Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part 128


__ADS_3

Setelah sampai di ruang perawatan Karamel, Henry tersenyum bahagia dengan menyembunyikan sebuket mawar merah di belakangnya, "Sayang?!" panggil Henry.


Tittttttttt ....


Monitor EKG Karamel menampilkan garis lurus dengan suara yang sangat melengking di ruangan itu.


Seketika buket mawar merah yang ada di tangan Henry jatuh ke lantai. Henry berlari memanggil dokter Gery.


"Garyyy ....! Panggil dokter Gery sekarang." pekik Henry histeris. Sontak membuat para bodyguard Henry berlari mencari keberadaan dokter Gery.


Tak lama kemudian dokter Gary dan beberapa perawat lainnya berlarian menuju ruang perawatan Karamel.


Setelah sampai dokter Gery langsung melakukan CPR atau menekan-nekan dada Karamel, berharap detak jantung Karamel bisa kembali normal.


Tittttttt ....


Melihat tindakan yang di lakukan dokter Gery tidak ada reaksi apapun, akhirnya doktet Gery melakukan tindakan selanjutnya.


"Siapkan defibrillator." titah dokter Gery


Perawat segera menyiapkan defibrillator lalu perawat itu melumuri paddle dengan gel elektrolit setelah itu baru di berikan pada dokter Gery.


"Isi 200 joule." titah dokter Gery dan perawat itu mengeset ke energi level 200 joule.


Dokter Gery meletakan paddle ke dada Karamel. "Shoot ....!" ucap dokter Gery membuat tubuh Karamel terangkat sejenak lalu kembali lunglai.


Titttttttt ....


"Tingkatkan ke 350 joule." titah dokter Gery.


Dokter Gery kembali meletakan paddle ke dada Karamel, "Shoot ....!" ucap dokter Gery, tubuh Karamel kembali terangkat sejenak lalu lunglai lagi.


Titttttttt ....


Tidak ada perubahan dari monitor EKG Karamel yang masih menujukan garis lurus.


Dokter Gery menyerahkan paddle pada perawat lalu kembali menekan-nekan dada Karamel hingga sekitar lima menit, tidak ada reaksi apapun lagi. Karamel sudah dinyatakan tidak bernyawa lagi.


"Lepaskan semua alat yang ada di tubuh pasien." titah dokter Gery menunduk lemas.


Dokter Gery menghela napas sejenak lalu dokter Gery mendekati Henry yang berdiri menatap dirinya, "Kenapa suara montiornya masih sama? Katakan apa yang terjadi, Gery." pekik Henry mencengkeram kerah dokter Gery.


"Maafkan kami, Tuan. Kami sudah berusaha ...."


"Tidakkk ...." pekik Henry mendorong tubuh dokter Gery lalu berlari mendekati Karamel yang sudah tertutup kain.


"Tidak, ini tidak mungkin terjadi." pekik Henry histeris.


"Tidak sayang, aku mohon jangan tinggalkan aku." ucap Henry mulai merintihkan air matanya.


"Aku mohon bangunlah, Sayang hiks ... hiks ...." isak Henry menggoyangkan tubuh Karamel.


"Aku mencintaimu, Sayang. Aku ingin hidup selamanya denganmu. Beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakanmu, Sayang. Aku mohon bangunlah." isak Henry.


Tubuh Karamel masih bergeming, tidak ada tanda-tanda akan merespon perkataan Henry.


"Kau tidak boleh meninggalkan aku, Sayang. Aku mohon bangunlah, Karaaaa hiks ... hiks ...." isak Henry terus-menerus.


"Kakak ...." tiba-tiba Fico datang ke ruang perawatan Karamel.


Mata Fico terbelalak, tubuhnya terpaku melihat tubuh Karamel yang sudah tertutup sempurna oleh kain.

__ADS_1


"Aa apa yang terjadi, ke kenapa tubuh manis tertutup kain." ucap Fico menunjuk ke arah Karamel.


"Nyonya sudah meninggalkan ...."


"Jangan bercanda, Gery. Belum lama tadi kita melihat keaadan manisku baik-baik saja 'kan." potong Fico.


Dokter Gery tertunduk, "Maafkan aku, Tuan." hanya kata itu yang keluar dari mulut dokter Gery.


"Ini tidak benar." gumam Fico.


Fico berlari mendekati tubuh Karamel, di bukanya penutup kain itu hingga menampakan wajah Karamel yang pucat.


Degg ....


Air mata Fico jatuh seketika, "Ma manis kau ... kau dengar aku 'kan. Ini aku Fico, tadi kita ... bukankah tadi kita sempat mengobrol lalu kenapa ...." Fico tidak bisa menyelesaikan perkataannya.


"Kakak ini tidak benar 'kan, manisku tidak mungkin meninggalkan kita 'kan." ucap Fico namun tidak ada jawaban dari Henry yang masih menangisi kepergian sang istri.


"Kenapa? Kenapa kau meninggalkan aku, Sayang?" lirih Henry.


"Apa kau marah padaku?" lirih Henry.


Mungkin sebentar lagi Henry akan jadi orang tanpa perasaan lagi seperti dulu ketika ia masih muda, Henry memang bohong so'al mencintai Karamel sejak lima tahun yang lalu. Tapi kali ini Henry tidak berbohong ia memang sudah mencintai Karamel sejak beberapa minggu yang lalu.


Walau tujuan Henry ingin membunuh seluruh anggota keluarga Sinaja, Aramoy dan Ramora, kali ini Henry tidak pernah sekalipun punya niatan ingin menyingkirkan Karamel karena bagi Henry Karamel sudah seperti cahaya yang menerangi semua kegelapan yang ada pada diri Henry.


..............................


Mayat karamel di bawa dengan menggunakan mobil ambulance menuju mansion Henry.


Henry dan Fico membawa mobil mereka masing-masing dan ambulance yang membawa Karamel lebih dulu pergi ke mansion Henry.


"Jaga Karamel sebentar di mansion, aku ingin ...."


"Aku ingin menghubungi keluarga ...."


"Tidak harus pergi dari mansion juga, Kak." potong Fico.


"Jangan berdebat denganku, Fico. Ikuti saja perintahku." ucap Henry pergi dengan mobilnya sendiri.


Fico mencincingkan matanya, lalu ia masuk ke dalam mobilnya menuju mansion Henry.


Setelah sampai mansion, Fico melihat tubuh Karamel yang sudah di baringkan di ruang keluarga.


"Apa ini bukan mimpi?" gumam Fico.


"Kenapa kau mengambilnya secepat ini, Tuhan." Fico merasa terpukul ketika wanita yang selalu menjahili dan menggodanya harus secepat ini pergi meninggalkannya.


Ketika Fico menangis matanya sekilas melirik ke arah leher Karamel, "Kenapa ...."


"Tuan Fico?!" tiba-tiba suara Andi dan Luhan mengejutkan Fico.


"Kalian ...."


"Kami turut berduka atas kepergian Nyonya, Tuan." lirih Luhan berkaca-kaca, Luhan lumayan dekat juga dengan Karamel. Tidak heran jika Luhan merintihkan air mata ketika sang Nyonya yang selalu mengajaknya bercanda di setiap harinya itu harus pergi secepat ini.


Sedangkan Andi, Andi hanya mengucap turut berduka cita tanpa air mata namun raut wajahnya terlihat sedih.


..............................


Markas utama Dark Cobra.

__ADS_1


Henry baru saja datang dengan memakai kata mata hitam, "Istri pajanganmu telah tiada, kesempatan bagi kita untuk mengundang seluruh anggota keluarganya tanpa harus merekayasa." ucap Regan Del Nixon.


Hati Henry sangat hancur sekarang, namun Henry tidak bisa melawan perintah sang daddy karena nyawa Fico adalah taruhannya.


Flashback on.


Dua hari yang lalu.


Henry datang ke markas Dark Cobra dengan tujuan merubah rencana mereka, Henry sadar dirinya sangat mencintai Karamel dan tidak mungkin ia akan menjadikan Karamel sebagai tawanannya.


"Bagaimana jika kita membunuh seluruh anggota keluarganya tapi tidak untuk Karamel, Dad." ucap Henry pelan.


Regan menatap tajam ke arah Henry, "Seluruh anggota keluarganya harus kita bunuh termasuk istri pajanganmu itu. Aku tidak mau ada keturunan Sinaja, Aramoy ataupun Ramora hidup di dunia ini." bentak Regan Del Nixon.


"Tapi Dad ...."


"Apa kau memiliki persamaan pada bocah kecil itu?" selidik Regan Del Nixon.


Henry membungkam, "Ingat, kau adalah kekasih sahabat Daddy. Jessy Mon Andrea." tegas Regan Del Nixon.


"Aku tidak mencintai Jessy, Dad." batin Henry.


"Aku mencintai Ka ...."


Perkataan henry terhenti seketika sang daddy menyodorkan pistol pada sebuah foto yang terpajang di dinding.


"Lihatlah betapa gagahnya kita bertiga di foto itu." ucap Regan Del Nixon membuat Henry menatap foto yang menampilkan Regan duduk di tengah lalu Fico dan Henry berdiri di sisi kiri dan kanan Regan.


"Dulu kita berdua memiliki pemikiran yang sama, misi yang sama bahkan rencana yang sama ... aku dengar kau sangat menyayangi adikmu Fico, Henry?" ucap Regan Del Nixon membuat Henry terbelalak karena pistol yang di sodorkan sang daddy mengarah ke foto Fico.


"Begitu juga dengan Fico yang sangat menghormati dan menyayangimu, tapi sayang dia membenciku. Daddy yang dia bangga-banggakan telah membunuh kedua Mommy tersayangnya ... Bagaimana jika Fico tahu bahwa kakaknya turut serta dalam pembunuhan Selena dan juga Agnes, Henry?" ancam Regan Del Nixon.


Deggg ....


Jantung Henry berpacu sangat cepat, "Fico tidak boleh tahu so'al ini." batin Henry.


"Kenapa kau mengungkit ...." ucapan Henry terpotong.


"Dan setelah Fico tahu kakaknya adalah seorang pembunuh. Bom ... di hari itu juga nyawanya akan melayang di tanganku." sambung Regan Del Nixon pelan.


Henry tidak bisa berkata apa-apa ketika sang daddy mengancam untuk membunuh Fico.


Flashback off.


"Hubungi semua keluarganya dan lakasakan tujuan kita." titah Regan Del Nixon.


..............................


Di sebuah gedung ada seorang laki-laki yang sedang memompa detak jantung seorang perempuan yang tidak bernyawa lagi, tidak ada reaksi apapun dari perempuan itu. Terpaksa laki-laki itu mengepal kedua tangannya lalu memukul dada perempuan itu satu kali, masih tidak ada reaksi.


"Aku mohon." ucapnya memukul dada perempuan itu untuk kedua kalinya.


"(....)" akhirnya perempuan itu kembali bernapas dengan mata yang masih terpejam.


"Huft, bawa ke markas sekarang." titah laki-laki itu.


.


.


.

__ADS_1


::: Bersambung :::


__ADS_2