Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part ,, 92


__ADS_3

Di kantin sekolahan SMA pancasila tepatnya di bangku paling ujung ada tiga laki-laki yang sedang duduk sembari memakan cemilan hasil pemberian fans-fans mereka.


"Vin, lo kenapa sih dari tadi merengut aja kerjaannya?" tanya salah satu teman Kevin yaitu Biyan.


(Al Biyan Dario Azril).


Biyan anak pertama dari dua saudara, Biyan jauh dari ayahnya dan adiknya karena ia tinggal bersama sang oma di Bandung. Sifat Biyan lembut, kadang genit, penuh dramatis, dan juga nakal. Biyan orangnya ganteng jadi banyak yang suka dengannya tapi Biyan tidak pernah tertarik dengan mereka yang menyukainya.


"Cerita woy kalo ada masalah," ucap Rendi.


(Afrendi).


Rendi anak tunggal dari keluarga yang bisa di bilang cukup mampu, sifat Rendi baik, kasar, penuh dramatis dan juga sama nakalnya seperti Biyan. Rendi paling tidak suka dengan wanita bar-bar seperti adiknya Biyan karena Rendi lebih suka wanita cantik, lembut, baik dan pastinya bisa menyentuh hatinya.


"Jangan-jangan ...." Biyan menggantung perkataannya sembari menatap ke arah Rendi.


"Lagi galau nih ye." sambung Rendi menggoda Kevin namun Kevin malah memutar kedua bola matanya dan pergi meninggalkan kedua sahabatnya.


"Yeah di tinggal kita," gumam Biyan menatap kepergian Kevin.


"Aku tahu perasaan kamu kayak gimana, aku juga merasa sakit karena di tinggalkan olehnya." ucap Rendi mulai dramatis.


"Kita harus kuat menghadapi semua ini," kata Rendi lagi.


"Tapi aku sudah merasa tidak kuat untuk menahan semua ini," ucap Biyan berpura-pura sedih.


"Ada aku di sini bersamamu, jadi kamu jangan bersedih lagi," ucap Rendi menepuk pundak Biyan


"Terima kasih wahai sahabatku baikku, Rendi." sahut Biyan. Tanpa mereka berdua sadari ada banyak orang yang menonton mereka sejak tadi, hingga tawa seluruh murid pecah barulah Biyan dan Rendi sadar dan pergi meninggalkan kantin


..............


Siang ini Karamel mengambil kontak mobilnya lalu pergi dengan pakaian sederhana dan topi hip hopnya, wanita itu ingin mencari jajanan anak sekolah, seperti telur gulung, batagor, cimol, thai tea dan masih banyak lagi.


"Woah rame tuh," gumam Karamel melihat para anak sekolah membeli jajanan di pinggir jalan, wanita itu memarkirkan mobilnya di depan toko buku lalu ia turun dari mobil dan berjalan menuju gerobak telur gulung.


"Hai Mang," sapa Karamel.


"Iya Teh," sahut sang mamang.


"Pesan telur gulungnya lima belas ribu ya, Mang." ucap Karamel hanya memesan sedikit karena dirinya ingin membeli jajanan lain juga.


"Oh iya, tunggu sebentar ya Teh." ucap si mamang hingga Karamel menunggu di kursi samping gerobak itu.


"Nama mamang siapa?" tanya Karamel tiba-tiba, ia bosan jika hanya diam menunggu saja.


"Panggil aja Mang Ading, Teh." ucap mang Ading seraya menggoreng telur gulung pesanan Karamel.


"Ooh Iya, Mang! Nama aku Karamel Listra ya Mang. Harus di ingat karena mungkin aja aku bakalan setiap hari ke sini," ucap Karamel sok kenal sok dekat.


"Insya Allah di inget ya Teh Karamel," ucap mang Ading.


"Mang Ading udah jualan telur gulung berapa tahun?" tanya Karamel.


"Udah Enam tahun lebih, Teh." jawab mang Ading seraya tersenyum ramah.


"Buset lama banget ...."

__ADS_1


"Mang Adinggggg, tiga bungkus isi lima tusuk, di tunggu ya Mang," pekik seorang pria berseragam olahraga.


"Oke, tapi nunggu dulu ya ada pesenan banyak so'alnya," ucap mang Ading.


"Temen saya mau dateng ke sini jadi harus sekarang dong, Mang." ucap pria itu.


"Iya sabar, tinggal goreng tujuh tusuk lagi," ucap mang Ading.


"Emang pesan berapa sih?" tanya pria itu.


"Lima belas ribu," jawab mang Ading.


"Nah kebetulan, buat kita dulu ya Mang, udah laper banget ...."


"Ren, udah ada yang di goreng belum?" tanya pria lainnya datang menghampiri gerobak mang Ading.


"Belum lah, ini ...."


"Kak Biyan," ucap Karamel tiba-tiba membuat pria yang bernama Biyan mengernyit bingung menatap Karamel.


"Lo kenal dia, Yan?" tanya Rendi.


"Nggak tahu," ucap Biyan.


"Wah benar-benar lo ya, masa lo lupa sama gue coba perhatiin baik-baik muka gue," kesal Karamel sehingga Biyan menatap Karamel dengan sangat lekat, empat detik kemudian Biyan melebarkan matanya.


"Lo fans gue ya," ucapnya membuat Karamel menatap malas pria itu, ia kira pria itu mengingat dirinya.


"Ini telur gulungnya, Teh." ucap mang Ading.


"Oh jadi elo yang mesen lima belas ribu itu?" ucap teman Biyan yaitu Rendi.


"Woy, udah ada yang siap di makan belum," pekik seorang pria lagi. Biyan dan temannya menoleh ke belakang, begitu juga dengan Karamel yang memiringkan kepalanya ke samping untuk melihat pria itu.


Pandangan Karamel dan pria itu bertemu, dia sedikit melebarkan matanya kaget membuat Karamel mengernyit kebingungan.


"Belum ada yang di goreng," ucap Rendi.


"Kak Biyan apa kabar?" tanya Karamel menatap Biyan sehingga Biyan mengalihkan pandangnya menatap wajah Karamel.


"Baik," ucap Biyan namun dirinya terlihat masih merasa bingung dengan siapa wanita yang mengenalnya ini.


"Ehem," Pria yang berteriak tadi mandekat dan duduk di kursi plastik depan Karamel.


"Ketemu lagi kita," ucapnya pada Karamel.


(Kevin Manuel Zeferino).


Kevin anak ke dua dari tiga saudara, sifat Kevin baik, perhatian, dan juga nakal. Kevin adalah idola sekolah karena ketampanannya, kepintarannya dan juga juara dalam olahraga. Siswi di sekolahan Kevin sangat mendambakan Kevin sebagai pangeran mereka.


"Lo kenal sama dia, Vin?" tanya Rendi.


"Kita pernah ketemu sebelumnya tapi belum sempat kenalan," ucap Kevin.


"Kapan?" tanya Karamel.


"Lo nggak inget sama gue?" tanya Kevin menatap Karamel dan Karamel menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Gue cowok yang semalem," ucapnya namun Karamel diam saja tak merespon karena dirinya benar-benar tidak ingat apa-apa.


"Lo benaran nggak inget?" tanyanya lagi dan Karamel kembali menggelengkan kepalanya.


"Dia bukan fans lo karena dia ngefansnya cuma sama Biyan, Kevin tralala." ucap si Rendi membuat Karamel mengerutkan dahinya seperti pernah mendengar nama pria itu.


"Maksud lo?" tanya Kevin pada Rendi.


"Nih cewek kenal sama Biyan bahkan dia tadi manggil Biyan pake embel-embel Kakak," ucap Rendi.


"Dia fans gue," timpal Biyan sombong.


"Dih! Sejak kapan gue ngefans sama lo," ucap Karamel sewot sehingga ketiga laki-laki itu menatapnya.


"Terus kenapa tadi lo sok akrab sama Biyan?" tanya Rendi.


"Gue emang akrab sama kak Biyan, kalo dia tahu siapa gue pasti dia langsung meluk gue," ucap Karamel.


"Pengen banget gue peluk," goda Biyan.


"Sini peluk gue," ucap Biyan membuatku Karamel berdiri dan merentangkan kedua tangannya sehingga ketiga laki-laki itu di buat kaget.


"Gue nggak bakal peluk sembarang cewek jadi gue nggak bakalan peluk elo," ucap Biyan membuat Karamel tersenyum karena Biyan yang dulu masih sama dengan yang sekarang, masih menghormati seorang wanita.


"Kasihan di tolak," Rendi mengejek Karamel.


"Benaran nggak mau, Kak?" goda Karamel.


"Weh! Dari tadi di tunggu nggak berhenti-berhenti juga debatnya, toh. Ini telur gulung pesanan kalian," ucap mang Ading.


"Makasih mang Ading yang ter the best," ucap Rendi langsung membayar uangnya.


"Kuy makan," ajak Rendi membagi bungkus telur gulung dengan Biyan dan Kevin, ketiga pria itu duduk di kursi plastik dan memakan telur gulung mereka masing-masing.


"Kenapa punya lo nggak di makan?" tanya Kevin menatap Karamel yang tidak lepas menatap ke arah Biyan.


"Kalian udah kenal Kak Biyan sejak kapan?" tanya Karamel kini menatap Kevin.


"Sejak tiga tahun yang lalu," jawab Kevin.


"Kak Biyan pernah pacaran?" tanya Karamel.


"Enggak pernah," jawab Kevin.


"Hah! Jadi seorang Al Biyan Dario Azril yang notabenenya banyak banget fans fanatik eenggak punya pacar? Jones dong," ejek Karamel tertawa kecil.


Uhuk! Uhukk! Ketiga laki-laki itu menghentikan aktivitas makannya lalu menatap Karamel secara bersamaan, Karamel menghentikan tawanya lalu ia menelan salivanya dengan susah payah. Glukk!


"Ke-kenapa lo bertiga natap gue kayak gitu?" tanya Karamel tergagap.


.......


.......


.......


...::: Bersambung :::...

__ADS_1


__ADS_2