Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part _ 155 (Takdir)


__ADS_3

Pukul dua kurang sepuluh menit pagi, jet pribadi Leo mendarat dengan mulus.


"Kita istirahat di apartemen gue dulu, entar pagi biar asisten gue yang ngantar lo ke Malaysia." ucap Leo pada Faza.


..........


Pagi-pagi sekali Faza telah bersiap untuk di antarkan ke Malaysia, "Hati-hati ya bang!" ucap Karamel di dalam pelukkan Faza kemudian Faza melepaskan pelukkan mereka.


"Jaga diri lo baik-baik," sahut Faza mengecup kening Karamel sebentar.


"Gue pergi sekarang, jaga sepupu gue dengan baik jangan sampai gue dengar lo nyakitin dia," ucap Faza menatap Leo.


"Lo tenang aja, gue nggak sejahat yang lo fikirin, Faza Bramasta." balas Leo ketus membuat Karamel tersenyum.


Setelah Faza pergi bersama Jeffry, Karamel membalikan badannya untuk masuk ke dalam apartemen namun tiba-tiba wajahnya menabrak dada bidang Leo hingga Karamel mundur beberapa langkah dengan memegangi wajahnya.


"Aw, my face! Why are you standing by the door, Leo?" pekik Karamel kesal.


(Aw, mukaku! Kenapa kamu berdiri di dekat pintu, Leo?)


Leo tersenyum miring lalu Leo sedikit membungkuk mendekatkan wajahnya fi depan wajah Karamel.


"Siapin diri kamu ya sayang, nanti siang kita bakal ketemu sama Mama-Papa," ucap Leo membuat Karamel terdiam.


Mengingat dirinya akan bertemu dengan orang tua Leo, Karamel merasa dirinya belum siap akan bertemu Papanya Leo yang notabene pengusaha hebat dan terbesar di area Eropa, lalu bertemu dengan Mamanya Leo yang notabene seorang dokter hebat dan terkenal di area Asia maupun Eropa.


Leo menyipitkan matanya, "Hei, jangan takut, 'kan ada aku." ucap Leo pelan, membuat lamunan Karamel buyar seketika.


"Aku ngerasa ...." Karamel tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena Leo sudah lebih dulu menggenggam tangannya lalu mereka berdua masuk ke dalam. Leo mengajak Karamel untuk duduk di sofa ruang tengah.


Leo tidak melepas genggaman tangan mereka, "Aku tau pertemuan ini bakal buat kamu ngerasa sedikit canggung dan mungkin enggak nyaman, tapi ...."


Karamel menggeleng kepala, "Bukan, Leo. Aku cuma ngerasa sedikit gugup aja," ucap Karamel memotong perkataan Leo.


Leo tersenyum, "Mama aku sosok Ibu yang lemah lembut dan juga penyayang kok, aku yakin setelah Mama ngeliat kamu, Mama pasti bakal langsung suka sama kamu." ucap Leo mencoba untuk membuat Karamel merasa tenang.


"Beneran?" tanya Karamel membuat Leo gemas melihat ekspresi melas Karamel.


Leo mengangguk pelan, "Em!!!" Leo bergumam menanggapi pertanyaan Karamel.


Karamel tersenyum lebar hingga deretan gigi putihnya keluar membuat sempurna wajah cantik Karamel yang tampak bahagia.


"Astaga, sejak kapan gue punya keinginan buat cium pipi Karamel?" batin Leo bergejolak.


"Kenapa Leo natap gue kayak gitu?" batin Karamel menjadi salah tingkah.


"Leo ...."


"Kara ...."


Keduanya saling memanggil satu sama lain, lalu seketika mereka terdiam.

__ADS_1


"Kamu ...."


"Kamu ...."


Lagi-lagi keduanya serentak berucap kata yang sama, ada apa sebenarnya?


"Oke, kayaknya ada yang mau kamu sampein ke aku? Apa?" ucap Leo cepat.


"Ya, kamu kamu terus natap aku kayak gimana gitu jadi aku mau tanya kamu kenapa?" tanya Karamel membuat Leo menelan salivanya kasar.


"Lama ih jawabnya, keburu ngompol tau aku-nya," oceh Karamel dengan raut muka merah. Tapi tampang Leo malah cuek-cuek bebek, jadilah Karamel tidak bisa menahan.


"Udah ah, aku mau ke kamar mandi," ucap Karamel langsung berdiri dan pergi menuju kamar mandi.


...............


...Jakarta _ 07 : 40....


Pagi ini Adit dan Diky lebih dulu datang ke kampus, bukan karena mereka anak rajin tapi sembari menunggu jam kelas di mulai, mereka sengaja ingin menghabiskan waktu dulu di kantin.


Adit telah menghabiskan banyak jenis makanan sedangkan Diky hanya seporsi kebab monster saja.


"Kenapa lo, nggak ada selera makan atau emang lagi nggak semangat?" tanya Adit heran.


"Otak gue pindah," sahut Diky membuat Adit terbelalak.


"Sumpeh lo, tukar tempat di bagian mana?" tanya Adit membuat Diky menepuk jidatnya sendiri.


"Dih lo sendiri yang ngomong barusan, kok gue yang di bilang be*o." kesal Adit lanjut makan.


"Gue keingat Karamel, gue kangen sama dia," gumam Diky mambuat Adit berhenti mengunyah.


Ketika Kenzi berada di Kanada, tentu Diky dan Adit menghubungi Kenzi lalu bertanya so'al keadaan Karamel. Namun tanpa di duga jawaban yang mereka dapat malah 'Kara udah kembali sama Allah'


Adit menatap Diky lalu Adit meletakan makananya, "Bukan cuma lo yang kangen sama Kara, gue juga kangen sama dia, tingkah dia yang bar-barnya, sikap emosional dia yang gemesin, gue kangen semua tentang Kara tapi semuanya udah jadi kenangan. Kara udah bahagia di atas sana." sahut Adit.


"Gue masih nggak percaya kalo Kara udah pergi, Dit. Dulu kita kehilangan Sasya, sekarang kita juga kehilangan Karamel. Gue nggak habis fikir kenapa dua cewek yang spesial di hidup kita harus pergi jauh dari kita." ucap Diky dengan emosional.


"Takdir udah di tangan yang maha kuasa kali, Diky." ucap Adit malas.


"Tauk ah, Gue kenyang." kesal Diky pergi meninggalkan Adit.


"Dih tu anak main tinggal aja, tungguin gue woy, Sempr*l" pekik Adit menyambar tasnya di meja lalu pergi mengejar Diky.


..............................


...Apartemen Firgy (New York)....


...21 : 30....


Ketika di jam sembilan kurang lima menit malam, Firgy pergi ke mini market yang jadwal tutupnya di jam sembilan lewat tiga puluh menit.

__ADS_1


Dengan sangat terburu-buru Firgy pergi ke mini market itu, namun tanpa di duga Firgy malah di tabrak motor.


Orang yang menabrak Firgy ternyata salah satu dari laki-laki SALF BADRAD, yaitu Abdi karena itu Firgy di antar pulang oleh Abdi dengan keadaan luka di bagian lutut, siku dan telapak tangannya.


Abdi membantu Firgy untuk mengobati luka-lukanya hingga semua di perban rapi oleh Abdi.


Firgy menatap telapak tangan kanan dan siku kirinya yang di perban, "Kalo kayak gini, gimana cara gue bisa beraktifitas coba." gumam Firgy pelan namun masih bisa di dengar oleh Abdi.


"Gue minta maaf ya, Fir." lirih Abdi tulus sehingga Firgy menghela napas berat.


"Em! Gue maafin tapi ... tunggu, lo kuliah di sini?" tanya Firgy tiba-tiba.


"Hem, satu kampus sama lo." sahut Abdi membuat Firgy terbelalak.


"Satu kampus? Lo ... tahu dari mana lo kalo kita berdua satu kampus?" tanya Firgy dengan nada tinggi.


"Awalnya gue kira gue cuma salah liat doang tapi nggak taunya gue sering liat lo di parkiran ...."


"Bohong," potong Firgy menatap mata Abdi yang bergerak ke sana ke mari tanpa henti.


"Lo tau gue tinggal di New York 'kan?" sengit Firgy menyelidik.


Abdi mengernyitkan dahinya sinis lalu Abdi mengalihkan pandangannya ke samping.


"Sembarangan aja kalo ...." ucapan Abdi terpotong.


"Ck! Lo cowok tapi kok kayak cewek sih," ejek Firgy membuat Abdi membelalakan matanya.


"Maksud lo ...."


"Gelagat lo terlalu mudah buat gue tebak," sela Firgy menaikan sebelah alisnya.


"Oh ya?" tanya Abdi menatap lekat netra Firgy.


Glukk ....


Firgy mengernyit, "Ya ya ...."


"Apa?" tanya Abdi menyipitkan matanya.


"Aish! Kenapa lo natap gue kayak gitu sih, nggak nyaman begek." sentak Firgy membuat Abdi tersenyum.


Degg! Firgy melebarkan matanya karena untuk pertama kalinya Firgy melihat Abdi tersenyum lebar seperti sekarang.


.......


.......


.......


...::: Bersambung :::...

__ADS_1


__ADS_2