
"Emily!" panggil Leo tersenyum lebar karena sudah lama sekali pria itu tidak melihat wanita itu. Wanita penyayang dan penyabar yang dulu menjadi pengasuhnya dan juga Vian saat masih kecil.
"Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu, Emily?" tanya Leo saat sudah berhadapan dengan wanita parut baya itu, Emily menatap lama wajah pria yang telah lama tidak ia lihat selama 4 tahun terakhir ini.
"Jangan tanyakan kabarku, kau pasti tahu aku selalu merasa kesepian karena kau tak kunjung datang ke kastil ini, Second Master." ucap Emily tersenyum masam, mata wanita paruh baya itu mulai berkaca-kaca ingin menangis karena terlalu merindukan Leo si anak nakal itu.
"Aku sudah ada di sini sekarang, ayo tunjukkan senyuman manismu padaku." goda Leo seraya tersenyum dan menyentuh kedua pipi Emily. Tes! Wanita paruh baya itu tidak mampu menahan air matanya lagi.
"Oh! My bad, I didn't mean to cry in front of you, Second Master," ucap Emily membuat Leo menggelengkan kepalanya dan memeluk wanita paruh baya itu.
"I know you miss me, Emily. Because I miss you too." ucap Leo membuat Emily berderai air mata di dalam pelukkan Leo, pria itu mengusap punggung wanita paruh baya itu, membiarkan pengasuhnya menangis di dalam pelukkannya
Semua pelayan kastil itu menatap haru ke arah tuan muda kedua mereka dan juga pengasuhnya hingga sudah cukup lama mereka berpelukan, Emily melepas pelukkannya sambil menghapus air matanya.
"Kau sudah besar sekarang, dulu terakhir kau datang ke sini saat masih sekolah tapi sekarang kau sudah menjadi penerus Mr.Mahendra." ucap Emily membelai sayang wajah Leo membuat Leo tersenyum tampan.
"Ah iya! Kami sudah menyiapkan makan malam untuk kalian, silahkan masuk Second Master " ucap Emily sembari mempersilahkan Leo dan Jeffry serta empat bodyguardnya masuk ke dalam kastil.
Setelah selesai makan malam, Leo dan Emily berjalan menuju sebuah ruangan yang selalu Leo datangi saat sedang berkunjung ke kastil itu. Ketika Emily membuka kunci ruangan itu, Leo merasa ada angin kencang yang lewat dari arah belakangnya mambuat pria iti langsung memejamkan matanya lemah.
"Don't be a brat, Chicks!" suara seorang pria berhasil membukakan mata Leo. Degg! Suara itu milik seseorang yang sangat ia rindukan selama ini, perlahan tapi pasti Leo memutar tubuhnya ke belakang.
Kosong.... !!!
Pria itu menggelengkan kepalanya pelan, selalu saja begini, Leo merasa dirinya pasti terlalu merindukan kakaknya itu maka dari itu, suara kakaknya selalu terngiang-ngiang di benaknya.
"Inilah alasanku kenapa jarang sekali datang ke sini, Emily." ucap Leo kini menatap Emily yang sudah membuka pintu ruangan itu.
"Why, Second Master?" tanya Emily.
"Aku selalu mengingat setiap detail kenangan di kastil ini hingga bayang-bayang Kak Vian terasa ada dan nyata di kastil ini, aku selalu merasa dia hidup di kastil ini." ucap Leo lirih membuat Emily menundukkan kepalanya lemah.
"Kau ingat, Emily. Aku selalu menyebut pria itu sebagai Frog mouth karena mulut pria itu terlalu mirip dengan wanita yang suka mengomel-ngomeliku." ucap Leo membuat Emily merintihkan air matanya, sejak Vian dan Leo lahir hingga kini Leo sudah tumbuh dewasa, wanita paruh baya itu tidak pernah lupa dengan masa-masa di mana Vina dan Leo tinggal di kastil itu.
"Tentu aku masih ingat, kalian berdua selalu bertengkar dengan saling mengejek satu sama lain, kau menyebut kakakmu sebagai Frog mouth sedangkan kakakmu selalu menyebutmu sebagai Chicks." ucap Emily, walau usia Emily sudah beranjak tua namun ingatan tentang Leo dan Vian akan selalu di ingat dan di kenang oleh wanita paruh baya itu.
"Dia bilang aku seperti anak ayam yang terlalu liar dan bebas bahakan suka membuat kekacauan juga. Kami tidak pernah akur tapi kami saling menyayangi," ucap Leo tersenyum getir.
"Semua orang tahu itu," ucap Emily mengusap lengan Leo agar tetap tegar meski kakaknya sudah tidak ada lagi di sisinya.
"Silahkan masuk Second Master," ucap Emily mengarahkan tangannya ke ruangan itu dan Leo langsung masuk ke dalam ruangan itu sedangkan Emily menunggu di luar.
Ruangan yang di penuhi dengan bingkai foto keluarga Leo, pria itu menyebut tempat itu sebagai ruang album, ada banyak sekali foto-foto Leo dan Vian saat masih kecil.
Entah itu foto Leo yang sedang cemberut, marah bahkan menangis pun ada di sana semua begitu juga dengan foto Vian yang lebih banyak tertawa. Pada dasarnya Vian memang pria yang murah senyum seperti mamanya bukan seperti Leo yang berwajah datar seperti papanya!
Leo menyentuh salah satu foto formal dirinya dengan sang kakak saat mereka masih kecil, "Kau benar Kak, aku menyesal karena tidak memenuhi keinginanmu saat itu." ucap Leo lirih menatap foto itu.
...Flashback on...
"Chicks where are you, brother?" pekik Vian mencari-cari keberadaan adiknya yang entah kabur ke mana. Hah! kastil besar itu membuat Vian kewalahan mencari adiknya yang nakal itu bahkan Emily dan pelayan lainnya sudah menolongnya untuk mencari keberadaan adiknya tapi tetap saja tidak di temukan orangnya ada di mana.
"Chicks?" Vian memeriksa satu-persatu ruangan yang ada di lantai empat kastil itu dengan terus menyebut nama panggilan sayangnya yaitu 'Chicks' atau 'Anak ayam'
"Chicks?" sekian kalinya Vian memasukkan kepalanya ke ruangan paling ujung kastil itu, kepala pria kecil itu bergerak menelusuri isi ruangan itu.
Tiba-tiba saja mata Vian melihat rambut seseorang yang bergerak-getak di belakang sofa bulat berwarna merah, Vian memiringkan kepalanya hingga mendekati lantai, di bawah sofa bulat itu Vian bisa melihat tubuh mungil yang sangat ia kenal sedang duduk di lantai.
Vian berjalan mengendap-endap seperti maling, niat pria itu ingin mengageti adiknya yang sedang bersembunyi di balik sofa bulat itu namun sayangnya telinga adiknya itu sangat tajam pendengarannya.
"Bhaaa !!!" tiba-tiba saja pria berusia 8 tahun itu membalikkan badannya dan mengageti kakaknya hingga tubuh kakaknya itu tersentak dan hampir saja jatuh ke lantai.
"Omaya omaya !!" latah Vian membuat Leo kecil tertawa terbahak-bahak karena wajah kakaknya itu terlihat tegang sekali.
"Hahaha ... Jelek banget lo, Kak!" ucap Leo kecil tanpa sadar berbicara bahasa gaul Indonesia membuat Vian mengerutkan dahinya tidak paham.
Selama ini Vian dan Leo kecil tinggal dan sekolah di Irlandia tapi Leo kecil sering pergi ke Indonesia dan Singapura bersama mamanya yang bertugas di rumah sakit sana sedangkan Vian sebaliknya ikut dengan papanya yang melakukan perjalanan bisnis ke Amerika Serikat atau negara lainnya.
"Oops! Itu bahasa Indonesia," ucap Leo kecil menutup mulutnya karena dirinya tahu kakaknya itu pasti sedang kebingungan.
"Cih!" Vian hanya berdecak sebal lalu pria itu berjalan mendekati adiknya, sedangkan Leo kecil kembali duduk di lantai dan fokus pada handphone yang ia genggam.
"Hari ini adalah hari kelahiranku, kau harus ingat itu, Chicks." ucap Vian duduk di samping adiknya yang sedang asik bermain game di handphone milik mamanya.
"Kau membuatku bosan, dasar Frog mouth!" sahut Leo kecil datar karena Vian sudah berpuluh-puluh kali mengatakan hal yang sama kepada Leo kecil, takut sekali Vian dilupakan hari spesialnya oleh Leo kecil, dasar kakaknya itu. Ck!
"Kau membuatku sakit mulut karena berbicara terus-menerus tapi kau malah acuh dengan kakakmu yang tampan ini, kau bahkan lari dari kamar karena tidak mau hadir di pestaku, dasar Chicks." kesal Vian mulai lagi ingin mengomeli adiknya itu, Leo kecil memutar bola mata jengah karena kakaknya itu tidak akan pernah merasa tenang jika tidak mengomeli dirinya.
"Berhentilah bermain game, kau harus ikut denganku meniup lilih di bawah." ucap Vian karena malam ini adalah pesta perayaan ulang tahun Vian.
"Tsk! Cukup sekali pipiku bengkak karena jari-jari para tamu undangan itu, aku tidak mau ikut denganku." ucap Leo kecil tampak sebal, pria itu mengingat kejadian buruk beberapa bulan yang lalu di mana hari ulang tahunnya, pipi Leo kecil menjadi merah dan membengkak karena banyak sekali tamu undangan yang merasa gemas dengan Leo kecil dan mencubit pipi Leo kecil.
"Apa kau tidak memikirkan perasaan mama? Dia pasti akan merasa sangat sedih karena anak nakalnya ini tidak mau hadir di pesta ulang tahunku." ucap Vian menjadikan nama mamanya sebagai pion padahal yang sebenarnya adalah Vian yang merasa sedih jika Leo kecil tidak mau ikut bersamanya meniup lilin di depan semua tamu undangan.
"Lakukan sesuatu agar aku mau ikut denganmu," ucap Leo kecil ingin mendapatkan keuntungan dari kakaknya itu.
"Tell me what you want!" ucap Vian langsung paham dengan tujuan adiknya itu karena memang adiknya itu suka sekali bermain trik dengannya.
"Berjanjilah kau akan menepatinya," ucap Leo kecil mengulurkan tangannya di depan kakaknya itu, Vian menghela napas dan menganggukkan kepalanya lalu pria itu menjabat tangan adiknya itu.
__ADS_1
"Buatkan aku satu ruang album foto-fotoku di kastil ini." pinta Leo kecil membuat Vian mengerutkan dahinya, apa gunanya Leo kecil meminta Vian untuk berjanji. Toh, permintaan adiknya itu sangat sederhana sekali.
"Tunjukkan di ruangan yang mana? Aku akan menyuruh Emily ...."
"Tidak segampang itu! Kau yang harus membuatnya sendiri," potong Leo kecil menggerak-gerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri membuat Vian terbelalak kaget.
"Tunggu aku dewasa nanti," ucap Vian.
"Itu artinya aku tidak akan ikut denganmu," ucap Leo kecil membuat Vian memutar bola mata jengah, adiknya itu sengaja ingin mengerjainya.
"Aku setuju melakukannya tapi kau juga harus melakukan sesuatu untukku sebagai hadiah ulang tahunmu," ucap Vian tidak mau rugi, dirinya juga menginginkan sesuatu dari Leo kecil.
"Kau sudah memiliki segalanya, untuk apa meminta hadiah lagi dariku." cetus si Leo kecil namun Vian malah menatap Leo dalam diam, kakaknya itu hanya ingin mendengar jawaban dari Leo kecil.
"Alright! I'm with you!" ucap Leo kecil menunjukkan raut wajah terpaksa.
"Lakukan saat di pesta nanti," ucap Vian dan Leo kecil menganggukkan kepalanya saja tanpa perduli dengan apa yang di inginkan kakaknya itu.
"Ayo turun sekarang!" ajak Vian mengulurkan tangannya membuat Leo kecil menggapai tangan itu dan mereka berdua turun dari lantai empat menuju lantai satu, di mana para tamu undangan sudah ramai berkumpul di sana, Leo dan Vian saling beradu pandang saat melihat keramaian kastil itu.
"Kau menipuku," dengus Leo kecil pasalnya tadi saat mereka turun, Vian mengatakan tamu undangan hanya ada sedikit dan pastinya tidak akan ada bangsawan yang datang tapi nyatanya kedua orang tua mereka mengundang beberapa bangsawan juga.
"Aku juga tidak tahu, Mam yang mengatakan tamunya hanya sedikit." ucap Vian tidak mau di salahkan.
Leo kecil dan Vian berjalan menghampiri kedua orang tuanya yang sedang mengobrol dengan para tamu, mereka berdua sempat di omeli sedikit oleh Prasetya karena mereka tiba-tiba saja menghilang padahal para tamu sudah banyak yang bertanya di mana kedua putra kebanggaan papanya itu.
Acara di mulai saat kedua putranya itu sudah muncul di pesta, Vian melakukan make a wish dan menipu lilinnya serta kedua orang tuanya membantunya untuk memotong kue besar itu sedang Leo kecil, pria itu hanya berdiri di tengah-tengah kakaknya dan kedua orang tuanya tanpa punya niatan melakukan apapun.
Vian sibuk menyuapi potongan kue pada sang mama dan papanya lalu Vian menatap Leo kecil yang hanya diam saja, Leo kecil langsung membuka mulutnya saat Vian mengarahkan sendok berisi potongan kue itu kepada hadapannya namun Vian tidak memasukkan sendok itu ke dalam mulut Leo kecil membuat Leo kecil memiringkan kepalanya heran menatap kakaknya itu.
"Lakukan sekarang!" ucap Vian pada Leo kecil membuat Leo kecil menikkan sebelah alisnya tidak mengerti sedangkan kedua orang tua mereka serta semua tamu undangan yang ada di sana mengerutkan dahi penasaran apa maksud dari perkataan putra sulung Yarra dan Prasetya itu.
"Melakukan apa?" tanya Leo kecil mengangkat kedua alisnya.
"Katakan kau sangat bangga punya kakak sepertiku dan juga kau sangat sangat menyayangiku, ayo katakan!" pinta Vian membuat semua orang tersenyum gemas, sedangan Leo kecil tidak bereaksi apa-apa.
"Tidak! Tidak ada yang aku banggakan darimu, kau selalu menyebalkan bagiku." sahut Leo kecil memalingkan wajahnya ke samping sambil menyilang kedua tangannya di perut, pria itu baru memasuki usia 8 tahun tapi dirinya sudah tahu yang namanya rasa malu dan Vian tahu akan itu.
"Biar aku ingatkan, kau sudah menyetujui permintaanku tadi." ucap Vian berkacak pinggang.
"Aku tidak akan pernah mau melakukannya," sengit Leo kecil menolak mentah-mentah.
"Ck! Jika aku sudah jauh darimu, kau akan menyesal karena tidak mau memenuhi keinginanku ini maka dari itu ayo katakan sekarang." ucap Vian namun Leo kecil menolak, menolak dan tetap menolak membuat kedua orang tua mereka harus melerai mereka.
Vian berpura-pura marah dengan Leo kecil tapi Leo kecil tidak perduli dan malah lari pergi ke tempat pengasuhnya yaitu Emily. Pria itu tidak betah berada di tengah-tengah pesta karena semua mata menatap gemas ke arahnya dan pastinya mereka ingin mencubit pipinya.
...Flashback off...
"Selamat ulang tahun, Kak. Aku bangga punya Kakak sepertimu dan aku sangat sangat menyayangimu, maafkan adikmu yang pengecut ini karena tidak memenuhi keinginanmu dulu." ucap Leo kemudian mengusap matanya yang berkaca-kaca.
Leo menatap sekeliling ruang album itu, inilah ruangan yang di buat oleh kakaknya dulu, tidak ada tangan orang lainnya yang membantunya. Hanya Vian sendiri yang membuat ruang album foto-foto itu.
...Flashback on...
Hampir satu bulan Vian berusaha keras mewujudkan keinginan adiknya itu, membuat ruang album yang di penuhi oleh foto-foto Leo kecil namun Vian juga menambahkan foto-fotonya di sana, benar-benar kakak yang baik bukan.
"Aku memintamu untuk membuat ruang album foto-fotoku bukan malah foto-foto kita berdua," protes Leo kecil saat melihat hasil ruang album itu tidak sesuai dengan aoa yang ia harapkan.
"Aku sudah bersusah payah membuat ruang album yang kau minta tanpa di bantu oleh siapapun, tidakkah kau terlalu jahat karena tidak menghargai perjuanganku?" omel Vian bukan marah namun hanya sebatas kesal saja pada adiknya itu.
"Tapi aku ...."
"Ya sudah aku rusak saja," potong Vian mengambil cat tembok dan hendak meleparkannya ke di dinding yang berisi foto-foto mereka.
"Jangan bod*h," pekik Leo kecil membuat Vian berhenti dan tersenyum sinis.
"Aku akan berbaik hati membiarkan ruang albumku ini diisi sedikit fotomu, Tuan Frog. mouth." ucap Leo kecil mengklaim ruangan itu sekarang menjadi miliknya.
...Flashback off...
"Semakin aku mengingatmu, semakin besar juga rasa rinduku, Kak." gumam Leo merasa dirinya adalah pria pengecut karena dirinya berani mengucap kata-kata dramatis ini saat kakaknya sudah tidak ada lagi di sisinya.
"Kau pasti sedang tertawa di atas sana karena melihatku seperti ini," desis Leo menertawai dirinya sendiri.
"Kastil ini terlalu lama di tinggalkan oleh pemiliknya, kau tidak akan mungkin lagi menajaga kastil ini maka dari itu aku meminta izinmu, Kak. Aku ingin membawa istriku untuk tinggal di kastil ini." pinta Leo mendongakkan kepalanya menatap arah langit-langit ruangan itu.
.........
...Indonesia...
...Kediaman Keluarga Mahendra...
Menjelang malam saat pulang dari kantor, Keisha langsung pergi ke kediaman Leo untuk bertemu dengan Karamel, lebih tepatnya malam ini pria itu ingin membawa Karamel pergi dari sana.
"Siap, babe?" tanya Keisha pada Karamel namun Karamel menggelengkan kepalanya merasa ragu.
"Loh!" Keisha mengerutkan dahinya.
"Kei, gue penasaran sama pintu yang ada di halaman belakang rumah ini." ucap Karamel tiba-tiba membuat Keisha tersentak kaget, kenapa Karamel kembali penasaran dengan pintu itu.
__ADS_1
"Semalam gue lihat pintu itu kebuka lagi tapi anehnya semua anak buah Leo kayak yang jadi panik gitu terus juga ...."
"Karamel Listra yang cantiknya aduhai banget deh pokoknya, bumil jangan terlalu banyak fikiran, mungkin aja salah satu anak buah Leo keluar rumah lewat pintu belakang." ucap Keisha dalam mode centil agar Karamel tidak terlalu terbebani rasa penasaran.
"Jangan ngulur-ngulur waktu lagi, kita pergi sekarang ya." pinta Keisha tersenyum lebar.
"Lo mau bawa gue ke mana sih emangnya?" tanya Karamel membuat raut wajah Keisha berubah memelas.
"Ke tempat yang paling aman deh pokoknya, percaya deh sama gue, Leo loh yang nyuruh gue buat bawa lo keluar jadi lo harus nurut. Oke!" ucap Keisha dan Karamel hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah saja.
Keisha dan Karamel masuk ke dalam mobil lalu mereka keluar dari kediaman rumah itu, Karamel membulatkan matanya kaget saat melihat di luar gerbang rumah itu ada ramai sekali orang-orang Leo yang berjaga.
"Ini semua ...."
"Iya, semuanya anak buah Leo." potong Keisha cepat, pria itu sibuk dengan layar tabletnya lalu pria itu memasang earpiece di telinganya.
Beberapa menit Karamel dan Keisha saling diam, yang satu sibuk menatap jalanan dan yang satunya sibuk memainkan tablet hingga Karamel merasa tidak nyaman berdiam-diaman dengan Keisha wanita itu mencari topik pembicaraan.
"Zoeya apa kabar?" tanya Karamel membuat gerakkan tangan Keisha yang sedang memainkan tabletnya berhenti, Keisha menatap Karamel yang menatap ke arah luar mobil.
"Yayang Karamel sehat?" tanya Keisha membuat Karamel mengerutkan dahinya dan menatap tajam ke arah Kaisha, pertanyaan macam apa yang di lontarkan Keisha?
"Maksud lo apa nanya kayak gitu?" tanya Karamel sedikit meninggikan suaranya.
"Oh kayaknya gue salah denger ya," ucap Keisha tersenyum kikuk karena membuat istri sahabatnya itu marah.
"Enggak ada yang salah, gue nanya sama lo gimana kabarnya Zoeya!" ucap Karamel membuat mata Keisha membulat sempurna.
"Ngapain lo nanyain dia?" tanya Keisha membuat Karamel geram, apa susahnya tinggal jawab 'baik atau sehat' saja. ini malah Keisha bertanya balik dengan Karamel.
"Ya enggak apa-apa, gue cuma mikir lo bawa Zoeya ke rumah dua kali, gue kira lo udah baikan sama dia." ucap Karamel membuat Keisha bungkam untuk beberapa saat. Karamel mencicingkan matanya menatap pria yang sedang mengalihkan pandangnya ke depan itu.
"Gue mau ngomong sesuatu sama lo! Jangan terlalu keras sama dia, gue yakin lo tahu sebab dia jadi jahat itu apa, seenggaknya lo bisa ngasih dia perhatian dikit biar dia ngerasa kalo hidup dia itu ada yang perduli." ucap Karamel karena wanita itu mengingat kata-kata Zoeya saat mereka bertemu di mall beberapa waktu lalu.
"Gue benci sama dia dan akan selalu kayak gitu selamanya," ucap Keisha dengan raut wajah datar. Karamel menghela napas halus, entah apa sebabnya tapi Karamel berharap Keisha bisa lebih baik sedikit dengan Zoeya.
"Gue penasaran kenapa sih lo benci banget sama Zoeya, gue aja yang sering di tindas sama dia enggak sampai hati mau benci sama dia." ucap Karamel cuek. Keisha menghela napas kasar kala dirinya juga tidak tahu kenapa sulit sekali baginya untuk memaafkan kesalahan adik tirinya itu.
"Dia pernah buat gue hampir mati," ucap Keisha membuat Karamel membelalakkan matanya tak percaya. Ternyata Zoeya pernah segila itu ingin membunuh kakak tirinya sendiri! Fikir Karamel.
"Waktu itu di pantai dia dorong gue dari tebingan, lo bisa bayangin ombak pantai itu besar banget waktu itu." ucap Keisha membuat Karamel menelan salivanya kasar.
"Lo berantem sama dia atau gimana sampai dia tega dorong lo dari tebing?" Tanya Karamel, di benak bumil itu sungguh tega sekali Zoeya karena nekat mendorong kakak tirinya itu, pantas saja Keisha sangat membenci Zoeya.
"Waktu itu gue lagi teleponan dan berdiri di tebingan pantai tapi tiba-tiba aja ada orang yang dorong gue sampai gue jatuh ke laut," ucap Keisha sambil mengepal tangannya kuat.
"Lo jatuh ke laut karena di dorong seseorang? Lo yakin orangnya Zoeya atau lo lihat dia dorong lo, gitu?" tanya Karanel karena jika Keisha jatuh ke laut, bagaimana pria itu bisa tahu pelakunya adalah Zoeya?
"Waktu gue di rawat di rumah sakit selama seminggu, Zoeya tiba-tiba ngilang tapi sebulan kemudian dia muncul dan ngaku sama gue kalo dia adalah orang yang dorong gue dari tebing," ucap Keisha membuat Karamel mengerutkan dahinya.
"Setahu gue sih pencuri mana mau ngaku tentang jati dirinya adalah seorang pencuri, sama kayak Zoeya. Masa iya dia segampang itu ngaku di depan lo kalo dia adalah orang yang udah buat lo jatuh ke laut, mustahil aja sih menurut gue! ucap Karamel membuat Keisha menaikkan sebelah sudut bibirnya sinis.
"Dia tahu gue orangnya kayak gimana, gue enggak akan pernah berbelas kasihan sama orang yang berani macem-macem sama gue jadi itu adalah alasan dia ngaku di depan gue biar gue bisa ngeringanin hukuman buat dia." ucap Keisha dengan raut wajah serius.
"Lagian dia nekat dorong gue dari tebing itu karena di paksa sama nyokapnya buat ngebunuh gue, be*o 'kan tu cewek." ucap Keisha membuat Karamel diam karena mungkin memang benar Zoeya adalah pelakunya, orang ibunya yang menyuruh.
"Makanya gue ngasih dia satu pelajaran yang bakal buat dia ngerasain akibat dari perbuatan jahat dia seumur hidupnya dan menurut gue pelajaran itu udah paling ringan buat dia," ucap Keisha karena jika Keisha sudah benar-benar sangat marah, Zoeya pasti sudah ia siksa dan bunuh.
"Pelajaran apa?" tanya Karamel.
"Gue buat dia di benci sama gue dan bokap gue dan terbukti dia menderita banget karena gue sama bokap gue enggak pernah perduli sama hidup dia." ucap Keisha tersenyum miring menatap Karamel.
"Akibat dari rasa benci lo sama bokap lo, Zoeya jadi orang kejam yang suka menindas hidup orang lain." cibir Karamel.
"Emang itu udah jadi sifat dia," sahut Keisha tersenyum miring sambil menaik turunkan alisnya pada Karamel.
"Terus apa kabar nyokapnya Zoeya?" tanya Karamel membuat Keisha memutar bola mata jengah.
"Gue enggak bisa ngeyakinin bokap gue karena bokap gue terlalu cintam mati sama istri keduanya itu." ucap Keisha.
"Gue enggak nyangka Zoeya sampai segitunya berbuat jahat sama kakak tirinya sendiri," guman Karamel menghela napas panjang.
"Emang selama ini dia pernah berbuat baik? Sama lo aja di tindas mulu 'kan bahkan setelah dia tahu kebenaran tentang lo yang lebih berkuasa dari dia, tetep aja dia enggak mau sopan ngomong sama lo." ucap Keisha membuat Karamel mengangguk-anggukkan kepalanya setuju.
.........
Sementara itu di tempat lain seorang pria sedang duduk di kursi sambil kedua kakinya ia angkat dan ia letakkan di atas meja, mata pria itu menatap layar laptop yang sedang menampilkan foto seorang wanita.
"Katakan !!" ucapnya ketika tangannya sudah menekan alat yang ada di telinganya sebelah kirinya, mata pria itu terpejam saat bawahannya memberikan sedikit informasi yang ia minta.
"Lakukan sekarang!" titahnya sambil menampilkan senyuman sinis.
.
.
.
::: Bersambung :::
__ADS_1
...Hem! Tidak tahu kah Zayn rumah Leo saat ini sudah tidak ada tuan rumahnya lagi karena Karamel sudah pergi bersama Keisha?...
...Pada penasaran? Mau thor up cepat? Vote and hadiah dulu ya....