
Fico telah datang ke markas The Shadow Of The Queen, dan kini Fico sudah berhadapan dengan lady queen alias Karamel dan polar prince alias Cleo.
"Aku ingin menyampaikan hal penting padamu," ucap Karamel dengan nada tegas.
"Apakah anda leader The Shadow Of The Queen?" tanya Fico dan di balas anggukan oleh Karamel.
"Sekaligus mantan kakak iparmu." ucap Leo membuat Fico mengerutkan dahinya aneh.
"Mantan kakak ipar?" beo Fico.
"Apa sebelumnya kakak pernah menikah dengan wanita lain selain Kara?" batin Fico bertanya-tanya.
"Kakakmu menikahiku kurang dari satu bulan yang lalu dan itu bukan karena cinta tapi karena sebuah rencana." ucap Karamrl
"Kurang dari satu bulan yang lalu? Tapi kurang dari satu bulan yang lalu kakak menikah dengan si manisku, dan kau ...."
"Aku adalah Karamel, Fico." ucap Karamel melepaskan topengnya.
Fico terbelalak kaget kala melihat wajah yang ia ketahui telah meninggal dunia, tapi kini orang itu ada di depan matanya. Fico bangun dari duduknya lalu ia melangkah mundur.
"Si-siap kau? Kau bukan si manisku, manisku telah ...." perkatan Fico terpotong.
"Aku masih hidup, Fico," ucap Karamel
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, manisku telah ... dia telah ...."
"Apa kau mengharapkan aku mati? Itu bukan aku Fico, itu orang lain yang memakai topeng wajahku." ucap Karamel.
Fico menyipitkan matanya lalu Fico mengingat hal yang janggal dari leher Karamel waktu itu, kulit leher dan wajah yang berbeda membuat Fico tampak berfikir bisa jadi yang di katakan wanita di depannya itu benar.
Apa yang di katakannya benar, dia adalah si manisku? Karamel Listra? — Fikir Fico menatap lekat wajah Karamel.
"Jika benar kau adalah si manisku, lalu untuk apa kau melakukan sandiwara kematianmu di depan semua orang?" tanya Fico menyelidik.
"Duduklah, aku akan menceritakannya padamu," titah Karamel.
Setelah Fico duduk, Karamel mulai menceritakan kejadian awal kematian kakeknya Henry dan Fico yang di bunuh karena pengkhianatan lalu neneknya yang depresi berat hingga bunuh diri di depan Rega Ananda sampai terjadilah dendam yang membabibuta.
Sekitar satu jam Karamel bercerita sembari menunjukkan banyak bukti rekaman suara, rekaman CCTV hingga pengakuan anak buah polar prince pun Karamel tunjukkan pada Fico.
Setiap yang di ceritakan dan bukti yang di tunjukkan Karamel, Fico selalu terkejut dan menggeleng kepala tak percaya namun pada akhirnya Fico tidak bisa mengatakan semua itu 'Bohong' karena bukti nyata ada di depan matanya.
"Kenapa kakak mau menjadi budak tua bangka itu?" ucap Fico mengeraskan rahangnya.
"Karena Rega Ananda mendorong Henry untuk menjadi sukses dan setelah itu mereka akan menjadi penguasa dunia, Fico." sahut Karamel tidak tega melihat kesedihan Fico.
"Dan kakak setuju? Mustahil untukku mempercayainya, Manis." lirih Fico mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Entahlah Fico, aku belum mengenal Henry melebihi dirimu tapi yang aku ketahui Henry tidak pernah melibatkanmu dalam masalah kejahatan mereka." ucap Karamel membuat Fico speechlees, lalu Karamel menyodorkan sebuah BOX kepada Fico.
"Aku memang sudah menjadi mantan istri kakakmu tapi aku berhak atas semua yang dia miliki karena itu adalah janjinya sebelum menikah denganku, jadi aku ingin menyerahkan ini padamu Fico." ucap Karamel serius.
"Mantan istri? Maksudmu kau dan kakak telah berpisah?" tanya Fico.
"Aku dan Henry sudah resmi bercerai." jawab Karamel memberikan akta cerai mereka kepada Fico.
"Bagaimana bisa kakak setuju ...." perkataan Fico terpotong.
"Tidak, dia tidak mungkin setuju tapi aku punya cara lain untuk mendapatkan tanda tangannya," ucap Karamel namun Fico terlihat bingung.
"Jangan di bahas lagi, kau bawa saja kotak ini bersamamu lalu kelola semuanya dengan benar ... huft, aku masih ada urusan dengan Rega Ananda dan Henry sekarang." ucap Karamel cepat.
"Apa ini?" tanya Fico.
"Kau buka saja nanti di mansion," sahut Karamel tidak mau memberitahu apa isi dari BOX itu.
"Baiklah, aku akan melihatnya nanti," ucap Fico.
"Tapi ...." Fico menggantung perkataannya membuat Karamel mengernyit penasaran.
"Tapi apa?" tanya Karamel.
"Apa kalian berencana untuk membunuh mereka berdua?" tanya Fico ragu-ragu.
Fico mengangguk pelan lalu Fico menatap Karamel, "Manis, aku ingin mengirim kakak dan Regan ke penjara Afrika agar ...."
"Hah?!" Karamel tampak terkejut.
"Jangan salah paham dulu," ucap Fico cepat. Huh, membuat kaget saja si Karamel ini — batin Fico
"Aku ingin memenjarakan mereka yang telah membunuh kedua mommyku tapi setelah kalian selesai menyiksa mereka bukan langsung memenjarakan mereka sebelum kalian siksa." ucap Fico sehingga Karamel menatap Leo yang masih mengenakan topeng.
"Baiklah! Setelah aku menyelesaikan urusanku dengan mereka berdua, kau boleh memenjarakan mereka sesuka hatimu." ucap Karamel mengalihkan pandangannya ke Fico.
"Oh god, thank you so much, sweety" ucap Fico refleks memeluk Karamel.
Karamel tersenyum tipis dengan membalas pelukan Fico namun di belakang Karamel, Leo melebarkan matanya dengan menganga kaget ketika Fico tanpa dosa langsung memeluk wanita yang ia cintai itu.
"Sialan ni cowok berani banget meluk Kara gue?" pekik Leo dalam hati.
..............................
Di ruang tawanan yang begitu banyak bekas darah dari para musuh sebelumnya, Henry dan Rega Ananda terus memberontak ingin minta di lepaskan.
Umpatan dan juga cacian yang mereka lontarkan sudah cukup membuat Karamel menahan dirinya untuk tidak marah.
__ADS_1
"Cukup, cukup sudah mulut kalian menghina keluarga besar Sinaja, Aramoy dan Ramora." pekik Kamael penuh amarah.
"Apa perdulimu dengan keluarga mereka! Hah? Mereka telah membunuh ayah...."
"Mereka kau bilang?" pekik Karamel menjepit kedua pipi Rega Ananda hingga Rega Ananda sulit menyelesaikan perkataannya.
"Oh iya bukan mereka tapi Berrold lah yang sudah membunuh kakekku," timpal Henry dengan nada tinggi.
"Pengkhianat memang harus di hukum dan hukuman mati sangat pantas bagi dia yang telah berkhianat," balas Karamel panuh kebencian pada Henry.
"Kau ... berani sekali kau mengatai kakekku berkhianat, Jala*g." pekik Henry.
Duarr ....
"Jala*g?!" batin Karamel menggertakkan giginya.
Mendengar sebutan itu, Karamel semakin mencengkeram kedua pipi Rega Ananda hingga Rega Ananda memekik kesakitan.
"Lepaskan tangan busukmu itu dari wajah daddyku, Jala*g." pekik Henry tak lepas dari panggilan yang menjijikkan untuk di dengar itu.
"Aku katakan sekali lagi lepaskan tanganmu dari wajah daddyku, Bit*h." pekik Henry lagi dan cukup sudah Karamel membiarkan Henry berbicara.
Srettt ....
Semua yang ada di ruangan itu terperangah kaget ketika Karamel bergerak sangat cepat dan hasilnya darah segar menempel di tangan Karamel.
.......
.......
.......
...::: Bersambung ::: ...
Yeahhhhh, gantung lagi nih😁
Boleh minta saran nggak?
Hukuman apa yang pantas untuk Henry dan Regan?
A. Di siksa dengan hanya di pukul.
B. Di buat lumpuh.
C. Hukuman penjara seumur hidup.
D. (Terserah author) wkwkwk
__ADS_1
E. saran dari kalian.