
...Irlandia _ Kantor Binondra Grup (08 : 50 AM)...
"Siapkan penerbanganku ke Indonesia malam ini, Jeffry." titah Leo pada asisten pribadinya.
"Tapi Tuan, malam ini anda ada pertemuan makan malam dengan nona Jessy di restoran Forty One," ucap asisten pribadi Leo yaitu bernama Jeffry.
"Batalkan," titah Leo.
Glukk! Jeffry menelan ludahnya dengan susah payah, 'Batalkan' kata itu membuat Jeffry berkeringat panas dingin pasalnya jika Leo membatalkan rencana pertemuan dengan Jessy, Jessy akan sangat marah bahkan akan melakukan hal nekat dan itu akan merugikan tuannya juga.
"Tuan ...."
"Katakan pada Jessy aku mempunyai urusan pekerjaan di Singapura selama beberapa minggu setelah selesai aku akan kembali dan menuruti semua kemauannya," ucap Leo tegas.
"Baik Tuan, saya permisi," patuh Jeffry.
"Dua tahun, Kara." ucap Leo menatap foto Karamel yang memakai baju putih dan rok abu-abu di layar laptopnya.
"Seribu seratus tujuh tangisan kamu, seratus lima puluh enam lembar diarymu dan tiga ratus delapan puluh tujuh adalah ...." gumaman Leo seketika berhenti kala menyadari ada yang janggal dengan angka terakhirnya.
..............
...Apartemen Biyan....
Sejak kemarin Mika tidak henti-hentinya menangis karena masih kesal dengan Leo yang menuduh sahabatnya berkhianat.
"Muka lo jelek kalo nangis, berhenti sekarang! Toh Karamel juga udah mau nikah 'kan," ucap Biyan membuat Mika terbelalak.
"Tahu dari mana lo?" pekik Mika terkejut.
Karamel sudah memberitahu Mika so'al pernikahannya itu tersembunyi dan yang tahu tentang pernikahan Karamel hanya, Kenzi, Faza, Aryan, Adit, Diky, Firgy, Niky dan Mika saja. Untuk yang lainnya belum ada yang tahu Karena kesibukan mereka yang susah untuk di beri kabar.
"Seminggu yang lalu gue dengar pembicaraan kalian berdua di Singapura," ucap Biyan.
"Karamel cerita, Henry maksa Karamel buat cepat-cepat nikah sama dia, mereka sempat berantem waktu itu tapi pada akhirnya Karamel kalah karena orang tua Karamel lebih bela Henry ketimbang Karamel, alhasil Karamel setuju buat nikah sama Henry." jelas Mika.
"Gue harap pernikahan mereka berjalan dengan lancar dan untuk Leo, semoga aja dia nggak ganggu Karamel lagi," lirih Mika.
"Fikiran lo udah dewasa tapi kenapa lo nggak ngerti sama omongan gue tentang ...."
"Udahlah jangan di bahas lagi, Kak. Lagian gue udah gede, gue berhak nentuin tempat gue mau tinggal sama lo atau sama Daddy." ketus Mika pergi meninggalkan sang kakak di ruang tengah.
Biyan hanya bisa pasrah dengan sang adik yang tidak pernah mau lagi bertemu dengan sang daddy kecuali sang Daddy mau mengizinkan kakaknya kembali ke keluarga mereka lagi.
...........
...Bandara Dublin Airport _ 21 : 10 PM....
Kini Leo sudah berada di dalam pesawat bersama dengan Jeffry yang duduk di sampingnya.
"Bagaimana di sana?" tanya Leo.
"Semua sudah di siapkan, Tuan," ucap Jeffry sehingga memejamkan matanya.
"Tiga ratus delapan puluh tujuh adalah angka hari di mana Karamel menunggu kedatangan seorang Cleo Rendra Agata."
Leo kembalu mengingat kata-kata yang di ucapkan oleh sahabat Karamel yaitu Mika.
"Apa di hari ketiga ratus delapan puluh tujuh kamu udah nyerah buat nunggu kedatangan aku, Kara." batin Leo sudah menyadari angka itu sudah lewat 10 bulan yang lalu.
Jadi bisa di pastikan mungkin kini Karamel tidak lagi menantikan kedatangan Leo.
__ADS_1
Katakanlah Leo egois sekarang tapi memang benar nyatanya, Leo memang masih sangat mencintai Karamel, semasa hidupnya tanpa Karamel tidak pernah ada wanita lain yang bisa meruntuhkan hati Leo sekalipun itu sang kekasih Jessy Mon Andrea sendiri tidak pernah bisa membuat Leo jatuh cinta kepadanya.
...........
...Indonesia _ Kediaman Keluarga Sinaja (09 : 10 AM)...
Di sini di ruang keluarga ini Henry tampak mondar-mandir tak karuan seperti orang yang sedang kebingungan karena raga gugup yang melanda dirinya.
"Kau membuat aku pusing karena terus berjalan ke sana ke mari seperti setrikaan, Kakak." celoteh Fico.
"Tenanglah, Bos." ucap Andi pada Henry.
"Aku merasa sedikit tidak tenang," ucap Henry.
"Wajar kak, ini adalah pernikahan pertamamu, jika kau sudah pengalaman pasti kau tidak akan gugup lagi," ucap Fico asal-asalan.
"Jaga bicaramu Fico, aku tidak akan menikah untuk yang kedua kalinya, Karamel akan menjadi yang pertama dan terakhir bagiku," ucap Henry membuat yang lain tersenyum mendengarnya begitu juga Sanjaya dan Sofia.
Fico tidak tersenyum tapi dia tertawa dengan ucapan sang kakak yang benar-benar sudah cinta ma*i dengan Karamel,
"Hahaha ... bukankah punya istri banyak itu menyenangkan, Kak?" goda Fico.
Fico memang masih nakal seperti dulu sama seperti dua orang kepercayaan Henry yang tidak pernah bisa lepas dari selangka**an wanita.
"Tidak ada wanita manapun yang bisa menandingi Karamelku, Fico. Jadi jangan bahas hal konyol itu lagi." kesal Henry melanjutkan demam panggungnya lagi alias mondar-mandir tak karuan.
Beberapa menit berlalu belum juga ada tanda-tanda Karamel akan turun ke bawah, "Kenapa Karamel lama sekali, Andi." kesal Henry.
"Tenanglah, Bos. Sebentar lagi calon istrimu akan segera turun," ucap Andi menenangkan sang bos.
Fico tersenyum melihat kepanikan sang kakak, "Cih! Sangat tidak sabaran." ejek Fico.
Tak lama dari mengucapkan itu, mata Fico tertuju ke arah lantai dua yang memperlihatkan seorang wanita cantik dan anggun dengan pakaian pengantinnya.
"Lihatlah di belakangmu, Bos." bisik Andi pada Henry sehingga Henry menatap Andi sejenak lalu ia membalikan badannya untuk menatap ke arah tangga.
Degg ....
"Beautiful, Baby Girl." gumam Henry tersenyum melihat Karamel. Pandangan mata pria itu tidak lepas dari sang calon istri sampai ia menyambut tangannya untuk duduk pun Henry masih tetap setia menatap calon istrinya itu.
"You are so beautiful, Baby Girl." ucap Henry pada Karamel.
Sekilas Karamel tersenyum menatap Henry lalu ia mengalihkan pandangannya pada sang papa yang ada di depannya sekarang.
Beberapa menit ayah dan anak itu saling tatap sampai Sanjaya memejamkan kedua matanya sekilas pada Karamel membuat air mata Karamel jatuh saat melihatnya, Henry menggenggam erat tangan Karamel yang sangat dingin dengan getaran yang kuat kemudian Sanjaya menjabat tangan Henry.
"Ananda Henry Gauzen Virgopus Del Nixon bin Regan Del Nixon, aku nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak kandungku Karamel Listra Nasaji Aramoy binti Sanjaya Adi Sinaja dengan mas kawin berupa perhiasan sebesar 24 karat tunai." ucap Sanjaya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Karamel Listra Najasi Aramoy binti Sanjaya Adi Sinaja dengan mas kawin tersebut tunai." ucap Henry mengikuti ucapan Sanjaya.
"Bagaimana saksi? Sah?" tanya bapak penghulu di samping papa Sanjaya.
Sahhh! Sahut para saksi yang hadir di sana.
"Alhamdulillah," ucap Aldy dalam video call ponsel mama Sofia.
"Alhamdulillah sahh," sahut Faza dalam video call ponsel Aditya.
Henry menghembuskan napas lega saat suara sahutan sah dinyatakan sebagai suami Karamel, sementara Karamel semakin merintihkan air matanya, perasaan senang karena setatus barunya menjadi seorang istri dan sedih karena akan pisah dari kedua orang tuanya bercampur menjadi satu.
Henry dan Karamel di suruh untuk menanda tangani beberapa berkas termasuk dua buku nikah merah dan hijau yang menjadi bukti di mata negara dan agama bahwa mereka sudah menjadi pasangan suami dan istri yang sah.
__ADS_1
Setelah selesai beberapa orang lainnya termasuk Henry langsung menikmati makanan yang sudah di hidangkan.
Namun tidak dengan Adit dan Diky yang duduk di sisi kanan dan kiri Karamel dengan terus membanjirinya pujian, candaan dan juga kamera masing-masing ponsel mereka berdua.
"Cantik banget sih," puji Diky.
"Foto yuk, satu, dua ... ckrek ... ckrek " Adit mengambil dua gambar mereka bertiga, tapi kenapa yang di ujung tidak terlihat bagus? Astaga ternyata Diky belum siap dan matanya terpejam semua.
"Hapus, nggak bagus," kesal Diky melihat hasil foto dirinya tidak terlihat tampan.
"Dih! Kita berdua bagus nih, sayang kalo di hapus. Ntar gue kasih stiker banteng deh." ucap Adit membuat Karamel tertawa cekikikan.
"Wah parah lo," sengit Diky.
"Kara, kita foto pake HP gue yuk, satu, dua, dua, dua, dua ...."
"Woy ...."
Ckrek! Diky langsung menekan tombol tengah hingga hasil fotonya Adit lah yang terlihat jelek karena mulutnya menganga sangat lebar.
"Bahaha! Tenang ntar gue kasih stiker buaya," balas Diky membuat Karamel ikut tertawa kecil.
"Kalian berdua nggak pernah berubah ya, berantem masalah kecil mulu," ucap Karamel terus tersenyum karena tingkah mereka berdua.
"Kita ribut tapi nggak pernah sampai baku hantam kok," ucap Adit.
"Betul," sahut Diky mengacungkan dua jempolnya, hingga Karamel semakin tersenyum merekah di buatnya.
"Akhirnya sahabat gue bahagia lagi kayak dulu," ucap Adit seraya menyentuh dagu Karame membuat Karamel tersenyum menyentuh tangan Adit.
"Oh iya dong, Karamelnya Diky harus tetap bahagia selalu," timpal Diky menggenggam tangan Karamel.
"Karamelnya Adit kali ya," sengit Adit tidak suka jika Karamel di miliki oleh Diky.
Karamel menghela napas pasrah dan juga menggeleng-gelengkan kepala karena kedua sahabatnya itu selalu bertengkar masalah kecil seperti ini.
.............
...Bandara Internasional Soekarno-hatta _ 14 : 45 PM....
Leo sudah turun dari pesawat dan sekarang ia keluar dengan di sambut oleh puluhan anak buahnya.
"Selamat datang Tuan Muda," sambut mereka serentak hingga beberapa pandang mata menatap kagum ke arah Leo.
"Kita langsung ke rumah sekarang," titah Leo tanpa ekspresi.
"Baik, Tuan." patuh Jeffry.
"Aku kembali, Kara." gumam Leo seraya melangkahkan kakinya menuju mobil miliknya.
.......
.......
.......
...::: Bersambung :::...
Wah wah wah ... Leo kembali lagi nih dan Karamel juga udah nikah. Pada penasaran nggak nih sama kelanjutan ceritanya?
Wak-wak readerku tunggu kelanjutannya di hari senin ya, besok author nggak bisa update karena author besok ada perjalanan panjang menuju kampung halaman author.
__ADS_1
Salam hangat dari author buat kalian para wak-wak readerku.😉😉