kebiasaan lo, ngalihin pembicaraan waktu gue lagi mode penasaran parah," dengus Tania.
"Ayolah, ini belum lo kompres." ucap Aldy memasang raut wajah memelas.
"Bukannya lo tadi bilang cukup karena lo udah mulai ngantuk," sengit Tania menyipitkan matanya.
"Enggak jadi ngantuknya, ayo kompres lagi ya Adikku tercinta." ucap Aldy manja seraya mencolek dagunya genit.
"Jijik." ucap Tania namun tak urung wanita itu mulai mengompes tangan Aldy lagi.
..................
__ADS_1
...Kediaman Mahendra...
Leo menyuruh kedua sahabatnya untuk menginap di rumahnya karena sang mama sedang bertugas di rumah sakit Singapura, di dalam kamar, Diky sibuk dengan game mobile legend lalu Rio sibuk dengan bermain gitar sedangkan Leo sibuk dengan fikirannya sendiri yang mengetuk-ngetuk meja belajarnya.
"Lagi 'kan! Gue kefikiran dia lagi? Sekarang lagi apa ya dia?" batin Leo masih mengetuk meja belajarnya, perasaan yang tidak pernah Leo rasakan sebelumnya bahkan dengan Sasya sekalipun, kini Leo rasakan pada Tania yaitu gejolak rindu namun pria itu tidak menyadari perasaan itu.
"Apa gue chat dia aja ya? Tapi kalo enggak di balas percuma juga, dia 'kan masih marah sama gue," batin Leo dengan tatapan kosong. Lima menit kemudian pria itu berdiri dari kursi dan berjalan menuju kasurnya karena dirinya ingin mengambil handphonenya di sana.
"Oke google ciri-ciri penyesalan kerena menyakiti pasangan," bisik Leo pada mbah google, pria itu menyadari dirinya salah karena telah membuat Tania marah jadilah dirinya menyesali perbuatannya sendiri.
"Berikut adalah informasi dari ...." ucap mbah google membuat Rio dan Diky serentak menengok ke arah Leo.
"Anji*g! Malu-maluin aja nih google." umpat Leo dalam hati pasalnya selama ini Leo tidak pernah mencari informasi apapun di google.
"Tumben gue denger suara asisten google dari HP lo, lagi nyari apaan lo di google?" tanya Diky menyipitkan matanya penasaran.
"Nggak, gue cuma cari kunci gitar doang." elak Leo datar tapi bibir pria itu bergetar gugup, dan untungnya Rio dan Diky kembali sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, sehingga Leo bisa kembali membuka layar handphonenya untuk membaca apa yang ia cari tadi.
"Selalu menyangkal saat di tanya so'al perasaanmu, kamu tidak bisa berhenti muncul di depannya, Mencari cara agar bisa berbicara dengannya, mem ...." ucapan Leo berhenti kala ada dua kepala muncul dari samping bahu kiri dan kanannya, Leo melirik ke arah bahu kiri dan kanannya lalu ia mematikan layar handphonenya, setelah itu menarik kepala Diky dan Rio ke depan secara bersamaan hingga kedua kepala itu bertemu. Brugg! Begitu keras suara benturan kepala kedua sahabatnya itu.
"Akhh ...." ringis Diky dan Rio saling beradu, mereka berdua mengusap kasar kepala mereka yang terasa nyut-nyutan akibat sahabat laknatnya itu.
"Aghh! Kepala gue ada bintang." gumam Diky geregetan seraya mengusap kepalanya itu.
"Cie yang lagi mastiin hatinya sama Mbah google." goda Diky membelai dagu Leo tapi tangan satunya masih mengusap kasar kepalanya.
"Gila lo ya." sengit Leo menepis tangan Diky lalu pria itu memalingkan wajahnya ke bawah, ayolah! Dirinya benar-benar merasa malu.
"Ulululu! Mukanya berubah kayak kepiting rebus, kasian anak Mama malu ya, nak? Sini nak, Mama peluk." goda Diky lagi merentangkan kedua tangannya ingin memeluk Leo membuat Leo menampilkan raut wajah jijik.
"Jijik Anji*g." sentak Leo mengedik ngeri lalu mendorong Diky hingga terjatuh dari atas kasur. Dugg! Aw! Bersaman dengan suara tubuhnya yang jatuh, Diky berteriak kuat hingga Bahaha! Rio tertawa terbahak-bahak kala melihat penderitaan sahabatnya itu.
"Ketawa terus sampai puas." dengus Diky kesal merangkak hingga kembali duduk di atas ranjang Leo.
"Udah kali, Yo! Gak lucu lagi." sengit Diky kesal pada Rio, dengan susah payah Rio mencoba untuk berhenti tertawa.
"Huftt ... Sorry kelepasan." ucap Rio.
"Kembali ke topik utama, lo nyesel putus sama Tania?" tanya Diky langsung menatap pada Leo, pria itu memutar bola mata jengah karena menurutnya Diky telah salah bicara.
"Ralat, gue belum putus sama dia." ucap Leo datar.
"Cinta bertepuk sebelah tangan " ucap Rio menggelengkan kepalanya kasihan dengan sahabatnya itu.
"Tania 'kan udah nggak anggap lo pacar dia lagi, man!" ucap Diky tersenyum miring, ikut merasa kasihan dengan Leo.
__ADS_1
"Ck! Kalo Tania udah sekolah, gue bakal selesaiin semuanya sama dia," ucap Leo dengan penuh percaya diri sekali.
"Udah berapa kali lo deketin dia, emang respon gimana? Baik sama lo? Terus kalo misalnya urusan kalian udah selesai, lo mau apa?" tanya Diky
"Ya gue baikan lah sama Tania," ucap Leo dengan nada tinggi.
"Jujur deh, lo suka beneran ya sama Tania?" tanya Diky penasaran karena pria itu belum mendengar pengakuan Leo sedikitpun tentang perasaannya pada Tania.
"Gue ...."
"Gak usah di tutup-tutupin lagi lah, sikap lo itu udah bener-bener kelihatan banget takut kehilangan dia." ucap Rio membuat Leo mengerutkan dahinya.
"Gak jelas lo pada." ucap Leo masih saja mengelek atau dirinya malu untuk mengakui perasaannya?
"Ngaku aja deh lo," ucap Diky tapi Leo hanya diam saja tanpa menatap kedua sahabatnya itu.
"Benaran 'kan lo suka sama Tania!" goda Diky dengan wajah pura-pura serius.
"Gue ...."
"Alhamdulillah Ya Allah, engkau telah membukakan pintu hati sahabatku ini untuk tidak main wanita lagi!" ucap Diky dengan lantang membuat Leo langsung memukul kepala Diky.
"Maksud lo apa, ngomongin gue main sama cewek! Hah?" sentak Leo memelotot.
"Hais! Maksud gue bukan main cewek di atas ranj**g tapi lo 'kan cowok playboy." ucap Diky.
"Jadi lo beneran suka sama Tania?" tanya Rio untuk kesekian kalianya kedua sahabatnya itu penasaran.
"Gue juga nggak tahu! Gue suka perhatiin semua gerak-gerik dia yang menurut gue itu lucu tapi kadang buat gue kesel juga karena dia sering banget deket sama cowok lain apalagi sama si cupu Kenan. Jujur gue selalu ngerasa sepi kalo nggak ada dia padahal di deket gue ada lo berdua yang selalu ribut mulu, selama gue jauh dari dia, gue terus-terusan keingat tentang dia yang bawel, jutek, perhatian tapi juga suka marah kalo gue ada salah." ucap Leo tersenyum tipis mengingat tingkah-tingkah Tania yang menurutnya beda dari wanita lain.
"Pokoknya gue enggak tahu itu artinya apa, karena kalo di bilang itu cinta, gue sama Sasya dulu enggak kayak gitu." ucap Leo namun kedua sahabat Leo saling beradu pandang lalu mereka berdua tersenyum dan mengganggukan kepala ke arah Leo secara bersamaan.
"Selama ini nyokap sama bokap lo terlalu sibuk sama pekerjaan mereka sampai lo kurang perhatian mereka dan Sasya dateng di kehidupan kita, otomatis lo nyaman sama semua perhatian Sasya, setiap hari dia selalu ada buat lo jadi lo enggak pernah ngerasin kesepian." ucap Rio tersenyum tipis.
"Jadi gue sama Tania ...."
"Ya beda lah!" ucap Diky membuat Leo mengerutkan dahinya untuk berfikir keras.
.......
.......
.......
..... Bersambung .....
__ADS_1