Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part ' 176 (Takdir)


__ADS_3

Keempat laki-laki itu terus saja memojokkan Leo yang mengira bahwa Leo telah kembali lagi menjadi seorang playboy, ingin rasanya Leo berteriak membantah ucapan para sahabatnya itu namun jika Leo melawan mereka dengan api amarah, maka para sahabatnya itu akan semakin membenci dirinya.


Leo terus saja membalas ucapan mereka berempat dengan sabar, hingga Diky kembali berteriak mengatakan ....


"Enggak nyangka sih lo bisa sekejam itu mainin perasaan Karamel yang jelas-jelas udah bantu lo damai sama Kenzi," sengit Diky.


"Dik, lo tau gue itu kayak gimana, gue enggak akan mungkin ngelakuin hal bod*h ....,"


"Terus kenapa lo ngelakuin hal bod*h ninggalin Karamel demi cewek murahan yang kerjaannya cuma mengekspos tubuh sek*inya di sosial media kayak Jessy itu! Hah?" pekik Diky memotong perkataan Leo.


"Jessy enggak murahan, Diky!" bela Leo tidak suka jika sahabatnya itu menjelek-jelekkan Jessy tanpa tahu bagaimana jalan cerita yang sesungguhnya tentang kehidupan Jessy.


Karamel yang mendengar itupun ikut marah karena Karamel tahu Jessy adalah korban Henry, Henry telah menjerat Jessy dalam permainan cintanya lalu Jessy terkenal juga karena suruhan Henry bahkan Jessy merelakan mahkotanya sendiri hanya pada Henry.


Sungguh kejam Henry mempermainkan hidup Jessy hingga Diky pun memandang rendah wanita itu.


"Kalo enggak murahan, terus kenapa lo batalin pertunangan lo! Hah?" timpal Adit.


"Karena gue ...."


"Busuk lo Le, nyakitin Karamel demi dua cewek murahan itu," potong Diky sambil membuang muka ke samping, dirinya benar-benar merasa muak dengan Leo.


"Gue punya alasan ...."


"Enggak ada alasan yang harus ngelibatin perasaan Karamel, Le, lo udah tega nyakitin perasaannya Kara," potong Adit menatap tajam Leo yang juga menatap dirinya.


"Bisa enggak kalian ...."


"Mending lo pergi dari sini, gue udah enggak bisa kontrol emosi gue lagi atau muka lo bisa babak belur sekarang juga," usir Diky sudah tidak tahan lagi ingin memukul wajah Leo.


"Dik ...."


"Diem lo," bentak Diky berdiri dari duduknya.


"SALF BADRAD enggak menanamkan rasa benci sama lo tapi kalo lo terus berdiri di sini, gue pastiin SALF BADRAD bakal berkurang satu anggota lagi!" ancam Diky penuh penekanan.


Leo menghela napas berat, lebih baik Leo mengalah dari pada harus menambah masalah jadi Leo lebih memilih untuk pergi dari cafe itu.


Namun ketika Leo membalikkan badannya, Karamel malah sudah berdiri tepat di depan matanya, Leo terkejut kala istrinya itu tidak menuruti perintahnya.


Dan bukan hanya Leo saja, bahkan Diky memelotot kaget ketika wajah yang ia ketahui kabarnya telah meninggal, kini berada tepat di depan matanya.


Adit yang duduk di depan Diky, ikut tercengang kala matanya melihat jelas wajah Karamel, sedangkan Bobby dan Dito tidak bisa melihat karena mereka berdua sama-sama duduk di ujung atau lebih tepatnya mentok di samping dinding.

__ADS_1


"Kara?" serentak Diky dan Adit memanggil nama perempuan itu.


Mendengar nama Karamel, sontak Bobby dan Dito berdiri untuk melihat seseorang yang ada di depan Leo sekarang.


"Kara?" Dito dan Bobby ikut terkejut.


Karamel menatap satu-persatu wajah mereka yang terkejut lalu pandangan Karamel berhenti di Leo.


"Liat 'kan gimana mereka marah sama kamu, kamu nyuruh aku diem di luar biar apa? Biar aku gak liat perdebatan kalian yang tadi, hem?" ucap Karamel membuat Leo menggelengkan kepalanya lemah.


"Kamu udah tau ini bakal terjadi 'kan makanya kamu nyuruh aku diem di luar tadi?" tanya Karamel lirih.


"Jawab!" pinta Karamel namun Leo diam saja.


"Aku bilang, jawab Leo," kali ini Karamel berbicara dengan gigi terkatup, saking geregetnya dengan suami kali ya.


Leo mengangguk pelan lalu Leo menundukkan kepalanya, sungguh hati Leo merasa sakit saat melihat mata Karamel yang berlinang karena dirinya.


Leo sangat mengenal SALF BADRAD, di bandingkan dengan Faza yang pemikirannya lebih dewasa, kedelapan laki-laki SALF BADRAD sangatlah angkuh dan keras kepala.


Yang salah akan merasa benar dan yang benar akan lebih berbangga diri karena merasa paling pintar di bandingkan yang lainnya, yang terlihat salah akan di pojokkan dan yang terlihat benar akan di puji sepanjangan, yang difitnah menjadi yang di benci dan yang memfitnah akan di bela setengah mati, Begitulah yang ada pada diri Aldy, Leo, Abdi, Rio, Diky, Adit, Bobby dan Dito.


Maka dari itu Leo tahu dirinya terlihat salah di mata para sahabatnya, jadi dirinya pasti akan di pojokkan hingga hanya bukti nyata lah yang bisa menghentikan mereka untuk tidak memojokkan Leo lagi.


"Iya ge masih hidup, Dit!" ucap Karamel.


Diky dan Adit berjalan pelan mendekati Karamel, dengan tangan yang gemetaran Diky menyentuh pipi sebelah kanan Karamel begitu juga dengan Adit yang menyentuh pipi sebelah kiri Karamel dengan tangan yang bergetar kuat.


Napas yang tadinya tercekat, kini sudah merasa lega kala wajah yang mereka sentuh benar-benar nyata.


Karamel menggenggam pergelangan tangan Diky dan Adit yang menyentuh wajahnya lalu mereka bertiga sama-sama menempelkan kepala mereka dengan air mata Diky dan Adit yang bahagia namun air mata Karamel menunjukkan kesedihan karena hatinya merasa sakit melihat Leo selalu di salahkan oleh para sahabatnya sendiri.


"Lo jahat udah bohongin kita semua, Kar," lirih Adit masih di posisinya dan Karamel hanya membalas dengan gelengan kepala.


Masih dalam suasana haru, Bobby dan Dito ikut bergabung dengan ketiga insan itu.


"Gue bahagia cerita itu enggak nyata," ucap Bobby membuat Karamel mendongakkan kepalanya menatap Bobby.


Karamel menarik tangan Diky dan Adit untuk lepas dari wajahnya lalu Karamel menghapus air matanya, "Gue emang sampat mati tapi itu cuma rekayasa aja," sahut Karamel pelan menatap Leo.


..............................


Faza sudah sampai di cafe Gourmet, bahkan Faza juga sudah menyaksikan sedikit adegan yang mengundang pandangan orang-orang yang ada di cafe itu.

__ADS_1


"Astaga drama banget sih mereka," desis Faza.


Faza berjalan mendekati para sahabatnya itu lalu Faza berdeham tepat di belakang Karamel.


Semua menoleh ke arah belakang Karamel namun tidak dengan Leo yang terus saja menundukkan kepalanya, Leo tidak penasaran siapa yang menegur mereka.


"Faza," panggil Adit cepat, mendengar nama itu Leo langsung mendongakkan kepalanya.


Faza tersenyum miring ke arah Adit lalu ia berjalan mendekati Leo.


"Ck! Kurus banget lo, enggak di kasih asupan gizi sama bini lo apa?" ejek Faza membuat keempat sahabatnya kebingungan melihat keakraban keduanya.


"Za, lo ...."


"Kenapa?" potong Faza menatap Adit.


"Lo lupa ya Za, dia itu ...."


"Inget lah," potong Faza kini menatap Diky.


"Kalo lo juga inget, terus kenapa ...."


"Kalian yang enggak tau apa-apa harus di kasih tau biar kalian enggak asal ngejudge orang," potong Faza menatap Bobby.


"Gila lo ya, dia itu ...."


"Suami gue," kini Karamel yang memotong perkataan Adit.


Keempat laki-laki itu serentak menatap Karamel, apa yang di katakan Karamel tadi 'Suami?' yang benar saja, mereka tahu suami Karamel adalah Henry jadi bagaimana bisa Leo menjadi suami Karamel.


"Kara ...."


.......


.......


.......


...::: Bersambung :::...


Hem-hem pada penasaran ya?


Ayo dong! Dukung author cici dengan terus vote, like dan komen juga. Terima kasih atas antusias kalian semua kakak-kakak.

__ADS_1


__ADS_2