Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part 184 - Visual Kenziro


__ADS_3

Kenzi terkejut melihat wanita yang ada di depannya sekarang adalah wanita yang ada di lift tadi pagi.


"You ....


"You ....


Keduanya berteriak kaget namun seperdetik kemudian wanita itu menormalkan keterkejutannya.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya wanita itu.



Kenzi telihat malas menanggapi wanita yang berani mengatai dirinya somsek tadi, "Bukan urusan lo." sahut Kenzi dingin, Kenzi hendak pergi namun wanita itu menghalangi jalannya.


Wanita itu menyipitkan matanya ke arah Kenzi namun Kenzi hanya menganggapinya dengan tatapan bingung.


"Apa kamu tahu, karena kamu tidak mau mengalah tadi aku di beri tugas tambahan sebagai hukumanku dan deadlinenya lima hari." ucap wanita itu semakin membuat Kenzi heran.


"So?" sahut Kenzi.


"Bantu aku menyelesaikan tugasku," pinta wanita itu tiba-tiba.


"Are you crazy? Lo kerjain tugas lo sendiri karena gue juga punya tugas sendiri, aneh lo." dersis Kenzi hendak melangkah pergi namun lagi-lagi wanita itu menggenggam tangan Kenzi.


"Tugasku matematika," ucap wanita itu.


"Mata pelajaran yang paling buat otakku kacau adalah matematika, aku tahu kamu itu Kenzi si raja kampus paling pintar 'kan? Please, help me!" ucapnya tanpa rasa malu.


"Aku enggak ada maksud buat dekatin kamu kok, aku janji setelah lima hari tugasku selesai aku enggak akan ganggu kamu lagi." tambahnya lagi.


Kenzi menghela napas panjang, "Mana nomor HP lo?" pinta Kenzi datar.


"Buat apa?" tanya wanita itu membuat Kenzi heran.


"Lo mau di bantu 'kan jadi mana nomor HP lo, biar gue enggak susah ngabarin ...."


"Oh enggak usah! Kamu tentuin aja di mana tempat ketemuannya sekarang, biar aku yang nyamperin kamu nanti malam arau besok." potong wanita itu.


Entah kenapa, wanita yang ada di depan Kenzi saat ini seperti sedang menolak dirinya. OMG, ini pertama kalinya bagi Kenzi di tolak oleh seorang wanita.


"Ya udah enggak usah gue bantu," tukas Kenzi membuat wanita itu kaget.


"Ih kok jadi gitu?" sentak wanita itu.


"Enggak ada nomor HP, enggak ada juga gue mau bantuin lo." sengit Kenzi, dan wanita itu menunjukkan wajah melasnya.


"Peraturan dari mana ...."


"Ssttt! Lama lo, siniin HP lo sekarang." Kenzi meletakkan telapak tangannya di depan wanita itu.


"Kosong, delapan ...." wanita itu tidak memberi handphonenya dan malah mengeja angka nomor handphonenya.


Kenzi sempat kaget dan merasa kesal karena wanita yang ada di depannya ini kembali menolak permintaannya. Oh, Kenzi yang selalu di kejar-kejar wanita dan pastinya banyak yang ingin meminta nomor handphonenya, kini harus dirinya yang berinisiatif meminta nomor seorang wanita.


Kenzi mengeluarkan handphonenya lalu Kenzi mencatat apa yang di ucapankan oleh wanita itu, "Siapa nama lo?" tanya Kenzi tanpa menatap si empunya.


"Tessa Gracella," ucapnya pelan.


Sekilas Kenzi menatap Tessa lalu Kenzi mencantumkan nama horse girl di nomor kontak Tessa.

__ADS_1


"Entar malam gue kabarin tempat temuannya di mana," ucap Kenzi dan wanita itu mengangguk patuh, setelah itu Kenzi langsung pergi meninggalkan wanita itu tanpa mengucapkan apapun lagi.


Kenzi menghala napas gusar kala mengingat ini adalah pengalaman pertamanya di tolak seorang wanita, tak heran kenapa Leo terus-terusan mengejar Karamel yang selalu menolak dirinya.


"Padahal cuma minta nomor HP doang, harus banget tu cewek nolak gue." kesal Kenzi menendang botol aqua ke sembarang tempat.


..............................


...Indonesia...


Menjelang pagi, Karamel bangun dari tidurnya untuk masak di dapur dan setelah selesai, Karamel kembali naik ke atas untuk membangunkan Leo karena semalam Leo mengatakan dirinya akan ke kantor untuk meeting pagi.


"Leo," panggil Karamel masuk ke dalam kamar.


"Hei, bangun sayang, kamu bilang ada meeting 'kan hari ini." ucap Karamel pelan mengelus kening sang suami.


"Hem," gumam Leo.


Cup! Karamel mengecup kening Leo lalu tangan kiri Karamel mencubit hidung mancungnya.


"Bangun suami gantengnya aku," ucap Karamel geregetan sampai giginya ia katupkan.


"Engeee ... lima menit," pinta Leo lalu menutupi wajahnya dengan selimut.


Karamel menggeleng kepala lalu Karamel pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, setelah selesai Karamel keluar dengan handuk putih yang membaluti tubuhnya.


Karamel menepuk jidatnya ketika melihat Leo masih setia tidur di kasurnya, Karamel berjalan mendekati Leo lalu Karamel mendekatkan kepalanya agar sejajar dengan wajah Leo.


Tes! Tes! Tetesan air dari rambut Karamel tepat mengenai wajah Leo sehingga Leo membuka mata sebelah kiri dan tak lama dari itu Leo melebarkan matanya kala wajah sang istri sangat dekat dengannya.


"Sayang," lirih Leo membuat Karamel tersenyum senang, akhirnya bangun juga.


Leo sempat terkejut karena untuk pertama kalinya Karamel berinisiatif mencium dirinya duluan namun setelah tersadar Leo langsung tersenyum merekah.


"Gimana kalo aku diem di rumah aja, sayang?" tanya Leo sedikit berteriak.


"Why?" sahut Karamel.


Leo mengambil posisi berbaring dengan kepala menoleh ke samping.


"Pengen males-malesan sama kamu di kamar, biar kita bisa ngabisin waktu buat bikin a ... em!" Leo tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena Karamel melempar pakaian ke wajahnya.


"Jeffry nelpon kamu, katanya ada meeting pagi ini di kantor jadi pergi mandi sana," titah Karamel dengan raut wajah malu.


Leo terkekeh sembari merubah posisi terlentang dengan kedua tangan berada di belakang kepala, tatapan Leo menerawang ke atas dinding-dinding kamar.


"Kara, apa kamu udah siap jadi ibu dari anak-anak aku?" tanya Leo tiba-tiba.


Di dalam walk in closet Karamel terdiam lama sembari mencengkram dasi milik Leo.


"Kara?" panggil Leo karena Karamel tak kujung memberikan jawaban.


Karamel pun berjalan menghampiri Leo.


"Pertanyaan bodoh, perempuan mana coba yang mau cepet-cepet punya anak dari suaminya, aku juga termasuk tapi belum sekarang karena benih kamu belum tumbuh di rahim aku." ucap Karamel membuat Leo senang mendengarnya.


"Kalo gitu sekarang kita ...."


Bukk! Tiba-tiba saja Karamel memukul kening Leo hingga Leo meringis terkejut.

__ADS_1


"Kurangi dikit tingkah laku nakal sama fikiran mesum kamu, sekarang waktunya pergi ke kantor ya say-ang," ucap Karamel memotong perkataan Leo yang ingin mengajaknya bercinta.


"Huftt !!!" Leo memasang wajah melas namun tak urung ia mengikuti perintah istrinya itu.


..................


...Malaysia...


Pagi ini Faza akan berangkat ke kampus dan sang bunda yang sedang menyiram tanamannya melihat sang anak mengeluarkan motornya dari garasi, menghampiri sang anak dengan raut wajah yang sulit untuk di artikan.


"Enggak pakai mobil, Bang?" tanya bunda Santi lembut.


Faza mengerutkan dahinya ketika mendengar panggilan sang bunda yang biasanya memangil Faza kini berubah menjadi 'Abang,' "Enggak Bun," sahut Faza memanaskan mesin motornya.


"Emang enggak ada yang mau di jemput, Bang?" tanya bunda Santi lagi.


Faza menghela napas berat, "Ada," sahut Faza membuat bunda Santi bahagia kala mengira itu adalah seorang wanita.


"Siapa, Bang?" tanya bunda Santi.


"Dafa," sahut Faza membuat senyuman bunda Santi pudar seketika.


"Abang enggak ada pacar?" tanya bunda Santi.


Faza menghela napas panjang, sudah Faza duga sejak tadi sang bunda memanggil dirinya dengan panggilan 'Abang' pasti akan berakhir dengan pembahasan so'al pasangan.


"Bunda, Faza masih mau fokus belajar ...."


"Adik sepupu kamu aja udah nikah, masa kamu pacar aja enggak punya." cibir bunda Santi membuat Faza menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Faza berangkat dulu ya bun, As'salamualaikum Bunda." pamit Faza menyalami sang bunda lalu segera memakai helm dan pergi meninggalkan sang bunda yang terlihat kesal dengan dirinya.


Sesampainya di kampus Faza dan Dafa turun dari motor, "Gue duluan ya Za, sweety honey bunny Lily udah stay nungguin gue tuh." ucap Dafa dan Faza hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Salah satu alasan kenapa gue enggak mau pacaran, waktu luang gue bakal di bagi sama urusan yang enggak penting." gumam Faza menatap kepergian Dafa dan kekasihnya.


Brukkk ....


Ketika Faza masuk koridor, seseorang menabrak dirinya dari belakang, badan Faza hanya bergeser sedikit dan tidak sampai tumbang namun seseorang yang menabraknya jatuh ke lantai.


"Eh maaf bang, maaf ...." seorang wanita beucap maaf pada Faza.


Faza membalikkan badannya, tumbukkan buku berserakkan di mana-mana. Faza berjongkok lalu Faza membantu wanita itu mengambil buku-bukunya yang berserakan di lantai.


"Makasih bang," ucap wanita itu namun Faza hanya diam lalu pergi begitu saja meninggalkan wanita berkaca mata tebal itu.


.


.


.


::: Bersambung :::


Hai wak-wak reader .....


Jangan lupa dukung author cici dengan terus vote, like dan komen ya. Dan buat yang mau kasih tips juga boleh ya. Terima kasih atas antusias kalian semua kakak-kakak.


Selamat membaca semuanya ....

__ADS_1


__ADS_2