Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part 158 _ Visual Karamel.


__ADS_3

...Apartemen Rio (Singapura)....


...16 : 00...


Setelah Mika resmi menjadi kekasih Rio, bukan kebahagiaan yang Mika dapat tapi malah kesedihan yang sangat menyakitkan.


Mika mencoba untuk memberitahu para sahabatnya bahwa dia sudah menjadi kekasih Rio, namun ketika Mika mencoba untuk menghubungi Karamel, nomor Karamel tidak pernah aktif.


Mika ingat, Diky dan Adit selalu bersama Karamel di Jakarta jadi Mika mencoba untuk menghubungi Diky dan Adit.


Tapi saat Mika bertanya di mana Karamel, Diky dan Adit malah bercerita tentang kejadian sebulan yang lalu ketika Karamel di tembak oleh seseorang hingga Karamel mengalami koma selama seminggu di Jakarta, karena tidak ada tanda-tanda akan sadarnya Karamel, Henry sampai membawa Karamel ke Kanada untuk bisa di rawat di sana namun seminggu kemudian mereka mendapat kabar dari Kenzi bahwa Karamel tidak bisa di selamatkan.


Karamel telah di nyatakan meninggal.


Rio datang membawakan secangkir teh untuk sang pacar yang tengah duduk dan melamunkan sesuatu.


"Mika," panggil Rio duduk di samping Mika


"(....)" tapi Mika diam.


"Lagi ngelamunin apa, hem?" tanya Rio menyentuh puncak kepala Mika membantu empunya menoleh ke arah Rio.


"Hem?" Mika menjadi bingung sendiri.


"Kamu lagi ngelamunin apa, sayang?" tanya Rio.


"Itu, Karamel," gumam Mika.


"Bener ya Kara udah gak ada di dunia ini lagi?" tanya Mika lirih, ia masih tidak percaya sahabatnya telah tiada.


"Mika ...."


"Karamel baru aja memulai kebahagiaan dia sama Henry, terus kenapa ... aku gak percaya dia udah pergi, Rio," lirih Mika merintihkan air matanya.


"Takdir hidup gak ada yang tau, Mika," sahut Rio membuat Mika terisak.


Rio sangat sedih melihat Mika terus menangis, di peluknya tubuh Mika yang bergetar kuat.


"Berhenti nangis sayang, kalo Kara di sini, dia pasti bakal ngerasa sedih karena ngeliat kamu kayak gini," ucap Rio.


Rio bukan hanya sedih melihat Mika menangis tapi Rio juga sedih mengingat Karamel mempersatukan SALF BADRAD, mengingat Karamel selalu memberi kehangatan untuk SALF BADRAD, kini telah meninggalkan mereka untuk selamanya.


"Untuk kedua kalinya kita semua kehilangan orang sepesial di hidup kita, Kara." batin Rio mengenang kehilangan Sasya dan kini mereka juga kehilangan Karamel.


..............................


...Mansion Keluarga Mahendra (Singapura)....


Yara menyuruh Leo dan Karamel untuk menginap di mansion, Leo sempat menolak namun Karamel menerima ajakan mama mertuanya.


"Apa sekarang keputusan kita gak searah lagi?" tanya Leo jengkel dengan Karamel karena tidak memahami dirinya yang ingin menghabiskan waktu berdua saja di apartemen.


"Cuma untuk malam ini aja," sahut Karamel.


Yara ikut tersenyum melihat wajah masam sang anak, "Dulu kau tidak bisa berjauhan dari Mama tapi sekarang kau sudah dewasa, kau sudah merasa nyaman dengan anaknya Sofia, Leo." batin Yara.


Menyadari di pandang oleh sang mama, Leo menatap nanar wajah sang mama, "Leo tidak bermaksud untuk menolak permintaan Mama, maafkan Leo, Mah." lirih Leo menjewer telinganya sendiri.

__ADS_1


Yara tersenyum menggeleng, "Mama tau kau ingin menghabiskan banyak waktu dengan istrimu tapi Mama juga ingin lebih dekat dengan menantu Mama, Leo," ucap Yara menatap Karamel.


"Mama sangat merindukan Sofia jadi sebelum Mama bertemu dengan Sofia, biarkan Mama menghabiskan banyak waktu dengan anaknya terlebih dahulu." tambah Yara membuat raut wajah Karamel berubah murung.


Leo menelan salivanya ketika melihat perubahan raut wajah Karamel.


"Mah ...." perkataan Leo terpotong.


"Apa kau keberatan Mama meminjam istrimu untuk malam ini saja?" tanya Yara menatap Leo.


"Jika kau ingin mendapat restu dari Papa, maka biarkan kami mengenal lebih dekat istrimu ini, Leo." timpal Prasetya dingin.


"Tapi Pah ...."


"Mah," panggil Karamel.


"Ada apa sayang?" tanya Yara menatap Karamel.


"Ka-Kara tidak bisa bertemu dan tidak akan pernah bisa bertatap muka dengan Mama Kara lagi," ucap Karamel terdengar ambigu di telinga Yara.


"Apa maksudmu, Sayang?" tanya Yara menbuat Karamel menggigit bibir bawahnya.


"Maksud Kara, Ma-Mama Kara ...."


"Mama Sofia sudah meninggal, Mah." potong Leo membuat Yarra menatap sang anak.


"Apa yang kau katakan Leo, kenapa kau ...." perkataan Prasetya teropong.


"Mama Sofia sudah meninggal, Mah–Pah." ucap Leo lagi membuat Yara dan Prasetya kaget sedangkan Karamel merintihkan air matanya.


Yara memelototi Leo yang menurutnya sedang berbicara sembarangan, "Kau ...."


"Kejadiannya sangat panjang ...." ucap Leo mulai menceritakan segala yang terjadi hingga ke pernikahan mendadak Karamel dan Leo pun, semua Leo ceritakan.


Tubuh Yara bergetar kuat, air mata penuh membasahi pipinya ketika Leo mengatakan mama Sofia dan grandma Bertty tertembak oleh mantan suami Karamel.


Sedangkan Prasetya di penuhi api amarah ketika tahu Rega Ananda hanya berpura-pura menjadi sahabat Sanjaya demi meluncurkan pembalasan dendam di masa lalu.


"Ka-kau masih menjadi polar prince?" tanya Yara membuat Leo tertunduk lemas.


"Maafkan Leo, Mah." lirih Leo.


"Jika kau masih menjadi polar prince kenapa kau tidak bisa menyelamatkan nyawa Sofia, Leo." pekik Yara dengan di penuhi air mata.


"Yara ...." perkataan Prasetya terpotong.


"Lihatlah anak kebanggaanku ini, Mas. Dia kembali ke dunia gelap yang dulu pernah membuat kakaknya terbunuh, walupun begitu dia tetap gagal dalam menyelesaikan misinya," sentak Yara semakin membuat Leo menenggelamkan wajahnya.


"Untuk apa kau masih memakai gelar polar prince jika kau tidak bisa menyelamatkan dua nyawa yang sangat istrimu cintai, Leo." sengit Yara memojokan Leo.


Yara marah karena dunia mafia akan selalu mengingatkannya pada kematian Vian, Yara marah karena Leo kembali ke dunia gelap itu, Yara juga marah karena Leo gagal menyelamatkan nyawa sahabatnya.


"Mah ...."


"Maafkan anak Mama yang tidak bisa menyelamatkan Sofia, Sayang." ucap Yara pada Karamel.


Karamel menggelengkan kepalanya, "Leo tidak bersalah, Mah. Leo membantu Kara menyelesaikan bahaya keluarga Kara ...."

__ADS_1


"Tapi dia gagal menyelamatkan ...."


"Leo sudah berusaha, tragedi penembakan itu memang sudah tidak bisa menyelamatkan nyawa Mama dan Grandma lagi." potong Karamel menghapus air matanya sendiri.


"Di mana Sanjaya sekarang?" tanya Prasetya tiba-tiba.


"Pa-pa Sanjaya masih di Kanada, Pah." sahut Leo masih di posisi menundukkan kepalanya.


"Papa akan ke sana malam ini," ucap Prasetya.


"Om ...."


Sebelum Karamel menyelesaikan perkataannya, Prasetya sudah lebih dulu berdiri dan menghampiri Karamel.


"Berdirilah," titah Prasetya pada Karamel sehingga Karamel mengikuti perintah Prasetya untuk berdiri di depannya.


"Hari ini Leo telah membuatku mengingat masa lalu ketika aku memperjuangan cinta istriku, aku bahkan lebih parah dari Leo. Aku melawan Neneknya demi bisa menikah dengan istriku." ucap Prasetya.


"Leo adalah anakku, dia sama kerasnya seperti diriku, apapun yang dia inginkan, dia akan berusaha untuk menggapainya." sambung Prasetya.


"Masa lalu itu tidak akan terulang lagi, aku tidak akan seperti Neneknya Leo yang menolak dirimu sebagai menantuku, aku merestui hubungan kalian berdua jadi mulai sekarang panggil aku dengan sebutan Papa," ucap Prasetya tersenyum mengelus puncak kepala Karamel.


Leo sangat terkejut sekaligus bahagia mendengar pernyataan sang papa, seperti mimpi yang mustahil terjadi, kini Leo dan Karamel telah mendapatkan restu dari sang papa.


Begitu juga Yara yang masih di penuhi air mata, tiba-tiba berubah menjadi terkejut kala melihat Prasetya tersenyum kepada Karamel.


Pasalnya setelah kematian anak pertama mereka, Prasetya sangat jarang tersenyum dengan Yara ataupun Leo bahkan di depan publik Prasetya hanya menampakan wajah datar saja namun kali ini Prasetya tersenyum dengan seorang gadis yang baru saja ia lihat di hari ini juga. ini benar-benar sebuah keajaiban!


..............................


...Indonesia....


...19 : 45....


Seorang laki-laki yang tinggal di Bandung, sedang menatap foto seorang wanita yang ia kagumi dan cintai sejak pertama kali bertemu di sebuah cafe malam saat mereka masih sekolah menengah atas.


Dia adalah Karamel Listra Najasi Aramoy, wajah dan nama wanita yang kini masih tersimpan apik di dalam hatinya.




"Gue pengecut dulu, gue cinta sama lo Kara tapi kenapa gue nggak punya keberanian buat ngungkapin semuanya," ungkapnya lirih.


"Sampai lo udah nikah, gue masih belum bisa ngilangin perasaan cinta gue ke elo," ucapnya.


"Gue harus gimana, Kara? Gue pengen lo jadi milik gue, milik Kevin Manuel Zeferino!" ucap Kevin tidak melepas tatapannya dari foto Karamel.


.


.


.


...::: Bersambung :::...


Uwuu ....

__ADS_1


Ternyata Kevin benar-benar suka sama Karamel, kira-kira bakal gimana kelanjutan ceritanya ya?


__ADS_2