
...Class meeting ECHS _ Kamis....
Lomba memanah hari ini sangat di wajibkan di sekolahan, maka dari itu semua murid ramai berkumpul di lapangan demi melihat pertandingan ini.
Panitia perlombaan ini menyuruh semua peserta laki-laki dan perempuan dari masing-masing kelas berkumpul di lapangan, sang wakil ketua osis yang menjadi panitia memberitahu perwakilan memanah yang pertama akan di mulai dari laki-laki dan untuk perempuan akan di laksanakan setelah perwakilan laki-laki selesai.
Sekertaris osis mengoncang kertas yang akan di ambil oleh sang wakil ketua osis yaitu Rema.
"Tiga kelas yang terpilih. sepuluh ips dua, sepuluh ipa dua dan sebelas ipa satu. Kepada perwakilan perserta yang di panggil silahkan berdiri di shooting line." ucap Rema menggunakan mic.
Semua perwakilan yang di panggil berdiri di tempat yang di ucapkan Rema, tak lama kemudian mereka melakukan release atau melepaskan bidikan anak panah ke target face.
"Ssssettttttt ... jrepppp." suara keras anak panah masing-masing perwakilan langsung menusuk target face.
"Lima," teriak juri di dekat papan target untuk perwakilan X IPS 2.
"Enam, Lima." teriaknya lagi untuk X IPA 2 dan XI IPA 1.
Prokk ....
Prokk ....
Kelas X IPA 2 bertepuk tangan paling meriah kala perwakilan kelas mereka mendapatkan angka tertinggi.
Rema kembali memanggil perwakilan kelas lain hingga pertandingan babak satu dan dua selesai lalu di lanjutkan lagi ke babak terakhir dengan tiga pemenang terpilih yang langsung di pertandingkan secara bersamaan dan mendapatkan pemenang yang sesungguhnya.
Faza melirik Tania yang memakai penutup kain hitam lalu Faza tersenyum tipis saat Tania membalas tatapannya.
"Pake penutup muka karena enggak pake gigi palsu ya, Ra? " tanya Faza dalam hati namun Tania mana bisa mendengarnya.
"Baiklah untuk lomba memanah perwakilan perempuan yang terpilih dari kelas, sepuluh ips satu, sebelas ips tiga dan sebelas ips satu. Kepada perwakilan perserta yang di panggil silahkan berdiri di shooting line." bukan lagi Rema yang berbicara tapi koni Faza lah yang berbicara menggunakan mic.
"Buset," Tania terlihat terkejut kala Faza tidak lagi mengambil koncangan dari sekertarisnya.
Ting ... ponsel Tania berbunyi.
Gorila Liar (09 : 36)
Lo mau lawan siapa?
^^^Tania (09 : 36)^^^
^^^Siapa yang paling jago, kasih ke gue^^^
__ADS_1
Gorila Liar (09 : 37)
Oke
..........
Faza tampak sengaja menunda kelas Tania untuk di akhir pertandingan sampai Tania jenuh dan akan pergi ke kantin sebentar tapi saat sudah empat langkah berjalan tiba-tiba Faza memanggil kelas, sepuluh ipa satu, sebelas ipa satu dan sebelas ips tiga untuk berdiri di shooting line.
"Sumpah ngerjain banget ni orang," gumam Tania kesal namun saay Tania melihat lawannya, sungguh luar biasa, lawan yang di pilih Faza membuat Tania bahagia.
"Hai Zea dan Adek Sindi," sapa Tania pada kedua adik-kakak kandung itu.
"Cewek kampungan?" pekik keduanya kala mengenali pemilik kaca mata tebal dan tompel di pipi kanan Tania.
Teriakan keras Zea dan Sindi, sontak membuat isi sekolahan ramai dan pastinya penuh dengan hujatan-hujatan yang menyakitkan.
"Heh cewek jelek gaya banget lo pegang tu compound bow, emang bisa?"
"Jangan jadi sok deh lo, malu-maluin kelas lo aja tahu nggak,"
"Anj*r, virus nempel semua tuh di compound bow, bakal alergian gue kalo megang bekas tu cewek kampung,"
"Wah si cupu bakal dapat poin anjlok nih,"
"Hahahaaaa ...."
Hujatan dan tawa jahat para murid membuat Tania jengah dan tak tahan lagi, biasanya dia akan di hujat saat sedang berjalan atau makan di kantin tapi kali ini seluruh murid sekolahan mempermalukannya di tengah-tengah lapangan.
Tania mengambil posisi di shooting line alu dia melakukan release begitu juga dengan Zea dan Sindi kemudian. Ssssetttttt ... jreppppp!
Suara keras anak panah yang melesat dari busur ketiga wanita itu, langsung menusuk target face mereka masing-masing.
"Delapan," teriak juri di dekat papan target milik Zea sehingga seisi lapangan menjadi heboh.
"Tujuh," teriak juri di dekat papan target milik Sindi dan lagi-lagi lapangan di penuhi teriakkan keras.
"Sempurna," teriak juri di dekat papan target Tania. Hening! Mendengar teriakan juri yang mengartikan sasaran Tania mendapatkan poin 10, seketika semua murid diam dan menatap ke papan target, mereka terkejut kala yang di katakan juri benar adanya.
"Impossible," Zea dan Sindi di buat kaget.
Prokk....
Prokk....
__ADS_1
Prokk....
Sontak isi lapangan ramai brtepuk tangan yang meriah, sangat meriah hingga beberapa guru ikut serta bertepuk tangan karena selama ini di sekolahan tidak ada yang pernah mendapatkan niali sempurna.
Faza tersenyum tipis lalu mengangkat kedua jempolnya ke arah Tania, Zea yang masih kesal karena kalah sekarang semakin kesal karena melihat tindakan Faza pada Tania.
"Awas lo cupu." sengit Zea dalam hati.
Pertandingan masih berlangaung hingga ke babak kedua Tania berhadapan dengan kelas sang pacar, dan hasilnya tetap Tania yang menang dengan poin sempurna.
Ketiga pemenang di babak kedua di pertandingkan secara bersamaan, semua siap pada posisi dan sudah melakukan release tapi saat mereka akan menembakan anak panah mereka tiba-tiba Tania mendengar ucapan yang menyinggung dirinya.
"Kita buat taruhan kalo si cupu dapat poin sempurna lagi, lo gue tantang buat cium bibir dia di depan semua murid gimana?" tantang salah satu murid.
"Dih Ogah," sahut lawan bicaranya.
"Gue kasih duit 10 juta, gimana?" tawarnya.
"Setuju," sahut orang itu.
Degg! Jantung Tania berdegup dengan sangat kencang, matanya berubah tajam saat mengingat kata, di cium depan semua murid.
"Bahan taruhan lagi," desis Tania pelan hingga hanya dirinya yang bisa mendengar suaranya sendiri.
"Cium bibir dia di depan semua murid."
"Cium bibir dia."
"Dengan tambahan duit 10 juta."
"Di depan semua murid."
Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di fikiran Tania, hingga Tania melesetkan anak panahnya ke papan target. Ssssettttt ... Jrepppp! Suara anak panah dari busur Tania langsung menusuk di tengah target face.
"Tujuh – Tujuh – Sempurna," pekik juri di dekat papan target ketiga peserta lomba. Prokk! Prokk! Prokk! Semua yang ada di lapangan bertepuk tangan saat juri meneriaki kata sempurna untuk anak panah Tania.
Brugg....
.......
.......
.......
__ADS_1
...::: Bersambung :::...