Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part _ 253 (Takdir)


__ADS_3

Pagi telah tiba, Karamel baru saja selesai memasak di dapur dan kini wanita itu berjalan masuk ke dalam kamar untuk mengajak suaminya sarapan dulu. Ketika Karamel masuk ke dalam kamar, tubuh wanita itu tiba-tiba saja di tarik ke dalam pelukkan suaminya.


"Mas Leo ...."


"Sayang, aku bener-bener enggak bisa ngerasa tenang ninggalin kamu sendirian di rumah, sekarang kamu packing pakaian kam ...."


"Sebenarnya apa sih yang terjadi, coba kamu cerita sama aku biar aku tahu bahaya apa yang lagi kamu takutin." pinta Karamel lembut, wanita itu sudah bertekad tidak mau memaksa suaminya untuk cerita tapi sikap aneh suaminya Itu lah yang membuat dia harus bertanya lagi apa yang terjadi sebenernya?


"Aku Lady Queen, kamu enggak lupa itu 'kan." ucap Karamel dan Leo menganggukkan kepalanya lemah.


Leo memejamkan matanya resah, pria itu bisa saja memberitahu Karamel kebenarannya tapi Leo memikirkan resikonya, Karamel itu sedang hamil tujuh bulan dan Leo takut saat Karamel mendengar kebenarannya, wanita hamil itu akan menjadi lebih sensitif hingga menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan dan pastinya akan banyak fikiran di otaknya, atau bahkan mungkin wanita itu akan merasa takut sebab wanita itu sedang mengandung anak mereka.


"Tugas kamu cukup jaga kesehatan kamu sama anak kita dan tugas aku ngelindungin kalian berdua. Oke!" ucap Leo membuat Karamel mengelus dada bidang suaminya itu.


"Iya, aku ngerti!" sahut Karamel, alangkah senangnya Leo karena istrinya itu perlahan-lahan menjadi patuh dengannya.


"Sarapan udah siap di bawah ...."


"Biarin kayak gini sebentar," pinta Leo memotong perkataan istrinya, Karamel tersenyum dan diam, wanita itu memejamkan matanya untuk merasakan detak jantung suaminya yang berdetak dua kali lebih cepat.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Mas!" batin Karamel lirih. Sekitar sepuluh menit berpelukkan, Leo tidak henti-hentinya melontarkan banyak peringatan pada Karamel.


"Kamu harus jaga diri baik-baik di rumah, jangan sampai aku denger hal buruk terjadi sama kamu atau kamu bakal buat aku menderita. Kamu denger aku! Hem!?" ucap Leo memeluk tubuh istrinya dengan possessive, Leo memejamkan matanya masih merasa berat hati untuk meninggalkan istrinya.


Karamel bisa merasakan ketakutan suaminya itu, entah apa yang terjadi sebenernya, jujur Karamel benar-benar di buat penasaran setengah mati karena sikap aneh suaminya itu namun ya sudahlah! Wanita itu sudah berjanji dengan suaminya untuk tetap patuh dengan semua kata-kata suaminya itu. Karamel harap tidak ada masalah yang serius tapi kalaupun memang ada malasah serius, semoga saja Leo bisa mengatasi semua masalahnya dengan mulus.


"Iya, Papa!" sahut Karamel singkat karena ini sudah keempat kalinya suaminya mengatakan hal yang sama.


Leo melepas pelukkannya lalu ia menyentuh kedua pipi istrinya. Cup! Pria itu men**um bibir istrinya sekilas lalu mereka berdua saling bertatap mata satu sama lain. Sekali lagi Leo men**um lembut bibir istrinya namun kali ini pria itu mel**at habis bibir istrinya hingga Karamel pun perlahan membalas l**atan suaminya.


Kepala Leo bergerak ke kanan dan ke kiri mencari posisi nyaman dari bibir mungil istrinya itu sedangkan Karamel hanya bisa mengikuti alur permainan suaminya itu, sampai saatnya Karamel sudah kehabisan oksigennya, Leo pun melepaskan pangutan bibirnya namun Leo menempelkan keningnya ke kening istrinya sebentar sebelum kepala pria itu ia angkat agar bisa menatap penuh wajah cantik istrinya.


"Jangan bandel ya di rumah," pinta Leo dan Karamel menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis sebelum menempelkan bibirnya dengan bibir sang suami, Leo memejamkan matanya, merasakan sentuhan lembut bibir istrinya.


"Jeffry pasti udah nunggu di bawah," ucap Karamel setelah melepas ciumannya, wanita itu tidak mengerti akan sikap suaminya yang begitu takut meninggalkannya sendirian di rumah padahal isi rumah ini sudah di penuhi 300 anak buah Leo. Jadi apalagi yang di takuti pria itu?


"Aku masih berharap sekarang kamu bisa berubah fikiran, Kara." lirih Leo membuat Karamel tersenyum tipis, wajah pria itu sangat menggemaskan saat memohon kepadanya.


"Aku takut mual, Papa. Kamu tahu sendiri kondisi aku kalo naik pesawat itu kayak gimana 'kan." ucap Karamel merapikan dasi suaminya, Leo menghela napas kasar. Benar juga apa yang di katakan Karamel, wanita itu bisa jatuh sakit jika ikut dengannya ke Irlandia.


"Ya udah sekarang ayo kita ke bawah." ucap Leo ketus membuat Karamel terkekeh lalu mereka berdua keluar dari kamar dan berjalan menuju lamtai satu. Sampai di lantai satu, Leo dan Karamel sarapan terlebih dahulu, lalu setelah itu Leo berpamitan lagi dengan istrinya dan juga anaknya.


"Aku pergi dulu, kamu jaga diri baik-baik ya," ucap Leo memelai pipi istrinya lalu mencium lama kening istrinya dan setelah itu Leo dan Jeffry pergi bersama dua mobil yang mengikuti mobil suaminya dari belakang.


"Semoga selamat sampai tujuan, Papa." gumam Karamel mengelus perutnya mewakili anaknya.


"Papa kamu udah pergi, sekarang kita masuk ya." ucap Karamel lalu dirinya masuk ke dalam rumah.


.........


Di apartemen ada sang wanita dan pria sedang menatap layar laptop yang menampilkan halaman luar gerbang rumah seseorang.


"Sudah jam segini, apa yang sedang Leo lakukan. Kenapa lama sekali," umpat si wanita tampak kesal karena apa yang mereka tunggu tak kunjung keluar juga.


"Jangan berupara-pura bodoh sayang! Dia pasti sedang bermesraan dulu dengan istrinya," sahut sang pria sekalian ingin memanas-manasi wanita itu dan si wanita mengepal tangannya benar-benar merasa panas, bahkan mungkin ingin meledak marah.


"Berengs*k !! Seharusnya saat ini aku yang sedang bermesraan dengan Leo bukan si jala*g Karamel Listra itu," umpat si wanita memukul pahanya sedikit kuat.


"Bersabarlah sebentar lagi sayang, kau pasti akan mendapatkan apa yang kau mau." ucap si pria mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum miring.


Tak lama dari percakapan singkat mereka berdua, layar laptop milik sang pria itu menunjukkan pergerakan dari tiga mobil yang baru saja keluar dari gerbang rumah besar dan elegan itu.


"Dia sudah pergi, bagaimana kita akan memulainya sekarang?" tanya sang wanita dengan sangat antusias, pria itu menolehkan kepalanya ke arah wanita itu.


"Kita? Kau ingin ikut serta?" tanya sang pria menaikkan sebelah alisnya, bukankah rencana awalnya wanita itu tidak akan ikut campur tangan dalam urusan penculikkan Karamel.


"M-maksudku bukan aku tapi mantan kekasih Leo," ralat wanita itu membuat sang pria menatap malas dirinya.


"Setelah mendapatkan apa yang aku mau, kau harus memberitahu informasi rahasia tentang Leo, ingat itu wanita sialan." ucap pria itu kambali menatap ke layar laptopnya.


"Jangan ragukan janjiku, asal kau berhasil melakukannya maka informasi rahasia tentang Leo akan aku beritahu semua," ucap sang wanita itu seraya tersenyum sinis. Oh wanita itu sungguh tidak sabar untuk menjadi Nyonya Rendra.


"Lagi pula jika misimu gagal, aku masih ada senjata lain untuk menyingkirkan Karamel dari kehidupan Leo." ucap wanita itu membuat sang pria mengerutkan dahinya penasaran.


"Apa?" tanyanya menatap sang wanita.


"Kau akan memujiku setelah melihat ini!" ucap si wanita mengeluarkan beberapa foto Leo dengan seorang wanita yang sedang berpelukan bahkan wanita itu mencium mesra Leo.


"Tsk! Aku pastikan foto ini tidak akan berguna karena rencanaku pasti akan berhasil." ucap pria itu dengan penuh percaya diri.


"Aku juga berharap seperti itu, karena jika rencanamu berhasil aku tidak perlu bersusah payah untuk menjunjukkan foto ini pada jala*g sialan itu!" sahut si wanita lalu pergi meninggalkan pria itu ke kamarnya.


.........


Di tempat lain, Adit merasa kesal karena dirinya ingin masuk ke rumah Leo namun banyak sekali para penjaga yang tidak ia kenal melarangnya untuk masuk. Adit sudah mengatakan dirinya adalah sahabat Leo dan Karamel namun para penjaga itu tidak mempercayainya.


"Kalian siapa sih sebenernya? Gue mau masuk juga malah di larang-larang," bentak Adit kesal kala pria itu tidak mengenal wajah-wajah para anak buah Leo.


"Lo pada enggak tahu apa, gue ini lagi kesepian tahu enggak, salah satu sahabat baik gue si Diky udah caw berangkat ke California dan gue ke sini mau curhat sama sahabat gue," pekik Adit malah mengatakan tujuannya kepada para bodyguard Leo.


"Minggir enggak lo pada atau gue tabrak ya lo," pekik Adit bersiap akan menancapkan gas motornya namun tampang datar para anak buah Leo menujukkan bahwa mereka tidak takut dengan ancaman Adit. pria itu semakin kesal di buat kesal, ck!


"Maaf tapi Tuan Leo memerintahkan kami untuk tidak memperbolehkan siapapun masuk ke dalam rumah," ucap salah satu bodyguard Leo angkat bicara.


"Oooh jadi bener lo semua anak buahnya si kutukupret Leo," ucap Adit membuat para anak buah Leo tak percaya karena Adit berani mengatai Leo tanpa rasa takut.


Adit mengeluarkan handphonenya lalu pria itu menghubungi sahabatnya itu agar bisa berbicara dengan para bodyguardnya untuk mengizinkannya masuk sekarang juga.


"Halo Dit, Ada apa? Tumben lo telepon gue!" tanya Leo ketika pria itu mengangkat panggilan dari Adit, nada suara Leo terdengar lemah.


"Gue ada di depan rumah lo sekarang, mau masuk aja susah banget, biasanya juga enggak kayak gini lo. Sekarang ngomong lo sama anak buah lo buat izinin gue masuk." bentak Adit to the point.


"Gue enggak ada di rumah," sahut Leo.

__ADS_1


"Gue tahu, lo lagi di kantor 'kan." ucap Adit sok tahu. Memang itulah sifatnya.


"Gue pergi ke Irlandia," kata Leo.


"Heh Irlandia? Sama Kara?" tanya Adit cepat karena pria itu membutuhkan Karamel bukan Leo si muka datar.


"Gue sendirian, Kara ada di rumah." jawab Leo.


"Nah kebetulan gue bisa temenin bini lo di rumah kalo gitu sekarang buruan suruh anak buah lo buat ngizinin gue masuk." ucap Adit tanpa jeda.


"Kasih handphone lo ke salah satu anak buah gue," titah Leo sehingga Adit menggerakkan kepalanya untuk memilih siapa yang ingin ia panggil.


"Eh gundul sini lo," Adit menggerakkan tangannya memanggil salah satu bodyguard Leo yang kepalanya tak berambut.


"Dengerin perintah Bos lo, nih!" titah Adit memberikan handphonenya pada bodyguard Leo lalu bodyguard itu menganggukkan kepalanya beberapa kali. Sudah bisa di tebak Leo pasti memberi banyak peringatan untuk menjaga keamanan istri dan anaknya.


"Silahkan masuk, Tuan." ucap bodyguard botak itu pada Adit.


"Cih!" Adit masih merasa kesal lalu ia bersiap akan menjalankan motornya.


"Buset! Ini rumah udah kayak di lapangan alun-alun Bandung, rame banget isinya." ucap Adit tersentak ketika gerbang besi itu terbuka dan dirinya masuk ke halaman rumah Leo, ada banyak sekali bodyguard Leo yang berdiri di setiap sudut halaman rumah besar itu.


Karena Adit sudah masuk ke dalam halaman rumah Leo, pria itu tidak perlu mengetuk pintu seperti biasanya karena bodyguard Leo sendiri langsung membukakan pintu untuk Adit.


"Widih! Berasa kayak pangeran gue," gumam Adit karena dirinya di perlakukan bak pangeran yang memiliki banyak anak buah padahal para anak buah itu bukan miliknya tapi milik Leo.


"Adit?!" panggil Karamel sambil memegang bunga hias di tangannya lalu Karamel meletakkannya ke dalam vas bunga yang ada di meja ruang tamu.


"Eh bumil lagi rapiin bunga mawar," ucap Adit berjalan mendekati Karamel.


"Ke sini pasti kangen lo ya sama gue," tunjuk Karamel.


"Banget woy!" sahut Adit dan mereka berdua tertawa kecil.


"Eh kita ngobrol di ruang tengah aja yuk." ucap Karamel mengajak Adit masuk ke ruang tengah atau ruang keluarga.


"Bik, tolong buatin minuman buat Adit ya," ucap Karamel pada pelayan rumah yang sibuk merapikan bunga-bunga hias.


"Jus mangga ya, Bik." pekik Adit memberitahu requestannya.


"Bahkan di dalem rumah juga ada." gumam Adit menelan salivanya kala melihat ada banyak anak buah Leo yang berdiri di sudut-sudut tertentu di dalam rumah itu.


"Lo berdua Leo lagi nyembunyiin tahanan penjara ya, Kar?" tanya Adit setelah mereka berdua duduk di sofa ruang keluarga, Karamel mengerutkan dahinya lalu wanita itu memukul lengan Adit.


"Sembarangan aja kalo ngomong," sentak Karamel.


"Lagian rumah lo berdua rame banget orang, gimana enggak curiga 'kan gue." ucap Adit manatap sekelilinginya yang di mana-mana ada bodyguard Leo.


"Mereka semua itu bodyguardnya suami gue," ucap Karamel.


"Gilak! Bos besar ternyata banyak anak buahnya ya, lo enggak takut apa ngeliat muka-muka jelek mereka," bisik Adit agar tidak di dengar oleh para bodyguard Leo, Karamel di buat terkekeh oleh bisikan Adit. Dasar sahabatnya itu suka sekali asal bicara.


"Yang ada nyeremin kali, Dit." sahut Karamel ikut berbisik.


"Kayak patung ya," ucap Adit melirik wajah-wajah tanpa ekspresi bodyguard-bodyguard Leo.


"Gue mau curhat sama lo, sebenernya tadi sebelum gue ke sini gue dateng dulu ke rumah Diky buat ngajak dia keluar bentar doang tapi waktu gue tanya sama kakaknya Diky, Diky-nya ada apa enggak? Lo tahu enggak ternyata e ternyata semalem Diky sama Niky udah meluncur ke California dan gue enggak di kasih kabar sama tu cowok berengs*k. Ngeselin banget tahu enggak tu cowok, padahal satu-satunya sahabat yang deket sama gue 'kan cuma dia." tanpa basa-basi Adit langsung memulai curhatannya.


"Jadi lo sedih sekarang?" tanya Karamel dengan raut wajah masam.


"Ya enggak gitu juga, lo 'kan tahu sendiri gue sama Diky itu deketnya udah kayak saudara kandung tapi karena mentang-mentang tu si Diky udah nikah sama Niky, gue-nya malah di lupain. Sama tu kayak si Faza mentang-mentang udah punya pacar, tu anak jarang banget muncul di grup SALF BADRAD." kesal Adit mengumpati kedua sahabat yang seperti sudah melupakan Adit.


"Terus lo sedih karena Nanda ikut sama mereka gitu?" tanya Karamel bermaksud menggoda Adit namun pria itu malah menaikkan sebelah alisnya aneh.


"Nanda? Apa hubungannya sama Nanda?" tanya Adit


"Lah bukannya lo suka ya sama Nanda?" tanya Karamel di buat heran akan respon Adit. Pria itu cekikikan karena ternyata Karamel salah tanggap so'al hubungannya dengan sepupu Niky itu.


"Siapa bilang gue suka sama si cewek kasar kayak sepupunya Niky itu?" tanya Adit membuat Karamel menikkan sebelah alisnya.


"Lo masih jadi fu*kboy ya, Dit?" tanya Karamel menunjuk wajah Adit, wanita itu tidak suka jika para sahabat-sahabatnya menjadi laki-laki kurang ajar yang suka mempermainkan perasaan wanita seenak jidat mereka saja.


"Enggak gitu juga kalik Karamel Listra, lo 'kan tahu sendiri gue sama sepupunya Niky itu udah kayak Kucing sama Anji*g, enggak pernah akur." ucap Adit tidak terima jika dirinya masih di cap sebagai laki-laki berengs*k karena pria itu sudah pensiun dari keplayboyannya yang dulu.


"Tapi 'kan lo suka banget godain dia, seakan-akan lo itu lagi berusaha buat ngejar dia. Pandangan gue sih kayak gitu!" ucap Karamel menatap curiga ke Adit.


"Ck! Nanda itu cewek yang paling mudah banget marah jadi gue suka aja gitu godain dia sampe marah-marah, lucu gitu lihatnya hehe! Tapi sebenernya gue enggak cinta sama dia, selera gue mah bukan anak bar-bar kayak dia kalik Kar." sahut Adit meminum jus mangga yang baru saja di antar oleh pelayan rumah.


"Gimana kalo dia udah keburu baper sama kelakukan berengs*k lo yang cuma main-main doang?" tanya Karamel frontal mengatakan kelakuan Adit sangatlah berengs*k namun pria itu tidak tersingung.


"Gue rasa enggak deh, dia itu benci banget tahu enggak sama gue padahal gue cuma godain peke kata-kata doang bukan ngelechin dia," sahut Adit sama sekali tida percaya bahwa Nanda menyukai dirinya.


"Lagian lo jadi cowok lemes banget," cibir Karamel.


"Gue kayak gini udah bawaan lahir kalik, Buk." sahut Adit membuat Karamel terkekeh.


"Cih! Dasar." Karamel dan Adit menghabiskan waktu mereka untuk bercerita banyak hal, mulai dari kekepoan Adit tentang kenapa rumah itu banyak sekali bodyguard? Sampai ke hal apa yang sedang di khawatirkan Leo? Semuanya Adit tanya pada Karamel.


.........


...Kediaman Keluarga Belende...


Zoeya menutup matanya sambil duduk di sofa ruang keluarga, wanita itu baru saja pulang dari suatu tempat yang tidak di ketahui Keisha tempatnya di mana karena tadi pagi Zoeya diam-diam pergi keluar rumah tanpa mebawa handphonenya sehingga kakak tirinya itu tidak bisa melacak keberadaannya.


Kaisha menatap tajam adik tirinya dari arah kolam berenang, pria itu mengepal tangannya kala wanita itu berani keluar rumah tanpa sepengetahuan dirinya. Dirinya ingin mengetahui ke mana wanita itu pergi tapi karena gengsi pria itu pura-pura acuh saja.


Byurr ....


Zoeya membuka lebar matanya kala mendengar suara orang yang menyebur ke dalam kolam, ketika Keisha mengeluarkan kepalanya dari kolam, Zoeya semakin membulatkan mayanya kaget.


"Kak Kei udah pulang dari kantor," desis Zoeya.


"Semoga Kak Kei enggak nanya so'al ke mana aku pergi tadi pagi," harap Zoeya.

__ADS_1


Supaya tidak di lihat oleh Keisha, Zoeya sengaja pelan-pelan bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menaiki tangga dengan langkah mengendap-endap seperti maling. Padahal apa yang di lakukan wanita itu, di saksikan langsung oleh Keisha.


"Ck! Dasar siluman ular," ejek Keisha.


Beberapa menit kemudian Zoeya sudah membersihkan dirinya dengan mengganti pakiannya juga, wanita itu menghela napas berat sebelum dirinya keluar dari kamarnya dan turun dari lantai dua menuju kolam berenang, di mana kakak tirinya masih asik berenang di sana.


"K-kak!" panggil Zoeya ragu membuat Keisha berhenti berenang dan menatap Zoeya dengan tanda tanya.


"Kayaknya Kak Kei enggak bakalan nanya so'al tadi pagi aku pergi diam-diam deh," batin Zoeya karena raut wajah Keisha tampak biasa saja.


"Dia nelepon aku lagi," ucap Zoeya mengarahkan layar handphonenya di depan Keisha, jarak mereka yang sedang berjauhan membuat Keisha tidak bisa melihat isi di dalam layar handphone adik tirinya itu. Jadilah Keisha berjalan mendekati Zoeya yang berjongkok di pinggir kolam.


Keisha mengambil handphone Zoeya lalu pria itu mengangkat teleponnya sambil matanya menatap tajam ke arah Zoeya membuat Zoeya menelan salivanya tekut.


"Ah! Akhirnya kau mengangkat teleponku juga, sudah semingguan lebih aku menunggu responmu, aku sangat merindukanmu sayang dan aku harap kau juga merindukan aku." ucap seorang pria yang di ketahui itu adalah mantan tuanangan Zayn


"Ohya! selamat hari sabtu menjelang malam minggu ya sayang!" Zayn menyapa dengan senyuman mereka.


"Kau sedang apa sekarang?" tanya Zayn, suara pria itu begitu bahagia kala Zoeya mengangkat teleponnya.


Keisha tersenyum sinis mendengar pertanyaan Zayn, mata pria itu tidak lepas menatap manik mata Zoeya yang tidak membalasnya dan mengalihkan matanya ke bawah.


"What are you looking at, Zoeya?" tanya Keisha membuat Zayn mengerutkan dahinya karena ada seorang pria yang berbicara di seberang telepon. Sedangkan Zoeya megarahkan bola matanya untuk menatap mata kakak tirinya. Tumben kakaknya itu berbicara bahasa Inggris dengannya! Fikir Zoeya


"Mine is really big isn't it?" tanya Keisha membuat Zoeya mengerutkan dahinya tidak paham sedangkan dari seberang sana Zayn membulatkan matanya kaget, otak pria itu langsung paham dengan kata-kata Keisha.


"You can touch it if you want!" ucap Keisha membuat Zoeya semakin mengerutkan dahinya, dan Zayn sudah mengepal kuat tangannya.


"Ap ...." Zoeya yang hendak bertanya, langsung terdiam kala Keisha memberi isyarat padanya untuk tetap tutup mulut dengan cara Keisha menempelkan jari telunjuknya pada bibir pria itu sendiri.


"Yes there," ucap Keisha dengan seringaian jahatnya masih menatap dalam mata Zoeya yang masih tidak mengerti apa-apa.


"Berengs*k, apa yang sedang kau lakukan kepada kekasihku." pekik Zayn kesetanan, pikiran pria itu membayangkan hal-hal buruk tentang apa yang sedang di lakukan Keisha dan Zoeya saat ini.


Bagaimana tidak Zayn berfikir buruk tentang Keisha dan Zoeya, pria itu tahu segalanya tentang Zoeya, salah satunya adalah kebencian Keisha kepada Zoeya. Mungkin saja saat ini Keisha sedang melakukan hal buruk dengan Zoeya? Fikir Zayn.


"Oh my god! You are so fucking great, Zoeya!" ucap Keisha membuat Zayn melemparkan handphonenya ke lantai namun sambungan teleponnya masih terhubung.


"Mend***h sekarang!" titah Keisha membuat Zoeya membulatkan matanya kaget. Apa-apaan kakak tirinya itu menyuruhnya untuk mengeluarkan suara menjijikkan? Tentu saja Zoeya tidak akan mau melakukannya.


"Jadi maksud dari ucapakan Kak Kei tadi ...." Zoeya baru paham dengan semua kata-kata kakak tirinya barusan, ternyata kakak tirinya itu ingin mengerjai Zayn.


"Lakukan atau aku akan membunuhmu!" ancam Keisha cepat sebelum Zoeya menolak kata-katanya. Glukk! Ancaman lagi, Zoeya tidak berani membantah jika sudah di ancam begini oleh kakak tirinya itu.


M**ning! Zoeya melakukannya tepat saat Zayn mengambil handphonenya lagi dan ia letakkan di telinganya. Degg! Detak jantung pria itu berdegup sanga cepat, ada rasa sakit yang membakar seluruh tubuhnya saat mendengar suara indah wanita itu.


"Zoeya!" gumam Zayn.


Tutt ....


"Cukup!" titah Keisha datar kala dirinya sudah mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


"Ganti nomor telepon lo," titah Keisha dengan raut wajah kesal, tapi entah apa sebab dari perubahan wajah pria itu.


"Huft! Tapi 'kan Kak ...."


"Sekalian ganti handphone lo juga," ucap Keisha melemparkan handphone Zoeya ke dalam kolam.


Plup ....!


"Eh, HPku !!' Zoeya membelalakkan matanya kaget dan karena Zoeya tidak bisa menyeimbangi tubuhnya sendiri tiba-tiba saja wanita itu jatuh ke dalam kolam, Keisha menikkan sebelah sudut bibirnya sinis. Sebenarnya pria itu sudah menduga Zoeya akan jatuh ke dalam kolam namun ia pura-pura tidak perduli.


"Agh! Nyebelin, kenapa bisa sampai jatuh ke kolam sih." umpat Zoeya ketika sudah berdiri tegap dan wanita itu menampilkan raut wajah kesal.


"Ceroboh!" desis Keisha datar.


"Mana ada ceroboh! Kalo aja tadi Kak Kei enggak jatuhin handphone aku ke kolam, aku juga enggak akan kaget sampai jatuh ke dalam kolam jadi yang salah itu Kak Kei." omel Zoeya tanpa sadar, wanita itu masih menampilkan raut wajah kesal.


Keisha tersentak, selama dua minggu ini sudah beberapa kali Keisha mendapatkan semprotan mulut Zoeya yang ceplas-ceplos namun setelah wanita itu sadar, wanita itu akan meminta maaf sambil ingin menangis. Ah! Keisha jadi gemas melihatnya, eh jadi kesal maksudnya.


Keisha menyipitkan matanya sambil menyilang kedua tangannya di dada, pria itu menunggu reaksi selanjutnya dari adik tirinya itu.


"Astaga! Aku mengomeli Kak Kei lagi," batin Zoeya membulatkan matanya sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


"K-kak Kei m-maaf, aku aku keceplosan lagi." ucap Zoeya gugup karena takut di sentak oleh Keisha seperti sebelum-sebelumnya.


"Aku enggak sengaja, Kak. J-jangan marah ya Kak." lirih Zoeya, suara wanita itu mulai bergetar manandakan wanita itu ingin menangis.


"Pergi ganti pakaian lo sekarang," titah Keisha memerintah adik tirinya agar segera keluar dari kolam berenang.


Zoeya tertegun sejenak karena kakak tirinya itu tidak membentak dirinya seperti lima hari yang lalu, segera wanita itu keluar dari kolam berenang meninggalkan Keisha yang tersenyum tipis melihat kepergian adik tirinya.


"Kayaknya Leo bener, gue harus coba buat dia berubah." gumam Keisha mengingat sembilan hari yang lalu saat Keisha datang ke perusahaan Leo, sahabat masa kecilnya itu memberi saran pada Keisha untuk merubah sikap adik tirinya itu berubah agar terlihat lebih sopan dan tidak sombong di depan orang lain.


Keisha sangat membenci Zoeya tapi sepertinya membuat seorang Zoeya menjadi wanita yang sopan dan tidak sombong adalah hal yang menguntungkan juga bagi Keisha di mata umum. Jadi kenapa tidak bagi pria itu mencoba untuk membuat adik tirinya menjadi wanita yang baik.


Sementara itu di dalam kamar Zoeya sudah mengganti pakaiannya, wanita itu berdiri di balkon kamarnya, menatap sang kakak yang masih berada di dalam kolam. Sungguh betah sekali kakak tirinya itu berenang berjam-jam di kolam sendirian.


"Kak Kei!" gumam Zoeya lirih menatap kakak tirinya itu.


"Sekarang kamu udah jadi tanggung jawabnya Kak Kei, Zoeya. seharusnya kamu enggak perlu takut lagi sama mereka yang bakal ngirim kamu ke laki-laki jahanam itu." gumam Zoeya merintihkan air matanya, di dalam hidup wanita itu ada satu rahasia yang tidak di ketahui siapapun kecuali satu orang yang pernah menjadi kepercayaannya dulu.


Hati Zoeya merasa sakit saat mengingat bayang-bayang menyedihkan itu, wanita itu sudah lelah menghadapi semuanya tapi wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa diam saja.


Wanita itu memejamkan matanya, Zoeya berharap semuanya akan segera berakhir, ia benar-benar sudah merasa lelah, sangat lelah.


.


.


.


::: Bersambung :::

__ADS_1


...Yang bilang ceritanya makin rumit, tenang aja bentar lagi kalian bakal paham kok. Asal bacanya pelan-pelan dan jangan di skip-skip ya....


...Komentar dikit yuk, keluarin kritikkan atau saran kalian buat thor baca!...


__ADS_2