
Keisha membuka matanya pelan, ia menatap ke arah langit-langit rumah sakit hingga air mata pria itu turun lagi untuk kesekian kalinya, sakit dan sesak di dada pria itu masih terasa sampai detik ini.
"Zoe ...." gumamnya lirih mengingat seminggu yang lalu adiknya itu telah meninggalkannya untuk selamanya. Ya, untuk selamanya wanita yang selalu ia panggil siluman ular tidak akan ada di sisinya lagi.
Penolong hidupnya telah pergi untuk selama-lamanya, Keisha mengepal tangannya kuat lalu ia memejamkan matanya mengingat seminggu yang lalu wanita itu sempat sadar dari komanya.
...Flashback on...
"She ... w-wake up !!" lirih Keisha tak lepas menatap ke arah brankar adik tirinya, air mata pria itu masih saja mengalir membuat Jeffry ingin sekali memukul wajah sahabatnya yang lemah itu.
"Aku tahu kau terpukul Kei tapi biarkan dia pergi dengan tenang." ucap Jeffry pelan, ini adalah pertama kalinya bagi Jeffry berbicara pelan dan lembut pada Keisha yang lemah.
"Kau harus kuat, Kei." ucap dokter Aldert menimpali.
Apa yang kedua sahabatnya itu katakan, dirinya harus kuat? Melihat adiknya yang sekarang, ia harus kuat dan membiarkan adiknya pergi dengan tenang? Keisha menggeleng-gelengkan kepalanya lemah.
"Bod*h !!" pekik Keisha menatap tajam dokter Aldert lalu Keisha menatap tajam ke arah dokter Barrak juga.
"Nona Zoeya bangun!" ucap anak buah Keisha yaitu Ardan melihat bedside monitor Zoeya bergerak naik-turun membuat dokter Barrak dan dokter Aldert segera memeriksa Zoeya.
Bermenit-menit lamanya, tangan wanita itu bergerak pelan, perlahan netranya terbuka dengan kerutan di dahinya, terlihat ia sedang menyesuaikan pandanganya yang tampak sedikit kabur.
Napas siapapun akan tercekat melihat Zoeya yang kini tengah melirikkan bola matanya mengelilingi orang-orang yang ada di ruangan itu kecuali Keisha yang tengah berbaring, kemudian Zoeya mengedipkan matanya sekali sebelum ia membuka matanya dan menatap benda yang ada di mulutnya.
"Itu tidak boleh di lepas, kau bisa mati tanpa itu karena itu terhubung dengan tenggorokanmu." ucap doktet Aldert ketika tangan mungil Zoeya hendak melepas ventilator yang ada di mulutnya.
Namun Zoeya tidak bisa bicara jika benda itu di biarkan tetap di mulutnya, wanita itu mengerutkan dahinya kemudian ia tetap ingin melepaskan benda pengganggu itu.
"Zoeya, aku mohon jangan membantah perintah Dokter." ucap dokter Barrak menatap mata tajam Zoeya namun wanita itu terlalu keras kepala, dirinya ingin melepas paksa ventilator itu dari mulutnya hingga semua orang yang ada di sana memulatkan mata mereka kaget karena kekeras kepala Zoeya.
"Zoeya...." pekik Keisha dan dokter Aldert.
"Nona," pekik Abill, Ardan dan Shane.
"Baiklah, aku akan lepaskan benda itu." pekik dokter Barrak cepat hingga tangan mungil Zoeya berhenti menggenggam ventilator itu.
Dokter Barrak melepaskan ventilator itu dari mulut Zoeya dengan pelan dan seketika Zoeya merasa tidak bernapas sehingga dengan sigap pula dokter Aldert memasangkan alat bantu pernapasan pada Zoeya agar wanita itu bisa bernapas normal karena saat ventilator itu di lepas, nyawanya hampir saja akan melayang.
"Kau ... sejak kapan kau menjadi keras kepala seperti ini, hah?!" tanya dokter Barrak geram dengan kelakukan Zoeya yang membuat jantungnya hampir copot tadi.
Zoeya hanya diam saja hingga beberapa menit kemudian ia menatap sepupu tirinya lekat, di benaknya bagaimana bisa sepupu tirinya menangani dirinya? Di mana dokter pribadi keluarga yaitu dokter Jason?
"Ada apa?" tanya dokter Barrak karena Zoeya secara terang-terangan menatao dirinya namun Zoeya langsung memutus kontak matanya dari dokter Barrak dan menatap ke arah langit-langit ruangan itu.
"Di mana Kak Kei?" tanya Zoeya berbicara lurus namun di dalam sana dirinya menahan rasa sakit.
"Dia ada di sampingmu," ucap dokter Barrak membuat Zoeya perlahan menoleh ke arah brankar kakak tirinya, Keiaha tersenyum tipis pada adiknya membuat Zoeya ikut tersenyum.
"Maaf," kata itu yang pertama keluar dari mulut Zoeya membuat Keisha menggelengkan kepalanya, adiknya itu tidak pernah melakukan kesalahan apapun kepadanya, selama ini dirinya lah yang salah menilai adiknya.
"Kau tidak salah apa-apa, jangan meminta maaf, Zoe." ucap Keisha dengan lurus, dirinya juga menahan rasa sakit di dalam sana.
__ADS_1
Zoeya menatap lekat kakaknya itu, air matanya mengalir mengenai pelipisnya, ia senang kakaknya tidak lagi berbicara kasar padanya bahkan cara bicara kakaknya juga telah berubah padanya.
"Apa itu sangat sakit?" tanya Zoeya dengan bola mata yang bergerak menyusuri setiap memar di wajah bahkan tubuh kakaknya.
"Tidak," ucap Keisha.
"Zayn kejam, dia cemburu dengan Kak Kei," ucap Zoeya membuat Keisha mengepal tangannya kuat.
Keisha merasa menjadi orang yang paling bod*h karena tidak mengetahui segala kebaikan, pengorbanan, perhatian bahkan kasih sayang adiknya padanya. Bagaimana tidak Zayn merasa cemburu pada Keisha, Zoeya terlalu menyayangi Keisha padahal Keisha tidak pernah bersikap baik pada wanita itu.
"Tapi dia baik, jangan bunuh dia." pinta Zoeya membuat Jeffry mengepal tangannya, adiknya Keisha itu ternyata memang wanita baik yang punya namanya belas kasihan.
"Tidak akan," ucap Keisha membuat air mata wanita itu tambah mengalir banyak, ia senang permintaan pertamanya di kabulkan oleh kakaknya.
Walau sebenarnya Keisha merasa tidak suka dan tidak terima akan permintaan adiknya tapi ia juga tidak ingin menyakiti hati adiknya dengan menolak permintaannya, ia janji akan menghukum Zayn namun ia janji tidak akan membunuhnya karena permintaan adiknya.
Pelan Zoeya mengedipkan matanya sekali, ia harus menahan rasa sakit di dalam tubuhnya karena ia ingin menatap lama wajah kakaknya yang tersenyum padanya.
"Bagaimana keadaan Kara?" tanya Zoeya mengingat wanita yang selalu ia cemburui karena banyak sekali orang-orang memuja dan menyukai Karamel ketimbang Zoeya yang jahat.
"Nyonya telah melahirkan anak pertamanya," ucap Jeffry karena Keisha tidak tahu keadaan Karamel.
"Laki-laki atau perempuan?" tanya Zoeya namun matanya tidak lepas menatap kakaknya.
"Laki-laki," ucap Jeffry.
"Sampaikan maafku padanya," ucap Zoeya kemudian isi ruangan itu sunyi sejenak.
"Zoeya, jangan terlalu banyak bicara ...."
"Apa ginjal itu bekerja dengan baik di dalam sana?" tanya Zoeya pelan tidak mau mendengarkan kata-kata dokter Aldert.
"Iya," sahut Keisha, sungguh dirinya ingin menangis saat ini tapi ia mencoba untuk menahannya.
"Zoeya tidak pernah memberikan hadiah apapun pada Kak Kei, hanya ginjal itu, tolong ... tolong jaga ginjal itu dengan baik." pinta Zoeya berusaha menahan sesak di dadanya.
"Pasti, kakak akan menjaganya dengan baik." ucap Keisha membuat pupil mata Zoeya tersentak kaget.
"Kakak?" ucap Zoeya seraya menetesnya air mata itu di pelipisnya, apakah dirinya tidak salah dengar? Kakaknya menyebut dirinya sendiri sebagai kakak, itu artinya kakaknya telah mengakuinya sebagai adik bukan?
"Ya, Adikku." ucap Keisha tak mampu menahan air matanya lagi, pria itu menangis begitu pula dengan Zoeya yang semakin deras tangisannya.
"Kak Kei," panggil Zoeya.
"Iya, Adikku Zoeya." sahut Keisha.
Di saat Keisha dan Zoeya tengah menangis, tiba-tiba saja Zoeya memejamkan matanya kuat, paru-paru wanita itu seakan-akan di tekan kuat hingga napasnya menjadi berat. Tidak ada yang menyadari gelagat wanita itu yang berusaha menahan sesak di dadanya.
Zoeya membuka matanya pelan, wajah kakaknya hanya samar-samar bisa ia lihat hingga ia sipitkan sedikit matanya, barulah ia bisa melihat jelas wajah kakaknya yang tersenyum seraya menangis.
"Zoeya sayang Kak Kei, Zoeya sayang kakak." ucap Zoeya penuh cinta membuat mata dokter Barrak, dokter Aldert serta Jeffry menjadi merah karena melihat pembicaraan mereka yang terdengar dramatis namun menyentuh hati mereka.
__ADS_1
"Kakak juga menyayangimu, Zoeya!" ucap Keisha untuk pertama kalinya ia mendengar kakaknya mengucap kasih sayang dengan tulus padanya.
"Zoeya b-bisa pergi dengan tanang sekarang," ucap Zoeya membuat mereka semua terkejut.
"S-selamat tinggal Kak .... " Zoeya tak mampu menyelesaikan kata-katanya, wanita itu langsung menarik napas dalam dengan wajah yang menghadap ke arah langit-langit sebelum wanita itu menghembuskan napas terakhir dengan menutup matanya pelan.
Tit .....
Napas mereka semua tercekat mendengar suara bedside monitor yang nyaring itu lagi, dokter Aldert dan dokter Barrak bergegas menangani Zoeya agar wanita itu kembali bernapas.
Namun semua hanya sia-sia, Zoeya benar-benar tidak tertolong lagi, dokter Barrak mundur beberapa langkah dengan air matanya jatuh saat dirinya gagal menyelamatkan sepupu tirinya.
Melihat sepupunya yang tidak pernah menangis itu, kini mengeluarkan matanya, hati Keisha menjadi sakit.
"Tidakk ...." pekik Keisha menangis pilu.
...Flashback off...
Bantal putih pria itu sudah di penuhi air mata milik Keisha, selimutnya juga telah kusut sebab pria itu mencengkeram kuat selimut putih itu saat ingatan seminggu yang lalu sangat menyayat hatinya.
"Aagggghhhh ...." pekik Keisha pedih.
"Keisha," panggil dokter Jason.
"Dia pergi meninggalkanku, kenapa? Apa aku tidak di izinkan olehnya untuk bisa menyayanginya, Dok?" tanya Keisha lirih.
"Dia tahu kapan dia akan pergi, Kei." ucap dokter Jasob membuat hati Keisha semakin sakit karena dirinya menemukan satu fakta bahwa adiknya itu sudah tahu dirinya akan mati kapan.
"Kenapa dia terus berbohong?" tanya Keisha sudah satu minggu ini selalu menanyakan hal yang sama padahal pria itu tahu jawabannya bahwa adiknya sudah lelah hidup di dunia yang terasa seperti neraka baginya.
"Dia bisa sembuh tapi kenapa dia memilih untuk pergi?" tanya Keisha lagi padahal jawabannya tetap sama, Zoeya memilih untuk membiarkan tubuhnya di penuhi oleh penyakit mematikan dan tidak ingin di obati karena wanita itu sengaja ingin pergi meninggalkan neraka dunia ini.
"Dia tidak mempercayaiku," ucap Keisha padahal pria itu tahu Zoeya selalu percaya padanya hanya saja Zoeya tidak ingin membuat kakaknya marah ataupun terluka karena mengetahui semua fakta yang wanita itu sembunyikan.
"Dia adik kandungku tapi kenapa dia tidak memberitahuku," pekik Keisha begitu sakit hati pria itu mengetahui fakta lainnya tentang Zoeya ternyata adik kandungnya yang sengaja di buang ayahnya kepada ibu tirinya karena ayahnya tidak menyukai anak perempuan.
Inilah alasan Zoeya yang sangat menyayangi kakaknya meski kakaknya itu sangat membencinya, karena Keisha adalah kakak kandungnya tapi wanita itu menutupi segala fakta ini dari Keisha.
Orang tua Keisha dan Zoeya adalah sama namun hanya Zoeya yang tahu siapa orang tua mereka, sedangkan Keisha baru mengetahuinya dari surat yang di berikan dokter Jason pada Keisha.
"Kau pintar sekali bersandiwara, Zoeya." ucap Keisha lirih.
"Licik ...."
.......
.......
.......
...::: Bersambung :::...
__ADS_1
...Thor lama up karena moodnya lagi pengen revisi novel ini, hehe yang penasaran boleh baca ulang deh dari part satu....