
Setelah semua acara pernikahan selesai dan para tamu undangan telah bubar kecuali Jessy, Kenzi dan Faza, kini Fico membawa Henry turun ke bawah untuk menghadap Karamel dan Leo.
Karena Karamel ingin menyelesaikan urusannya dengan Henry maka hari ini juga Karamel akan mengungkap semua yang ingin ia katakan pada Henry.
Fico melepas penutup mulut Henry. "Jangan tinggalkan aku, Baby Girl. Aku ... aku sangat mencintaimu, kau tahu itu 'kan. Aku sangat mencintaimu." ucap Henry dengan air mata yang masih membasahi pipinya, air mata buaya. Ck! Karamel yang berdiri di samping Leo, berjalan pelan mendekati Henry lalu wanita itu menatap sinis wajah sendu pria berengs*k itu.
"Ya! Aku tahu itu," sahut Karamel santai namun di dalam sana dirinya menahan amarah yang sangat besar. Henry tersenyum akan jawaban Karamel barusan.
"Jika kau tahu, maka jangan tinggalkan ...."
"Kau mencintaiku tapi aku mencintai suamiku yang sekarang." potong Karamel membuat Henry langsung menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.
"Tidak Sayang kau ... a-aku aku suamimu, Kara. Kau hanya mencintai diriku bukan orang lain." ucap Henry gagap.
"Setelah Leo meninggalkan aku tanpa alasan, aku tidak menyerah dengan terus berharap agar Leo kembali lagi kepadaku, walau aku merasa kecewa setelah tahu dia sudah bertunangan dengan perempuan lain. Aku tatap tidak bisa melupakannya, Aku masih mencintainya bahkan setelah aku menikah denganmu dan Leo datang dengan menuduh diriku yang berselingkuh dengan Kak Biyan, aku hanya memendam kekecewaan kepadanya tapi tidak menghilangkan rasa cintaku untuk dirinya." ucap Karamel membuat Henry mengepal tangannya.
"Tidak Kara ...."
"Sedangkan kau, kau datang tanpa aku harapkan. Dengan paksaan, kau meminta aku untuk menerima cinta palsumu itu. Dengan penuh tipu muslihat, kau membujuk diriku untuk menikah denganmu. Sudah berapa kali aku menolak semua itu tapi kau tidak menyerah hingga aku memutuskan untuk menerima semua yang kau pinta tanpa adanya rasa cinta." sengit Karamel membuat tubuh Henry bergetar kuat.
"Kau tentu sangat tahu Henry. Ketika paksaanmu itu berhasil dan aku mulai menjalin hubungan denganmu. Di dalam hatiku, aku masih mencintai sosok Leo." sambung Karamel lagi.
"Kenapa kau harus menyakiti hatiku, Baby Girl? Kenapa?" lirih Henry seakan-akan dirinya adalah orang yang paling tersakiti di dunia ini, padahal kenyataannya pria itu telah menyakiti hati Karamel.
"Seharusnya kau bertanya pada dirimu sendiri, kenapa aku melakukan semua ini Henry." ucap Karamel menatap tajam wajah Henry.
"Apa kau tidak bisa memaafkan aku, Baby Girl? Aku sudah menyadari kesalahanku, aku minta maaf akan semua perbuatanku yang membuat dirimu terluka, Baby Girl." lirih Henry terus menatap netra Karamel.
Licin sekali mulut pria itu beucap maaf pada Karamel, wanita itu menggenggam erat kedua tangannya, ingatan ketika Henry menembak sang grandma dan mamanya kembali membuat Karamel ingin marah dengan Henry.
"Kembalikan Grandma dan Mamaku," ucap Karamel membuat Henry bungkam, pria itu tahu grandma Bertty dan mama sofia telah meninggal akibat tembakkannya saat itu.
"Tidak bisa 'kan?" sengit Karamel mengepal kuat tangannya, ingin sekali memukul wajah Henry namun ia berusaha menahan diri.
"Kau akan mendapatkan hukuman atas perbuatanmu sendiri, Henry." ucap Karamel mengeraskan rahangnya.
"Kau tidak memaafkan aku? Aku sudah meminta maaf, Sayang. Kenapa kau ...." perkataan Henry di potong oleh Karamel.
"Jika aku katakan 'Aku memaafkanmu' tapi hatiku menolak untuk mengucapkan itu. Maka itu artinya kau belum pantas mendapatkan maaf dariku." sentak Karamel mengalihkan pandangannya ke samping.
"Kenapa kau tidak mau memaafkan ...."
"Aku katakan padamu sekali lagi, aku membenci bahkan sangat membencimu tapi bukan berarti aku akan terus seperti ini, suatu saat aku akan memaafkanmu tapi tidak untuk saat ini." potong Karamel memperjelas perkataannya.
"Jadi dengarkan baik-baik, aku bukan tidak mau memaafkanmu tapi aku belum bisa memaafkan pembunuh keluargaku." sengit Karamel lagi.
"Kau tetap tidak akan pernah mau memaafkan aku, dan kau akan mencampakkan aku seperti sampah yang tidak berguna." ucap Henry meninggikan suaranya.
Sejak tadi Leo berdiri diam dan tenang mendengar percakapan Karamel dan Henry, namun melihat Henry sudah menaikan nada suaranya kepada Karamel maka Leo tidak bisa lagi diam dan harus angkat bicara sekarang juga.
"Tentu ada perbedaannya, Tuan Henry." sahut Leo membuat Fico, Jessy, Kenzi, Faza dan Karamel menatap dirinya.
__ADS_1
Leo berjalan maju, "Kata 'Tidak mau atau tidak akan mau' bisa bersifat permanen tapi kata 'Belum bisa' itu artinya akan berubah menjadi 'Sudah bisa memaafkan' ... kau harus tahu perbedaan kedua kata itu, Tuan Henry." ucap Leo berdiri tepat di samping Karamel.
"Kapan saat itu tiba, Baby Girl? Aku ingin kau memaafkan diriku dan kita berdua bisa hidup bersama ...."
"Kelak jika aku sudah memaafkanmu bukan berarti aku akan kembali kekehidupanmu lagi, Henry." ucap Karamel memotong perkataan Henry.
"Ma-maksudmu apa Sayang?" tanya Henry terbata.
"Maksudku, kau dan aku tidak akan pernah punya hubungan apa-apa lagi." jawab Karamel dengan tegas.
"Ap-apa yang kau katakan, Kara. Saat ini, saat ini kau sedang marah denganku tapi setelah amarahmu reda, kau pasti akan memaafkan aku dan kita bisa hidup bersama lagi." ucap Henry terbata.
Karamel tersenyum tipis, "Aku sudah memiliki suami jadi aku akan menjalani kehidupan baruku dengan suamiku." ucap Karamel.
"Aku suamimu ...."
Karamel menunjukan akta cerai mereka berdua, "Kita sudah bukan pasangan suami–istri lagi, Henry." ucap Karamel membuat jantung Henry berdegup sangat kencang.
"Ak–aku tidak pernah menanda tangani surat ... surat itu pasti palsu, Baby Girl . Aku tidak pernah ...."
Karamel tersenyum miring, "Berkat Zoeya, aku berhasil mendapatkan tanda tanganmu ini bod*h." ucap Karamel membuat Henry membelalakan matanya.
"Jadi hentikan angan-anganmu yang ingin hidup bahagia bersama diriku, karena aku ... aku tidak akan pernah merasa bahagia jika harus menjalani hidupku bersama pria yang sudah membunuh Ibu kandungku." ucap Karamel kembali menutup map akta cerai itu.
"Ini tidak benar, aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai mantan istriku karena aku sangat mencintaimu, Kara. Aku sangat mencintaimu dan sampai kapanpun juga kau akan tetap menjadi milikku. Kau akan menjadi milikku" pekik Henry memberontak.
Jessy mengepal tangannya dengan sangat kuat, rasa amarah karena Henry mencintai wanita lain, rasa sedih karena melihat orang yang di cintainya menderita, rasa sakit hati karena cintanya untuk Henry tidak terbalas, semua perasaan itu bercampur menjadi satu.
Karamel muak dengan Henry yang tidak bisa merelakan takdir yang tidak akan menyatukan mereka berdua lagi, bahkan Karamel sudah menujukan akta cerai mereka. Henry tetap tidak mau melepaskan Karamel.
"Sudah aku katakan manis, Kakakku yang jahat ini punya sifat angkuh dan mutlak dalam segala hal jadi apapun yang kau katakan, semua hanya sia-sia saja karena dia tetap dalam pendiriannya yang akan selalu mencintaimu dan bahkan akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkanmu kembali menjadi wanitanya." ucap Fico membuat Karamel tenang dalam amarahnya.
"Kau benar Fico. Seharusnya aku mengikuti apa yang kau sarankan padaku semalam." ucap Karamel membuat Leo mengernyitkan dahinya.
"Semalam?" batin Leo.
Semalam Karamel sangat sulit di hubungi Leo tapi kenapa Karamel mengatakan 'Saran Fico semalam?' apa jangan-jangan semalam Karamel bertemu dengan Fico? Atau Karamel malah sibuk teleponan dengan Fico?
Memikirkan itu, Leo menjadi kesal dan juga cemburu. Bagimama bisa semalam Leo menahan rindu berat kepada Karamel dan Karamel malah sibuk dengan Fico yang notabenenya mantan adik ipar Karamel.
Hanya dengan mendengar perkataan Karamel, wajah Leo sekarang berubah menjadi muram.
"Bersiaplah untuk keberangkatanmu ke Afrika, Henry Gauzen Virgopus." sengit Karamel membuat Henry menggeleng kepala sembari berteriak memohon pada Karamel untuk tidak menjauhkannya dari Karamel. Fico tersenyum kepada Karamel, begitu juga Karamel yang membalas senyuman Fico.
"Lebih baik kau dan Leo istirahat saja, Manis. Aku akan mengurus keberangkatan Kakakku dan Rega Ananda ke Afrika." ucap Fico lembut.
"Benar, Kara. gue sama Faza bakal bantu Fico. Jadi lo sama Leo ...."
"Gue enggak cape, Kak. Gue sama Leo bakal istirahat setelah Henry sama Rega Ananda pergi." tolak Karamel membuat wajah Leo semakin suram.
"Tapi kayaknya Leo cape deh, Ra." ucap Faza menyadari aura wajah Leo yang berubah suram seperti seorang singa yang ingin menerkam mengsanya. Karamel menatap wajah Leo lalu tangab mungil wanita itu menyentuh pipi Leo.
__ADS_1
"Kamu cape?" tanya Karamel menunjukan perhatiannya pada Leo. Melihat itu, Henry berteriak histeris kala tidak terima Karamel menunjukan perhatiannya pada Leo.
"Enggak kok," sahut Leo menyentuh tangan Karamel yang menempel di pipinya, wanita itu tersenyum dan menatap ke arah Faza.
"Lo dengar sendiri 'kan, Leo enggak cape." ucap Karamel membuat Leo menghela napas berat kala Karamel tidak bisa membaca raut wajah kesalnya.
................
Henry dan Rega Ananda di masukkan di sebuah mobil tahanan yang akan di kawal oleh 20 mobil yang berisi para bodyguard Fico dan 40 mobil yang berisi para mafioso gabungan Vic's Bloody Wolf dan The Shadow Of The Queen.
"Kara, jangan lakukan ini kepadaku. Aku mohon jangan jauhkan aku darimu." pekik Henry dari dalam mobil.
"Karaaaaaaa ....!!!" pekik Henry.
Jessy merasa sesak di hatinya karena melihat Henry berteriak memohon kepada Karamel. Jessy ingin menangis namun dia menahannya demi tidak membuat Karamel khawatir akan kesedihannya.
"Pastikan mereka sampai ke penjara, Alfa." ucap Fico pada Alfa, asisten sekaligus IT kepercayaan Fico.
"Tentu, Bos. Kami akan melaksanakan perintah anda." sahut Alfa naik ke dalam mobil.
Setelah semua mobil hilang dari pandangan Fico, Leo, Karamel, Jessy, Aldy dan Faza. Kini Karamel mendekati Fico untuk membicarakan so'al Andi.
"Ingat yang aku katakan semalam, kau harus mengurus Andi juga, Fico." ucap Karamel dengan serius.
"Tentu, manis." Sahut Fico.
"Ingat juga yang aku katakan semalam, Luhan tidak terlibat kejahatan Henry dan Rega Ananda. Jadi kau harus menjelaskan padanya dengan sangat hati-hati." ucap Karamel lagi.
Fico menghela napas kasar, "Aku mengingat semua yang kau katakan semalam, Manis. Jadi kau tidak perlu mengingatkan aku lagi, Oke!" ucap Fico membuat Karamel tersenyum mengangguk.
Lagi-lagi Leo mendengar kata 'Semalam' berapa banyak waktu yang mereka berdua habiskan hingga tidak henti-hentinya Leo mendengar kata 'Semalam' dari mulut Karamel dan Fico.
"Lebih baik kau istirahat sekarang, aku dan yang lainnya tidak akan menggangu malam kalian berdua." ucap Fico membuat Karamel terbelalak karena mengerti maksud dari ucapan Fico barusan.
"Kalian mau ke mana?" tanya Karamel.
"Apartemen Leo." sahut Faza dan Kenzi bersamaan.
Karamel menatap penuh harapan ke Jessy, "Jessy, kau tidak akan mungkin ...."
"Aku memang tidak akan ikut bersama mereka tapi aku akan menginap di apartemen milik Fico, Kara." ucap Jessy membuat wajah Karamel memelas.
"Dari tadi aku ngerasa ada yang enggak beres sama raut muka Leo yang kusut. Tapi aku enggak tahu hal apa yang buat mood dia hancur?" batin Karamel menyadari bahwa suasana hati Leo tampak tidak baik.
"Bersiaplah untuk di terkam singamu yang ganas itu, Kara." batin Jessy ternyata menyadari juga mood Leo yang tidak baik.
.
.
.
__ADS_1
::: Bersambung :::