Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part ' 175 (Takdir)


__ADS_3

Saat izin dengan Leo ke toilet, ternyata Karamel mengeluarkan handphonenya untuk menghubungi sang abang yang ada di Malaysia.


"Halo, halo Za," sapa Karamel.


"Hem ya kenapa ?" tanya Faza.


"Za, gue sama Leo pengen ngajak ketemuan Diky sama Adit di cafe Gourmet, gue boleh minta tolong enggak sama lo," pinta Karamel.


"Apa?" tanya Faza.


"Lo ke sini sekarang," pinta Karamel.


"He? Becanda lo bocah," ucap Faza.


"Gue serius, nanti ada yang jemput lo di rumah, lo siap-siap aja yq. Sekarang baru jam dua, nah jam empat lo udah harus di cafe." ucap Karamel langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Ini satu-satunya cara biar Diky sama Adit enggak semena-mena sama Leo entar," gumam Karamel keluar dari toilet.


Di Malaysia, Faza terperangah dengan permintaan Karamel, bagaimana bisa Karamel meminta dirinya untuk datang ke Jakarta dengan waktu yang sangat singkat.


Tok! Tok! Tok! Faza langsung menoleh ke arah pintu kamarnya yang di ketok dari luar.


"Faza," Santi memangil sang anak di kamarnya.


"Iya Bun," Faza hendak mendekati pintu.


"Ada tamu yang nyari kamu, katanya kalian mau pergi ya?" tanya bunda Santi membuat langkah Faza berhenti.


"Bener-bener ya lo Ra," umpat Faza tidak percaya Karamel sungguh-sungguh ingin dirinya pergi ke Jakarta saat ini juga.


Ceklek!


"Hehe iya Bun, Faza ada urusan penting jadi ... ehem! Biasalah Bun anak muda," alibi Faza mengedipkan sebelah matanya.


"Anak muda?" beo Santi.


"But your friend yang dateng kat rumah macem dah tua pun," ucap Santi membuat Faza membulatkan matanya terkejut.


"A a em! Itu, itu supir ... iya supir temannya Faza, Bun, Faza 'kan teman VIP jadi Faza spesial di jemput pake supir pribadi." Faza berbohong.


"Ya udah Faza siap-siap dulu ya Bun," ucap Faza langsung menutup pintu kamarnya.


"Parah lo Ra buat Abang lo sendiri bohong sama Bunda," kesal Faza mengacak-acak rambutnya sendiri.


........................


Setelah keluar dari toilet Karamel langsung menghampiri Leo, "Nanti sore kita ke cafe Gourmet aja ya, aku pengen ketemu Adit sama Diky di sana," pinta Karamel dan Leo hanya bisa menuruti kemauan istrinya itu.


Sembari menunggu Faza mendarat di Indonesia, Karamel mengajak Leo untuk menghabiskan waktu bersama di tempat favorit Karamel.


Seketika Leo menekuk wajahnya kala Karamel mengajak Leo untuk pergi balapan motor.


"Hai kak Jack," sapa Karamel tersenyum sumringah menepuk punggung Jack sehingga Jack membalikan badannya.


"Kara," Jack tampak tidak percaya Karamel masih ingat tempat balapannya.


"Udah lama enggak ke sini, masih ingat nih," sindir kak Jack membuat teman-teman kak Jack lainnya tertawa.


Karamel menekuk wajahnya, "Kara mau balapan sama suami Kara," ucap Karamel tiba-tiba.


Semua yang ada di sana terkejut bukan maen akan pernyataan Karamel yang menyebut dirinya sudah punya seorang suami.


"Suami?" serentak semuanya berdiri dan berteriak.


Karamel menatap satu-persatu sembilan laki-laki yang ada di hadapannya saat itu.


"Iya suami," ucap Karamel.


"Lo udah nikah?" tanya kak Jack dan Karamel mengangguk kecil.


"Sama dia?" teman Jack yang bernama Angga menunjuk Leo, dan Karamel kembali mengangguk.

__ADS_1


"Kapan?" tanya kak Jack.


"Sekitar dua–tiga mingguan," sahut Karamel.


"Kenzi gimana? Udah nikah juga?" tanya kak Angga dan Karamel menggelengkan kepalanya.


"Shh! Kara mau balapan kak," rengek Karamel.


"Ganti pakaikan ...."


"Enggak usah kita kayak gini aja," tolak Karamel.


"Oke, motor lo ada di garasi tapi lo bisa pake motor Angga dan su-am-i lo pake motor kakak," ucap kak Jack ragu-ragu saat mengucapkan kata 'suami'


Karamel mengangguk setuju lalu Karamel mendekati Leo, "Udah siap?" tanya Karamel.


"Enggak," ketus Leo melipat kedua tangannya di perut.


"Ih! Katanya apa yang aku mau kamu bakal turutin tapi kok ini malah ...."


"Okay! I will beat you today, my dear," ucap Leo memotong perkataan Karamel.


"Oh my husband! We will see the results later, you or me!" sahut Karamel tersenyum miring.


"Kalo gue kalah dari Kara, bisa-bisa di masa depan anak gue bakal ngetawain gue gara-gara kalah tanding ama cewek," batin Leo tidak mau dirinya kalah dari sang istri, bisa-bisa kelak mereka punya anak, Karamel akan menceritakan kekalahan Leo.


Leo dan Karamel memulai balapan mereka, di lap pertama Leo berada di depan Karamel bahkan sangat jauh, bahkan Leo mengira Karamel tidak akan mungkin bisa mengejar dirinya namun trik seorang Karamel tidak ada yang bisa menduganya kecuali sang kakak, Kenzi.


Karamel menancapkan gasnya hingga memasuki lap kedua Leo yang berada jauh dari Karamel, Leo berusaha mengejar Karamel dan itu berhasil. keduanya beriringan bersama.


Karamel tersenyum melihat suaminya itu sangat terburu-buru, "Maaf ya sayang, gue menang lagi," batin Karamel mendahului Leo hingga di lap terakhir Leo tidak bisa lagi mengejar Karamel.


Dan jadilah Karamel yang duluan menginjak garis finish, sembari melepas kedua tangannya dari setang motor Karamel berteriak heboh. Begitu juga dengan para teman-teman kak Jack yang menonton aksi Karamel.


Leo membulatkan matanya, detak jantung Leo berdegup sangat cepat, untuk kedua kalinya Leo melihat Karamel melepas tangannya dari setang motor.


Selesai sudah pertandingan keduanya, Karamel merasa puas karena sudah mengalahkan sang suami tercinta.


"Namanya juga hobi, ya enggak Kar?" timpal kak Angga bertanya pada Karamel.


Karamel tersenyum mengangguk, "Yap," sahut Karamel mengacungkan jempol kanannya.


Ehem ....


Leo datang menghampiri Karamel, "Pulang sekarang," ajak Leo dan Karamel langsung turun dari motornya.


Di dalam mobil Karamel merasa aneh dengan Leo, "Marah karena kalah ya?" ejek Karamel mendekatkan wajahnya pada Leo.


Leo menatap Karamel hingga Karamel menjauhkan wajahnya, "Jangan ulangin itu lagi, Kara. Aku enggak suka!" ucap Leo datar.


"Apa? Yang mana?" tanya Karamel.


"Aku pernah bilang sama kamu, jantung aku hampir pernah copot gara-gara lihat kamu lepas tangan dari setang motor. Dan lihat, sekarang kamu mengulanginya lagi." ketus Leo mengalihkan pandangannya ke depan.


Karamel baru ingat dulu Leo pernah memintanya berjanji untuk tidak mengulangi hal yang akan membahayakan nyawanya, "Maaf," lirih Karamel menundukkan kepalanya, Leo mengelus kepala Karamel lembut.


"Jangan di ulangi lagi, janji!" Leo mengangkat jari kelingkingnya ke arah Karamel.


"Janji," sahut Karamel menempelkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking sang suami.


"Istri pinter," ucap Leo mengacak-acak rambut Karamel.


Leo tidak suka marah dengan Karamel karena jika Leo melakukan Karamel dengan kekerasan, kemungkinan besar Karamel akan lebih keras melawan dirinya, maka dari itu Leo berusaha untuk lebih tenang menghadapi Karamel agar Karamel tidak membantah perkataannya.


"Jadi kita ke cafe sekarang?" tanya Leo tersenyum agar Karamel tidak merasa takut.


Karamel mengangguk pelan, "Iya!" sahut Karamel.


Leo dan Karamel pergi ke cafe Gourmet, selama di perjalanan Leo dan Karamel bercerita masa muda mereka hingga satu jam berlalu mereka sampai di parkiran depan cafe Gourmet, mereka berdua melihat ada empat sahabat Leo yang sedang mengobrol di cafe itu.


Diky, Adit, Dito dan Bobby. Mereka semua berkumpul dengan raut wajah yang menegangkan.

__ADS_1


Karamel hendak berjalan mendekati keempat laki-laki itu namun Leo mencekal tangan Karamel dan Karamel langsung menatap bingung ke arah Leo.


"Biar aku yang duluan ke sana, kamu tunggu di sini," titah Leo menyentuh pipi kiri Karamel.


"Kamu ...." belum selesai Karamel bicara, Leo sudah pergi meninggalkan Karamel.


"Aduh, kalo Leo tiba-tiba dateng dan mereka masih kecewa sama Leo, bisa-bisa mereka langsung ngamuk sama Leo." gumam Karamel khawatir dengan terus menggigit jempolnya.


Dasar Karamel, sudah hampir masuk usia 19 tahun tapi masih saja suka gigit jempol, mungkin kekhawatirannya membuat tidak sadar akan tindakannya yang lucu itu, sampai-sampai Karamel tidak menyadari ada banyak orang yang memandangi gelagatnya.


Leo melangkahkan kakinya mendekati empat sahabat lamanya itu, Leo tahu dirinya akan mendapatkan amukan empat orang itu tapi Leo berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi mereka semua.


"Hai, long time no see," ucap Leo berdiri di samping meja keempat sahabatnya itu.


Dengan gerakan cepat keempat laki-laki itu mendongakkan kepalanya secara bersamaan, Leo memaparkan senyumannya tapi apa yang Leo dapat?


"Lo," tunjuk Dito mengernyit.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Diky tidak suka.


"Mending lo pergi dari sini, kita enggak ada yang ngundang lo buat kumpul," usir Bobby tiba-tiba.


"Gue ke sini mau ...." ucapan Leo terpotong.


"Kita muak liat muka brengs*k lo, mending lo pergi sekarang." usir Dito dengan nada tinggi.


"Dito, gue mau jelasin ...."


"Lo mau jelasin kesalahan lo dua tahun yang lalu? Semua itu udah enggak ada artinya lagi buat kita, Le." potong Diky mengeraskan rahangnya.


"Dengarin gue ...."


Di saat Leo ingin bicara, Diky langsung mengatupkan kedua tangannya.


"Gue mohon, susana hati kita berempat lagi enggak baik, gue takut kita berempat bakal benci sama lo, inget perbuatan lo dua tahun yang lalu Kara sampai menderita dan lo tau, Kara sekarang udah ...."


"Di balik itu semua gue punya alasan tersendiri, Dik," potong Leo lirih.


Di saat itu juga Karamel masuk cafe namun Karamel memakai kaca mata hitam dan juga masker jadi kelima laki-laki itu tidak menyadari akan kehadiran Karamel, Karamel mengambil tempat duduk yang lumayan dekat dengan mereka dan tempat itu meja belakang Leo berdiri.


Karamel duduk memunggungi mereka berlima, "Kalo gini, gue enggak akan ketahuan 'kan," gumam Karamel.


"Gue mohon demi Karamel ...."


"Bisa enggak lo jangan sebut nama Karamel dari mulut kotor lo itu!" pekik Adit menggertak meja.


"Enggak ada gunanya buat lo jelasin semuanya sekarang, toh semua itu udah jadi masa lalu dan Lagi, gue lihat lo udah batalin pertunangan lo sama model dari inggris itu demi bisa jadian sama Clara 'kan." sengit Adit tersenyum miring.


Leo sedikit melebarkan matanya, "Lo ...."


"Iya, gue tau," potong Adit.


"Lo enggak pernah berubah ya Le, masih brengs*k kayak dulu," sengit Diky.


"Adit tau so'al kedekatan Leo sama Clara dari mana?" batin Karamel terkejut juga karena Adit bisa tahu soal Leo dan Clara.


Tringg! Handphone Karamel tiba-tiba berdering.


"Halo," Karamel berbisik.


"Udah sampe di Jakarta nih gue," ucap Faza.


"Langsung ke cafe aja," titah Karamel langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Setelah mereka tau kebenarannya, gimana reaksi mereka? Apa mereka bakal semakin marah dan kecewa kayak Abdi?" gumam Karamel takut jika keempat pemuda itu tetap akan merasa kecewa walau sudah tau kebenarannya nanti.


.......


.......


.......

__ADS_1


...::: Bersambung :::...


__ADS_2