
Karamel masuk ke dalam kamar untuk membangunkan suaminya yang masih tertidur pulas, "Sayang," panggil Karamel membuka gorden kamarnya hingga cahaya matahari yang baru saja terbit menerpa wajah Leo.
Leo semakin memejamkan matanya kala silau dengan cahaya matahari lalu Leo memutar tabuhnya memebalakangi cahaya itu.
"Mas, bangun dong." ucap Karamel berjalan ke arah suaminya lalu duduk di pinggiran ranjang samping suaminya.
"Weekend sayang," ucap Leo dengan suara berat khas orang baru bangun tidur.
"Tetap harus bangun pagi dong," ucap Karamel mengelus rambut Leo, sesekali mencengkeram kecil.
"Aku udah siapin sarapan buat kita, ayolah bangun dulu yuk." ajak Karamel membujuk dengan lembut namun Leo diam saja.
"Kayak mati suri aja susah banget di banguninnya, buruan bangun Mas." ucap Karamel lagi, haruskan setiap weekend suaminya itu malas bangun pagi!
"Masih ngantuk," lirih Leo tidak mau membuka matanya sedikitpun dan malah mengarahkan wajahnya ke arah Karamel.
Degg ....
"Udah nikah lama tapi masih aja terpesona sama muka suami," batin Karamel menelan salivanya kasar.
Karamel menggigit bibirnya ketika menatap wajah tenang suaminya, tangan yang tadinya mengelus rambut sang suami tiba-tiba bergerak membelai lembut rahang Leo lalu berpindah lagi, jari telunjuknya naik ke kening Leo dan menggerakkannya lurus hingga ke hidung mancung Leo.
Mata Karamel menatap intens bibir sang suami kemudian tangannya bergerak membelai bibir bawah Leo membuat di empunya tersenyum tipis.
"Apa kamu menikmatinya?" tanya Leo ketika tangan Karamel bergerak menyentuh leher Leo, tangan istrinya bisa nakal juga ternyata.
Karamel tersentak kaget dan hendak menyingkirkan tangannya dari leher Leo namun dirinya kalah cepat dengan Leo yang langsung menggenggam tangannya sembari membuka matanya menatap dalam manik mata Karamel.
"Sulit buat aku menahan diri biar enggak nyentuh kamu, tolong jangan buat aku menggila karena sentuhan tangan kamu." lirih Leo dengan wajah memelas, jika Karamel sadari jakun Leo naik turun karena menahan gejolak dalam dirinya.
Apakah dirinya terlalu berlebihan melarang suaminya untuk menyentuhnya padahal dokter mengatakan tidak mengapa jika ingin berhubungan badan asalkan harus melakukannya dengan sangat hati-hati dan jangan terlalu sering. Entahlah Karamel hanya merasa dirinya harus waspada terhadap suaminya yang bisa di bilang, seperti binatang buas jika sudah melakukan hubungan badan.
Karamel menggigit bibir bawahnya, "Maaf!!" ucap Karamel, yeah hanya kata itu yang bisa ia keluarkan.
"Lagi, kamu menggigit bibirmu." kesal Leo tak tertahan langsung bangkit dari tempat tidur membelakangi istrinya, sungguh menyiksa diri jika Leo harus menatap tingkah tanpa dosa istrinya itu.
Karemel terdiam lalu sedetik kemudian ia tersenyum tipis, "Ciuman panas di pagi hari, enggak terlalu buruk." goda Karamel membuat mata Leo hampir copot, apa-apaan istrinya itu. Menggoda dirinya kah? Cih, benar-benar istri licik.
"Apa itu sebuah tawaran?" tanya Leo tanpa menatap wajah istrinya, sejujurnya Leo berharap istrinya akan menjawab 'iya'
"Enggak tahu! Tiba-tiba aja aku mau ... hemp!" Karamel tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena sang suami lebih dulu membalikkan badannya dan langsung mencium habis bibirnya.
"Kamu yang minta, Kara." ucap Leo setelah melepaskan ciumannya dan berbisik di telinga Karamel sembari meniupnya juga.
Karamel melebarkan matanya kaget, "Mas ... hempp emp!" lagi-lagi Karamel tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena ulah suaminya yang lebih dulu menciumnya.
Seperti yang di tawarkan sang istri 'ciuman panas di pagi hari' Leo benar-benar melakukannya dengan penuh gairah. Karamel membalas ciuman Leo dengan lembut dan hangat, kedua tangannya pun sudah melingkar di leher Leo, sesekali jari-jemari Karamel mencengkeram rambut Leo membuat Leo darah Leo berdesir.
"Damn it!" umpatnya dalam hati ketika ada perasaan ingin meminta lebih dari sentuhan sang istri.
Leo melepas pangutannya dengan beralih menjelajahi leher sang istri hingga sang istri memejamkan matanya menikamti sentuhan bibir sang suami.
"Karamel, kapan kau dan suamimu akan turun?" pekik suara seorang pria tiba-tiba menghentikan kegiatan Leo dan Karamel.
Leo membulatkan matanya kaget, "Siapa itu?" tanya Leo dengan suara tinggi menatap istrinya yang juga merasa kaget.
Karamel menepuk jidatnya lupa dengan tamu yang sedang menunggu mereka di bawah sana, "Mending kita turun sarapan dulu ya, Mas." ucap Karamel tersenyum kaku, mata suami sudah memerah padam mungkin sedang menahan rasa kesal. Ah Karamel jadi gemas melihatnya.
"Aku enggak mau," ucap Leo melanjutkan kegiatannya mencium leher Karamel.
"Enggak baik tamu kita abaiin gitu aja, Mas." ucap Karamel berusaha mendorong tubuh sang suami namun Leo tak perduli.
"Ayolah Mas," rengek Karamel menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara de***an.
"Siapa dia?" tanya Leo dengan kesal menatap tajam istrinya.
"Makanya kita turun dulu, kamu bakal tahu siapa tamu kita." ucap Karamel menghela napas halus lalu memebelai rahang sang suami.
Cupp ....
"Nanti kita lanjutin lagi ya," ucap Karamel setelah mencium kilas bibir suaminya, dirinya harus membujuk suaminya agar tidak marah.
Wajah Leo di tekuk tak terima jika keinginannya di tunda, "Kompensasi," pinta Leo membuat Karamel menelan salivanya kaget.
"Aduh! Suami minta jatah nih." batin Karamel gelisah.
"Emang enggak apa-apa? Posisi aku lagi hamil loh, takutnya enggak bisa muasin kamu." alibi Karamel.
"Aku yang kendaliin." ucap Leo dengan tatapan penuh kemenangan kala setelah enam bulan menunggu, dirinya akan mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Ck! Emang selama ini siapa yang ngendaliin siapa," cibir Karamel jengkel.
Leo terkekeh kecil, memang selama ini dirinya yang selalu mengendalikan Karamel bahkan saat Karamel meminta ingin berada di atas Leo tapi Leo tidak pernah mengizinkannya, alasannya 'takut hilang kendali jika melihat pergerakkan sang istri yang se*si' bisa-bisa dirinya akan menjadi lebih buas dan bermain kasar.
"Jadi, kompensasinya!?" tanya Leo.
"Fine!" sahut Karamel pelan.
Bersama Leo dan Karamel turun dari tangga, Leo menatap pria yang tengah duduk di kursi ruang makan, sepertinya Leo tidak pernah melihat pria itu sebelumnya. Siapa dia?
"Ehem! Mas, kenalin ini ...."
"Akhirnya kalian turun juga, rasanya cacing-cacing di perutku sejak tadi berteriak ingin meminta di isi makanan-makanan lezat ini tapi kalian begitu lama sekali turunnya." celoteh pria itu yang tak lain dan tak bukan dia adalah sahabat lama Karamel yaitu Justin.
"Siapa kau?" tanya Leo dengan tatapan tajam.
"Aku? Perkenalkan aku adalah Justin, sahabat baik istrimu." ucap Justin mengulurkan tangannya di hadapan Leo namun Leo diam saja menatapi tangan itu tanpa ada niatan ingin menjabatnya.
"Jadi dia yang namanya Justin, sial!" umpat Leo masih merasa kesal karena pertama pria itu adalah sahabat dekat istrinya yang tidak ia sukai, kedua karena kehadirannya sudah merusak moment kemesraannya bersama istrinya tadi.
"Bisakah kamu jangan menunjukkan wajah angkuhmu, jabat tangannya sumaiku." bisik Karamel membuat Leo nendengus dan dengan terpaksa menjabat tangan Justin.
"Cleo Rendra Agata, suaminya Karamel Listra." ucap Leo menekankan kata suaminya Karamel.
"Benar-benar CEO Rendra," gumam Justin masih tidak percaya sahabatnya menikah dengan pengusaha hebat seperti Leo.
"Ya udah kita sarapan dulu yuk, keburu dingin nanti makanannya." ucap Karamel menuntun Lep agar duduk di kursinya.
"Dingin tinggal di panasin lagi," ucap Leo ketus, sungguh dirinya benar-benar merasa sangat kesal karena keinginannya tadi di tunda oleh sang istri.
"Jangan dengarkan suamiku, kita makan bersama sekarang." ucap Karamel pada Justin, seraya tangannya bergerak menuangkan masakannya di atas piring sang suami.
"Kalian sedang bertengkar?" tanya Justin kala menyadari sikap kesal Leo.
"Tidak ...."
"Entah kurcaci dari mana tiba-tiba saja mengganggu aktivitas orang lain," sindir Leo terhadap Justin membuat Karamel membulatkan matanya, sedangkan Justin sama sekali tidak paham dengan kata-kata Leo.
"Kurcaci? Apa itu?" tanya Justin menatap Karamel.
"Bukan apa-apa, suamiku hanya sembarangan bicara." sahut Karamel tersenyum kaku lalu mereka menyantap sarapan mereka.
"Luar biasa! Rasa dari masakan ini sangat luar biasa, kau memang benar-benar istri idaman, Kara." ucap Justin merasa kagum dengan sahabat baiknya yang bukan hanya berparas cantik namun juga jago dalam membuat masakkan enak.
"Jangan di puji, dia orangnya suka salah tingkah." ucap Leo menatap Karamel yang baru saja akan membalas kata-kata Justin.
"Sembarangan ih!" sahut Karamel ketus.
"Fakta! Barusan kamu mau jawab 'Ah, kamu terlalu berlebihan, itu cuma masakan sederhana aja kok.' bener enggak? Terus pake acara senyum-senyum malu segala, iya 'kan!?" ejek Leo dengan menampilan senyum mencemo'oh.
"Ih kok bisa tahu sih," batin Karamel menggigit jari suaminya, apakah suaminya itu bisa membaca fikiran orang lain, kenapa yang di katakan suaminya itu bisa sama persis dengan apa yang ingin ia sampaikan dengan Justin?
"Aw aw aw! Kara, gigi kamu tajem banget, sakit sakit sakit, sakit sayang!" teriak Leo mendorong kecil kepala Karamel hingga Karamel melepas gigitannya.
"Kamu ada keturunan vampir ya, nih lihat hampir bolong jari telunjuk aku." ucap Leo kala menatap bekas gigitan Karamel tercetak jelas di jari telunjuknya.
"Sukurin wlek !! Makanya jangan suka rese jadi orang." ucap Karamel dengan rasa kesal yang amat besar.
"Kamu ...."
"Diem enggak atau mau aku gigit lagi." ancam Karamel berhasil membuat Leo bungkam sedangkan Justin hanya bisa terkekeh melihat pertengkaran kecil pasangan suami-istri itu.
Setelah selesai sarapan Karamel mengajak Justin untuk duduk di ruang keluarga sedangkan Leo di paksa Karamel untuk membersihkan diri terlebih dahulu karena Karamel sudah lebih dulu mandi jam lima subuh tadi.
"You are happy with him?" tanya Justin mengarah ke hubungan Karamel dan Leo.
"Tentu, kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Karamel mengerutkan dahinya aneh.
"Wajah suamimu itu cuma beda tipis dariku, tidak heran aku bertanya apa kau bahagia dengannya atau tidak karena kau tahu sendiri wajah tampanku ini saja banyak yang menyukainya apalagi suamimu, pasti banyak sekali wanita yang tergila-gila dengannya." ucap Justin narsis abis namun ucapan Justin tidak ada yang salah, Leo memang banyak yang menyukainya.
"Kau benar Just!" batin Karamel.
Karamel menghela napas panjang, "Mau mendengar cerita?" tanya Karamel dan Justin menganggukkan kepalanya iya.
"Benar yang kau katakan, bukan hanya satu atau dua tapi aku sudah berhadapan dengan beberapa wanita yang sangat menyukai suamiku, mata mereka selalu menatap kagum suamiku." ucap Karamel.
"You must be tired! I mean yeah lelah menghadapi mereka semua." sahut Justin merasa kasihan dengan sahabatnya itu.
"Apa kau tahu salah satu wanita yang menyukai suamiku itu siapa?" ucap Karamel dengan raut wajah melas.
"Siapa? Apa seperti di film-film yang pernah aku lihat, sepupunya sendiri yang menyukainya?" tanya Justin berbicara demikian karena beberapa hari yang lalu dirinya menonton serial televisi Indosiar yang berhasil membuat emosinya naik turun.
"Suamiku tidak punya sepupu seorang wanita," ucap Karamel.
"Lalu siapa kalau bukan sepupunya?" tanya Justin.
"Wanita yang pernah tergila-gila denganmu, Zoeya An Blende," ucap Karamel seketika membuat Justin menganga tak percaya.
"What the f***!? Wanita sialan itu masih hidup?" pekik Justin langsung mendapatkan pukulan di keningnya oleh Karamel.
"Aw!" teriak Justin.
"Apa maksud dari ucapanmu itu, apa kau berharap dia sudah mati?" tanya Karamel.
"Wanita yang tidak punya harga diri lagi mendekati semua pria yang berparas tampan dan juga kaya, makhluk yang satu itu memang sudah sepantasnya di musnahkan." sahut Justin tanpa dosa.
"Jaga bicaramu Justin," ucap Karamel tidak suka sahabatnya berbicara kasar terhadap wanita.
"Ayolah! Kau berhadapan dengannya pasti kau juga sangat ingin membunuhnya bukan." ucap Justin membuat Karamel diam.
"Dulu aku mencampakkan bahkan mempermalukan makhluk itu di depan banyak orang sampai dia membenciku," gumam Justin mengungkit masa lalunya.
__ADS_1
"Jangan lupa aku yang membantumu dulu," sahut Karamel dan mereka berdua tertawa bersama.
"Just!" panggil Karamel dengan serius hingga Justin menoleh ke arahnya.
"Apa?" tanyanya mengerutkan dahinya.
"Suamiku cemburu denganmu," ucap Karamel jujur namun Justin tersenyum tipis.
"Aku tahu! Aku bisa melihat tatapan mata tidak sukanya tadi, tapi bukankah itu bagus? Itu artinya dia mencintaimu, iya 'kan." ucap Justin menggoda Karamel hingga kedua pipi Karamel merona di buatnya.
"Dia terlalu berlebihan cemburu denganku seakan-akan ada banyak pria yang tertarik danganku padahal yang selalu memendam rasa cemburu yang sangat besar itu adalah aku karena dia terlalu banyak wanita yang menyukainya." ucap Karamel membuka keluh kesahnya kepada sahabatnya
"Should I stay away from you?" tanya Justin.
"Kau ... untuk alasan apa kau menjauh dariku, kau adalah sahabatku Just." ucap Karamel fix menolak Justin untuk menjauh darinya.
"Kau ingat dulu saat kita pernah menjadi tawanan kelompok mafia? Aku meminta pada kelompok mafia itu untuk bunuh saja diriku dan berhentilah menyiksa dirimu tapi kau mengatakan hal yang sama seperti sekarang, 'Untuk alasan apa kau mati demi diriku, kau adalah sahabatku, Just' ya kita memang sahabatan tapi entah kenapa pandangan orang lain sangat berbeda tentang kita." ucap Justin dengan senyuman tampannya.
"Masa lalu yang pahit! Sudahlah jangan di bahas lagi dan jangan perdulikan orang lain, sampai kapanpun juga kita tetaplah sahabat, kecuali jika kau mengkhianati persahabatan kita maka kita tidak akan pernah saling mengenal lagi." ucap Karamel.
"Itu tidak akan pernah terjadi, Nona." sahut Justin.
"Ohiya sebentar lagi aku akan kembali ke Los Angeles, aku harap kau tidak akan bersedih karena aku meninggalkanmu." ucap Justin tersenyum jahil dan lagi-lagi Karamel memukul kening Justin.
"Aw!" pekik Justin.
"Kau kenapa suka sekali memukul keningku." ketus Justin kala pukulan Karamel sudah seperti laki-laki saja, sangat kuat dan menyakitkan.
"Ck! Selama ini ke mana saja dirimu? Memangnya kau selalu ada untukku?" tanya Karamel ketus.
"Aku? Aku selalu bersembunyi dari para makhluk mengerikan yang berwujud wanita," ucap Justin sembari mengedikkan bahunya merinding kala dirinya selalu di kejar-kejar para wanita.
Ting ....
Ting ....
Ting ....
"Sebentar," ucap Justin membuka layar handphonenya yang bergetar, Justin fokus membaca sesuatu dengan serius.
"Orang tua satu ini tidak pernah berhenti mengkhawatirkanku, memangnya aku anak kecil yang tidak bisa menjaga diri apa." oceh Justin mengetik sesuatu di layar handphonenya.
"Ada apa?" tanya Karamel penasaran.
"Aku tidak bisa lebih lama lagi di sini, Daddy menyuruhku untuk kembali ke apartemen sekarang." ucap Justin membuat raut wajah Karamel cemberut karena waktu pertemuan mereka sangatlah singkat.
"Jangan menampilkan raut wajah seperti itu, aku tidak suka melihatnya." ucap Justin merasa tidak enak hati jika Karamel menampilkan raut wajah cemberut.
"Bukankah delapan hari lagi Niky akan menikah? Aku di undang olehnya jadi kita akan bertemu lagi di hari itu." ucap Justin tersenyum lebar.
"Hem!" sahut Karamel menganggukkan kepalanya lalu Justin mengacak-acak kecil rambut Karamel sebelum Karamel mengantarkan Justin ke depan pintu.
.........
Setelah Justin pulang, Karamel kembali duduk di sofa ruang keluarga menunggu sang suami yang entah kapan akan turunnya, sudah lebih dari 30 menit suaminya itu tidak turun-turun juga.
"Kok lama ya," gumam Karamel menoleh ke arah tangga, di mana suaminya tak kunjung turun juga.
"Jangan-jangan suami ngambek lagi." gumam Karamel memijat pelipisnya, punya suami kok gini amat ya.
Karamel melangkahkan kakinya untuk menaiki tangga, hati yang tadinya gembira karena bertemu dengan sahabat lama kini sudah berubah menjadi rasa kesal kala sebentar lagi suaminya itu pasti akan bertingkah seperti anak kecil. Contohnya ngambek atau pura-pura marah mungkin.
"Mas," panggil Karamel ketika membuka knop pintu kamarnya. Hening, tidak ada suaminya di dalam sana kemduaian Karamel berjalan menuju kamar mandi, mungkin suaminya sedang berendam.
"Mas, kamu ada di mana?" panggil Karamel membuka pintu kamar mandi namun suaminya tetap tidak ada di dalam sana juga.
"Kalo enggak ada di kamar terus suami ada di mana dong?" gumam Karamel berfikir sejenak, di manakah suminya itu sekarang?
"Sayang, kamu ada di kamar ya? Bisa bantu aku enggak?" pekik Leo dari dalam walk-in closet, Karamel menoleh dan berjalan menuju sumber suara suaminya itu.
"Bantu apa?" tanya Karamel ketika berada di belakang suaminya yang belum berpakaian dan masih terlilit handuk di bagian pinggangnya.
Leo menggerakkan kepalanya ke arah kiri namun tidak sampai menoleh ke arah istrinya, sudut bibir sebelah kenannya naik ke atas menandakan penantiannya tidaklah sia-sia.
"Sahabat kamu masih ada di bawah?" tanya Leo tidak mau menyebutkan namanya siapa.
"Justin? Udah pulang dari sepuluh menit yang lalu." sahut Karamel dengan nada yang ketus, senyum Leo mengembang senang lalu dirinya membalikkan badannya menghadap sang istri.
Deg ... Glukk!!
"Astaga! Jantung gue." batin Karamel merasa penampilan suaminya yang sekarang sangat tampan, ah tidak tidak suaminya memang selalu tampan disetiap harinya.
Leo sengaja tidak mengeringkan rambutnya hingga tetesan air yang jatuh dari ujung rambutnya membasahi wajah maupun tubuhnya, Leo tersenyum miring lalu melangkahkan kakinya pelan mendekati sang istri yang tampak memalingkan matanya agar tidak melihat roti sobek miliknya.
"Kenapa kalo dia udah pulang? Kamu sedih! Hem?' tanya Leo membuat Karamel yang melihat langkah kaki suaminya yang mendekat, dirinya menggerakkan kakinya untuk mundur pula.
"Pertanyaan bod*h," sahut Karamel entah kenapa dirinya tidak berani mendongakkan kepalanya menatap wajah sang suami, mungkin karena suaminya sangat mempesona.
"Terus kenapa ngomongnya ketus gitu! Hem?" tanya Leo tidak menghentikan langkah kakinya untuk mendekat bahkan matanya ia tujukan sepenuhnya ke arah istrinya yang sedang menunduk dalam.
"Biasa aja," sahut Karamel sembari memeluk perutnya yang buncit. suara suaminya sangat berat, terdengar aneh di telinganya.
"Aku nungguin kamu di sini lama banget loh sayang hhh." Leo sengaja mengeluarkan suara de***an kecil hingga Karamel memejamkan matanya merasa ada getaran aneh dalam dirinya.
Karamel membuka matanya lebar ketika punggungnya menabrak lemari pakaian, refleks Karamel mengangkat kepalanya menatap wajah sang suami yang sedang tersenyum miring.
"Mas, ka-kamu ...."
"Kompensasi," ucap Leo menggerakkan jari-jemarinya untuk membelai tangan sang istri dan tangan satunya lagi membelai pipi sang istri.
Degg ....
Jantung Karamel berdebar cepat, "Bolehkan sekarang," pinta Leo mengecup kilas bibir sang istri hingga refleks Karamel memejamkan matanya.
Setelah itu Karamel membuka matanya hingga kedua mata pasangan suami-istri itu saling memandang satu sama lain. Mata penuh kelembutan yang tidak pernah Leo tunjukkan pada orang lain selain pada Karamel membuat Karamel terpana saat melihatnya.
Jantung Karamel berdebar sangat cepat, belum genap satu tahun mereka menikah tapi rasa malu saat bertatap muka dengan suaminya tidak bisa hilang dari dirinya.
Karamel memejamkan matanya tidak tahan menatap lebih lama lagi mata indah milik suaminya, bisa-bisa pipinya akan merona jika di pandang lama oleh suaminya namun Leo menanggapi berbeda, ia mengira istrinya memejamkan mata karena ingin di beri kehangatan juga.
Tanpa fikir panjang Leo medaratkan bibirnya pada bibir Karamel membuat Karamel membulatkan matanya kaget, Leo me****t habis bibir se*si itu, tangan kanannya menarik kedua tangan Karamel ke atas kepalanya lalu tangan satunya lagi ia tempatkan ke leher belakang Karamel.
Leo memperdalam ciumannya lalu tangannya ia alihkan ke pinggang Karamel, di belainya pinggang itu hingga membuat Karamel terbuai olehnya dan membalas ciuman suaminya.
Leo melepasnya tangannya yang mengunci kedua tangan istrinya di atas kepala tadi dan dalam sekejap tangan Karamel ia lingkarkan di leher Leo.
"Kamu juga mau 'kan Sayang," batin Leo bersorak senang kala istrinya tidak menolaknya kali ini.
Leo melepaskan bibirnya dari bibir Karamel namun bibir itu ia alihkan ke leher Karamel membuat Karamel menggigit bibir bawahnya menikmati sentuhan nakal suaminya itu.
"What do you want Karamel Listra?" tanya Leo tidak melepas cumbuannya di leher Karamel bahkan kini salah satu tangan Leo sudah masuk ke dalam baju Karamel.
Leo ingin memancing gairah istrinya, Leo sangat menginginkan istrinya memohon dengan lirih meminta lebih dari sentuhannya.
"Mas, aku ...." napas Karamel di buat naik turun tak karuan, sudah enam bulan lamanya Leo tidak menyentuh Karamel, mungkin benar Karamel merindukan cumbuan dan belaian tangan suaminya, terbukti dirinya kini sangat menikmati bahkan ada rasa ingin meminta lebih dari belaian suaminya.
Ting nong ....
"Mas hhh ...." panggil Karamel kala telinganya mendengar suara bel rumah mereka berbunyi.
"Hem!" sahut Leo mengira istrinya akan memohon kepadanya.
Ting nong ....
"Mas itu hhh ...." susah rasanya berbicara tanpa menguarkan de***an, tangan suaminya terlalu licin menyentuh bagian-bagian sensitifnya.
"Katakan sayang hhh." ucap Leo menggoda istrinya hingga Karamel tidak tahan lagi, terpaksa tangannya menggenggam erat tangan suaminya yang hendak menyentuh bagian bawahannya.
Leo menatap tangan itu sebelum dirinya menatap istrinya dengan tanda tanya, "Ada apa sayang?" tanya Leo dengan tatapan penuh gairah, jangan katakan istrinya akan menolak dirinya. Sungguh Leo akan menjadi frustasi jika benar istrinya membatalkan keinginannya.
Ting nong....
Ting nong....
Ting nong....
"Kayaknya Justin balik lagi deh," ucap Karamel dengan raut wajah kikuk.
"Apa?" tanya Leo sembari memelotot kaget, jangan katakan istrinya itu lebih memilih untuk menemui sahabatnya dari pada harus memenuhi kebutuhan biologis suaminya.
"Tamu adalah raja, Mas." ucap Karamel hendak pergi, sebenarnya Karamel kasihan suaminya itu sudah sangat ingin bercinta dengannya namun mau bagaimana lagi, Karamel juga tidak sampai hati mengabaikan tamu yang sedang menunggu.
"Coba aja keluar dari sini, aku bakal patahin kaki sahabat kamu itu," ancam Leo serius. Ayolah dirinya sedang ingin bercinta, kenapa harus ada pengganggu.
Ting nong ....
Ting nong ....
Bel rumah mereka tidak berhenti berbunyi, sesekali belnya di pencet cepat menandakan tamu mereka merasa kesal kala pemilik rumahnya tak kunjung msmbukakan pintu.
"Enggak baik kita biarin tamu nunggu lama di luar," ucap Karamel membuat Leo menatap tajam istrinya itu.
"Sebentar aja ya," bujuk Karamel kukuh memasang raut wajah melas dan Leo menghela napas lalu memutar tubuhnya membelakangi Karamel. tidak bisa, Leo sungguh tidak bisa melihat raut wajah menggemaskan istrinya.
"Tunggu di luar, kita turun bareng." ucap Leo mengalah lalu Karamel keluar dari walk-in closet, menunggu suaminya yang ingin turun bersamanya juga.
.........
Leo dan Karamel turun tangga bersama menuju ruang tamu, Leo menyuruh Karamel untuk duduk karena dirinya yang akan membukakan pintu.
Ketika pintu telah terbuka lebar, pelukkan yang begitu tiba-tiba membuat Leo tersenak kaget, siapa orang yang berani memeluknya?
"Yo! Apa kabar sayangku, cintaku," ucapnya membuat Karamel membulatkan matanya kaget, seorang pria tampan datang ke rumah mereka namun dirinya seorang.
Gay ....??
Karamel rasanya ingin mual saat mendengar seorang pria memanggil suaminya dengan panggilan sayang, apalagi suaranya terdengar mesra sekali.
"Gila lo!" bentak Leo memberontak namun pria itu mengeratkan pelukkannya hingga Leo terbatuk-batuk di buatnya.
"As* mati gue, Lep-as!" Leo menepuk punggung pria itu dengan keras, Karamel merasa kasihan namun dirinya tidak mau mengganggu moment mesra mereka.
__ADS_1
"I miss you baby, muah!" ucapnya mencium kasar kepala Leo membuat Leo dan Karamel terbelalak namun setelahnya Karamel terkekeh dibuatnya.
Bugg ....
Leo menginjak kaki pria itu sampai pelukkan mereka terlepas dan pria itu meringis kesakitan.
"Akh, sayangku kasar!" umpatnya membuat Karamel tersenyum lebar, suaminya sudah murka tapi pria itu masih memanggilnya dengan mesra. Sunggug berani!
Ternyata bukan hanya wanita saja yang mengagumi suaminya tapi seorang pria juga bisa sangat mengagumi suaminya. Jika itu wanita, Karamel pasti akan merasa cemburu dan marah namun jika itu pria, entah kenapa Karamel merasa senang dan terhibur.
"Jaga mulut lo ya atau gue bungkam tu mulut," ancam Leo menunjuk pria itu, Leo malu di depan istrinya ada seorang pria memanggilnya dengan panggilan 'sayang'
"Yuk sekalian kita main di kamar," ajaknya malah menggoda Leo membuat mulut Karamel menganga gemas dengan tingkah pria itu.
"Pulang gih," usir Leo malas.
"Sayangku kejam!" ucapnya malah duduk di sofa, mata pria itu langsung bertemu dengan mata Karamel yang tersenyum lebar ke arahnya.
Matanya mengerjap beberapa kali, "Cantik!" gumamnya menatap Karamel dangan mata lebarnya.
"Jangan sampai tu mata gue cabut dari tempatnya." peringatan Leo berhasil membuat pria itu menatap malas ke arah Leo yang berjalan mendekati Karamel.
"Kareml Listra ya?" tanyanya dan Karamel menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Kenalin nama gue ...."
"Keisha Sam Blende," potong Leo duduk di sofa menghadap pria yang bernama Keisha itu.
"So Sweet! Nama gue pasti berkesan banget di hati seorang Cleo Rendra Agata, iya 'kan." ucap Keisha bertingkah seperti seorang wanita, Leo jijik sekaligus muak namun memang begitulah sikap Keisha terhadap dirinya.
"Kesan lo di hidup gue enggak ada yang menyenangkan," desis Leo malas.
Karamel mengerutkan dahinya, "Jadi dia anaknya Tuan Blende?" tanya Karamel pada suaminya.
"Aaaa! Pasti Leo sering ya cerita tentang gue," sambar Keisha membuat Leo melepas sendalnya lalu melemparkannya tepat mengenai kepala Keisha.
"Aw, kasar!" umpatnya mengelus-elus kepalanya.
"Mending lo pulang gih, urus adek lo yang sombong itu." usir Leo benar-benar hilang kesabaran menghadapi teman lamanya itu.
Seketika wajah Keisha berubah datar, dan itu membuat Karamel menaikkan sebelah alisnya aneh.
"Ngerusak mood gue aja lo, dia bukan adek gue, sampai kapanpun dia enggak akan pernah jadi adek gue." ucapnya tegas.
"Asal lo tahu, dia udah berani ngehina Karamel di depan mata gue dan gue mau lo yang bales rasa sakit hati Karamel." pinta Leo dengan serius.
Keisha tersenyum sinis, "Gimana menurut lo kalo gue buat dia di hina juga sama semua orang?" tanya Keisha memberikan saran, mungkin saja Leo setuju.
Leo menatap Karamel, "Kamu setuju, sayang?" tanya Leo menyerahkan keputusan kepada sang istr. Karamel menatap Leo tanpa ekspresi, mereka sedang membahas so'al Zoeya namun Karamel tidak sampai hati membuat Zoeya di hina semua orang. Dirinya tahu penderitaan Zoeya saat masih bersama ayah kandungnya dulu, Karamel dan Kenzi pernah menyelidiki segalanya tentang Zoeya.
"Aku enggak setuju, itu terlalu berlebihan." sahut Karamel membuat Keisha mengerutkan dahinya aneh, biasanya seorang wanita yang sudah bersuami memiliki dendam besar jika ada wanita lain yang menginginkan suaminya dan pastinya akan membalas dendam bukan? Tapi kenapa Karamel tidak setuju dengan sarannya?
"Aku enggak terlalu perduli sama dia." ucap Karamel datar.
"Tapi kalo enggak di kasih hukuman, dia bisa ganggu kehidupan kalian." sahut Keisha.
"Seperti yang suami gue omongin tadi, lo bisa bales rasa sakit hati gue tapi dengan cara yang simpel." ucap Karamel, dan Keisha penasaran bagaimana caranya?
"Lo pewaris Tuan Blende sesungguhnya 'kan? sebagian besar harta warisan pasti bakal jadi milik lo dan anggap aja Zoeya cuma numpang di rumah lo, dia enggak akan bisa macem-macem karena lo bisa buat dia di usir dari tempat lo, Zoeya takut sama yang namanya kemiskinan." ucap Karamel membuat Keisha tersenyum lebar.
Ide cemerlang, Keisha maupun Leo tidak sampai memikirkan hal itu, memang benar Zoeya takut dengan yang namanya kemiskinan dan saran Karamel barusan berhasil membuat kedua pria itu mengangguk-anggukkan kepala 'masuk akal' juga.
"Bini lo udah cantik cerdik lagi, idaman gue banget ini mah," ucap Keisha langsung mendapatkan tatapan tajam dari Leo.
"Biasa aja!" sahut Karamel tersenyum manis tapi ada rona merah di pipinya.
Pagi ini sudah dua pria yang memuji Karamel sebagai 'istri idaman' dan itu membuat Karamel menjadi salah tingkah, oh apakah ini benar bawaan bayi? Kenapa Leo tidak tahan melihat istrinya tersenyum pada pria lain.
"Udah saltingnya?" tanya Leo membuat Karamel memanyunkan bibirnya, karena suaminya menatap tajam dirinya.
"Galak ih sayangku ... eh maksudnya mantan sayangku," ucap Keisha menatap ke arah Karamel.
"Maksud lo?" tanya Leo kala melihat tatapan Keisha melekat pada istrinya.
"Udah ada penggantinya dong, Karamel sayangku muah." ucap Keisha memberi sun jauh pada istri Leo, tanpa Keisha sadari Leo sedang menatap tajam dirinya dengan tangan yang terkepal kuat.
"Kei-Keisha, mending lo pulang dulu deh. Besok besok ke sini lagi." ucap Karamel bukan niatnya untuk mengusir Keisha tapi dirinya tahu suaminya sedang menahan amarah kala Keisha berani memanggilnya sayang bahkan memberinya sun jauh pula, Karamel hanya ingin menyelamatkan nyawa Keisha.
"Oke sayangku!" ucap Keisha, dan Leo membulatkan matanya tak percaya teman lamanya langsung patuh dengan perintah istrinya.
"Lo ...."
"Mas, udah ya. Biarin Keisha pulang dulu." ucap Karamel melarang Leo bicara, dia tahu suaminya pasti akan mengajak Keisha berdebat.
"Cie, mantan sayangku cemburu," goda Keisha seraya bangit dari tepat duduknya, hendak kabur karena Leo sudah menatapnya dengan tajam.
"Kei," pekik Karamel menutup mata suaminya.
"Oke oke, gue pergi sekarang." ucap Keisha langsung berjalan keluar rumah, Keisha menyadari Leo pasti akan membuat wajahnya bonyok jika berlama-lama menggoda teman lamanya.
Leo menurunkan tangan Karamel, "Berusaha buat nyelamatin cowok lain ya," ucap Leo tersenyum lebar kepada istrinya namun senyuman itu lebih ke menyeramkan, Leo cemburu bercampur marah namun dirinya tidak bisa untuk melupakannya pada sang istri.
"Takut aja jiwa polar prince bangkit tiba-tiba," sindir Karamel sinis lalu meninggalkan suaminya begitu saja.
"Ck! Untung sayang," gumam Leo kesal sendiri karena istrinya seakan-akan mengacuhkannya.
.........
...Malaysia....
"Aku malas keluar, jangan paksa aku." ucap Alleta menolak Faza yang sejak tadi mengajaknya untuk jalan-jalan keluar.
"Tapi aku tetap akan memaksa," ucap Faza tidak perduli dengan penolakan Alleta, wanita itu susah sekali di ajak keluar rumah, karena sudah terlalu nyaman diam di rumahnya mungkin.
"Bukankah selama ini aku yang suka memaksamu lalu kenapa hari ini kamu berperan menjadi diriku?" tanya Alleta membuat Santi geleng-geleng kepala akan tingkah mereka.
"Entahlah! Aku bosan di rumah." ucap Faza beralibi agar Alleta mau menemaninya keluar.
"Ya sudah keluar sana," ucap Alleta fokus pada televisi, masa bodo dengan Faza yang kukuh memaksa dirinya.
Faza mendekatkan kepalanya di telinga Alleta membuat Alleta kaget namun saat mendengar bisikkan Faza, Alleta mengerutkan dahinya aneh.
"Dia mengajak ...."
"Ehem! Bisa kita bahas di mobil saja nanti," pinta Faza menghentikan Alleta bicara, Santi memalingkan matanya pura-pura tidak mendengar padahal dirinya sedikit penasaran.
"Oke tapi dengan syarat, malam ini bacakan dongeng untukku." Alleta sengaja meminta syarat aneh agar Faza menolaknya.
"Kamu bukan anak kecil lagi, Elle." tentu Faza tidak akan mau membacakan dongeng, Santi terkekeh melihat wajah anaknya yang di tekuk.
"Iya atau tidak?" tanya Alleta menaik turunkan alisnya.
"Sialan ni cewek!" batin Faza.
"Baiklah tapi hanya untuk malam ini saja." ucap Faza pasrah lalu berjalan duluan meninggalkan Alleta yang memanyunkan bibirnya malas karena Faza tidak menolaknya.
"Maaf Bibi tapi anak Bibi benar-benar menyebalkan," ucap Alleta jujur namun Santi hanya tersenyum sembari mengedikkan bahunya tidak tahu.
Alleta menyusul Faza yang sudah berada di dalam mobil, "Di mana tempatnya?" tanya Alleta ketika sudah masuk mobil Faza.
"Sejak kejadian di hati jum'at kemarin dia terus saja mencariku," ucap Faza membuat Alleta memutar bola mata malas karena semalam dirinya mendengar kata-kata yang sama dari mulut Faza.
"Dan hari ini dia ingin bertemu di tempat biasanya, di cafe." ucap Faza.
"Temui saja dia," ucap Alleta santai.
"Yang aku fikirkan, bagaimana jika dia mengajakku bertemu karena dia ingin menyatakan cintanya." ucap Faza membuat Alleta mengerutkan dahinya.
"Percaya diri sekali anda, Tuan Bramasta." cibir Alleta menyilang kedua tangannya di perut.
"Laki-laki di tolak perempuan itu wajar tapi kalo perempuan di tolak laki-laki ... ah perasaan perempuan itu lemah, bisa-bisa nanti Gina nangis lagi." gumam Faza ketularan Leo, naris abis.
"Ck! Kamu normal 'kan?" tanya Alleta tiba-tiba membuat Faza membulatkan matanya.
"Maksudmu?" tanya Faza berteriak.
"Kamu tidak suka sesama jenis 'kan?" tanya Alleta membuat Faza mengeram mendadak lalu Faza menyentil kening Alleta.
"Ak! Kamu ...."
"Jangan karena aku tidak memiliki perasaan apa-apa dengan Gina, kamu jadi berfikir aku adalah gay, aku laki-laki normal sangat sangat normal!" ucap Faza tegas lalu Alleta menepuk lengan Faza pelan.
"Aku mengerti tapi ...." Alleta tersenyum lebar lalu menghala napas panjang.
"Haruskah kamu memukul keningku, aku hanya bertanya bukan menuduhmu," pekik Alleta untuk pertama kalinya membuat Faza tersentak namun.
"Pftt !!!" Faza terkekeh, wajah Alleta memerah padam, ia tahu Alleta kesal namun wajah kepitingnya terlihat menggemaskan.
"Kamu tertawa?" Alleta menganga.
"Wajahmu memerah," ucap Faza tersenyum miring menggoda Alleta lalu menajalankan mobilnya, Alleta membulatkan matanya tak percaya, sejak kapan wajahnya bisa memerah? Walau dirinya sedang marah besar sekalipun, tidak pernah sekalipun wajahnya berubah merah.
Alleta menyentuh kedua pipinya, "Benarkah?" tanya Alleta masih dengan mata lebarnya.
Faza menoleh sekilas, "Aku bisa membantumu meniup pipimu jika kamu mau." ucap Faza menahan diri agar tidak tersenyum.
"Ck! Berengs*k." ucap Alleta memalingkan kepalanya ke luar jendela, Alleta tahu Faza sengaja menggodanya. Wanita ini cukup peka, Faza sampai tersenyum tipis di buatnya.
"Tapi tampan 'kan." ucapan itu keluar begitu saja tanpa bisa Faza cegah, wanita jutek seperti Alleta tidak akan mudah di goda jadi Faza bisa santai berbicara dengannya.
"Cih! Sayangnya aku tidak menyukaimu, Bramasta." ucap Alleta membuat Faza mengerutkan dahi khas orang sedang berfikir.
Alleta benar-benar berkata jujur, wanita itu tidak suka pria berengs*k yang suka penggoda, dan beberapa menit yang lalu Faza berusaha menggodanya bukan!?
"A challenge!" batin Faza menyipitkan matanya merasa tertantang dengan kata-kata Alleta barusan.
.
.
.
__ADS_1
::: Bersambung :::
Seblum baca, ingat Vote sama Hadiah dulu ya. Komen dan like juga biar thor semangat update.