Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 207 (Takdir)


__ADS_3

...Los Angeles...


Di sebuah rumah minimalis yang cukup menarik perhatian karena kemewahannya, Ryan membawa Tessa ke rumah yang katanya adalah milik kakeknya itu.


"Ayo turun," ajak Ryan.


"Ryan, aku masih ada kelas siang ini ...."


"Iya, kita hanya sebentar di sini, setelah itu kita akan kembali ke kampus lagi," ucap Ryan.


Tessa tampak ragu untuk keluar mobil tapi jika dirinya tidak mengikuti Ryan, pasti Ryan akan memaksa dirinya juga.


Pekarangan rumah itu tidak ada gerbang, suasana jalannya juga sepi, Tessa merasa seperti di hutan kala di sekelilingnya banyak tumbuhan hijau.


"Kenapa di sini hanya ada beberapa rumah saja?" tanya Tessa setelah keluar dari mobil.


"Sepi dan tidak ada suara bising kendaraan, kakek suka ketenangan yang seperti ini," jawab Ryan membuat Tessa tidak mau bertanya lagi.


"I'll just wait outside," ucap Tessa.


"Tidak apa-apa Tessa, kita hanya akan bertemu dengan kakekku sebentar," Ryan mempersilahkan Tessa untuk masuk.


"Tidak Ryan, kau lihat kakekmu saja dan aku akan menunggumu di sini," sahut Tessa menolak.


"Apa yang kau takutkan, Tessa?" tanya Ryan.


"Em! Tidak, tidak ada," sahut Tessa.


"Ayo masuk," ajak Ryan.


"Aku di sini saja," tolak Tessa langsung duduk di kursi luar rumah itu.


Kenapa Ryan merasa Tessa selalu menolak dirinya, sejak sekolah menengah atas Tessa tidak pernah mengatakan 'iya' kepada Ryan. Selalu saja 'tidak' hingga saat ini Tessa masih mengucapkan kata 'Tidak'


"Why Tessa?" tanya Ryan lirih.


"What?" tanya Tessa mendongakkan kepalanya.


"Why do you always reject me?" tanya Ryan membuat Tessa tersentak kaget.


"Apa karena Kenzi?" tanya Ryan.


"What do you mean, kenapa sejak tadi kau membahas so'al Kenzi?" sahut Tessa.


"Aku mengenalmu sejak empat tahun yang lalu sedangkan Kenzi belum genap satu tahun tapi dengan mudahnya kau menjadikan dia kekasihmu, kenapa Tessa?" tanya Ryan mengeraskan rahangnya.


"Apakah tidak ada cinta sedikit saja untukku?" tanya Ryan membuat Tessa bergeming.


"Katakan Tessa, apakah tidak ada?" tanya Ryan lagi.


"Aku menganggap mu sebagai temanku tapi kau tidak mau menerimanya, aku tidak pernah membencimu tapi caramu melampiaskan sakit hatimu dengan mempermainkan perasaan banyak wanita membuatku merasa tidak nyaman jadi aku memberi jarak agar tidak terlalu dekat denganmu." sentak Tessa jujur.


Tessa mengingat beberapa kali ia menolak Ryan, ada saja pelampiasan Ryan bergonta ganti pasangan hingga ada satu kejadian yang Tessa tidak sengaja lihat, Ryan melakukan hubungan terlarang dengan pasangannya di gudang sekolahan. Menjijikan sekali bukan?


"I hope you understand what I mean, Ryan." ucap Tessa dengan nada rendah.


"Aku tidak mengerti kenapa kau hanya menganggap ku sebagai temanmu sedangkan Kenzi ...."


"Kenzi tidak ada hubungannya dengan ...."


"Kenzi adalah penyebab kau menolakku Tessa, semua ini jelas ada hubungannya dengan Kenzi," sengit Ryan membuat Tessa geram dan bangkit dari tempat duduknya.


"Kau gila Ryan," sentak Tessa.


"Iya, aku gila karena kau, padahal aku tidak memiliki kekurangan apapun tapi kau ...."


"Sudah cukup, daripada berdebat denganku lebih baik kau masuk dan temui kakekmu saja," ucap Tessa hendak pergi namun Ryan mencegahnya dengan menggenggam tangannya.


Brugg! Di dalam mobil Kenzi tampak merasa kesal kala melihat pemandangan Ryan yang mencengkram kuat tangan Tessa, sebagai seorang lelaki, Kenzi tidak pernah suka melihat pemandangan kekerasan fisik terhadap wanita.

__ADS_1


"Lepaskan tanganku," sengit Tessa memberontak, walau hasilnya genggaman tangan itu sulit lepas.


"Kau mau ke mana?" tanya Ryan.


"Pergi dari sini," sahut Tessa.


"Kau tidak boleh pergi dari sini, Tessa." ucap Ryan menatap dalam netra Tessa.


"Kau tidak berhak mengatur-ngaturku, Ryan," ucap Tessa hendak pergi namun Ryan menarik tangan Tessa.


"Jadilah milikku seutuhnya, Tessa," mohon Ryan membuat Tessa kaget dan berusaha melepaskan diri dari cengkraman Ryan.


"Kau jangan macam-macam Ryan, aku bisa teriak dan ...."


"Silahkan, aku ingin lihat siapa yang akan datang ke kediamanku untuk menolongmu," potong Ryan tersenyum miring.


"Lepaskan tanganku brengs*k" pekik Tessa memukul tangan Ryan namun Ryan menangkap tangan Tessa yang lain.


"Tidak apa-apa sayang, jika Kenzi tidak mau menerimamu lagi maka aku siap untuk menggantikannya," goda Ryan penuh sensual.


"Cuihh ... menjijikkan !" umpat Tessa meludahi wajah Ryan membuat Ryan memejamkan matanya geram akan kelakukan wanita yang ia cintai ini.


"Ayo kita bersenang-senang di dalam, sayang," ajak Ryan menarik paksa kedua tangan Tessa.


"Lepaskan aku brengs*k," pekik Tessa.


Brugg! Jika tangan tak bisa berkutik, kaki masih bisa bertindak, Tessa menendang bagian sensitif Ryan hingga refleks Ryan melepas cengkeraman tangan Tessa.


"Akkk !!" Ryan meringis.


Tessa hendak melarikan diri namun Ryan kembali menggenggam tangan Tessa, sialan emang.


"Kau tidak bisa ...."


Brugg! Tiba-tiba tubuh Ryan terpental ke lantai kala ada seseorang yang menendang bahu Ryan, Tessa yang kaget langsung melihat siapa orang yang menendang tubuh Ryan.


"Sialan," umpat Ryan berusaha bangkit namun sebelum Ryan berdiri Kenzi sudah lebih dulu menghajar wajah Ryan.


Brugg ....


Brugg ....


Brugg ....


Brugg ....


"Cukup Kenzi, stop," pekik Tessa berusaha menghentikan aksi Kenzi yang memukul wajah Ryan tanpa jeda namun Kenzi tidak berhenti dan terus memukuli Ryan.


Brugg ....


Brugg ....


Tidak ada pilihan lain, Tessa refleks memeluk tangan Kenzi hingga Kenzi berhenti memukuli Ryan, Tessa sangat terkejut melihat kondisi wajah Ryan yang di penuhi memar bahkan bibir lelaki itu mengeluarkan darah segar.


"Stop!" lirih Tessa saat Kenzi menatap Tessa dengan raut wajah penuh amarah, Kenzi menghela napas panjang lalu kembali menatap ke arah Ryan.


"Jangan coba-coba mendekati milikku lagi atau aku akan menghabisimu untuk yang kedua kalinya." Kenzi memberi peringatan pada Ryan lalu menarik tangan Tessa untuk pergi dari rumah depok dan elegan itu.


Di dalam mobil, Tessa diam seribu bahasa, mengingat untuk pertama kalinya Tessa melihat Kenzi marah hingga memukul orang, Tessa jadi tidak berani untuk bicara ataupun menatapnya.


Kenzi menepikan mobilnya di jalanan yang lumayan sepi namun masih ada satu dan dua kendaraan yang lewat.


"Gue minta maaf," ucap Kenzi dingin.


"Maaf buat kejadian tadi pagi gue lancang nyium lo, gue cuma mikirin cara buat ngebuktiin sama semua orang terutama sama Tia kalo kita berdua benar-benar punya hubungan spesial," tambah Kenzi menatap jalanan depan.


"Gue mau lepas dari Tia tapi cara gue salah, gue minta maaf," ucap Kenzi lagi.


"Gue kecewa sama lo tapi gue enggak benci sama lo," sahut Tessa membuat Kenzi menatap ke arah Tessa yang di mana Tessa menatap ke arah jalanan depan.

__ADS_1


"Gue sempat mikir buat berhenti jadi pacar pura-pura lo tapi setelah gue fikir lagi kayaknya enggak jadi deh," ucap Tessa.


"Lo mau lepas dari Tia dan gue juga mau lepas dari Ryan," ucap Tessa menundukkan kepalanya.


"Siapa Ryan? Cowok yang tadi?" tanya Kenzi dan Tessa menganggukkan kepalanya.


"Dia siapa lo?" tanya Kenzi.


"Dia cowok yang selama ini ngejar-ngejar gue waktu SMA sampai sekarang," sahut Tesaa.


"Dia sering nembak gue tapi gue nolak dia terus alasan gue karena nyokap emang enggak pernah mau gue pecaran sama orang sini, nyokap pengen gue nikah sama orang Indonesia jadi gue enggak bisa nerima dia," ucap Tessa.


"Tapi waktu dia tau kabar gue pacaran sama lo, dia enggak terima dan marah sama gue," tambah Tessa.


"Kenapa lo bisa sama dia?" tanya Kenzi dingin.


"Gue ke kelas lo dan nanya lo ada di mana sama Peter tapi Peter bilang lo udah pulang duluan jadi gue ...."


"Kenapa juga harus sama dia, hah?" tanya Kenzi meninggikan suaranya karena geram.


"Karena lo buat gue marah jadi gue asal ikut orang lain," sahut Tessa cemberut sampai Kenzi berdecak gemas oleh kecerobohan perempuan satu ini.


"Iya, gue salah karena ceroboh mau aja di ajak sama dia," ucap Tessa menyadari kesalahannya.


Tessa malas berdebat dengan Kenzi mambuat Kenzi geram ingin menjitak kepala Tessa.


"Huftt! Kita enggak tau sampai kapan mereka berdua bisa lepas dari kita, kalo sampai dua bulan enggak cukup ...."


"Tch! Maksud lo sampai mereka benar-benar enggak ganggu kita lagi, kita berdua bakal terus lanjut pura-pura pacaran?" tanya Tessa memastikan dugaannya semoga salah.


Kenzi menatap raut wajah Tessa yang menunjukkan rasa tidak setujunya, Ah! Kenzi merasa tidak terima dengan Tessa yang sepertinya ingin cepat-cepat mengakhiri sandiwara mereka berdua, padahal satu-satunya orang yang bisa membantu Kenzi adalah perempuan ini.


"Kecuali lo bisa hadapin cowok yang tadi sendirian, gue enggak masalah kalo harus berhenti bersandiwara sekarang juga," ucap Kenzi tidak mau memaksa juga jika Tessa mau cepat-cepat mengakhiri sandiwara mereka.


Tessa memutar-mutarkan bola matanya ke kanan dan ke kiri, apakah Tessa bisa menghadapi Ryan sendirian? Apakah Tessa mampu melawan Ryan sendirian? Entahlah, Tessa merasa dirinya tidak akan sanggup.


Sebelumnya Ryan memperlakukan Tessa dengan sangat baik, jangankan untuk menyakiti Tessa, menyentuh Tessa saja Ryan masih meminta izin dangan Tessa namun setelah tersebarnya hubungan Kenzi dan Tessa, sikap Ryan mulai berbuah ke Tessa.


Ya! Tessa merasakan Ryan sudah berubah sekarang, di mata Ryan sekarang Tessa bukan lagi perempuan spesial yang harus di jaga.


Setelah berbicara penjang kali lebar dengan Tessa, Kenzi mengantar Tessa kembali ke kampus.


"Udah sampai," ucap Kenzi.


"Makasih," ucap Tessa keluar dari mobil Kenzi.


"Woah, gila! Dia bener-bener enggak mau maafin gue," kesal Kenzi memijat pelan pelipisnya.


"Gue udah minta maaf puluhan kali tapi ... sumpah! Kenapa jadi gue yang ngemis sama tu cewek," kesal Kenzi memejamkan matanya.


'Oke! Gue setuju buat lanjut pura-pura pacaran sama lo sampai Tia dan Ryan bener-bener gak ganggu kita lagi tapi lo harus inget, gue masih kecewa sama lo jadi jangan harap gue bisa maafin lo atas kejadian tadi pagi,'


Setelah membayangkan ucapan Tessa yang memperingati dirinya akan kesalahannya tadi pagi, Kenzi membuka matanya kemudian Kenzi menggelang-gelengkan kepalanya.


"Gue harus minta bantuan Leo nih. Iya, Karamel 'kan pernah kecewa sama Leo, gue harus tanya sama Leo gimana caranya biar bisa dapat maaf dari cewek," gumam Kenzi bermonolog.


"Aish! Dasar cewek, di cium bukannya bahagia malah marah-marah, secara gue 'kan ganteng, enggak rugi dong di cium sama gue." gumam Kenzi membanggakan dirinya sendiri.


Tapi kan Tessa berbeda dari kebanyakan perempuan yang tergila-gila dengan Kenzi, jadi wajar saja jika Tessa marah dengan karena pada dasarnya Tessa memang tidak menyukai Kenzi.


"Anj*ng, stres gue," pekik Kenzi menjatuhkan keningnya ke setir mobil.


.......


.......


.......


...::: Bersambung :::...

__ADS_1


__ADS_2