Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Greydon Kecil


__ADS_3

...Delapan tahun kemudian _ Irlandia....


"Udah cukup aku sama kamu yang jadi pendosa, aku enggak mau Greydon juga ikut sesat kayak kita berdua, Mas." bentak Karamel membanting pintu saat Leo dan Jeffry sedang membahas so'al masa depan Greydon.


"Aku enggak mau Greydon masuk dunia gelap, dia enggak boleh masuk ke dunia gelap," bentak Karamel dengan sangat lantang.


"Sayang, kamu ...."


"Maaf, aku denger semua obrolan kalian berdua tadi," ucap Karamel merasa kecewa dengan suaminya yang diam-diam ingin menjadikan Greydon sebagai penerus dari pimpinan mafia Vic's Bloody Wolf milik suaminya.


"Kara ...."


"Setelah kejadian aku bunuh kedelapan anak buah Zayn, kamu jelas tahu mental aku berubah jadi lemah dan kemungkinan sebentar lagi kamu bakal kehilangan istri kamu yang waras, Mas." ancam Karamel membuat Leo dan Jeffry terkejut.


Semenjak Karamel membunuh kedelapan anak buah Zayn, mental wanita itu menjadi lebih menurun. Jika wanita itu melihat darah yang begitu banyak, kepala wanita itu akan menjadi kunang-kunang, bayangan-bayangan mengerikan saat ia membunuh kedelapan anak buah Zayn menghantui fikirannya bahkan Karamel bisa pingsan sampai tiga hari tiga malam di buatnya.


Selama delapan tahun ini, Karamel rutin pergi ke psikiater untuk membantu menghilangkan traumanya selama ini tapi jika Karamel tidak berobat, akibatnya mental Karamel akan semakin menurun dan kemungkinan besar bisa menjadi gila.


"Enggak Kara, kamu jangan ngomong kayak gitu," bentak Leo seraya berlari menghampiri Karamel dan memeluk istrinya dengan penuh penyesalan.


"Aku enggak akan bisa sembuh, Mas. Kalo Greydon masuk dunia gelap, dia pasti bakal jauh dari aku karena dia bakal sibuk sama dunia gelapnya sedangkan aku, aku udah enggak bisa masuk dunia gelap lagi." ucap Karamel lirih.


"Kamu pasti bisa sembuh, sayang." ucap Leo mengecup sayang puncak kepala istrinya.


"Mommy," panggil anak kecil dari balik pintu mengintip adegan Leo dan Karamel membuat kedua orang itu bahkan Jeffry terkejut, segera Karamel dan Leo melepaskan pelukan mereka.


"Greydon," panggil Karamel setelah menghapus air matanya lalu ia menghadap putranya.


Sudah berapa kali Greydon di ajarkan untuk memanggil Karamel dan Leo dengan panggilan Mama–Papa tapi bocah itu tidak mau dan terus saja memanggil kedua orang tuanya dengan panggilan Mom and Dad karena grandpanya yaitu Sanjaya memanggil grandpapa-nya yaitu Berrold dengan panggilan Daddy, alhasil bocah itu ikut-ikutan seperti grandpanya.


"What happened, Mom?" tanya Greydon membuka pintu dan menatap ibu dan ayahnya dengan angkuh.


"You crying again?" tanya Greydon membuat hati Karamel tersentil kala mendengar kata-kata 'Again' keluar dari mulut anaknya, itu artinya Greydon sering melihat Karamel menangis.


"Tidak ada apa-apa, sayang," ucap Karamel mendekati Greydon sehingga Greydon berlari ke arah Karamel dan berakhir di gendongan ibunya.


"What is the dark world?" tanya Greydon kini menatap ayahnya dengan tatapan menantang, sehingga Leo dan Karamel saling pandang satu sama lain.


"Sayang ...."


"Kalian sering membahas dunia gelap sampai membuat my mom menangis," ucap Greydon menatap Leo dan Jeffry secara bergantian, anak usia delapan tahun itu tidak suka melihat ibunya menangis karena ulah ayah dan pamannya itu.


"Jangan buat my Mom menangis, Dad!" ucap Greydon melingkarkan tangannya ke leher Karamel.


"Aku akan mengenal dunia gelap itu untukmu Dad tapi aku tidak akan masuk ke dunia gelap karena apa yang tidak di inginkan my mom, tidak akan pernah aku lakukan." ucap Greydon membuat Jeffry mengerjapkan matanya beberapa kali.


Ajaran grandpa Berrold benar-benar patut di acungi ribuan jempol, anak berusia delapan tahun seperti Greydon sangat tidak masuk akal sekali bisa berbicara selugas itu dengan kedua orang tuanya. Begitulah yang di fikirkan Jeffry saat ini!


"Siapa yang mengajarimu berbicara seperti itu, Gresald?" tanya Leo santai namun tatapan mata pria itu mengintimidasi putranya itu hingga membuat tubuh Greydon sedikit bergetar, anak kecil itu akan selalu merasa takut pada ayahnya.


Leo akan memanggil putranya dengan panggilan 'Gresald' jika sedang dalam mode serius ataupun marah.


"Mommy," rengek Greydon dengan mata menggenang seraya ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Karamel.


"Ck! Dasar cengeng," ejek Leo langsung keluar dari ruang kerjanya itu, pria berusia 30 tahun itu tidak sadar bahwa masa kecilnya dulu sama cengengnya seperti Greydon.


"Daddy sudah pergi, sayang. Jangan menangis oke," ucap Karamel pada Greydon yang hampir akan menangis.


"Daddy lebih menakutkan dari Grandpapa," ucap Greydon membuat Jeffry terkekeh karena mendengar kejujuran bocah itu.


Bagaimana tidak Greydon mengatakan Leo lebih kejam dari pada Berrold, bocah itu sudah beberapa kali mendapatkan hukuman di kurung di gudang dalam keadaan lampu di matikan oleh Leo karena kenakalan Greydon yang selalu membuat pujaan hati Leo yaitu Karamel sakit kepala di setiap saatnya.


Sedangkan Berrold selalu memberikan perhatian penuh pada cicitnya itu, walau tak jarang juga setelah Greydon puas bermain-main, bocah itu akan di desak oleh Berrold untuk belajar bela diri.


"Di mana Grandpapa?" tanya Karamel.


Ada cerita di mana saat usia Greydon menginjak ke tujuh tahun, bocah itu harusnya sudah mengenal lingkungan sekolah tapi sayangnya tujuh bulan yang lalu Greydon baru mengenal lingkungan sekolah.


Alasan ada pada kedua orang tua Leo dan Karamel. Ya, Prasetya dan juga Sanjaya selalu berebut untuk mendapatkan putra mereka tinggal di tempat mereka, di mana itu Prasetya ingin Greydon tinggal di Singapura sedangkan yang diinginkan Sanjaya adalah Greydon tinggal di Amerika.


Alhasil Greydon telat sekolah selama satu tahun.


Sejak kejadian itu, Berrold memutuskan untuk tinggal di kastil bersama keluarga kecil Karamel dan Leo, agar di antara Prasetya maupun Sanjaya tidak ada yang berani menarik ulur cicitnya sampai memperhambat pendidikan cicitnya.


"Dorr," jawab Greydon membuat Karamel dan Jeffry tersenyum tipis, mereka paham dengan kata dorr itu, Berrold kini tengah berada di ruang latihan, memainkan senjata api untuk melampiaskan kerinduannya terhadap almarhumah sang istri.


.........


Ke keesokkan harinya Greydon pulang sekolah dengan keadaan sedih bahkan air mata bocah kecil itu jatuh walau hanya sedikit, Karamel yang baru saja turun dari tangga menatap aneh putra kecilnya itu.


Karamel menatap Emily seperti meminta jawaban ada apa dengan putra kecilnya itu namun Emily menggelengkan kepalanya tidak tahu, karena saat Emily dan supir pribadi yang sering mengantar jemput Greydon datang ke sekolahan untuk menjemput Greydon tadi, raut muka bocah itu sudah terlihat sedih.


"Salam Sayang," ucap Karamel membuat Greydon tersentak kaget kemudian bocah itu cepat-cepat menghapus air matanya.


"Assalamualaikum, Mom," ucap Greydon berlari ke arah Karamel lalu melompat hingga masuk ke dalam gendongan Karamel. Cup! Bocah itu mencium pipi Karamel lalu. Cup! Bocah itu beralih mencium kening ibunya, itu memang sudah meniadi kebiasaan bocah itu.


"Wa'alaikumus salam, jagoan mommy," Karamel membalas salam putranya.


"Jagoan Mommy menangis?" tanya Karamel.


"Tidak ...."


"Apa komitmen Opa sama Oma Ramo?" tanya Karamel membuat Greydon menundukkan kepalanya.


"Maaf," lirih Greydon karena dirinya hendak berbohong padahal sang ibu sering mengatakan dirinya memiliki darah keluarga Ramo yang kental akan kejujuran apalagi itu antar keluarga.


"Apa yang terjadi?" tanya Karamel setelah duduk di bawah tangga dan memangku putranya di atas pahanya, kemudian ia menarik dagu putranya agar bertatap muka dengannya.


"Cahya pergi tanpa berpamitan denganku," ucap Greydon membuat Karamel mengerutkan dahinya, Karamel tentu mengenal siapa itu Cahya.


Gadis kecil yang jelek, pendek plus gendut itu adalah sahabat putranya sejak lama namun persahabatan mereka begitu aneh karena kedua bocah itu tidak pernah akur, mereka selalu bertengkar masalah-masalah kecil hingga ke masalah besar sekalipun namun saat di tanya apakah mereka bermusuhan? Mereka malah akan menjawab bahwa mereka adalah sahabat baik!


"Pergi ke mana?" tanya Karamel lembut, Greydon menggelengkan kepalanya tidak tahu.


"Miss Mey bilang, Cahya tidak akan bersekolah di tempat Greydon lagi," ucap Greydon membuat Karamel sedikit tersentak.


"Kau pasti bertengkar lagi dengannya," ucap Karamel tapi Greydon menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Tiga hari yang lalu sikap Cahya sangat aneh, saat aku membullynya, dia tidak membalasku seperti biasanya tapi dia malah bersikap baik denganku." ucap putra Karamel begitu menyayat hati.


"Apa kau tetap membullynya meski dia bersikap baik denganmu?" tanya Karamel dan Greydon menganggukkan kepalanya, bocah itu sudah terbiasa membully sahabatnya sendiri jadi tidak bisa bagi dirinya untuk bersikap baik dengan sahabatnya itu.


"Maybe she's mad at you," ucap Karamel.


"Haruskah sampai pergi meninggalkan aku? Rumahnya bahkan di jual oleh orang tuanya," gerutu Greydon membuat Karamel gemas akan wajah sedih putranya itu.


"Kara," panggil Leo menghampiri istri dan anaknya yang tengah mengobrol di bawah tangga dan posisi mereka duduk di lantai.


"Ngapain duduk di lantai?" tanya Leo namun Karamel hanya diam dan melirikkan matanya ke arah putra mereka yang berada di pangkuannya.


Leo menatap putranya yang memasang raut muka sedih kemudian Leo menatap istrinya lagi, pria itu menggerakkan kepalanya naik turun seperti sedang bertanya ada apa dengan putra mereka?


"Cahya," satu kata yang keluar dari mulut Karamel membuat Leo tersenyum tipis, pria itu juga mengenal siapa itu Cahya.


"Bertengkar lagi?" tanya Leo berjongkok di hadapan istri dan anaknya kemudian Leo mencium kening istrinya.


"Daddy, apa kau bisa membantuku mencari keberadaan seseorang?" tanya Greydon membuat dahi Leo mengerut aneh lalu ia melirik istrinya untuk meminta penjelasan, apa yang dimaksud putra mereka?


Karamel tersenyum lalu Karamel memberitahu suaminya tentang perubahan sikap Cahya dari tiga hari yang lalu, tapi karena sikap putra mereka yang masih nakal dan suka membully sahabatnya alhasil Cahya pindah sekolah tanpa berpamitan dengan putra mereka.


"Jadi kau ingin Daddy mencari keberadaan Cahya?" tanya Leo mengelus kepala putranya dan Greydon menganggukkan kepalanya.


"Bukankah kau selalu merasa pusing karena bertengkar dengan Cahya di setiap harinya lalu kenapa di saat dia pergi kau ingin mencari keberadaannya?" tanya Leo menyelidik.


"Greydon adalah abu-abu yang membutuhkan Cahya putih, Dad." ucap Greydon membuat Leo dan Karamel speechless, kemudian Greydon bangkit dari pangkuan Karamel dan pergi menuju kamarnya di lantai lima.


"Dia masih umur delapan tahun 'kan, Yang?" tanya Leo membuat Karamel mengerutkan dahinya, wanita itu merasa aneh dengan pertanyaan suaminya.


"Menurut kamu?" tanya Karamel.


"Kayaknya dulu waktu aku masih kecil enggak kayak gitu deh," ucap Leo semakin membuat Karamel bingung.


"Maksud kamu apa sih, Mas?" tanya Karamel.


"Anak kamu itu aneh tahu enggak, di tinggal sahabat aja udah kayak di tinggal pacar, sedihnya lebay banget." ucap Leo sehingga Karamel langsung menjewer telinga suaminya itu.


"Jadi menurut kamu waktu aku di tinggal sama kamu dulu, itu termasuk lebay?" pekik Karamel membuat Leo meringis kesakitan.


"Aw! Aw! Sakit! Sakit! Lepas sayang, kamu enggak lebay kok, aku ...."


"Apa? Kamu apa?" pekik Karamel samakin kuat menjewer telinga suaminya.


"Argh! Sakit Kara," pekik Leo tidak berbohong, jeweran maut istrinya benar-benar sangat menyakitkan apalagi istrinya itu menjaga jempolnya dengan kuku panjang.


.........


Beberapa hari kemudian Greydon menghampiri ruang kerja ayahnya yang di mana ayahnya sedang sibuk dengan urusan laptopnya.


"Daddy," panggil Greydon dari kejauahan hingga Leo menoleh ke arah putranya itu.


"Kemari," Leo menggerakkan tangannya menyuruh putranya untuk mendekat sehingga Greydon pun berjalan menghampiri ayahnya dan duduk di pangkuan ayahnya.


"Ada apa hem?" tanya Leo.


"Di manapun dia berada sekarang, kau tidak akan bisa menemuinya, son." ucap Leo pelan.


"Cepatlah dewasa maka Daddy akan memberitahukan keberadaannya di mana," ucap Leo membuat raut wajah Greydon berubah memelas, itu artinya ayahnya tahu keberadaan Chaya ada di mana sekarang.


"Usia dua belas tahun?" tanya Greydon menatap Leo.


"Lima belas tahun, maybe." ucap Leo membuat Greydon mengerucutkan bibirnya, apakah di usianya yang ke-15 tahun, Cahya tidak akan melupakannya?


"Dia pasti sudah melupakan aku," ucap Graydon.


"Bukankah kau memberikan kalung spesialmu padanya?" tanya Leo dan Greydon menganggukkan kepalanya, bocah itu memang memberikan kalung yang bertuliskan GRESALD pada Cahya.


"Ini milik Cahya," ucap Greydon mengeluarkan kalung yang bertuliskan nama kepanjangan sahabatnya yaitu C☆Y, Cahya Alfenta Yagarazella.


"Jadilah anak yang baik dan pintar maka Cahya pasti akan tertarik denganmu, son." ucap Leo membuat mata Greydon membulat.


"Kami adalah sahabat, Dad," ucap Greydon seakan-akan bocah itu paham dengan kata-kata ayahnya.


"Baiklah! Sahabat tapi cinta," ejek Leo.


"Asal Daddy mau tau, Cahya itu banyak kekurangannya. Dia pendek, gendut, jelek, cerewet dan galak juga, semua laki-laki di sekolahan kami tidak ada yang suka dengannya termasuk aku," ucap Greydon sehingga Leo menaikkan sebelah alisnya aneh.


"Jika benar begitu, kenapa kau mau bersahabat dengannya? Bahkan di saat dia sudah pergi jauh darimu, kau malah meminta bantuan Daddy untuk mencari keberadaannya," tanya Leo membuat Greydon sekakmat.


"Itu karena ....." bocah itu tampak berfikir jawaban apa yang harus ia dampaikan pada ayahnya itu.


"Karena apa?" desak Leo bertanya.


"Karena dia punya hutang padaku dan pergi tanpa membayar hutangnya," dengan bod*hnya Greydon menjawab demikian.


"Kau adalah anak dari pengusaha terhebat Binondra Group serta Sky Corp, tentunya kau tidak akan kekurangan uang, apapun yang kau inginkan pasti akan kau dapatkan." ucap Leo merasa aneh dengan alasan anaknya.


"Tapi yang aku maksud bukan hutang uang, Dad." ucap Greydon seraya bergerak turun dari pangkuan Leo.


"Lalu?" tanya Leo.


"Ck! Aku tidak akan memberitahumu," ucap Greydon seraya berlari keluar dari ruang kerja ayahnya.


"Cih! Dasar iblis kecil," desis Leo mengatai anaknya sendiri sebagai iblis, untung tidak ada Karamel yang mendengarnya. Jika tidak, Leo pasti sudah di omeli oleh istrinya.


.........


Satu hari, satu minggu, satu bulan hingga sudah satu tahun berlalu, Greydon menjalani hidupnya tanpa di temani oleh sahabat baiknya. Bocah yang selalu tertawa setiap saat dan selalu melakukan kenakalan serta kejahilan, kini sudah berubah menjadi bocah yang hilang selera untuk bahagia bersama teman-temannya yang lain.


"Assalamualaikum," ucap Greydon mengucap salam saat pulang dari sekolah, namun nada suara bocah itu terdengar datar.


"Wa'alaikumus salam," sapa semua orang yang ada di ruang tamu yang luas itu.


"Hei bocah kemari," suruh sepupu Karamel yang baru saja datang dari Malaysia, dia adalah Faza.


"Ada apa, Om?" tanya Greydon mendekati Faza sehingga Faza langsung menarik tubuh Greydon untuk duduk di pangkuannya.

__ADS_1


"Kau tidak merindukanku?" tanya Faza berpura-pura terkejut sehingga Greydon langsung melingkarkan tangannya di leher Faza.


"Kau dan istrimu sangat sombong," ucap Greydon mengatai Faza dan Alleta sombong sehingga kedua orang itu saling beradu pandang.


Empat bulan yang lama, Faza dan Alleta resmi menikah, yeah Faza benar-benar menemukan cinta sejatinya pada Alleta.


"Benarkah kami sombong?" tanya Alleta.


"Aku tahu Om Aza dan Tante Elle sibuk di Malaysia tapi haruskah kalian lupa menghubungiku," oceh bocah itu melepaskan pelukkannya dengan merubah raut wajahnya menjadi cemberut.


"Oh maafkan Tante dan Om yang terlalu sibuk dengan urusan kami sampai lupa menghubungimu," ucap Alleta mengambil alih Greydon dari pangkuan Faza kemudian mencium pipi kiri dan kanan gemuk bocah itu.


"Hadiah STL?" pinta Greydon membuat yang lainnya geleng-geleng kepala karena kata-kata STL itu di pelajari bocah itu dari sang ayah, di mana artinya adalah Sederhana Tapi Elegan. Itulah ciri khas Cleo Rendra Agata yang menurun pada anaknya.


"Kau mau apa?" tanya Alleta.


"Apapun yang penting STL," ucap Greydon dan Alleta langsung mengulurkan tangannya ke arah Faza sehingga Faza menyerahkan paper bag berwarna coklat itu kepada Alleta.


"Semoga ini sesuai harapanmu," ucap Alleta memberikan paper bag itu pada Greydon kemudian wanita itu mencium pipi kiri keponakannya.


"Sweater rajut!" ucap Greydon menatap Alleta.


"Itu adalah buatan tangan Tante Elle khusus untuk keponakan tercinta kita," ucap Faza membuat Greydon langsung melingkarkan tangannya ke leher Alleta.


"Ini sederhana tapi elegan, aku menyukainya, terima kasih Tante." ucap Greydon lalu mencium pipi Alleta.


"Aunty Tecca juga punya hadiah untuk Greydon," ucap Tessa yang baru saja datang bersama suaminya yaitu Kenziro. Ah ya, Tessa dan Kenzi telah menikah tiga tahun yang lalu namun mereka belum memiliki momongan, sebab itu kasih sayang Tesaa dan Kenzi sepenuhnya mereka tumpahkan pada keponakan mereka yaitu Greydon.


"Aunty Tecca!" seru Greydon turun dari pangkuan Alleta dan berlari ke arah Tessa dan Kenzi sehingga Tessa sedikit membungkuk di lantai dan merengkuh tubuh Greydon yang menerjang dirinya.


"I miss you so bad," ucap Greydon sangat merindukan Tessa karena memang Tessa termasuk dekat dengan Greydon, di setiap hari tante Tecca-nya itu selalu menghubungi Greydon bahkan beberapa kali juga Tessa datang ke kastil demi bertemu dengan keponakannya.


"Aunty juga merindukanmu, Sayang," ucap Tessa mengangkat tubuh Greydon dan megendongnya.


"Di mana adik?" tanya Greydon membuat tubuh Tessa menegang karena keponakannya itu sedang menagih janji, di mana saat awal masuk sekolah Kenzi mengatakan sebentar lagi Greydon akan memiliki adik kecil.


Bahkan Kenzi juga tersentak kaget namun sedetik kemudian Kenzi dan Tessa tersenyum lebar seraya Kenzi mencubit gemas pipi keponakannya itu.


"Kau mau tau di mana adikmu?" tanya Kenzi dan Greydon menganggukkan kepalanya cepat.


"Di dalam perut aunty Tecca-mu," ucap Kenzi membuat Greydon mengerutkan dahinya aneh.


"Kenapa di masukkan ke dalam perut aunty Tecca?" tanya Greydon membuat semuanya tertawa kecil.


Tidakkah bocah itu melihat perut Tessa yang besar, di sana ada nyawa yang sebentar lagi akan hadir di tengah-tengah hangatnya keluarga mereka.


"Kau masih terlalu kecil untuk memahami segalanya, tunggu saat kau dewasa nanti maka kau akan tahu kenapa adikmu berada di dalam perut aunty Tecca-mu," ucap Karamel menghampiri mereka yang berdiri lalu mengambil Greydon dari gendong Tessa.


"Lo lagi hamil gede, Kak, enggak baik gendong yang berat-berat," ucap Karamel membuat Greydon mengerucutkan bibirnya. Bocah itu merasa tersindir namun kenyataannya bocah itu memang sudah beranjak gendut dan pastinya berat jika di gendong walau hanya sedikit.


..........


"Cahya," gumam Greydon dalam tidurnya, bocah itu menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Jangan pergi," racau bocah itu.


"Maafkan aku, jangan pergi tinggalkan aku!" ucap Greydon membuat Karamel yang tidur di samping anaknya terbangun.


"Greydon," panggil Karamel kemudian ia menepuk-nepuk pipi anaknya seraya memanggil-manggil nama anaknya agar tersadad dari mimpi buruknya.


"Greydon sayang ...."


Greydon membuka matanya pelan sehingga air mata bocah itu jatuh mengenai pelipisnya, Karamel tersentak kala setelah satu tahun Cahya meninggalkan Greydon, ini kali ke tiga Greydon bermimpi tentang Cahya.


"Di mana dia sekarang, Mom?" tanya Greydon membuat Karamel mengecup kening anaknya, Leo tahu keberadaan Cahya namun Karamel tidak di perbolehkan untuk tahu keberadaan Cahya karena Leo takut Karamel akan memberitahu Greydon.


Entah alasannya apa tapi Karamel tidak berani membantah kata-kata suaminya!


"Tunggu saat waktunya tiba, kau akan bertemu dengannya lagi, son," ucap Karamel membuat Greydon menatap mata Karamel lama.


"Apa dia tidak akan melupakan aku?" tanya Greydon lirih namun Karamel terdiam karena Karamel mengingat dirinya dulu pernah di tinggalkan oleh sahabatnya, Aryan.


Karamel ingat dulu dirinya lupa dengan wajah bahkan nama sahabatnya, ia lupa Babas itu adalah Aryan Sebastian August.


Apakah Cahya akan sama seperti Karamel yang melupakan sahabat masa kecilnya?


Karamel tidak bisa menjawabnya!


"Kau harus tetap mengingatnya agar jika dia lupa denganmu, kau akan membantunya untuk mengingat siapa dirimu," ucap Karamel pada akhirnya menjawab demikian.


"Cahya Alfenta Yagarazella, dia tidak boleh melupakan Greydon Shaka Arledra," ucap Greydon seraya memeluk erat Karamel sehingga Karamel tersenyum tipis dan membalas pelukkan putra kecilnya.


Bocah berusia sembilan tahun itu seakan-akan kehilangan setengah kehidupanannya, ia kehilangan sahabat yang selalu menemaninya sejak usia lima tahun hingga tujuh tahun.


Mengapa sebelum pergi sikap Cahya berubah?


Apa alasan Cahya pergi?


Kenapa Cahya tidak meminta izin pada Greydon?


Ke mana Cahya pergi?


Greydon merindukan saat-saat dirinya bersama Cahya! Sang abu-abu sangat membutuhkan sang penerang cahaya putih! Greydon membutuhkan Cahya!


Karena Cahya adalah tempatnya tersenyum!


Karena Cahya adalah tempatnya tertawa!


Karena Cahya adalah tempatnya merasakan bahagia!


"Daddy sedang berusaha mencari tau kebenarannya, semoga kau bisa lebih bersabar dan semoga apa yang daddy curigai tidak terjadi padanya," gumam Leo menatap putranya yang memeluk istrinya.


.......


.......


.......

__ADS_1


__ADS_2