
Di balik jaketnya, Tania terkesiap memegangi pistol, jangan kira Tania tidak akan berani menembak manusia tapi jangan kira juga Tania berani membunuh manusia. Tania akan menembak bagian kaki atau tangannya saja namum jika sudah dalam keadaan mendesak, mungkin saja dia akan menembak manusia sampai tak bernyawa.
"Apa kau akan menembakku?" tanya orang itu membuat Tania tersenyum miring dan langsung mengeluarkan pistolnya.
"Tembaklah aku jika itu bisa membuatmu memaafkan aku," ucapnya.
"Keluar!" titah Tania dan orang itu keluar dari kegelapan namun dia berjalan mundur hingga pria itu membelakangi Tania.
"Siapa anda?" tanya Tania seraya mengangkat pistolnya ke arah pria itu, namun pria itu segera membalikkan tubuhnya.
"Aryan," kaget Tania.
"Happy seweet seventeen, my little girl Karamoy," ucapnya seraya tersenyum membuat detak jantung Karamel berdegup kaget Degg! Namun ia masih memasang tampang datar, perlahan Tania menurunkan pistolnya.
"Siapa?" tanya Tania datar.
"Babas," ucapnya membuat mata Tania semakin menatap tajam pria itu kemudian Tania menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Buka," ucap Aryan menyodorkan sebuah kotak panjang berwarna putih ke hadapan Tania.
"Buka sendiri," kata Tania menolak untuk menerima kotak itu sehingga Aryan menghela napas berat kemudian ia membuka kotaknya serta mengeluarkan gulungan kertas.
"Ini adalah lukisan gadis kecilku saat dia berusia lima tahun," ucap Aryan membuka gulungan itu kemudian ia tunjukkan kepada Tania.
"Kenapa lo lakuin ini?" tanya Tania mengira Aryan sedang menyamar menjadi Babas.
"Kau pasti sangat marah karena setelah delapan tahun, aku baru ...."
"Bilang sama gue kalo Kak Aldy yang nyuruh lo buat jadi Babas!" sengit Tania membuat Aryan tersentak, ternyata wanita itu tidak percaya dirinya adalah Babas padahal Aryan sangat terkejut saat melihat wanita cantik yang ia lihat saat ini adalah wanita yang ia kenal sebagai Karamel namun ia percaya bahwa Karamel adalah Tania dan Tania adalah Karamel.
"Gue nunggu Babas dateng buat ketemu sama gue tapi yang dateng malah elo yang nyamar jadi Babas, maksud lo apa?" sengit Tania.
"Aku Babasmu, Kara!" ucap Aryan.
"Jangan bohong," pekik Tania.
__ADS_1
"Sebelum kau menuduhku, kau harus mendengar semua penjelasanku, aku akan cerita tentang gadis kecilku Karamoy ...."
"Berhenti manggil nama gue dengan panggilan itu," sentak Tania.
"Kara aku merindukan gadis kecilku, apa kau tidak merindukan aku, Babasmu?" tanya Aryan namun Tania hanya diam.
"Kau adalah Karamoy dan aku adalah Babas, kita membuat nama itu di taman kediaman Sinaja di Amerika, hanya kita berdua yang tahu itu, Kara! Dan satu lagi apa kau lupa dua hari sebelum aku pergi meninggalkanmu kita sempat membuat sebuah harapan di kertas lalu kita masukkan di kotak dan setelah itu kita tanam di bawah pohon mangga belakang rumahmu yang di Amerika?" ucap Aryan panjang lebar.
"Begitu banyak kenangan yang kita lalui dulu hingga aku bingung harus memilih yang mana untuk di ceritakan tapi satu hal yang paling berkesan di hidupku, kita membuat nama panggilan kita sebagai Karamoy dan Babas, Kara." sambungnya lagi.
"Kalo lo emang Babas, sekarang lo harus ceritain semua tentang gue, Bisa?" tanya Tania.
"Gadis kecilku Karamel Listra Najasi Aramoy, dia anak dari Paman Sanjaya dan Bibi Sofia, dia juga Adik kandung Kenziro bahkan dia juga cucu kesayangan dari Grandpa Berro dan Grandma Bert. Dulu dia di tuntun kekerasan oleh Grandpa Berro, semua jurus bela diri yang di ajarkan oleh Grandpa Berro harus di kuasai oleh gadis kecilku itu," ucap Aryan menjeda perkataannya untuk menarik napas dalam.
"Gadis kecilku itu selalu mengeluh dan selalu berkata, 'the world is so cruel to your little girl, Bas!' dan aku hanya tersenyum sembari mengomelinya dengan berkata 'Save your complaints, because your Babas don't like hearing them!' oh come on, anak berusia tujuh tahun sudah hebat berkata tentang kekejaman dunia, aku benar-benar tidak suka mendengarnya," ucap Aryan membuat Tania mengerutkan dahinya.
Tidak seorangpun yang tahu masalah keluhan Tania selain Babas, begitu mudah bagi Tania bisa mengenali Babas dengan cara mendengar cerita pria itu, karena memang hanya Tania dan Babas yang menyimpan semua kenangan itu. Kalaupun ada yang tahu mungkin tidak akan sesempurna Babas yang lebih tahu semua tentang Tania.
"Lanjut," ucap sengaja berpura-pura masih ragu padahal ia sudah percaya bahwa pria yang ada di hadapannya sekarang adalah Babasnya.
"Apa kau melupakan semua tentang Karamoy dan Babas?" tanyanya pada Tania.
"Kara ...."
"Katakan apa pantas aku mengingatmu?" tanya Tania penuh menekanan di setiap kalimatnya.
"Aku minta maaf, Kara." lirihnya.
"Walau kau meninggalkan aku di umur delapan tahun, aku bisa merasakan bagaimana kehilangan orang yang spesial bagiku, jika setiap waktu kita tidak bersama mungkin aku tidak akan merasa kehilangan. Aku menunggu satu tahun tapi kau tidak kembali, dua tahun tapu kau tetap masih tidak kembali, tiga tahun hingga tujuh tahun aku menyerah untuk tidak menunggumu lagi tapi kenapa di saat aku sudah mulai melupakanmu, kau malah datang dengan sebuah pesan yang menanyakan kabarku, wah! Tepat delapan tahun kau menyiksaku, Bas!" ucap Tania membuay Arya merasa sangat bersalah.
"Kenapa kau harus mengirimkan surat untukku? Memintaku untuk menunggumu? Membuatku seperti orang bod*h yang selalu menantikan hal yang tidak pasti kapan akan kembali? Kenapa?" tanya Tania dengan tatapan penuh amarah.
"Maaf, Kara. Aku salah, aku ...."
"Pergi menjauh dari kehidupanku selamanya, jangan pernah datang kepadaku, lupakan aku dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku," pekik Tania murka membuay bola mata Aryan membulat kaget.
__ADS_1
"Akan lebih baik aku menjadi gila hingga aku tidak mengenalmu dari pada harus pergi jauh darimu lagi, Kara," ucap Aryan membuat Tania mengepal tangannya kuat.
Tania bahagia karena sahabat masa kecilnya kembali tapi wanita itu juga merasa sangat kesal karena Aryan terus bersembunyi darinya, tanpa sadar air mata Tania jatuh dari pelupuk mata sebelah kanannya
"Don't cry my little girl," lirih Aryan mendekati Tania kemudian ia menghapus air mata wanita itu, untungnya wanita itu tidak menolak perlakukan Aryan.
"Brengs*k," pekik Tania terlanjur kesal dan tanpa sadar wanita itu menendang bagian bawah Aryan. Brugg!
"Erghh! Bela dirimu semakin hebat girl," ucap Aryan seraya memegangi perutnya, wajah pria itupun sedikit memerah.
Sudah merasakan sakitnya tendangan ganas Tania, Aryan malah memuji kemampuan wanita itu, dasar aneh!
"Ck! Lemah," ejek Tania namun raut wajah Aryan semakin memerah bahkan kening pria itu mengeluarkan keringat.
Oh Tuhan apa Tania terlalu berlebihan? Bagaimana Tania harus bertindak sekarang? Haruskan Tania meminta maaf? Ah otaknya menjadi kacau kala melihat raut wajah kesakitan Aryan.
"Apakah sangat sakit?" dengan bodohnya Tania bertanya membuat Aryan mendongakkan kepalanya menatap Tania.
"Astaga! Maafkan aku, maaf, maaf, maaf!" celoteh Tania membantu Aryan untuk duduk di gazebo.
"Sungguh aku tidak sengaja, salah sendiri kau memabuatku kesal jadi aku ...."
"Apa kau sudah percaya aku adalah Babasmu?" tanya Aryan memotong celotehan yang ingin Tania lontarkan, pria itu memang merasakan sakit di bagian sensitifnya namun hanya sedikit, pria itu menatap mata Tania dengan wajah memelas namun Tania hanya membalas tatapan Aryan tanpa mengeluarkan suara.
"Baiklah! Buka ini," ia mengeluarkan sesuatu dari dalam jasnya kemudian ia menyodorkan amplop coklat kepada Tania.
"Apa?" tanya Tania.
"Buka saja, jika ini juga tidak berhasil. Entahlah, apa lagi yang harus aku buktikan setelah ini," gumamnya membuat Tania mengernyit lalu ia membuka amplop itu.
"Astaga," Tania memelotot terkejut saat melihat isi amplop itu.
.......
.......
__ADS_1
.......
...::: Bersambung :::...