Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part ' 196 (Takdir)


__ADS_3

Laura merasa senang kala Leo memasangkan kalung untuknya, di sisi lain Karamel tidak memperdulikan apa yang di lakukan Leo karena dirinya lebih memikirkan kewaspadaan di sekitarnya.


"Baiklah acara akan segera di mulai, ayo kita ke sana," ajak Laura dan Leo mengangguk.


Laura ingin menggandeng tangan Leo namun Leo menghindar dan langsung merangkul pinggang Karamel membuat Karamel sedikit tersentak kaget karena fokusnya tadi di ambil alih oleh rasa waspada terhadap sekitar.


"Leo?" panggil Laura mengernyitkan dahinya penuh tanda tanya melihat perempuan di samping Leo.


"Perkenalkan ini adalah istriku, Karamel Listra." ucap Leo membuat hati Laura hancur berkeping-keping.


"Laura sayang ...." ucapan tuan Kwadero terpotong.


"Ka-kau bercanda ya? Beberapa bulan yang lalu kau masih sendirian dan sekarang ... ayolah Leo, kenapa kau harus berpura-pura sudah menikah! Hem?" ucap Laura tidak percaya sekaligus tidak bisa menerima.


"Kenapa aku harus berpura-pura sudah menikah?" tanya Leo datar membuat Laura tersentak.


"Kau memberikan aku hadiah yang aku sukai Leo jadi apa maksud semua ini?" tanya Laura menyentuh kalung pemberian Leo.


"Apa yang salah, Aku hanya memberikan kalung itu sebagai hadiah ulang tahunmu," sahut Leo.


"Benar sayang ...." lagi-lagi ucapan tuan Kwadero terpotong.


"Ini adalah kalung yang aku inginkan sejak dua tahun yang lalu tapi kau memberikannya sebagai hadiah ulang tahunku Leo," ucap Laura mengira bahwa dirinya adalah orang spesial di mata Leo hingga kalung yang bernilai miliyaran pun rela Leo belikan untuk dirinya.


"Aku tidak tahu karena aku hanya membayar barang pilihan asistenku saja," sahut Leo menusuk hati Laura.


Karamel bahkan ikut terkejut karena yang Karamel duga Leo sengaja ingin memanas-manasinya dengan cara memilihkan hadiah spesial untuk Laura ternyata Jeffry yang memilihnya.


"Tapi kau memakaikan kalung ini tanpa rasa ragu," Laura masih merasa yakin bahwa Leo menyukai dirinya.


"Aku hanya membantumu dan istriku pun tidak merasa salah akan itu, dia percaya aku hanya mencintai dirinya jadi dengan memasangkan kalung di lehermu, aku tidak akan mungkin berpaling darinya." ucap Leo membuat jantung Karamel bedetak sangat cepat.


Karamel marasa sangat di spesialkan oleh Leo bahkan di depan tuan Kwadero dan Laura, Leo tidak ragu mengatakan bahwa Leo hanya mencintai Karamel.


..............................


Acara tiup lilin sedang berlangsung, Karamel sedikit merasa heran dengan Leo yang tampak memperlihatkan pada semua orang bahwa mereka adalah pasangan suami-istri.


Leo tidak mau lepas dari Karamel, sesekali Karamel menegur Leo agar tidak terlalu possessive terhadap dirinya dan Leo mengangguk patuh namun tak berselang lama ada seorang pengusaha muda datang menghampiri meja mereka untuk sekedar berkenalan, Leo langsung menatap tidak suka pengusaha itu bahkan Leo juga memperkenalkan Karamel dengan penuh penekanan 'Namanya Karamel Listra, dia adalah istriku, sudah cukup berkenalannya 'kan sekarang anda boleh pergi' kata-kata itu cukup membuat sang pengusaha pergi dari hadapan mereka.


"Bisa gak sih mm jangan terlalu galak, dia cuma mau kenalan aja loh." pinta Karamel.


"Selamat! Kamu berhasil buktiin ancaman kamu tadi pagi sampai aku bener-bener ngerasa frustrasi karena penampilan kamu yang sekarang jadi pusat perhatian semua orang," ketus Leo.


Karamel tidak tahu harus merasa senang atau sedih, tadi pagi Leo memang membuat Karamel cemburu hingga ide gila ini muncul secara tiba-tiba tapi malam ini Leo menunjukkan betapa tidak sukanya Leo kepada Laura hingga rasa penyesalan datang menghampiri dirinya.


"Gue berlebihan banget ya?" batin Karamel.


Karamel menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Leo lalu Karamel menarik baju Leo hingga Leo menoleh ke arah Karamel yang terlihat sedang bersembunyi di punggungnya.


"Kenapa?" tanya Leo menaik turunkan kepalanya.

__ADS_1


Karamel mendongakkan kepalanya, dirinya ingin meminta maaf tapi entah kenapa kata-kata yang sudah ada di ujung lidah sangat sulit untuk mengucapkannya.


"A-aku, a-aku aku ... dingin," ucap Karamel.


"Aih kenapa malah kata itu yang keluar," batin Karamel geregetan dengan dirinya sendiri.


Leo membuka kancing jas-nya lalu melepaskan jas-nya dan memasangnya di pundak sang istri.


"Udah tau cuaca malam hari itu dingin masih aja pakai baju terbuka, kalo sakit karena masuk angin gimana coba, kamu juga yang susah 'kan." celoteh Leo terdengar lucu di telinga Karamel.


"Kamu ngomelin aku?" tanya Karamel pura-pura cemberut.


"Iya, karena kamu ngeyel di ajak pulang tadi enggak mau, sekarang kamu ngerengek kedinginan sama aku." sahut Leo semakin membuat Karamel gemes.


"Ini suami aku kok lucu banget ya, pengen cium deh rasanya." batin Karamel tersenyum tipis.


"Aku nyusahin ya?" Karamel pura-pura memelas.


"Udah aku kasih ke singa buat terkam kamu duluan kalo emang nyusahin aku," ketus Leo dan Karamel tertawa cekikikan.


"Bukannya kamu singa ya?" ucap Karamel dan Leo diam tidak menanggapi Karamel lagi.


Drrt! Karamel melebarkan matanya kala merasakan alat yang ada di tengkuknya kembali bergetar.


Setelah acara tiup lilin dan potong kue selesai, kini semua tamu undangan di persilahkan untuk mencicipi hidangan yang ada.


"Mettere in guardia," ucap Leo membuat Karamel mengerutkan dahi tidak mengerti akan ucapan sang suami.


Drtt! Lagi-lagi Karamel merasakan getaran dari bagian tengkuknya.


"Nj*r, para musuh-musuh itu emang ada di sekitar gue atau emang alat ini udah rusak sih, getar mulu dari tadi." kesal Karamel di dalam hatinya.


Di tempat lain Becca tampak terkejut kala Damyan dan Clara ada di pesta itu juga, apalagi dirinya melihat kontak mata Damyan pada beberapa bawahannya maka dari itu Becca memberitahu nona bosnya lewat kejutan alat di tengkuk nona bosnya itu bahwa tidak sedikit musuh ada di dalam pesta itu.


"Daniel, mereka juga datang," ucap Becca.


"Ck! Aku sangat ingin membunuh mereka tapi miss melarang permintaanku," ucap Daniel membuat Becca bungkam, ngeri woy kalo liat Daniel lagi marah kayak gini.


"Kita di perintah untuk menyekap dua orang itu jadi kita harus bersiap ke sana sekarang," ucap Daniel dan Becca mengangguk patuh.


Dorr! Tiba-tiba saja di kediaman keluarga Kwadero ada suara pistol yang mengagetkan semua orang hingga semua orang memekik ketakutan.


"Akhhh !!" semua orang serentak berlutut di lantai.


Pelaku yang menembak itu tampak bingung karena targetnya menghilang seketika sedangkan target yang di maksud adalah Karamel dan sekarang Leo membawa Karamel untuk bersembunyi di balik tiang besar kediaman rumah itu.


Wajah Karamel tampak shock mengingat barusan Leo tiba-tiba menutup kepalanya lalu menarik dirinya dengan paksa, "Leo ...."


"Suttt!" Leo menempelkan jari telunjuknya ke bibir Karamel, perempuan itu bisa melihat tatapan Leo menjadi sangat tajam.


"Dia tau semua ini bakal terjadi?" batin Karamel.

__ADS_1


"Sayang, aku mohon kali ini kamu dengarin aku, aku bakal bawa kamu keluar dari sini secara perlahan dan di luar Jeffry udah nunggu kamu jadi kamu ...."


"Apa maksud kamu? Aku enggak akan pergi tanpa kamu," Karamel menggeleng kepala tidak mau.


"Mereka ngincer kamu, sayang. Jadi aku mohon dengerin kata-kata suami kamu sekali ini aja ya," pinta Leo namun Karamel tetap menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mau.


Dorr! Dorr! Kembali suara pistol menggema di kediaman rumah Kwadero.


"Semua stand by pada posisi," ucap Leo entah pada siapa lalu Leo memakai penutup wajah begitu juga Karamel yang memakai masker wajah berwarna merah.


Leo menggenggam erat tangan Karamel lalu mereka berdua berjongkok untuk berjalan pelan menuju meja tamu namun tiba-tiba Karamel berdiri hingga Leo menatap heran ke arah Karamel.


Karamel melepas sambungan dress bagian bawahnya sampai paha dan pandangan itu tidak lepas dari mata Leo yang membulat sempurna sembari mengeraskan rahangnya.


"Apa-apaan ini Kara," geram Leo membuat Karamel terkejut bukan maen.


"Apa?" tanya Karamel sehingga Leo meraba paha Karamel sambil Leo menatap tajam mata indah Karamel.


"Kamu mau ngegoda semua cowok dengan ini," kesal Leo meremas kecil paha Karamel.


"Enggak! Dress panjang b-bakal mempersulit aku buat lari jadi aku terpaksa harus lepasin sambungannya," ucap Karamel.


"Kenapa gak pakai dress pendek sampai lutut aja sih tadi," kesal Leo frustasi menatap paha putih nan mulus istrinya.


"Ini udah pendek Leo," ucap Karamel.


"Tapi ini terlalu pendek Kara," ucap Leo dengan gigi yang terkatup kuat.


"Trus sekarang aku harus gimana?" tanya Karamel.


"Aku bakal hukum kamu karena udah berani pamerin milik aku," ancam Leo membuat Karamel menelan salivanya dengan susah payah.


Karamel paham betul maksud dari kata 'milik aku' yang baru saja di katakan oleh Leo.


"Si-situasinya gak baik kalo harus debat sekarang," Karamel berusaha untuk menghentikan berdebatan mereka.


Karena merasa kesal, Leo tidak menjawab ucapan Karamel dan langsung menarik tangan Karamel untuk berjongkok lalu mereka berdua berjalan dengan penuh pewaspadaan di sekitarnya.


"Leo di samping kita," bisik Karamel dan Leo langsung menarik kepala Karamel untuk menundukkan kepala mereka berdua agar para musuh yang sedang berjalan mencari keberadaan mereka tidak mencurigai mereka berdua.


Drrtt ....


Karamel tersentak kala alat di tengkuknya kembali bergetar dan benar saja tiba-tiba ada kaki seseorang berdiri tepat di depan Leo dan Karamel, Karamel merasa was-was akan pemilik kaki itu sedangkan Leo memasukkan tangannya ke dalam jas dan memegang pistolnya untuk langsung menembak jika pemilik kaki itu mengenali mereka berdua.


.......


.......


.......


...::: Bersambung :::...

__ADS_1


__ADS_2