Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 225 (Takdir)


__ADS_3

Setelah puas bercanda gurau dengan Leo, Karamel yang sempat meninggalkan kedua laki-laki itu di ruang tengah, kini kembali ke ruang tangah untuk mengajak mereka makan makan malam bersama.


Dua puluh menit sudah mereka menghabiskan makan malam mereka yang di buat khusus dari tangan Karamel sendiri, karena dulu mama Sofi pintar memasak dan Karamel juga sering belajar masak, rasa masakkan Karamel membuat Aryan tak henti-hentinya melontarkan pujian hingga Leo sendiri di buat jengkel olehnya.


"Pantas Leo betah denganmu, little girl." ucap Aryan pada saat mereka kembali berkumpul di ruang tengah.


"Apa alasannya?" tanya Karamel.


"Pria manapun pasti suka dengan wanita yang pintar memasak sepertimu, little girl." ucap Aryan.


"Wanita manapun juga asalkan mereka mau belajar masak, mereka pasti bisa memasak 'kan!" Imbuh Karamel.


"Minggu depan kalian ada waktu senggang?" tanya Aryan mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa?" Leo tidak mau menjawab sebelum Aryan memberikan alasannya bertanya seperti itu.


"Aku ingin mengundang kalian ke pestaku," imbuh Aryan membuat Leo dan Karamel mengerutkan dahi mereka.


"Pesta pernikahanmu?" tanya Karamel dengan mata yang berbinar-binar, semoga saja benar kakaknya yang satu ini akan segera menikah.


"Hah, menikah? Yang benar saja, little girl, usiaku masih terlalu muda untuk menikah sekarang," ucap Aryan dengan wajah malasnya.


"Lalu pesta apa yang mau kau adakan?" tanya Karamel tampak kecewa karena apa yang ia harapkan ternyata salah.


"Beberapa hari yang lalu aku baru saja membuka studio pemotretanku sendiri di Singapura, aku ingin merayakan keberhasilanku dengan berpesta di New Zealand lebih tepatnya di kapal pesiar pribadiku di sana," sahut Aryan membuat pasangan suami-istri itu saling beradu pandang.


"New Zealand?" beo Leo dan Karamel serentak.


"Hem, aku juga ingin mengundang SALF BADRAD dan para sahabat-sahabat Karamel," ucap Aryan dengan senyum tipisnya.


Leo menatap ke arah Karamel yang juga menatap ke arahnya, seakan-akan sedang bertanya 'bagaimana pendapatmu?' pada Karamel. Leo menaik turunkan alisnya beberapa kali.


"A em! Berapa hari pestanya di adakan?" tanya Karamel gelagapan karena Leo tidak mau berhenti menatap dirinya.


"Sepertinya tiga atau empat hari," sahut Aryan membuat Karamel menatap ke arah Leo.


"Aku terserah kamu, Kara, kalo kamu mau ikut, kita bisa pergi ke pestanya kak Aryan." ucap Leo mengelus rambut belakang Karamel.

__ADS_1


"Gimana sama urusan kantor kamu?" tanya Karamel takut akan merepotkan urusan kantor suaminya.


"Jangan khawatir, aku 'kan CEO di kantorku jadi aku bisa ngambil cuti kapanpun aku mau, sayang." nada bicara Leo seperti sedang menyombongkan diri kepada sang istri.


"Jadi minggu depan kita bisa ikut pesta?' tanya Karamel dengan antusias.


"Ya kalo kamu mau," ucap Leo membuat Karamel mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Of course aku mau, lagian aku juga bosan diem di rumah mulu, sekali-sekali keluar ikut pesta enggak apa-apa 'kan." sahut Karamel membuat Leo tersenyum senang sembari menganggukkan kepalanya.


..............


...Malaysia....


Pagi ini Faza dan Dafa berangkat ke kampus bersama dan sesampainya di parkiran kampus, sudah ada Gina yang duduk di bangku bawah pohon rindang.


Di dalam mobil Faza menatap datar ke arah Gina sedangkan Dafa menatap Faza dan Gina secara bergantian.


"Ingat pesan bunda, mulai sekarang lo harus jauhin Gina." ucap Dafa mengingatkan Faza agar tidak mendekati Gina lagi.


"Gue tau," sahut Faza malas lalu mereka berdua keluar dari mobil.


"Bang Faza," gumam Gina berdiri dan hendak mendekati Faza namun Faza tidak melihat Gina jadilah Faza melangkahkan kakinya untuk pergi dari parkiran.


"Bang Faza," pekik Gina namun tidak membuat langkah Faza berhenti, mungkin karena terlalu ramai teriakan para wanita yang menyebut nama Faza jadi Faza tidak bisa mendengar dirinya.


Padahal jika Gina tahu, Faza mendengar jelas teriakkan Gina namun Faza hanya bisa mengepal tangannya dengan berpura-pura tidak mendengar teriakkan Gina.


"Maafin gue, Gina." batin Faza lirih.


Gina berusaha mengejer Faza namun langkah besar Faza dan Dafa sulit untuk ia susul, seakan-akan sedang terburu-buru Faza dan Dafa mempercepat langkah mereka dan itu membuat Gina harus berlari mengejar mereka.


"Lo 'kan cinta sama sepupu lo Karamel jadi mudahlah buat lo lepasin Gina," ucap Dafa pada saat mereka manaiki tangga.


"Jangan di bahas lagi," sahut Faza malas.


"Gue saranin lo harus bilang sama Gina buat ngejauh dari lo, enggak tega gue lihat cewek baik-baik kayak Gina di gantungin kayak gini sama lo." ucap Dafa membuat Faza menghentikan langkahnya lalu Faza menatap sinis ke arah Dafa.

__ADS_1


"Gue enggak pernah punya hubungan lebih dari seorang sahabat sama Gina bahkan kalo gue udah jatuh cinta sama Gina, Gina juga enggak akan mudah buat jatuh cinta sama gue." sarkas Faza.


"Walau Gina enggak cinta sama lo tapi ...."


"Bang Faza jatuh cinta dengan Gina?"


Dafa dan Faza langsung menoleh ke arah bawah tangga kala mendengar suara perempuan dan dia adalah Gina, Gina mendengar pembicaraan mereka dan kini Gina bertanya akan perasaan Faza.


Faza membelalakkan matanya begitu juga Dafa yang sangat kaget akan kehadiran Gina.


"Kenapa Bang Faza tak beritahu Gina tentang perasaan Abang?" tanya Gina membuat kedua laki-laki itu saling pandang.


"Gina fikir Bang Faza ...."


"Jangan mikirin hal aneh-aneh, gue cuma kagum sementara doang, enggak sampai jatuh cinta sama lo." ucap Faza dingin.


Gina sedikit kaget dengan perubahan sikap Faza yang super cuek, apalagi mendengar panggilan Faza yang berubah menjadi 'lo-gue'


"Marah Bang Faza dengan Gina?" tanya Gina begitu polos membuat Faza geram karena sulit baginya untuk bicara kasar dengan wanita satu ini.


"Iya, gue marah sama lo jadi mulai sekarang persahabatan kita berakhir sampai di sini, lo sama gue anggap enggak pernah saling kenal." sengit Faza terpaksa berbicara kasar kepada Gina.


"Kenapa Bang Faza marah dengan Gina? Patutnye Gina yang marah dengan Abang sebab Ahad lepas Abang tak tunaikan janji nak jemput Gina," ucap Gina mengingatkan kemarin Faza tidak datang menjemput Gina yang sudah menunggu Faza selama berjam-jam.


"Marah tinggal marah, enggak usah lo dekat-dekat gue lagi." sahut Faza kemudian pergi meninggalkan Gina diikuti Dafa yang juga meninggalkan Gina.


"Ape masalah Gina?" gumam Gina di buat bingung sendiri oleh sikap Faza.


Di dalam kelas Faza merasa kesal sendiri dengan sikapnya kepada Gina waktu di tangga tadi, walau Faza melakukannya dengan sangat terpaksa tapi tetap saja Faza sudah terlanjur menyuruh Gina untuk menjauh darinya.


"Sebelum gue ketemu Lily, gue juga pernah gagal deket sama cewek yang gue suka." ucap Dafa tiba-tiba duduk di samping Faza.


"Mungkin Gina bukan jodoh lo,"tambah Dafa dan Faza tidak bisa menjawab karena mungkin Gina memang bukan jodohnya.


.......


.......

__ADS_1


.......


...::: Bersambung :::...


__ADS_2