
...Los Angeles....
Setelah kejadian tiga minggu yang lalu, Tessa tidak ada kabar apapun lagi, Kenzi mencari segala informasi tentang Tessa di Polandia tapi hasilnya Tessa tidak pernah mendarat di sana.
Kenzi mencari keberadaan ibu Tesaa di segala penjuru rumah sakit yang ada di LA tapi mungkin Tessa memang sudah tidak ingin bertemu Kenzi lagi, di rumah sakit terakhir yang Kenzi kunjungi terdapat informasi tentang ibunya Tessa yang sudah keluar dari rumah sakit beberapa minggu yang lalu.
Pertanyaan yang selalu membuat Kenzi penasaran, jika saat itu Tessa tidak melakukan penerbangan ke Polandia lalu ke mana Tessa pergi?
"Melamun lagi?" tegur Grandpa Berrold membuyarkan lamunan Kenzi.
Lagi-lagi Kenzi kepergok melamun oleh grandpanya, sungguh dirinya tidak bisa menahan diri untuk tidak memikirkan sosok Tessa.
"Ken cuma ...."
"Cuma memikirkan Tessa?" sela grandpa Berrold dingin seperti balok es.
"Maaf, Ken belum bisa ...."
"Kau tidak akan berhasil menjadi penerus papamu karena fokusmu masih tertuju pada Tessa," ucap Berrold membuat Kenzi menghela napas berat.
"Sudah hampir satu bulan kau mencari keberadaan Tessa tapi hasilnya selalu nihil, Ken," kata Berrold.
"Ken ngerasa masih ada harapan buat ketemu sama Tessa, grandpa," lirih Kenzi.
"Sudah cukup grandpa melihatmu bersedih seperti sekarang, Tessa tidak akan kembali meski kau sudah mati dan terekspos media sekalipun," ucap Berrold menusuk hati Kenzi.
Mulut mantan mafia satu ini benar-benar pedas sekali, umur yang sudah tua tidak membuatnya berubah agar saat mati kelak tidak masuk neraka, ck! Membuat Kenzi kesal saja.
Kenzi ingin berteriak menolak perintah sang grandpa tapi pertanyaannya sekarang apakah Kenzi mampu membantah perintah grandpanya? Tentu tidak, apakah sekarang Kenzi benar-benar harus menyerah?
Taring! Di saat sedang mengobrol, handphone Kenzi berdering dan menampilkan nama sepupunya yaitu Faza.
"Halo, Za ...."
"Kenapa lo?" tanya Kenzi ketika mendengar suara serak Faza yang menyedihkan mungkin.
"Ke mana lagi gue bisa cerita, Ken." lirih Faza membuat Kenzi beranjak dari tempat duduknya.
"Sorry grandpa, Faza ...."
"Hem," grandpa Berrold yang paham, langsung saja mengizinkan Kenzi untuk pergi.
"Lo lagi ada masalah apa?" tanya Kenzi sembari menaiki tangga rumah.
"Nyokap sama bokap ngelarang gue buat deket lagi sama Gina," ucap Faza dan Kenzi kaget mendengar itu.
Seminggu yang lalu Faza sudah menceritakan semuanya tentang kedekatan dirinya dengan Gina termasuk semua tentang orang tua Gina sebagai koruptor yang hampir menipu ayahnya.
"How come?" tanya Kenzi sedikit berlari agar bisa cepat sampai kamarnya.
"Gue be*o, Ken," sahut Faza.
"Emang dari dulu lo be*o 'kan, enggak bisa ngalahin kepintarannya Leo walau lo jadi ketua OSIS sekalipun," ucap Kenzi membuat suasana hati Faza yang buruk semakin bertambah buruk.
"Gue lagi ngomong serius, Kenziro kampr*t." kesal Faza membuat Kenzi terkekeh.
__ADS_1
Kenzi tahu Faza pasti merasa sedih dan ketahuilah kejahilan Kenzi akan semakin meningkat jika lawan bicaranya sedang merasa sedih seperti Faza.
"Oke oke, serius," ucap Kenzi.
"Gue gak tau, Ken ...."
"Lah apalagi gue," sela Kenzi membuat Faza ingin membanting handphonenya sekarang juga.
"Oke oke, sekarang serius," ucap Kenzi menyadari Faza pasti sudah merasa sangat-sangat kesal karena dirinya terus-terusan bercanda.
"Waktu gue jemput Gina seminggu yang lalu, bokap nyelidikin semuanya," ucap Faza datar.
"Tug kan apa gue bilang, Faza Faza lo tu harusnya jujur sama nyokap–bokap lo biar lo gak nyesel kayak gini," oceh Kenzi geram.
"Gue benar-benar nyesel," ucap Faza.
"Halah, parcumah lo ngomong nyesel sekarang, toh om Glenn sama tante Santi udah blok Gina dari calon menantu mereka," ucap Kenzi blak-blakkan.
"Sialan lo," umpat Faza sedikit di bumbui tawa kecil yang di paksakan.
"Hah !! Lo jauh dari Gina, gue juga jauh dari Tessa. Kenapa masalah percintaan kita rumit gini ya," gumam Kenzi menghela napas panjang.
"Lo beneran udah cinta sama Tessa?" tanya Faza.
"Sure, I love her which is why I want her so badly," sahut Kenzi membuat Faza terpaku.
"Tumben langsung jawab yakin, bisanya juga ragu-ragu lo," ejek Faza.
Setelah satu bulan Kenzi bercerita tentang Tessa, Faza selalu bertanya apakah Kenzi sungguh mencintai Tessa, jawaban Kenzi tidak pernah yakin tapi sekarang Kenzi sudah yakin akan perasaannya.
"Gue kefikiran Tessa mulu," sahut Kenzi membuat Faza bungkam karena apa yang di rasakan Kenzi pada Tessa, sama persis dengan Faza yang selalu memikirkan Gina di sepanjang hari.
Jadi apakah Faza mencintai Gina sekarang?
"Tapi gue belum juga berhasil nemuin Tessa," ucap Kenzi lirih.
"Gimana sama Grandpa?" tanya Faza karena Faza tahu grandpa Berrold menyuruh Kenzi untuk melupakan Tessa.
"Keputusan Grandpa masih sama," sahut Kenzi.
"Emang udah nasib lo yang enggak jodoh sama Tessa, lo terima takdir aja lah," ucap Faza membuat Kenzi mendengus sebal.
"Gampang lo ngomong gitu, coba gue mau tanya lo sanggup enggak lepasin Gina?" Kenzi memutar balikkan pernyataan Faza.
"Kampr*t lo," Faza tidak mau menjawab dan langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Sepupu laknat ni orang," umpat Kenzi kala Faza mematikan sambungan telepon secara sepihak.
...Malaysia....
Faza meletakkan handphonenya ke atas nakas lalu Faza membaringkan tubuhnya di ranjang, pandangan mata Faza menerawang jauh ke atas pelapon.
"Gue mungkin bisa lepasin Gina tapi tanpa bantuan Gina, gue bakal susah buat ngilangin perasaan gue ke Ara." gumam Faza.
"Siapa Ara?" tanya seseorang membuat Faza terperanjat kaget.
__ADS_1
"Set*n lo." umpat Faza melempar bantal ke arah Dafa dan dengan sigap Dafa menangkap bantal itu.
"Gila aja lo main lempar-lempar bantal ke arah gue, untung enggak kena, kalo sampai kena tadi wahh bisa lecet ni muka ganteng gue." kesal Dafa membuat Faza memutar bola mata jengah.
"Bacot," bentak Faza.
Dafa melempar bantal itu ke kasur lalu Dafa melompat ke atas ranjang Faza, "Siapa Ara?" tanya Dafa lagi.
"Ngapain lo ke sini?" Faza malah bertanya balik.
"Papa mertua lagi bawa Lily ke kantor makanya gue enggak bisa jalan sama dia," sahut Dafa dengan malas.
"Siapa Ara?" Dafa masih saja penasaran.
"Jadi lo ke sini karena enggak bisa jalan sama Lily?" tanya Faza.
"Ho'oh!" sahut Dafa.
"Udah enggak usah banyak tanya lagi sekarang lo jawab pertanyaan gue, siapa Ara?" pekik Dafa bertanya.
"Bukan siapa-siapa," sahut Faza.
"Cewek banget lo, jawabnya kayak gitu." ejek Dafa.
"Tinggal jawab siapa Ara, susah emang?" tanya Dafa namun Faza bergeming.
"Woy, siapa Ara?" bentak Dafa karena Faza hanya diam saja.
"Sepupu gue," jawab Faza ikut membentak dan itu sangat mengejutkan bagi Dafa.
"Sepupu lo Karamel? Lo lo lo punya perasaan sama sepupu kandung lo sendiri?" tanya Dafa dan Faza mengangguk lemah.
"Wah! Kacau lo, gimana sama Gina, Za? Hubungan lo sama Gina 'kan udah dekat banget sekarang, lo mau buat Gina patah hati gara-gara masalah ini." celoteh Dafa.
"Gue enggak tau," sahut Faza.
"Enggak tau gimana maksud lo, kalo emang lo enggak punya perasaan apa-apa sama Gina terus ngapain lo dekat-dekat sama dia, Faza Bramasta." kesal Dafa.
"Mulai sekarang gue enggak pernah dekatin Gina lagi, puas lo," sentak Faza.
"Heeeee, sumpeh lo, tega lo buat Gina patah ...."
"Jadi kamu juga tau Faza dekat dengan anak koruptor itu, Dafa." tegur seseorang dengan suara besar dan mengintimidasi.
"Anji*g, jantung gue copot," latah Dafa karena kaget mendengar suara dari arah belakangnya.
Dafa menoleh ke arah belakangnya dan seketika mata Dafa membulat sempurna, rasanya tubuh Dafa menjadi kaku karena melihat seseorang yang berdiri di ambang pintu kamar Faza dengan tatapan yang menyeramkan ke arahnya.
"Eh ....
.......
.......
.......
__ADS_1
...::: Bersambung :::...